Jordy tampak tidak semangat mendampingi Mark saat mereka melakukan pembicaraan tentang bisnis Boeing ke depannya bersama dengan Sheikh Amaludin dan princess Aghnia. Qatar Airways memang memiliki kebijakan penggantian pesawat setiap dua puluh tahun dan sekarang sudah ada tiga pesawat yang harus diganti.
Mark juga berdiskusi dengan Sheikh Khalid itu tentang desain terbaru Qatar yang merupakan karya Aghnia. Warna Qatar yang dominan maroon itu pun menjadi pembicaraan serius untuk desain yang sophisticated dan luxury di kelas bisnis.
Jordy meminta ijin pada Mark untuk ke kamar kecil saat Bossnya sibuk berdiskusi. Hatinya terasa kosong karena tidak terlihat Jeddah disana. Pria yang tidak kalah gantengnya dengan Bossnya itu pun berjalan menuju toilet. Mata abu-abunya melihat sosok yang dicarinya sedang mengobrol dengan seorang pria yang mengenakan gamis dan penutup kepala. Keduanya tampak sangat akrab.
Bohong jika Jordy tidak cemburu. Bagaimana tidak, saat Mark bilang akan pindah ke Doha, Jordy adalah orang pertama yang langsung tanpa basa basi bilang 'GO'!
Jordy lalu menghampiri Jeddah yang sedang mengobrol dengan pria khas Arab itu.
"Miss Jeddah ..." panggil Jordy membuat kedua orang itu menoleh.
"Mr Jordy ... " senyum Jeddah. "Apakah pertemuannya sudah selesai ?"
"Belum. Kenapa anda tidak bersama dengan princess Aghnia?" tanya Jordy.
"Oh, aku bertemu dengan saudara aku yang bekerja di Qatar. Bean, ini Jordy ..."
"Jordy Shortwest..." jawab Jordy.
"Bilal ... Tapi biasa dipanggil Bean karena sangat suka kacang ..." kekeh Bean sambil mengelus hijab Jeddah. "Jeddah yang memanggil aku dari kecil seperti itu dan keterusan deh."
Oh saudaranya ...
"Senang bertemu dengan anda, Bean..." Jordy mengulurkan tangannya ke Bean.
"Senang bertemu dengan anda, Jordy..." balas Bean.
***
"Ini desainnya bagus banget, princess... " puji Mark yang memang tidak bohong karena gadis itu sangat artistik.
"Kamu bersungguh-sungguh? Atau hanya ingin membuatku tersanjung?" Aghnia menatap Mark datar.
"This is truly beautiful..." ucap Mark lagi.
Sheikh Amaludin tampak setuju dengan desain terbaru interior pesawat Boeing terbaru Qatar airways. "Aku rasa Mark benar, Aghnia. Ini desain kamu sangat indah dan mewah. Very classy. Karena tidak mudah mengkombinasikan warna maroon yang bisa membuat mewah."
"Menurutmu juga oke, Kak Amal?" tanya Aghnia.
"Yup... bagaimana Mr Kershaw?" Sheikh Amaludin menatap Mark.
"Ini sangat bisa dipakai. Kapan kita akan mulai transaksi?" senyum Mark.
***
Mark tampak bahagia karena bisa menutup transaksi penjualan Boeing dengan Qatar Airways dengan angka di atas targetnya. Tentu saja dengan ada persyaratan menggunakan desain dari Aghnia yang bukan suatu masalah bagi pria itu.
"So, princess... Apakah boleh aku mengajak makan malam?" tanya Mark. "Untuk merayakan kerjasama kita?"
Aghnia menatap datar ke Mark. "Selama tidak ada drama macam di ruang kerja kamu, tidak masalah ..."
Mark tersenyum lebar. "Aku akan menjemput kamu nanti malam di istana Khalid."
"Percaya diri sekali kamu Mark?" ejek Aghnia.
"Wajib princess... Demi kita ..."
Aghnia terbahak. "Oh my God..."
"Princess, aku sudah bilang pada ayahmu dan kakakmu siapa aku sebenarnya... Berharapnya mereka memberikan restu padaku ..."
Aghnia mendekati Mark. "Tidak semudah itu, Férguso..."
"Namaku Mark, princess, bukan Férguso..." senyum Mark.
"I know ... Aku hanya memakai kiasan saja. Jam tujuh malam. Jangan terlambat !" Aghnia pun berbalik meninggalkan Mark yang terbengong-bengong.
"I will on time princess !" ucap Mark.
***
Aghnia keluar bersama dengan para staffnya dan mencari Jeddah yang sedang berbicara dengan Jordy, asisten Mark.
"Jeddah !" panggil Aghnia membuat gadis itu menoleh.
Jeddah tampak berpamitan dengan Jordy dan langsung menghampiri Aghnia.
