Makan Siang

Istana Khalid Doha Qatar

Mark Becker sudah duduk manis di ruang tamu formal yang luasnya bisa main basket dan volley jadi satu. Tadi pagi pria itu meminta ijin pada Kaysan Khalid untuk boleh berbicara pada adiknya. Sebenarnya Kaysan agak sedikit tidak ikhlas tapi Mark ingin meminta maaf pada Aghnia karena sikap kurang ajarnya kemarin, membuat Emir muda itu akhirnya mengijinkan dengan syarat Aghnia juga bersedia menemui Mark.

Tanpa diduga, Aghnia menerima permintaan Mark dan mengijinkan pria itu datang ke istana Khalid dengan syarat, harus memakai baju sopan dan tidak bersikap urakan seperti kemarin. Kaysan menatap adiknya yang memasang wajah datar dan biasanya kalau Aghnia seperti itu pasti ada udang di balik kepompong.

Pagi ini Aghnia pun menemui Mark dengan mengenakan kaus turtle neck warna hijau dan celana jeans serta sepatu Converse. Wajahnya memang biasa memakai make-up dan rambut hitamnya yang tebal serta panjang, dia biarkan tergerai di bahunya.

Aghnia Al Jordan Khalid

Mark melongo saat melihat gadis itu datang bersama dengan seorang wanita yang tidak berbeda jauh usianya. Mark sudah banyak melihat foto-foto Aghnia baik di Instagram nya yang kebanyakan acara kerajaan dan kenegaraan serta website Qatar tapi bagi Mark, melihat aslinya Aghnia, jauh lebih cantik.

Mark sudah bertemu dengan banyak wanita cantik di manapun selama dia dan bandnya konser tapi Aghnia lebih cantik dari mereka semua. Mark sebenarnya ada kriteria tersendiri soal wanita. Dia sangat suka wanita berambut pirang atau coklat tapi melihat Aghnia yang berambut hitam, membuat Mark berpikir ulang soal kriterianya.

"Anda ingin bertemu dengan aku ?" tanya Aghnia dengan wajah datar.

"Yes, princess. Aku ingin meminta maaf soal perilaku aku kemarin. Tapi jujur aku memang ingin berkenalan denganmu Princess..." jawab Mark yang berdiri saat melihat Aghnia datang.

Aghnia mempersilahkan Mark untuk duduk dan keduanya pun duduk bersama di sofa empuk. Asisten Aghnia memberikan kode ke pelayan untuk membawakan minuman dan makanan ke ruang tamu. Tak lama, seorang pelayan membawakan nampan berisikan teh safron dan beberapa penganan termasuk kurma.

Mark menunggu jawaban Aghnia dengan harap-harap cemas karena gadis itu tetap duduk tanpa ada keinginan menjawab dan hanya menatap datar ke arahnya.

"Untung aku tidak meminta pengawal ayahku menghajar kamu ya, Becker ..." Mata coklat Aghnia tampak dingin dan tidak ada rasa hangat layaknya hot choco.

"I'm so sorry Princess..." ucap Mark sungguh-sungguh.

Mark Becker

"Dimaafkan karena kamu sudah berani datang kemari dan meminta maaf langsung padaku. Oke? Sudah kan?" Aghnia mempersilahkan Mark untuk minum teh dan pria itu mengambil cangkir berisikan minuman khas Timur Tengah lalu menyesapnya.

This is so delicious.

"Teh nya enak, princess..." ucap Mark berkata apa adanya.

"Teh safron buatan koki istana Khalid memang paling the best" jawab Aghnia. "Aku sudah mencoba banyak teh safron baik yang disini selain istana atau di negara lain, tetap buatan Hamzah yang terbaik."

Mark mengangguk. "Ehem... Princess. Apakah undangan aku di DM Instagram itu diterima?"

Aghnia menatap polos ke Mark. "Undangan yang mana?"

"Mengajak makan siang kamu, princess..."

Aghnia menatap wanita di belakangnya dan berbicara dengan bahasa Arab. "Menurut mu apakah aku harus menerimanya, Jeddah?"

