Syeila duduk di sofa, terkadang ia menghampiri Tamara ketika mendengar perempuan itu bergumam lirih.
Dengan telaten Syeila membuang air seni Tamara dalam kateter disaat sudah penuh. Ia juga mengganti Pampers bila Tamara BAB.
Sedikit pun Syeila tidak mengeluh meskipun dari dulu sikap Tamara kurang baik padanya.
Dalam ketidak berdayaan nya Tamara menangis, ia menyesal atas sikapnya selama ini. Namun untuk mengucapkan dua patah kata " Maaf ". Dia tidak sanggup.
Syeila menyeka air mata yang menetes di sudut mata Tamara dengan hati-hati. Sedikit saja sentuhan dengan penekanan, maka kulit Tamara akan mengelupas. Hal tersebut sangat menyakitkan untuk Tamara .
" Apa yang Mama lakukan ? Sampai menjadi seperti ini ?" Tanya Syeila , meskipun ia tau tidak akan mendapatkan jawaban apapun.
Hemmmmmhhhhhh
Syeila menghela nafas panjang, ia melirik jam di dinding. Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Syeila merasa perutnya lapar, jadi dia ingin mencari makanan dan berniat untuk makan disini. Dia tidak ingin meninggalkan Tamara terlalu lama.
" Syeila cari makan dulu ya Ma"
Pamit Syeila , Tamara mengedipkan matanya. Syeila mengerti itu sudah cukup sebagai jawaban.
Tak lama setelah Syeila pergi, sebuah angin kencang mendobrak pintu kamar Tamara . Perempuan itu kaget, bola matanya melirik tajam ke arah pintu.
Sesosok roh muncul dengan posisi merangkak, dilehernya terjerat rantai merah membara. Dan diujung rantai dikendalikan oleh seorang manusia.
Tamara membeliak lebar, roh itu adalah roh Angga. Tamara sama sekali tidak tahu jika guru spiritualnya telah meninggal.
Pria yang tengah memperlakukan roh Angga seperti layaknya seekor anjing itu tersenyum tipis. Dia mendekati Tamara yang tergeletak tak berdaya.
Nafas Tamara memburu, ketakutan menyergap jiwa nya disaat ia melihat sinar merah menyembur dari ubun-ubun pria tersebut.
" Hay... Aku Ainur. Dan aku sekarang menjadi pengembala " Senyuman iblis menyeringai, Tamara melirik Roh Angga yang tertunduk. Wajah nya lesu dengan kantong mata kehitaman.
" Sepertinya kau sedang sekarat " Ainur menelisik tubuh Tamara dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" Tentu kau tidak ingin mengalami nasib seperti dia kan?"
Ainur menarik ujung rantai yang dikendalikannya, sontak tubuh roh Angga tersungkur ke lantai.
Kedua anak mata milik Tamara berkaca-kaca, ia ingin menolong sang Guru, namun tak berdaya.
" Aku akan menyembuhkan mu, tapi ???? Kau harus memberi apa yang aku mau" Lanjut Ainur diselingi senyuman mengerikan.
Meskipun Tamara tidak merespon, namun Ainur tetap mengeluarkan sesuatu yang harus Tamara berikan kepada targetnya, yaitu Syeila .
" Bunuh pangeran itu untuk ku, lalu buat anak tirimu datang kepadaku. Aku ingin dia menjadi pengantin ku di malam Bulan merah. Kau paham ??"
Tamara meneguk Saliva, matanya terasa panas sekali. Ainur tetap tersenyum tipis, ia meletakkan telapak tangan kanannya di kening Tamara .
Asap hitam mengepul lalu masuk ke dalam pori-pori kulit tangan Ainur. Terlihat seperti dihisap hingga asap itu habis.
" Hey!!!"
Syeila menggertak keras, gadis itu terkejut melihat pemandangan di dalam kamar Tamara . Ada sosok asing yang tengah membawa roh manusia yang diikat rantai.
Ainur mengangkat tangan nya kemudian dengan sekali kedipan mata, sebuah topeng menutupi wajahnya. Lalu sebuah pedang muncul dalam genggaman.
Secepat kilat Ainur tiba-tiba sudah berada di depan Syeila , gadis itu terhenyak kaget hingga tubuhnya membeku.
Tangan yang tengah memegang rantai mencengkram leher Syeila .
" Jangan ikut campur "
Suara serau menggema lantang, Syeila bergidik ngeri. Ia sungguh kehilangan tenaga untuk melawan.
TRANG
WUSSSS
Satu tenaga dalam menghantam tubuh sosok bertopeng itu, hingga cengkraman di leher Syeila terlepas.