"Maafkan saya nona. Mr Jordy bertanya-tanya tentang makanan khas Doha ... Dan dimana membelinya ..." jelas Jeddah.
"Bagaimana dengan aplikasi kuliner yang ada di ponsel ? Mengapa dia tanya padamu ?" Aghnia menatap dingin ke Jordy. Jangan-jangan... Boss dan asisten sama saja? Penuh modus...
"I don't know. Mungkin lebih nyaman jika tahu dari orang lokal?" jawab Jeddah sambil mengedikkan bahunya.
Aghnia mengangguk lalu berjalan keluar dari kantor Qatar Airways menuju kantornya sendiri yang ada di istana Khalid.
***
"Kamu tadi lama sekali ke kamar mandinya? Sakit perut?" tanya Mark sambil bekerja di depan MacBooknya sekalian memberikan laporan kepada ayah dan kakaknya bahwa dia berhasil closing tender. Mereka berada di dalam mobil Mark untuk kembali ke kantor Boeing.
"Saya ... Mengobrol dengan miss Jeddah. Anda nanti malam hendak makan malam dengan princess Aghnia?" Jordy menoleh ke arah Bossnya yang duduk di kursi tengah.
"Memang kenapa jika aku pergi dengan Aghnia ?" tanya Mark sambil mengerenyitkan dahinya.
"Bolehkah saya pergi dengan Miss Jeddah?"
Mark melongo. "Kamu naksir pengawalnya Aghnia ?"
Jordy tersenyum simpul.
"Oh my God... Ini bakalan kacau, Jordy. Bagaimana pendapat Aghnia soal ini ..." Mark mengusap wajahnya. "Apakah Jeddah menerima kamu?"
"Belum... Miss Jeddah sama dengan princess Aghnia... Sulit didekati..." jawab Jordy kikuk.
Mark tertawa kecil. "Itu namanya mereka adalah gadis yang patut diperjuangkan karena bukan gadis yang langsung terpesona dengan fisik ..."
"Anda benar Boss ..." jawab Jordy.
Mark tersenyum namun setelahnya dia tampak berpikir. "Apakah kamu suka dengan Jeddah saat bertemu pertama kali atau ..."
"Sejak Boss minta pindah ke Doha dan aku mencari tahu soal Princess Aghnia karena tahu boss suka dengan dia. Setiap saya mencari tahu tentang princess Aghnia, saya melihat ada gadis di belakangnya dan yang akhirnya saya tahu bernama Jeddah Al Salim. Dia pengawal princess dan ... Sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama..." jawab Jordy yang memilih jujur daripada Bossnya mencari tahu.
"Hhmmm... Boleh kamu pergi dengan Jeddah asalkan gadis itu mau ..." ucap Mark akhirnya. Bisa tidak fokus kerja tar asistennya kalau tidak dikasih ijin.
***
Ruang Kerja Mark Becker
"Congratulations brother ! Tender pertama kamu dan angkanya sangat fantastis!" puji Matthew saat Mark menghubungi mereka melalui panggilan video.
"Thank you dan persyaratannya sangat menguntungkan aku ..." Senyum Mark semakin lebar.
"Jangan bilang desain nya dibuat oleh princess Aghnia Khalid ..." tebak Nathaniel.
"Exactly..." jawab Mark dengan wajah sangat bahagia.
"Dad, jika memang dia bisa melakukan tender di Doha, harusnya dia bisa melakukan tender di negara timur tengah lainnya..." goda Matthew.
"Oke. Target kamu sekarang, yakinkan semua pemimpin timur tengah untuk menggunakan Boeing, bukannya Airbus atau Gulfstream. Apalagi kita sudah meluncurkan mini Boeing yang kapasitas sama dengan Gulfstream jadi dengan mesin milik kita yang baru, harusnya kamu tidak ada masalah bisa mendapatkan kepercayaan dari para Emir" ucap Nathaniel. "Apalagi kamu juga bagian dari desainer mesin terbaru Boeing dengan mengembangkan mesin itu bersama dengan Bayu O'Grady dan Duncan O'Grady."
Mark mengangguk. "Aku akan membuat semua Emir berpindah ke Boeing ..."
"Good !"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Heryta Herman
sekali dayung dua pulau terlampaui ni,mark..
boss dan assisten sama" satu tujuan..
semangat buat kalian berdua
2025-02-10
1
ellyana imutz
asyiikk sambil kerja sambil pdkt ni ciiiieee otak rockers g klh m CEO ni..sekali dayung 2 pulau terlampui....ayooo semangat jordy dpt in ht ny jeddah
2024-04-04
1
wonder mom
lama2 klan pratomo kek the little world. rasnya beragam. kerjaannya beragam
2024-04-04
1