Yang Chen muncul di bawah pohon dalam posisi setengah bersujud, dia terengah-engah dan memuntahkan darah berkali-kali. Dia merasa dadanya sangat sakit, sepertinya tulang rusuknya patah dan menekan paru-parunya.
"Sakit sekali, aku merasa seperti mau mati." Yang Chen memegangi dadanya dan kembali memuntahkan darahnya.
Dia mengeluarkan air dan menenggaknya, lalu menghela napas. Dia merasa sedikit nyaman setelah minum sumber air dari Lahan Pertanian Ilahi. Meski tidak memiliki efek luar biasa seperti menyembuhkan luka dalam, tapi bisa mengurangi sedikit rasa nyeri serta mengembalikan stamina.
Yang Chen mencengkeram erat kapak di tangannya. "Keluar."
Dia muncul di tempat sebelumnya dan melihat laba-laba tengah membelakanginya, bergerak ke kiri-kanan mencari mangsanya yang menghilang.
Dia memegang kapak dengan kedua tangan, mengayunkan kapak itu secara menyerong dari bawah ke atas dengan kekuatan penuhnya.
Slash!
Kapak menyayat area belakang laba-laba dan membuat luka yang cukup dalam. Cairan hijau menyembur dari luka dan jatuh di lantai, membuat lantai itu berlubang dengan asap yang mengepul.
"Sial!" Yang Chen melompat mundur saat melihat cairan asam yang mengerikan ini.
Laba-laba merasa sakit di bagian belakang tubuhnya. Ia mengeluarkan suara suram saat berbalik dan mengayunkan kaki depannya.
Yang Chen tidak mungkin diam saja seperti sebelumnya, sekarang dia tahu bagaimana cara melawan binatang ini dengan memanfaatkan keunggulannya.
Untuk menghindari serangan dari laba-laba, dia kembali masuk ke Lahan Pertanian Ilahi.
Tapi hanya dalam waktu singkat, Yang Chen kembali lagi. Dia langsung meluncur ke bawah perut laba-laba, menebasnya kuat-kuat dengan kapaknya yang sedikit rusak karena zat asam.
Yang Chen berguling ke kiri setelah menebas perut bagian bawah laba-laba tanpa mencari tahu apakah serangannya berefek atau tidak. Dia berdiri setelah berguling dan melompat sambil mengangkat kedua tangannya yang membawa kapak; mengayunkan kapak, memberi serangan secara vertikal ke bawah.
Setelah menyerang, Yang Chen langsung menghilang dari tempatnya, bersamaan dengan kaki kiri depan laba-laba yang menyerang, menusuk seperti tombak. Jika dia tidak menghilang, dapat dipastikan bahwa tubuhnya akan berlubang dan dia akan berpindah tempat ke dalam perut laba-laba.
Laba-laba berbalik, bergerak ke kiri-kanan sambil mengeluarkan suara suram. Ia sangat marah karena kehilangan mangsanya dua kali, dan tidak hanya itu, ia bahkan mendapat luka di tiga tempat yang membuat pergerakan tubuhnya terbatas.
"Oh? Sekarang aku di atasnya?" Yang Chen muncul kembali dan kali ini berada di atas laba-laba dengan membawa cangkul sebagai senjata.
Yang Chen mengangkat cangkul dengan kedua tangan.
Laba-laba menggerakkan tubuhnya dengan liar dengan harap manusia di atasnya bisa jatuh, dan tindakannya berhasil karena membuat Yang Chen kehilangan keseimbangan.
Meski kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, Yang Chen tidak ingin membuang kesempatan ini, sudah sangat sulit mendekati laba-laba ini, apalagi untuk berada di atasnya.
Cangkul yang dibawanya itu diayunkan ke arah kepala laba-laba dengan kekuatan penuhnya yang tidak seberapa, tapi meski tidak seberapa, dengan tajamnya cangkul, itu bisa memberikan luka yang signifikan.
Seandainya serangan berada di kaki, mungkin tidak akan ada hasil, tapi berbeda dengan bagian cangkang atas dan perut yang menyimpan cairan asam.
Laba-laba bergerak lebih liar, bahkan sampai melompat dan menyemprotkan jaring laba-laba ke langit-langit ruangan.
Kali ini Yang Chen benar-benar kehilangan keseimbangan sampai terlempar, bahkan cangkulnya terlepas dari genggaman tangannya dan masih menancap di celah antara leher dan tubuh laba-laba.
"Sial!" Yang Chen jatuh menghantam lantai dengan posisi punggung di bawah. Dia merasakan sakit yang luar biasa, dan ini kedua kalinya punggungnya membentur benda keras.
Yang Chen bangkit perlahan, tiba-tiba dia mendongak dan langsung berguling ke samping untuk menghindar dari serangan yang muncul di atasnya.
Kemudian dia mendengar suara mendesis seperti air yang dituang ke besi panas. Yang Chen melihat lantai mengeluarkan asap saat terkena jaring laba-laba, dan saat dia melihat ini, dia kembali mengumpat.
Yang Chen berdiri dan berlari ke arah pintu, dia turun dari lantai dua dengan langkah tergesa-gesa yang gugup.
Boom!
Pintu di belakangnya hancur karena tubuh besar laba-laba, tapi itu tidak membuat Yang Chen menghentikan langkahnya dalam menuruni tangga, bahkan langkah kakinya semakin cepat.
Saat dia berlari, tiba-tiba tangga kayu di bawah kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya, yang membuatnya tersentak dan jatuh terguling.
Yang Chen bangkit sambil batuk beberapa kali. Menahan rasa sakit yang ada, dia menoleh ke lantai dua yang gelap. Meski dia tidak bisa melihat apa pun, tapi dia tahu bahwa bahaya yang mengancamnya ada di sana.
