Malam itu tubuh Nyonya Darent seketika melemas setelah menerima kabar tentang perceraian putri nya dengan putra semata wayang dari Tuan Louis, wanita paruh baya itu terduduk lemah di sofa ruang tengah sembari memegangi kepalanya.
Apa Lona hancur seorang diri? putri ku yang malang? dimana dia sekarang?
"Bagaimana ini? kemana Lona pergi Benedict?" Nyonya Darent terlihat mengguncang perlahan tubuh putranya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Bisa-bisanya dia melakukan hal konyol seperti ini! kenapa dia sama sekali tak bisa merubah sikapnya?" Benedict justru berdecak kesal dan tak menghiraukan perkataan Nyonya Darent.
"Ben! tolong hubungi kakek! tanyakan padanya, apakah Lona berkunjung ke sana?" Bella akhirnya turut bersuara ditengah kepanikan saudara juga orang tuanya, wajah wanita itu juga nampak memerah dengan suara seraknya.
"Biarkan saja! tak perlu mencari keberadaan nya! biarkan saja Bellona memilih jalan hidupnya sendiri. Dia telah berani mencoreng nama baik keluarga kita, aku tak akan lagi sudi untuk menerima nya kembali ke rumah ini."
Suara Tuan Darent terdengar begitu memekakkan telinga, raut wajahnya juga nampak serius dengan alis yang tebal yang hampir menyatu.
"Dad! aku mohon jangan lakukan itu, ini semua bukan salah Lona, dad!"
"Kenapa kau selalu membela nya Bella? kau dan juga mommy mu itu terlalu sering memanjakan Lona! inilah akibatnya sekarang, dia menjadi semakin semena-mena dan bertindak sesuka hatinya."
Benedict hanya kembali diam menyaksikan perdebatan antara daddy serta saudara perempuannya.
Aku harus mencari tahu sesuatu, kenapa Lona bisa berbuat se nekad ini? bukankah dia terlihat begitu bucin pada Logan sebelumnya? apa ada yang tak ku ketahui selama ini?
****
"Sepertinya aku tak akan mampu untuk berkendara lebih jauh lagi," Lona menarik lengan cardigan dan melirik arloji berwarna gold yang melingkar pada pergelangan tangan kurusnya.
Malam yang mulai larut membuat Bellona memutuskan untuk memberhentikan kendaraan Porsche Cayenne GT miliknya di sebuah penginapan.
"Clarion Sky Hotel, sepertinya aku bisa tinggal sementara disini."
Bellona beranjak melangkah menuju bagasi dan meraih koper berwarna hitam miliknya sebelum akhirnya memasuki penginapan.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? apa kau tak akan membiarkan ku masuk hanya karena butiran pasir ini?"
Tatapan tajam dengan wajah datar serta kalimat ketus dari lisan Lona seketika membuat sang resepsionis tertunduk.
" M-maaf ..., ada yang bisa saya bantu ma'am!" sang resepsionis nampak gugup dan akhirnya menyambut kehadiran Lona dengan lembut nan ramah.
"Satu kamar tipe apapun untuk ku! jangan banyak bertanya, aku sungguh lelah!"
Lona menunjukkan kartu identitas serta menyerahkan kartu kreditnya pada wanita dengan tampilan molek nan rapi dihadapannya.
🧝"This is your key card ma'am! good -"
"Thank's!" Lona menyambar key card hotel dan seketika melangkah mengikuti salah satu staff lain yang mengiringi langkahnya dengan menarik koper.
Andai dia bukan keturunan dari keluarga konglomerat, diriku pasti sudah memanggil security untuk mengusir nya.
Sang resepsionis kembali menampilkan raut wajah sinis begitu Bellona menjauh hilang dari pandangan nya.
*****
"Huuuuufft! apa pria ingusan itu terus menghubungi ku? kenapa ponsel ku sampai mati seperti ini?" Bellona mengerucutkan bibirnya sembari menancapkan charger gawai pada stop kontak di sebelah ranjang tidurnya.
Beranjak menuju kaca jendela, jemari gadis itu nampak menarik tirai hingga ia kembali tersenyum saat mendapati pemandangan city light malam itu.
Apa diriku berani menemui Tuan Darent? apa dia akan benar-benar akan memecat ku sebagai putri nya? aaaaaah ..., hidup ku kenapa serumit ini Tuhan?