"Apakah tuan Alex dan nyonya Kalila mengijinkan?" balas Jeddah.

"Mungkin diijinkan jika kamu bersamaku..." senyum Aghnia yang membuat Mark terkesima dengan senyuman gadis itu.

Damn princess... Kamu cantik sekali kalau tersenyum. - batin Mark yang berusaha bersikap cool karena tidak mau terlihat ridiculous dan bisa-bisa ditendang oleh pengawal yang ada di ruang tamu itu.

"Bisa kita rundingkan nona ..." senyum Jeddah yang tidak pernah memanggil Aghnia dengan sebutan Princess karena gadis itu sendiri yang menolaknya. Jadi sejak awal Jeddah mengawal Aghnia, dia selalu memanggil nona.

"So..." Aghnia kembali menoleh ke arah Mark sementara Jeddah menghubungi Kalila via ponselnya dan berbicara dengan bahasa Arab ke ibu Aghnia itu. "Jika kamu mau mengajak makan siang aku, mau dimana?" tanya gadis itu dengan bahasa Inggris.

Mark melongo namun sedetik kemudian dia menyebutkan sebuah restauran yang sudah dibooking nya semalam. Rupanya nama Mark Becker sebagai vokalis Kiss of the Dragon, membawanya kemudahan mendapatkan meja VIP. Mark tidak menyangka bandnya terkenal di Doha.

"That's a nice restaurant. Setahu aku, selain keluarga Kerajaan, cukup sulit untuk mendapatkan tempat disana jika mendadak..." ucap Aghnia.

"Aku sendiri tidak tahu princess... Aku juga tidak menyangka namaku dan band kami terkenal di Doha..." balas Mark apa adanya.

"Nona, nyonya Kalila mengijinkan anda pergi bersama dengan pria itu tapi berangkat sendiri-sendiri. Habil sudah mempersiapkan dua mobil..." potong Jeddah dengan bahasa Arab. "Oh jika dia macam-macam... Hajar saja ! Begitu pesan Nyonya Kalila ..."

Aghnia tertawa. "Dasar mommy ..."

Sekali lagi Mark terkesima dengan suara tawa Aghnia yang seperti lonceng.

"Baik, Mark. Aku dan Jeddah akan pergi bersamamu ke restaurant itu tapi ... Kita berangkat sendiri-sendiri. Habil, pengawal ayahku sudah mempersiapkan dua mobil. Kamu tahu sendiri kan aturannya di Doha. Pria dan wanita yang bukan pasangan resmi dan halal, tidak boleh dalam satu mobil kecuali dia adalah ayah kamu, kakak kamu atau yang masih ada hubungan darah dan persaudaraan." Aghnia menatap Mark serius.

"Aku mengikuti saja aturan istana, Princess" jawab Mark.

"Bukan aturan istana, tapi aturan keyakinan kami..." balas Aghnia.

"Baiklah princess." Banyak sekali aturannya.

***

Dua mobil Mercedez AMG itu tiba di sebuah restauran high end di pusat kota Doha bernama ToroToro yang menyediakan makanan khas western dan sudah pasti berisikan daging grill dan steak.

Aghnia tersenyum smirk saat turun bersama dengan Jedda karena tahu, Mark adalah pria Amerika yang tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya daging.

"Nona, makan siang kali ini bakalan super berat..." bisik Jeddah yang berjalan di sisi Aghnia sementara Mark berjalan di depan bersama pengawal Aghnia lainnya, Umar.

"Tidak apa-apa. Kamu dan Umar nanti biar aku Carikan tempat tersendiri. Biar aku hubungi Izam ... " Aghnia menelpon seseorang. "Assalamualaikum Izam... Aku di restauran kamu."

***

Mark tidak heran saat Aghnia masuk, para pelayan memberikan hormat pada gadis itu dan dibalas dengan ramah. Benar-benar princess sejati.

"Sebelah sini Sir..." ucap salah seorang pelayan saat Mark menyebutkan namanya sebagai salah satu pengunjung restauran. "Apakah anda bersama dengan princess Aghnia?"