Dia mengeluarkan jemari dan melemparkannya di tumpukan kayu lapuk, lalu dia mengeluarkan obor yang menyala dan menunggu laba-laba datang. Dia sendiri tidak tahu apakah nyala api bisa membunuh laba-laba, tapi bahkan meski tidak bisa, setidaknya bisa menunda waktu sehingga dia bisa meninggalkan tempat ini.
Saat dia bersiap-siap, tiba-tiba dia mendengar suara desis dan kali ini dibarengi dengan bau rumput terbakar.
Tanpa pikir panjang, dia melempar obor sekaligus berbalik berlari ke arah pintu keluar. Akan sangat bodoh jika dia tetap tinggal di sini, dan kebetulan karena rumput serta puing-puing kayu sudah terkena semburan zat asam, maka ini adalah kesempatannya yang lain.
Booom! Duaarr!
Baru saja Yang Chen keluar dari rumah, tiba-tiba ledakan keras terdengar dengan gelombang kejut kencang yang menghantam punggungnya, membuatnya terlempar ke depan.
"Masuk!" Yang Chen menghilang dari tempatnya untuk sesaat sebelum muncul lagi dengan posisi yang lebih baik. Jika dia tidak masuk ke Lahan Pertanian Ilahi untuk membenarkan posisinya, dia akan jatuh tersungkur dengan kepala membentur batu.
Yang Chen melihat rumah yang terbakar hebat, bahkan betonnya sampai runtuh. Adapun laba-laba di dalamnya, dia tidak tahu apa sudah mati atau belum. Tapi yang pasti, dia ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimanapun, sebentar lagi tengah malam, dan dia bisa bersembunyi di Lahan Pertanian Ilahi sampai pagi hari.
"Pipa besi?" Yang Chen melihat ada pipa berkarat di tanah, dia berjongkok dan mengambilnya. "Ya, meski buruk, harusnya bisa menjadi senjata sementara."
Yang Chen duduk di atas batu menunggu api padam dengan sedikit kegugupan. Dengan suara pertempuran dan ledakan api, pastinya menarik perhatian, entah manusia yang selamat maupun binatang mutan.
Dia mengerutkan kening dan berdiri, melihat nyala api dengan tatapan muram. "Belum mati?"
Dia melihat bayangan besar yang keluar dari nyala api. Laba-laba penuh luka bakar melangkah dari reruntuhan yang terbakar, cairan asam yang keluar dari tubuhnya terbakar dan mengeluarkan ledakan terus-menerus.
Laba-laba itu mengeluarkan suara suram saat melangkah, tapi baru beberapa meter meninggalkan rumah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Yang Chen terdiam di tempatnya, dia bingung apakah laba-laba ini sudah mati atau tidak. Ragu-ragu, akhirnya dia memilih untuk menghampiri sambil menggenggam erat pipa besi dengan langkah pelan.
Berdiri di depan laba-laba, Yang Chen menyentuh kepala laba-laba menggunakan pipa besi. "Mati?"
Yang Chen mendongak, dia tidak melihat ada cangkul di atas kepala laba-laba. "Hilang, atau terbakar?"
Dia berdiri diam di tempatnya beberapa saat, lalu berbalik dan meninggalkan area ini. Tapi baru melangkah beberapa meter, dia berhenti lagi untuk melihat mayat laba-laba.
"Sayang jika ditinggal di sini, aku mempertaruhkan nyawaku untuknya, lebih baik aku membawanya. Kaki laba-laba ini bisa digunakan untuk senjata atau pengganti cangkul yang hilang."
Yang Chen menyentuh kepala laba-laba dan menyimpan mayatnya ke dalam Inventaris. Kemudian dia pergi meninggalkan area ini dengan tergesa-gesa namun tetap dalam kondisi waspada.
Dia berhenti setelah dirasa cukup jauh dan berbaring di tanah yang bau. Dia terengah-engah, tubuhnya basah akan keringat, dan jantungnya masih berdetak kencang karena takut maupun gugup.
"Aku harus bertambah kuat. Aku memiliki keuntungan yang tidak dimiliki orang lain."
Orang lain butuh latihan berat, atau bahkan harus mengonsumsi makanan dengan radiasi nuklir untuk menambah kekuatan mereka, yang mana sangat berisiko. Adapun dirinya, hanya perlu memakan hasil panen untuk menaikkan levelnya dan fisiknya akan bertambah kuat.
Tap... Tap... Sreekk...
Ketika Yang Chen sedang melamun, tiba-tiba dia disadarkan oleh langkah kaki berat. Dia langsung berdiri, dia melihat ke arah sumber suara sambil mengeluarkan obor.
Cahaya obor mampu menerangi area dalam radius dua meter, yang membuatnya sulit untuk melihat apa yang ada di depannya.
"Apa ada orang di sana?" Yang Chen bertanya karena penasaran, dan setelah dia mengeluarkan itu, tiba-tiba dia menyesalinya.
Yang Chen mengarahkan obor dan mengambil langkah ke depan. "Persetan!"
Dia membuang obor dan berbalik pergi, bahkan meski dia masih lelah, dia harus tetap menjauh dari tempat ini.
Meski dia sudah pernah melihat makhluk sebelumnya, tapi itu di film, bukan di kenyataan seperti ini. Dalam film hanya visual dan suara, tapi di kenyataan, bukan hanya kedua itu, tapi juga aroma busuk yang menusuk hidung.
"Sial! Bukannya hanya binatang mutan? Mengapa ada zombie?!"
...
***
*Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
MulyoJati Putro JagadJenar
😆😆😆
2025-02-13
1
miyamura kun~
wkwkwkw mantap
2024-03-14
3
y@y@
⭐👍🏿👍👍🏿⭐
2024-03-05
1