"kenapa umi jadi seperti ini ya abi?" umu Azizah bingung.
"abi juga tidak tahu, mengapa umi malah membela wanita yang asal usulnya tidak jelas." zakaria mengeluh.
"Fauzan .. apa tindakanmu nak? Kamu akan tetap mematuhi perintah nenek?" umu Azizah menatap putra tersayangnya.
"iya umi, aku tidak mau dimusuhi nenek kalau sampai tidak menuruti kemauannya." ucap Fauzan lesu.
"kalau kamu sampai menuruti perintah nenek, bagaimana kalau sampai Fara mengetahuinya? Dia bisa salah paham lagi, dan hubungan kalian berdua akan makin memburuk." umu Azizah keberatan.
"kalau begitu jangan sampai ketahuan Fara dan keluarganya." Jawab Fauzan.
"Ayo kita ke rumah sakit, kita jenguk Ginanjar semoga papinya si Fara itu sudah membaik." Zakaria memutuskan.
"abi dan Fauzan saja ya yang ke rumah sakit .. Umu capek dengan kejadian ini." umu Azizah meminta.
"iya umu ... Umu istirahat saja, kalau bisa bujuk nenek untuk mencabut tuntutannya." ucap Fauzan.
"akan umi usahakan untuk melelehkan hati umi Khadijah." umu Azizah mengangguk.
"kami pamit pergi ke rumah sakit, ayo Fauzan." Zakaria bangkit dari sofa diikuti Fauzan.
Pertemuan keluarga sudah bubar. Tidak ada yang berani membantah keinginan umi Khadijah termasuk abah Hasan.
Fauzan dan Zakaria telah sampai di rumah sakit, tempat Ginanjar dirawat. Semula mereka tidak mau menerima kedatangan Zakaria dan Fauzan. Terutama Fara. Hati wanita itu merasa sakit. Satu tahun menjalani taaruf dengan Fauzan, ujung ujungnya dikhianati. Ditinggal menikah dengan wanita lain. Apalagi pengkhianatan Fauzan baru ketahuan saat mereka akan melangsungkan prosesi ijab kabul. Sangat menyakitkan dan memalukan.
"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan padamu Fara, kalau pernikahan itu benar benar pernikahan paksa, aku dan Btari menjalani hidup sendiri secara terpisah tanpa saling berhubungan." Fauzan putus asa melihat Fara yang dari tadi duduk memunggunginya sambil menangis tersedu sedu. Hati Fauzan terasa remuk melihat kekasih hatinya menangis seperti ini.
Fauzan tidak lagi membujuk. Ia biarkan Fara menangis sepuasnya. Hingga tangis gadis itu tinggal sedu sedan lirih sampai akhirnya berhenti. Fauzan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Fara. laki laki itu duduk berjongkok di depan Fara, kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan kekasihnya.
"Maafkan aku Fara, aku juga tidak menyangka kalau aku harus menikahi wanita asing yang sama sekali tidak aku kenal! Demi Tuhan wanita itu memijat kakiku yang terkilir, kami tidak melakukan apa apa .. saat itu ada Fadil dan teman Btari! Saat ada Razia Fadil sedang menerima telepon di luar dan teman Btari pergi ke apotik untuk membeli perban elastis untuk membebat kakiku." Fauzan sekali lagi menjelaskan kronologi kejadian pernikahannya dengan Btari.
Fara menatap bola mata Fauzan yang berwarna hitam. Tidak ada kebohongan di mata Fauzan.
"Baiklah .. Aku percaya padamu! Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Fara menghela nafas panjang, ia akan memberi kesempatan pada Fauzan. Bagaimana pun ia masih mencintai laki laki ini. Fauzan cinta pertama dan terakhirnya.
Sebelum mereka melakukan taaruf, Fauzan dan Fara sudah saling mengenal dengan baik. Hubungan mereka terjalin karena hubungan persahabatan dua keluarga.
"Menunggu .. Kita akan menunggu sampai tiga bulan, setelah masa wajib lapor kami selesai .. Saat itu pula kami akan bercerai, bahkan Btari akan mengajukan pembatalan pernikahan karena kami tidak menjalankan sebagaimana mestinya." Fauzan menjelaskan.
"kamu yakin dalam jangka waktu tiga bulan lagi kalian pasti akan bercerai? dengan adanya insiden ini, pihak KUA telah memergoki pernikahan kita yang akhirnya batal, tidak kah mereka akan semakin mengawasi kalian berdua?" Fara tidak yakin.
"perkataanmu benar, aku dan Btari dalam pengawasan, karena itu kita berdua kalau mau bertemu sembunyi sembunyi dulu ya? Agar tiga bulan ke depan tidak ada lagi hambatan." pinta Fauzan.
"Malang nian nasibku, aku yang lama taaruf harus mengalah! Pernikahan batal .. Dan sekarang harus sembunyi sembunyi kalau ingin ketemuan." Fara menghela nafas lelah.
"Maafkan aku Fara .. Aku juga tidak ingin semua ini terjadi, kalau aku tahu akan seperti ini kejadiannya, dulu seharusnya kita segera menikah, tak perlu menunda nunda." Fauzan tertunduk lesu.
"saat itu kita sedang menapaki karier! Karier kita berdua sedang maju pesat, kamu sebagai dokter dan menjadi narasumber dalam berbagai seminar, sementara aku sibuk dengan kegiatan syuting sebagai influencer yang terkenal, kita berdua disibukkan dengan pekerjaan." Fara mengenang perjalanan setahun taaruf mereka yang dipenuhi dengan kesibukan kerja.
"ya .. Kamu benar Fara .. Sekarang marilah kita berdua tidak saling menyalahkan satu sama lain! yang penting sekarang kamu mau mengerti dan mau menerimaku kembali, itu sudah cukup bagiku!" ujar Fauzan.