"Mungkin tak akan rumit, jika aku tak mengenal pria bernama Logan. Aku sungguh tak percaya bahwa diriku pernah menjadi istrinya," Bellona kembali terkekeh seorang diri dengan tatapan yang tak beralih dari pemandangan lampu-lampu kota yang menawan.
"Ayolah Lona! apa kau tak akan membersihkan dirimu? lihatlah cara staff hotel memandang mu, mereka pasti akan segera mengusir mu dengan paksa jika kau bukan seorang Bellona Ghelsi, putri dari Tuan Robert Lucius Darent."
Lona kembali melangkah dengan gontai menuju shower room di kamar hotel, gadis itu nampak begitu menikmati momen membersihkan dirinya meskipun ingatan pahit yang diberikan oleh Logan kembali melintas dalam benaknya setiap kali ia menutup mata.
Betapa bodohnya dirimu Lona! bagaimana bisa kau tak menyadari hubungan mereka dari awal! Logan yang tiba-tiba memperlakukan mu seolah pria itu sangat menginginkan mu, tapi nyatanya ...,
dia menikmati tubuh mu dengan pikirannya yang tertuju pada Bella! saudari mu ...,
"Tak bisakah kau diam saja? sudah ku katakan aku ingin melepaskan semuanya! Jangan lagi bersuara didalam kepala ku! aku mohon!"
Tubuh Bellona kembali merosot, gadis itu nampak terduduk di lantai shower room dengan mendekap kedua kakinya.
Lona yang berusaha untuk terlihat tegar dan garang dihadapan semua orang nyatanya tetap saja lemah dan hancur saat sendirian.
Sementara disisi lain,
Logan nampak menikmati whiskey di ruang kerjanya. Wajah pria itu nampak begitu berantakan tak kalah berantakan dari hatinya.
"Apa yang kau lakukan Lo? berhentilah! atau kau akan mati muda."
"Tidak! aku tidak akan mati sebelum menebus semua dosaku padanya Max? aku berjanji pria brengsek ini tak akan mati secepat itu ...!"
Logan meracau, jemarinya kembali meraih botol whiskey dan hampir menuang cairan alkohol itu ke sloki, namun Maxim menghentikannya.
"Bukan seperti ini caranya dude! kau akan kehilangan kesempatan mu kembali jika kau terus-menerus menghabiskan waktu mu bersama whiskey!"
Logan tak menghiraukan perkataan sahabatnya, pria itu justru menghentak kasar tangan Maxim dan kembali menenggak whiskey hingga berujung terkapar tak sadarkan diri.
"Kau sungguh menyusahkan ku Lo! kenapa harus selalu diriku yang kau hubungi setiap ada masalah yang harus kau hadapi? jika kau benar-benar mencintai Lona! seharusnya kau bisa menghentikan hubungan kotor mu itu bersama Bella! dasar pria serakah!"
Maxim berdecak kesal sembari memandangi tubuh sahabat nya sebelum akhirnya memutuskan untuk memindahkan tubuh berat Logan di atas sofa.
"Tidur lah dengan nyenyak! aku harus kembali pulang sekarang!"
Baru beberapa langkah hendak meninggalkan ruangan, suara dering nada ponsel Logan kembali menghentikan pergerakan kaki Maxim.
"Siapa lagi yang menghubungi nya? aaaaaghhh! aku bukan baby sitter mu Logan! fuck you!" Maxim seketika mengumpat dan berbalik arah memeriksa kantong celana sahabatnya.
Bella? apa mereka masih tetap berhubungan?
Pria itu nampak ragu, namun akhirnya menjawab panggilan.
"Maaf! Logan sedang tak bisa berbicara sekarang, dia tengah tak sadarkan diri, sebaiknya kau menghubunginya kembali besok pagi, Bell!"
Max? apa ini kau?
"Iya, kau benar! kekasih mu sepertinya sangat terpukul atas kepergian dari mantan istrinya, dia menghabiskan hampir 3 botol whiskey seorang diri. Aku harap dia masih bisa hidup besok pagi." Maxim terkekeh dan seketika mengakhiri sambungan telepon pada gawai sahabatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Sulis Tyawati
hrs nya lona jgn merusak kesehatan nya dg nikotin dan alkohol..
2025-01-13
0
Sri Astuti
lg suka main api.. Bella jg ga menghargai diri sendiri.. jelas adiknya sangat twrluka
2024-07-03
0
Tiga Kuda
yah .... ketika ada 2 hati, kenapa hanya memilih 1 ... *manusiaMen
2024-05-28
1