"Hah? Eh iya ... Saya bersama dengan princess Aghnia ... " jawab Mark gelagapan karena masih memperhatikan Aghnia.

"Baiklah Mr Becker..."

Mark tersenyum puas saat melihat lokasi tempat mereka akan duduk makan siang yang berada di balkon lantai dua. Sangat sophisticated dan dari sana mereka bisa melihat pemandangan pantai dari laut Al Thakira yang bersih dan indah.

"Silahkan Mr Becker..." ucap pelayan itu sambil menaikkan kursi untuk Mark.

"Terima kasih."

Aghnia datang tak lama kemudian setelah sebelumnya dirinya tertahan karena bertemu dengan beberapa koleganya yang makan siang disana.

"Princess, silahkan..." senyum pelayan itu sambil menarikkan kursi untuk Aghnia dan gadis itu pun duduk.

"Terima kasih."

"Minumannya seperti biasa, Princess?" tanya pelayan itu.

"Seperti biasa..." senyum Aghnia.

"Mr Becker?" pelayan itu menoleh ke Mark.

"Kamu pesan apa princess?"

"Watermelon soda dan fruit punch. Aku selalu memesan dua minuman itu kalau kesini ..." jawab Aghnia.

"Sama. Aku pesan minuman yang sama dengan princess Aghnia" ucap Mark.

"Certainly. Saya permisi dulu..." Pelayan itu pun undur diri.

"Apakah kamu sudah memesan makanan?" tanya Aghnia sambil membolak-balik buku menu.

"Belum. Apakah kamu ada usulan?" tanya Mark. "Sepertinya kamu sering kemari."

"Kebetulan pemilik restauran ini adalah temanku. Ayahnya yang memegangnya dan sekarang temanku mulai mengambil alih sedikit demi sedikit karena ayahnya hendak fokus di cabang kota Al Wakrah, kota kedua setelah Doha."

"Apakah temanmu chef ?" tanya Mark.

"Yes. Dia satu kampus dengan sepupuku yang juga chef di London..." jawab Aghnia.

"He?" ( Mark bertanya itu karena Aghnia menggunakan kata yang merujuk jenis kelamin laki-laki ).

"Yes... Why?" Aghnia menatap bingung ke Mark. "Bukankah banyak chef yang laki-laki?"

"Princess Aghnia sayang ..."

Aghnia tersenyum ke arah pria dengan penampilan cool, mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, jas wool ringan untuk musim semi yang satu set dengan celananya serta sepatu Prada.

"Hai Izam ..." Aghnia pun langsung memeluk pria tampan khas Arab itu.

"So, Jeddah dan Umar sudah aku berikan tempat, Darling. Jadi don't worry pengawal kamu akan kelaparan..." senyum Izam.

"Thank you Izam ..."

"Tunggu, bukankah disini tidak boleh lawan jenis saling berpelukan kalau bukan saudara atau ada hubungan kekerabatan?" tanya Mark yang bingung mereka tampak santai.

"Lho, aku dan Aghnia bisa seperti ini karena masih saudara sepupu..." jawab Izam santai.

"Kakek Izam itu adik dari kakek aku jadi kami masih saudara kan?" senyum Aghnia.

"Kami sepupu tapi lebih enak rasa teman ... Eh gimana ya Aghnia?" kekeh Izam sambil menatap gadis itu.

Mark hanya bisa melongo.

***

Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Terpopuler

Comments

Ninik Rochaini

Ninik Rochaini

mampir lg mbk... /Heart/

2024-10-15

1

wonder mom

wonder mom

buat mark makin sengsara. smg aghnia g spt kalila yg terluka krn dibohongi tp malah 'dikeroyok' org2 terdekatnya yg mendukung kebohongan undercover prince

2024-03-12

2

ellyana imutz

ellyana imutz

bingung kn mark itu br 1 saudara yg ktmu gmn u nanti ktmu saudara ny aghnia yg 1proponsi isoh pengsan u mark

2024-03-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!