"Aku memang mau menerimamu kembali Mas .. Tapi aku minta di kesempatan kedua ini aku tidak mau kepercayaanku padamu kamu rusak! Saat ini aku yakin kamu dan perempuan yang berstatus istrimu itu hanya menikah bohongan dan mas Fauzan tidak menyentuhnya! Kamu beneran belum menyentuh istri kamu itu kan mas?" Fara menatap tajam mata Fauzan mencari kepastian.
"Aku bersumpah belum pernah menyentuhnya Fara, meskipun dia berstatus sah sebagai istriku aku tidak bisa menyentuhnya, bukan hanya karena aku tidak mau, Btari pun tidak mau!" Fauzan meyakinkan.
"Baiklah aku percaya, jangan sampai mas Fauzan menyentuh wanita atau bahkan berani jatuh cinta padanya! Kalau sampai semua itu terjadi, aku akan pergi meninggalkanmu!" Fara mengancam.
"iya sayang .. lagi pula aku tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita lain! Yang aku cintai itu hanya kamu Fara!" Fauzan menggenggam erat kedua tangan Fara dan mengecup punggung tangannya.
"janji ya mas! Tetap lah hidup terpisah dengan wanita itu, agar di hati mas Fauzan tidak tumbuh rasa cinta atau tertarik pada wanita ini, bagaimana pun dia istri sah kamu, kedudukannya lebih tinggi dariku!" Fara berkatà sendu.
"aku berjanji Fara .. Jangan khawatir .. hanya kamu satu satunya wanita yang aku cintai." Fauzan berjanji.
Dengan hati bahagia Fauzan masuk ke dalam rumah. Masalahnya dengan Fara sudah terselesaikan. Salah paham diantara mereka sudah terurai.
"Bagaimana Fauzan .. Mau kah istrimu kamu ajak tinggal di sini?"
Fauzan gelagapan, baru saja masuk sudah ditodong pertanyaan oleh umi Khadijah. Sang nenek sudah duduk di sofa ruang tamu, wanita tua itu menatap tajam dirinya.
"Belum nek .. Aku belum bertemu Btari." jawab Fauzan.
"kenapa harus menunggu ketemu? Bukan kah kau bisa mendatangi rumahnya?" umi Khadijah makin jengkel mendengar jawaban Fauzan.
"eh .. Anu nek .. Saya tidak tahu dimana Btari tinggal." jawab Fauzan jujur, ia memang tidak tahu dimana rumah wanita itu, kerabatnya, asal usulnya, Fauzan buta sama sekali tentang Btari. Yang ia ketahui hanya yang ditanyakan oleh petugas KUA tentang hal hal yang berhubungan dengan pribadi masing masing.
"kamu ini benar benar suami yang tidak berguna! Kelakuanmu sangat dholim Fauzan! Kamu ini seperti manusia yang tidak pernah dididik orangtuamu nilai nilai tanggung jawab! Benar benar memalukan!Padahal di keluarga ini tidak pernah dalam sejarah keturunannya menjadi orang pengecut yang tidak mau bertanggung jawab!" umi Khadijah sangat marah.
"tapi umi .. sikap Fauzan tidak salah! Pernikahan mereka bukan karena keinginan Fauzan! Mereka menikah karena keadaan yang memaksa, lagipula wanita itu tidak meminta pertanggung jawaban Fauzan! Mungkin saja wanita itu sudah punya calon suami." umu Azizah nimbrung, ia enggan menyebut Btari istrinya Fauzan, sampai kapan pun dia tidak mau punya menantu yang tidak jelas asal usulnya.
"aku heran denganmu Azizah, kamu ini seorang ibu dan punya anak perempuan, kamu mau anak perempuanmu mengalami kejadian yang dialami oleh Btari yang ditelantarkan oleh Fauzan? Sebagai ibu yang baik seharusnya kamu ini mengajarkan tanggung jawab pada anak anakmu! Bukan malah mendukung sikap salah Fauzan! Sejak keluarga ini dibawah kendali kamu dan Zakaria, nilai nilai luhur moyang kita makin luntur, itu karena kamu selalu saja mendukung semua kelakuan anggota keluarga meski pun itu kelakuan yang salah!" umi Khadijah memandang tajam Umu Azizah menantunya.
Wajah Umu Azizah merah padam mendengar perkataan ibu mertua yang sangat memojokkannya. Selama ini tampuk kekuasaan keluarga besar Maulana memang berada di tangan Zakaria suaminya. Padahal ia sudah berusaha menjadi ibu ketua yang bijak, tapi tetap saja di mata ibu mertuanya terkadang masih saja salah.
"Sudah lah nek .. Ibu .. Jangan bertengkar masalah ini! Hanya karena masalah pernikahan konyol ini nenek dan umi bertengkar!" Fauzan melerai.
"Apaa? Pernikahan konyol katamu? Jadi sumpah yang kau ucapkan dengan disaksikan oleh Allah itu kamu anggap konyol?" umi Khadijah melotot marah.
"itulah kalau seorang ibu mengajari anaknya menjadi pengecut! Apa pun kondisi pernikahanmu dengan Btari karena paksaan bukan berarti kamu dengan santai bisa lepas tanggung jawab begitu saja!" umi Khadijah sewot.
"Fauzan kamu masih ingat perintah nenek bukan? Jangan pernah menapak kaki di rumah ini sebelum istrimu kamu bawa ke rumah ini!" umi Khadijah bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Okto Mulya D.
Mantab ini si Nenek prinsipnya, pernikahan tetap pernikahan karena itu janji sama Allah.
2024-12-13
0