Seorang pria membilas kedua tangannya yang bersimbah darah di wastafel. Dia sama sekali tidak perduli dengan keadaan dibelakang punggungnya.
Nampak seonggok tubuh berusaha menyeret diri mendekati pria itu. Tubuh tersebut hanya memiliki satu tangan. Sedangkan kedua kakinya sudah buntung. Menyisakan noda merah yang memanjang.
Sepertinya kedua kakinya baru saja putus.
Pria itu membatu begitu tangan dingin yang dipenuhi oleh dar*h menyentuh kaki nya. Ia menoleh, sorot matanya dingin.
" Bu--nuh a- a-ku"
Suaranya hampir tak terdengar, hanya nafas yang tersengal-sengal dengan lemah.
Pria itu tersenyum miring, Ia menutup kran air kemudian memijak kepala sosok di bawahnya. Tubuhnya berjongkok tepat di atas kepala itu.
" Ibu... Sabar ya.. Tanpa diminta pun aku akan membonoh mu" Seringai iblis mengakhiri ucapan pria tersebut.
Rupanya sosok itu adalah seorang wanita, semua tidak terlihat begitu jelas. Karena suasana remang dalam rumah itu. Cahaya matahari yang sebenarnya masih cukup panas, tidak mampu menembus tirai yang menutupi seluruh jendela.
Wanita yang disebut Ibu, meringis kesakitan. Air matanya menetes, menyatu dengan dar*h yang menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu bangkit, ia menekan kakinya hingga kepala yang dipijak pecah berkecai.
<>
" Lepaskan !!!"
Syeila berusaha menarik lengan yang masih dicekal, ia mulai mengerahkan kekuatan nya. Namun pria itu benar-benar cukup kuat.
" Aku tidak suka berbasa-basi, kau harus ikut dengan ku sekarang !" Ucap Fais, ia menatap Syeila penuh.
" Fais, kok kamu ngajak Syeila sih? Bukankah kamu kesini untuk bertemu dengan ku?" Alicia menyela, ia tidak bisa terima jika gebetan nya malah tertarik dengan Syeila .
Namun sedikit pun Fais tidak menggubrisnya. Ia terus menatap Syeila.
Tiba-tiba,....
PRANG!!!
Ketiga nya sontak menoleh ke arah suara yang mirip seperti barang pecah.
Syeila mengibas tangan Fais, karena perhatian pria itu teralihkan hingga cekalannya merenggang.
Syeila berlari masuk untuk tahu apa yang baru saja jatuh, Alicia pun menyusul diikuti oleh Fais.
" Bik.. Bibik kenapa ?"
Syeila menemukan Bik Timo menggigil dengan satu tangan memegang telfon. Di bawah kakinya sudah berserakan piring pecah.
" Tunggu !!"
Suara Fais menghentikan langkah Syeila yang hendak mendekati Bik Timo. Tak terduga Fais mampu menepikan semua pecahan piring ke tepian dinding dengan hanya menggerakkan tangan nya. Tanpa sedikitpun menyentuh, seperti sebuah trik sulap saja.
Syeila terpana, begitu pula dengan Alicia .
" Cepat beri dia minum !"
Perintah Fais membuyarkan kekaguman Syeila , ia gelagapan dan gugup sekali ketika mengambilkan air minum untuk Bik Timo.
" Minum dulu Bik"
Bik Timo meminum air yang disuguhkan walau hanya seteguk.
" Ayo duduk Bik"
Syeila merangkul bahu Bik Timo lalu menggiringnya duduk di kursi makan.
" Bibik kenapa sih?" Tanya Syeila lembut. Ia duduk berkontraksi di depan Bik Timo layaknya rayuan seorang anak kepada Ibunya.
Fais tersenyum tipis melihat pemandangan itu, Alicia manyun saja sebab Fais sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
" Nining... Nining "
Suara Bik Timo bergetar, ia menangis sesenggukan.
" Nining ???"
Syeila seperti tahu nama itu,..
" Nining adik Bik Timo ?"
Rupanya benar, Bik Timo membenarkan jawaban Syeila .
" Kenapa dengan Mpok Nining Bik?"
Bik Timo menggeleng lemah, ia tertunduk pilu.
" Dia... Dia meninggal Non"
Syeila terperangah, kedua matanya membulat sempurna.
" Alah Bik... Nggak usah lebay deh. Semua makhluk hidup di dunia ini akan mati semua kok!" Celutuk Alicia sinis.
Syeila menjeling tajam gadis manja itu.
" Termasuk kamu kan?" Balasnya tak kalah sengit.
Alicia mati kutu, ia ingin membalas ucapan Syeila tapi otaknya seperti buntu. Apalagi Fais tengah menoleh kepadanya.
" Ya udah, sekarang Bibik pulang aja ya. Syeila anter Bibik pulang sampai ke rumah "
Bik Timo mengiyakan, dengan dirangkul oleh Syeila . Perempuan paruh baya itu bangkit dan berjalan pergi.
