Peluh keringat tampak membuat dahi serta anak rambut Bellona terlihat sedikit mengkilap, hal itu semakin membuat Rafayel tersenyum lebar.
"Aku telah menunggu mu hampir setengah jam! eehm maksud ku lima belas menit! apa kau tak ingin mempercepat langkah mu Nona?"
Aaaiiiish! pria itu!
"Pukul berapa ini? bukankah kau bilang akan menjemput ku jam 9 pagi?"
"E-eee! kau benar! tapi aku sudah tak mampu menahan diri untuk bisa bertemu dengan mu Nona Ghelsi!"
"Terserah!"
"Nona-, tunggu!"
"Apalagi?" Bellona kembali berbalik badan dan menatap Rafayel dengan wajah datar.
"Bolehkah diriku turut menumpang untuk ke toilet?I'm bursting!" pria itu berucap sembari memegangi area sensitifnya.
"Masuklah!"
Memasuki apartemen sederhana milik Bellona, pandangan Rafayel seketika menelisik setiap sudut ruangan.
Rapi,
Pria itu tersenyum sembari mengekor pada langkah sang pemilik apartemen.
"Maaf! karena apartemen ku terlalu kecil, jadi toilet hanya ada satu di ruang kamar ku! cepatlah! aku juga harus segera membersihkan diri."
Rafayel mengangguk dengan seutas senyum sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu toilet.
Terduduk sembari melepas sneaker pada kakinya, Bellona kembali meraih ponsel yang bergetar didalam saku hoodie berwarna navy yang ia kenakan.
Katakan dimana tempat tinggal mu sekarang?
Sebuah pesan singkat dari nomor asing tampak membuat Ghelsi memicingkan mata.
"Siapa lagi ini? tunggu-, tak mungkin pria ingusan itu mengerjai ku bukan?" Bellona kembali memperhatikan pintu toilet yang masih nampak tertutup sempurna.
"Haruskah aku menyimpan nomor Rafayel?"
"Tentu saja Nona! kita akan menjadi partner sejati di masa mendatang! bagaimana bisa kau masih tak menyimpan nomor ponsel pribadi ku?"
Sialan, bagaimana bisa ia tiba-tiba muncul dan mendengar kalimat ku?
Bellona Ghelsi kembali mengalihkan tatapannya pada pria yang kini dengan santai duduk disampingnya.
"Apa kau telah menyimpan nya? kau tahu Nona? hanya dirimu, satu-satunya gadis yang beruntung bisa mendapatkan nomor ponsel pribadi ku secara cuma-cuma! diluaran sana banyak gadis yang memohon untuk meminta hal itu!"
"Benarkah? aku pikir kau tipe pria dengan sejuta wanita disisi mu!"
"A-apa? apa kau pikir diriku ini pria murahan?" wajah Rafayel seketika berubah serius.
"Mungkin!" Bellona kembali berucap enteng sembari melepas ikat rambut,
"Kau! kenapa menyebalkan sekali? kemarin kau mengatai ku dengan sebutan pria di bawah umur! sekarang kau bilang bahwa diriku ini pria murahan?" Rafayel turut beranjak dan menghadang langkah Bellona.
"Jika dirimu memang bukan diantara kedua pria yang ku maksud, kenapa harus marah? minggir lah bocah! aku harus membersihkan diri sekarang!"
Aaaaa'aaah dasar wanita tua menyebalkan!
Melihat raut wajah kesal Rafayel yang masih tak bergeming dihadapan nya, Bellona Ghelsi akhirnya menghela nafas dalam, walau bagaimanapun ia juga memiliki seorang adik lelaki.
"Baiklah! aku minta maaf! pria tampan yang menggemaskan! bisa kau menyingkir sekarang?"
"Kau yang terbaik Nona!"
Astaga, ternyata dia memang lebih pantas ku sebut sebagai anak-anak!
"Tunggu lah diluar! aku akan segera mempersiapkan diri! dan jangan lupa untuk menutup pintunya! apa kau mengerti?"
Rafayel mengangguk cepat dan seketika melangkah keluar ruangan.
Kenapa diriku jadi merindukan Benedict? tapi dia bukanlah adik yang penurut seperti Rafayel,
Gadis dengan rambut hitam lurus itu seketika terkekeh meskipun wajah nya tampak getir.
Apa mereka baik-baik saja? apa mereka juga merasakan sedikit kerinduan terhadap diriku? atau mungkin tidak sama sekali.
Jemari Bellona seketika refleks mengusap buliran air mata yang terjatuh membasahi pipi.
Sementara Rafayel yang belum sepenuhnya menutup pintu, tanpa sengaja ia harus menyaksikan wajah sendu dari gadis asing yang tertunduk di sofa kamar.
******
"Rafayel! aku merindukanmu!"
Seorang anak perempuan dengan rambut poni serta rambut yang dikepang rapi tampak berlari menubruk tubuh jangkung Rafayel.
"Oo-oh! benarkah? tapi mommy mu sangat galak terhadap ku! itu membuat ku takut!"
"Akhirnya kau datang juga Raf! Claire selalu menanyakan keberadaan mu! itulah kenapa aku membawanya kemari! Apa kau keberatan?"
"Tentu saja tidak! dan maaf kak! aku memang sedikit sibuk akhir-akhir ini!" pria itu kembali menurunkan Claire yang semula berada dalam gendongannya.
Dia? bukankah wanita ini istri dari Tuan Dante? apa Rafayel bersaudara dengan nya? tapi bukankah walikota hanya memiliki satu anak perempuan?
Bellona Ghelsi tertunduk diam dengan segala pemikirannya,
"Baiklah! aku titip Claire padamu! dan ingat! jangan memberikan permen atau makanan manis yang terlalu berlebihan padanya!"
"Kau bisa mengandalkan diriku, kak! tenang saja! berhati-hatilah dalam berkendara!"
Rafayel juga Claire tampak melambaikan tangan mereka saat kendaraan MC Larent milik wanita itu kembali melaju.
Dia memang bukan pria sembarangan, setidaknya diriku bisa meraih cukup uang untuk membiayai hidup selama beberapa bulan ke depan.
Bellona tersenyum tipis sembari memperhatikan mansion yang berdiri megah dihadapan nya.
"Kita masuk sekarang!" Rafayel tampak kembali mengangkat tubuh mungil Claire menggunakan lengan kirinya dan menarik pergelangan tangan Bellona hingga gadis itu melangkah di samping kanan tubuhnya.
"Rafayel! apa dia kekasih mu?"
"A-apa? mungkin! entahlah!" pria tampan dengan hidung mancung itu tampak salah tingkah karena pertanyaan Claire.
"Jadi kau belum juga mencarikan aunty untuk ku?"
Rafayel terkekeh menatap wajah imut sang keponakan meskipun genggaman tangan kanannya semakin erat membelenggu pergelangan tangan Bellona.
Omong kosong macam apa yang dia pamerkan pada anak sekecil itu, dasar pria aneh!
Bellona Ghelsi hanya bungkam dengan wajah datar hingga mereka memasuki ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
☠ȋ⏤͟͟͞Rἅyαyu𒈒⃟ʟʙᴄ🍂
ternyata semua saling terhubung satu sama lain
2024-05-26
0
Uthie
Wahhh .. adik ipar Dante kah??
2024-05-24
0