Aghnia berkonsultasi dengan dokter istana bernama dokter Eidam tentang proses berkhitan yang kemungkinan besar akan segera dilakukan oleh Mark jika memang dia serius hendak mengikuti keyakinan keluarga Aghnia.
Dokter berusia enam puluhan itu pun tersenyum saat tahu Mark hendak dikerjain oleh Kaysan dengan memanggil kakak perempuannya yang dikenal amburadul kelakuannya.
"Princess, jika memang tuan Mark sudah siap, saya pun siap memegang amanah ini. Prince Kaysan itu hobinya kok bikin orang lain panik sih ..." kekeh Dokter Eidam yang dulu juga mengkhitan Rauf dan Kaysan.
"Macam dokter tidak hapal mas Kaysan saja" senyum Aghnia.
"Princess, yang penting adalah keseriusan tuan Mark untuk menjadi mualaf ... Bukan karena pernikahan saja tapi juga panggilan dari hati dan hidayah ... Kita tidak akan tahu kapan hidayah itu akan datang bukan ?" senyum pria berkumis putih tersebut.
"Anda benar, dokter Eidam. Mark masih mencari-cari hidayahnya dan aku tidak akan memaksa harus pindah sekarang karena semuanya itu berasal dari hati, bukan?"
Dokter Eidam tersenyum. "Apakah anda sudah yakin bersama dengan tuan Mark, princess?"
Aghnia tersenyum. "Aku juga sedang mencari jawabannya untuk meyakinkan apakah memang Mark yang dikirimkan untukku atau bukan..."
Dokter Eidam tersenyum lembut. "Selalu mintalah petunjuk pada-Nya karena hanya Dia lah yang tahu apa dan siapa yang terbaik untuk kita semua, princess..."
"Exactly..."
***
Aghnia keluar dari ruang praktek Dokter Eidam di Royal Medical Center, sebuah rumah sakit yang dikelola oleh keluarga Khalid. Jeddah yang menunggu di ruang tunggu, langsung berdiri dan menghampiri princess nya.
"Bagaimana nona ?" tanya Jeddah.
"Alhamdulillah dokter Eidam bersedia meskipun Oom Ken juga sudah mau sih terbang dari Dubai ke Doha..."
Jeddah tersenyum. "Semoga kabar ini tidak sampai ke telinga nyonya Galena atau nyonya Rania ya ..."
Suara ponsel Aghnia berbunyi dan gadis itu menatap layarnya dengan wajah bingung.
"Kok mbak Lena dan mbak Rania telpon?" Aghnia menatap Jeddah dengan wajah panik.
***
Di Dalam Range Rover Aghnia
"Kok kamu tidak bilang kalau si Mark Becker itu mau sunat ? Kapan ? Biar mbak Lena mengosongkan jadwal buat terbang ke Doha !" ucap Galena.
"Sama mbak Rania saja. Lumayan dapat ginjal ..." kekeh Rania durjana.
Jeddah yang menyetir mobil mewah itu, merasa kepalanya pening mendengarkan percakapan dua kakak Aghnia yang melakukan panggilan video grup ke princess nya.
"Mbak, sudah diputuskan kalau dokter Eidam atau Oom Ken yang akan melakukan khitan. Bukan kalian berdua ! Sebab aku tidak yakin kalau kalian yang melakukannya, Mark tidak hanya kehilangan sedikit kulit tapi juga satu ginjal dan separo hati !" ucap Aghnia gemas. "Heran, kalian berdua itu kok bisa jadi dokter sih !"
Aghnia tidak heran jika kedua kakak perempuannya memang agak Laen sebab mengingat mereka keturunan siapa, tidaklah mengejutkan. Rania adalah cucu Joey Bianchi dan buyut Josephine Al Jordan Akandra dan Mario Bianchi, seorang Mafioso. Galena adalah cucu dari Ayrton Schumacher dan buyut Sabine Al Jordan yang dikenal sebagai seorang sniper. Jiwa bar-bar dan amburadulnya keluarga Al Jordan nurun di mereka.
"Kan lumayan Aghnia ... Stock orang jahat mulai menipis ini ..." keluh Galena membuat Jeddah menggelengkan kepalanya karena cucu Emir Al Jordan Schumacher itu makin kesini makin kesana.
"Astaghfirullah... Mbaaaakkk !" seru Aghnia gemas mendengar ucapan seenak udelnya Galena.
"Jadi, kita-kita dilarang nih pegang dan potong barangnya Mark?" tanya Rania.
"Dilarang ! Ya ampun mbak, apa kata Jayendra kalau tahu emaknya brutal begini ?" keluh Aghnia mengingat keponakannya yang putra Rania serta Chris Armstrong.