Faisol Abrori mengekor, namun Alicia cepat menarik lengannya.
" Kau mau kemana ?" Rengek Alicia mendayu-dayu.
Fais melepaskan tangan Alicia tanpa sedikitpun menatap mata si gadis.
" Sayang !"
Berharap Fais akan luluh dengan panggilan mesranya, namun ternyata pria itu sedikit pun tidak perduli.
" Ih!!"
Alicia meruntuk kesal, ia teringat akan Tamara yang berada di rumah. Segera Alicia berlari menuju kamar sang Ibu.
" Ma... "
Alicia merengek seperti biasa jika menginginkan sesuatu. Ia berlari menghampiri sang Ibu.
" Ada apa ? Katanya gebetan kamu dateng"
" Iya, tapi dia dirayu sama perempuan jelek itu"
Tamara mengernyit heran.
" Siapa ?"
" Syeila !"
Tamara terdiam, tumben Syeila mengganggu hubungan Alicia ? Tidak seperti biasanya.
" Ayo Ma,,, tolong aku... Sekarang dia bawa gebetan ku ikut dengan nya" Alicia semakin menjadi.
" Ikut kemana ?"
" Nganter Bik Timo pulang "
" Bik Timo pulang ? Kenapa ?"
Alicia mengedikkan bahunya, dia sengaja pura-pura tidak tahu biar Syeila kena marah oleh Tamara .
" Ma, sekali-kali kasih Syeila pelajaran dong Ma.. Dia sudah berani menggoda gebetan aku sekarang. Pasti deh dia akan semakin besar kepala dan ngelunjak, bisa-bisa nanti kita diusir dari rumah ini sama dia"
Alicia bertambah gencar menghasut Tamara , namun dia tidak tahu jika sebenarnya sang Ibu tidak berani mengerjai Syeila menggunakan ilmu hitam .
Selama ini Tamara beralibi jika dia tidak ingin Brandon curiga.
****
Fais melangkah mendahului, dia membuka pintu untuk Syeila dan Bik Timo.
" Kamu mau ngapain ?" Cetus Syeila .
" Masuklah, aku antar kalian "
Syeila tersenyum miring, ia justru mengambil sepeda motor yang disediakan untuk keadaan darurat.
" Hey!! Kau mau bawa Bibik mu menaiki itu?" Seru Fais tidak habis pikir.
" Kenapa ?? Apanya yang salah ?"
" Lihatlah !! Dia sedang lemas. Jika kamu menaiki sepeda, dia bisa jatuh ke belakang "
Syeila memperhatikan Bik Timo, memang perempuan paruh baya tersebut nampak lemas sekali.
" Ayo naik ke mobil ku, akan ku antar kalian lalu aku akan pergi " Tambah Fais.
Syeila tidak bergeming, ia menatap laki-laki tersebut dengan telaah jika tidak ada kebohongan yang tersembunyi.
Akhirnya Syeila akur, ia memarkirkan kembali sepeda motor nya lalu mengajak Bik Timo masuk ke dalam mobil Faisol Abrori.
***
Hari sudah mulai senja, mobil yang dinaiki oleh Syeila bersama Bik Timo dan Faisol Abrori melaju pelan.
Dikarenakan ada gerombolan orang menghalangi jalan yang hanya muat satu mobil.
" Sepertinya mereka rombongan yang mengantar jenazah Mpok Nining " Gumam Syeila .
" Apa rumah nya sudah dekat ?" Tanya Fais, ia melirik Syeila dari kaca spion di atas kepalanya.
Syeila menjawab dengan anggukan kepala.
Kedatangan sebuah mobil mewah limited edition di halaman rumah Mpok Nining, mengundang perhatian para peziarah. Begitu Bik Timo keluar dari dalam mobil, jeritan histeris seorang perempuan menyambutnya.
" Mbak Yuuuuuuu "
Perempuan itu berhambur memeluk Bik Timo, keduanya menangis sejadi-jadinya.
Syeila terpana melihat Fais mengeluarkan sesuatu dari belakang jok kursi kemudi. Sebuah pedang yang bersinar terang.
Aneh nya lagi ketika Fais menekan bulatan di pangkal pedang, tiba-tiba pedang itu menjadi dua bagian.
Faisol Abrori melemparkan pedang tersebut kepada Syeila , secara refleks Syeila menangkapnya. Hampir saja Syeila tersungkur, karena pedang itu lumayan berat sekali.
" Gila kau ya!!!" umpat Syeila kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ray
Bener2x semakin penasaran deh .
Apa hubungan Syeila dengan Fais ?
Kenapa tiba2x Fais kasih pedang ke Syeila?
Apakah terjadi sesuatu kepada keluarga Bibik Timo yg menyebabkan Nining meninggal?🤔🙏❤️
2024-11-16
0
Yulay Yuli
belum paham ceritanya sampe sini thour. kasih arahan donk baca karya mu yg mana biar nyambung🙏
2024-11-08
2
Sani Srimulyani
apa Fais sudah mengetahui sesuatu....
2024-05-10
1