Rupanya Faisol datang tepat waktu, ia menarik Syeila ke belakang punggungnya sewaktu Ainur berusaha bangkit.
Kemudian dengan menggunakan pedang bersinar kebiruan ia mengacungkan nya ke depan Ainur.
Ainur mengatur tenaga dalam nya supaya kondisi nya kembali pulih. Kemudian ia juga mengacungkan pedang samurai nya.
AAAAAAAKKKKHHH
Faisol mengangkat pedangnya lalu menyerang, Ainur menahan serangan itu. Terjadi lah dentuman keras akibat dua kekuatan yang hebat bertarung.
Syeila membeliak lebar, Faisol dan sosok bertopeng saling menahan dan menyerang. Ia ingin menolong Faisol, namun apa yang bisa ia lakukan.
Di luar dugaan, Tamara yang baru saja pulih itu bangkit. Ia berdiri di atas ranjang, kemudian mengumpulkan energi Qi nya. Dan tanpa disangka-sangka Tamara melompat dibarengi dengan pukulan ke tubuh Ainur.
Sontak Ainur terdorong dan pedang Faisol berhasil menggores lengannya. Ainur kesakitan, ia reflek menepis tubuh Tamara hingga wanita itu terlempar menghantam dinding.
Faisol terlambat menolong, dan ketika konsentrasi Faisol teralihkan oleh Tamara , Ainur langsung melesat kabur.
" Mama... "
Syeila berlari ke arah Tamara yang terkapar tak berdaya. Luka bakar di tubuh nya telah hilang, namun hantaman kuat yang dilayangkan oleh Ainur telah berhasil membuat jantung nya hancur.
Tamara menyemburkan darah kental, Syeila semakin panik.
" Mama... Tolong... Tolong panggil Dokter " Teriak Syeila panik, namun dengan sisa-sisa tenaganya Tamara menyentuh punggung tangan Syeila . Dirinya menggeleng lemah sebagai tanda Syeila tidak diijinkan memanggil Dokter.
" Sye.... La... Ka... Uuuu ha... Rus... Ke .... Lu ..Ar.. Kan..... E .... Ner..... Gi... Qi ..... Mu"
Tamara merasa tenggorokannya tersekat sesuatu hingga ia tidak bisa bernafas. Matanya mendelik ke atas, kemudian dalam beberapa saat ia menghembuskan nafas terakhirnya.
" Mama... Mama... Mama jangan pergi.. Ma.. Mama"
Syeila berusaha menggoyangkan tubuh Tamara , ia berharap saat ini Tamara hanya pingsan saja. Tapi apa yang dilakukan oleh Syeila semuanya sia-sia. Tamara sudah meninggal !
***
Ainur kembali ke singgasananya dengan memegang tangan tadi yang terluka. Ia sangat kesakitan, seperti terbakar.
Setelah menghempaskan bobot tubuhnya ke atas kursi kebesaran, Ainur melepaskan topeng nya. Ia mencampakkan topeng tersebut begitu saja. Membuat para pelayan nya datang mengerumuni.
" Tuan, apa yang terjadi ?" Tanya sesosok genderuwo, lalu ada satu dedemit yang memiliki wujud kecil dengan sedikit rambut serta kulitnya berwarna putih pucat, datang menjilati darah yang keluar dari luka Ainur.
" Kau lihat sendiri aku kenapa ?" Bentak Ainur, moodnya lagi tidak punya keinginan untuk menjelaskan.
Genderuwo itu mengangkat tangan Ainur, ia memeriksa bekas luka itu.
" Tuan, anda terluka oleh pedang cahaya biru?"
Ainur memejamkan matanya dengan kepala menyender lemah.
" Ini aneh, pangeran itu tidak akan mampu mengeluarkan kekuatan pedang cahaya biru dengan sempurna. Sebelum gadis itu bisa menguasai pedang tersebut " Gumam genderuwo.
" Ini semua karena perempuan laknat itu, aku juga tidak mengerti kenapa dia sekarang berada di pihak musuh ?? Bukannya sebelum ini dia sangat membenci Syeila " Ujar Ainur dengan posisi mata terpejam.
" Kalau saja bukan karena dia, aku pasti sudah biasa melukai pangeran "
Lanjut Ainur, tangannya mengepal kuat menahan amarah yang menggebu. Dalam hatinya ia berniat akan membalas kekalahan ini dengan kematian Pangeran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ray
Semakin seru dan selalu bikin penasaran kelanjutan cerita Outhor. Jadi gak bisa berhenti baca, terus dan terus mau baca cerita Outhor, semangat💪🙏❤️
2024-11-16
0
Yulay Yuli
pedangnya lgsg respon didpn sheila
2024-11-08
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semangat Syeila 💪
2024-05-14
0