"Jay? Sudah tabah !"
Aghnia yang juga masih memiliki darah Al Jordan, hanya bisa memegang pelipisnya. Kenapa sih Al Jordan yang ini kok amburadul kelakuannya.
"Mbak, sebagai keturunannya Al Jordan, mbok ya rada kalem gitu lho. Kok makin kesini, kalian semakin bar-bar sih? Mbak Lena, mbok ya kasihan sama Bang Alex ... Dia kan jabatannya sudah tinggi di Scotland Yard tapi kok istrinya malah hobinya bikin kejahatan..." omel Aghnia.
"Lho ... Aku itu memberikan penghapusan dosa para penjahat dengan mengambil organ mereka untuk diberikan pada orang yang membutuhkan... Bukankah itu perbuatan baik? Meskipun si empunya organ orang jahat, organnya kan tidak. Anggap saja, meningkatkan amal lah ..." eyel Galena membuat Jeddah semakin pusing.
Aghnia yang melihat pengawalnya tampak pening, hanya menepuk bahunya.
"Princess Aghnia, kok tabah sih punya kakak macam princess Galena ?" ucap Jeddah lelah.
"Mau gimana lagi... Sudah takdir."
***
Ruang Kerja Mark Becker
"Haaattssyyiiinnngggg!" Mark bersin sangat keras hingga membuat Jordy terkejut. Mark segera mengambil tissue dan mengusap hidungnya yang mancung.
"Anda flu Sir? Saya buatkan teh panas ya..." ucap Jordy sambil menuju mini bar di ruang kerja Mark.
"Entahlah tapi aku merasa hidungku gatal teramat sangat ..." Gumam Mark bingung.
Jordy datang dengan membawa secangkir teh mint panas di hadapan Mark.
"Thanks Jordy ..." ucap Mark sambil menyesap tehnya.
"Sama-sama Boss. Apakah anda membutuhkan sesuatu ?" tanya Jordy.
"Tidak. Memangnya kamu mau kemana ?" balas Mark bingung.
"Menjemput princess Aghnia dan nona Jeddah..."
Mark melongo. "Aghnia kemari ?"
***
Aghnia menatap wajah Mark yang masih memandang dirinya dengan tatapan tidak percaya karena mereka tidak ada janji bertemu.
"Kita makan siang disini saja ya Mark?" senyum Aghnia sambil membawakan bento untuk makan siang mereka. Jeddah pun dipaksa Aghnia membawa makan siang untuk dimakan bersama Jordy.
Mark hanya mengangguk bodoh karena merasa takjub Aghnia datang tanpa pemberitahuan.
"Kamu beneran disini kan sayang?"
Aghnia menatap Mark bingung. "Memangnya aku hologram atau AI ?"
"Tolong buktikan kalau yang di hadapan aku adalah calon istriku... "Mark mendekati wajah Aghnia dan hendak menciumnya namun tangan Aghnia lebih cepat. Tangan gadis itu langsung menjepit hidung mancung Mark.
"Aduuuhhh !" rengek Mark sambil mengusap hidungnya.
"Nggak usah modus !" pendelik Aghnia. "Oh, aku sudah mendapatkan dokter yang bersedia mengkhitan kamu ..."
Tiba-tiba wajah Mark langsung memucat. "Bukan dua kakak perempuan kamu kan?"
Aghnia tertawa. "Bukan Mark... Dokter Istana, bernama Dokter Eidam... Beliau juga yang dulu mengkhitan bang Rauf dan mas Kaysan..."
"Alhamdulillah... Aku sudah takut ginjal aku hilang satu ..." ucap Mark reflek.
Aghnia melongo mendengar ucapan hamdalah Mark. "Kamu sudah mulai dikit demi sedikit ya ..."
"Eh? Iya ya..." gumam Mark. "Apakah ini pertanda ?"
"Bisa jadi ..."
"Kalau aku dikhitan, apa kamu mau menemani aku di ruang operasi?" Mark menatap penuh harap.
Aghnia langsung manyun. "Modusmu itu kok tidak hilang-hilang sih !" Gadis itu langsung menjewer telinga Mark membuat pria itu menjerit kesakitan.
"Sakit sayaaannngggg .. "
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
ellyana imutz
harapan palsu mark modus u mu d baca mark..maen u kurang jauh d mudah d tebak akal bulus u
2024-04-19
1
🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄
klo keturunan al Jordan kalem malah di pertanyakan nanti 🤣🤣🤣🤣🤣
2024-04-18
2
Jenong Nong
hahahaa mark modusmuuuuuu...😁😁❤❤🙏🙏
2024-04-18
2