Rasa dingin kembali terasa dan menjalar di sekujur tubuh Bellona, gadis itu nampak menggigil hingga ia menarik erat selimut tebal berwarna putih di kamar hotelnya.
Baru beberapa menit untuk mencoba kembali terlelap, suara pintu ruangan nampak terdengar dibuka dengan kasar.
"Bangun! kau harus kembali ke rumah! aku telah meminta para pengawal untuk membawa kendaraan mu! jadi bangun sekarang atau kau akan sangat bersusah payah untuk bisa kembali dan sampai di rumah!" Benedict seketika meninggikan suara dan melangkah mendekati ranjang.
"Bangun sialan!"
Tak mendapati respon apapun, Benedict akhirnya menarik dengan kasar selimut yang menutupi tubuh saudarinya,
"Ben? kau kemari?" gadis itu sedikit terkejut dan mencoba untuk meraih kesadaran, meskipun matanya sangat sulit untuk terbuka.
"Hentikan semua drama konyol mu ini Lona! cepat bersihkan dirimu dan kita akan kembali ke rumah sekarang! apa kau masih tak mengerti juga? kau ini dungu atau bagaimana?"
"Ben ..., bisakah aku beristirahat? aku lelah."
Benedict kembali membuang nafas kasar dengan memalingkan wajahnya, pria itu juga melonggarkan dasi pada kerah kemeja hitam yang ia kenakan.
"Apa kau akan terus saja menyusahkan semua orang-orang di sekitar mu Lona? kapan kau akan bersikap dewasa? haaaaaaghh?"
"Bangun sekarang!"
Benedict yang geram karena Lona yang masih saja terbaring dengan meringkuk diam membuat pria yang justru lebih muda dua tahun dari Bellona itu akhirnya turut menaiki ranjang dan menarik kasar pergelangan tangan kakaknya.
"K-kau? apa kau demam?" mimik wajah Benedict pun berubah seketika.
"Tidak! tidak Ben! aku hanya butuh istirahat, tolong! biarkan diriku istirahat satu jam saja! aku janji, aku akan ikut dengan mu setelah itu." Lona berucap lemah dengan tetap memejamkan mata meskipun posisinya kini telah terduduk.
Lona? apa sebenarnya yang terjadi padamu? kenapa? kenapa kau sungguh terlihat jauh berbeda?
Benedict pun terdiam beku, pria itu nampak memandangi paras cantik sang kakak yang kini telah banyak berubah di matanya.
"Lihat aku! apa kau merasa pusing atau semacamnya? bukalah matamu, Lona!" nada suara Benedict pun seketika turun dengan drastis, jemarinya kini nampak begitu lembut dalam menepuk-nepuk pipi kakak perempuannya.
"A-aku ..., aku sakit Ben! sungguh, aku sedang tidak baik sekarang. Tolong jangan memarahi ku, aku benar-benar sakit Benedict."
Suara lemah serta wajah pucat Bellona semakin membuat pria itu panik, Benedict kembali menegakkan posisi tubuhnya dengan sempurna. Pria itu bahkan menekan tombol darurat yang berada pada sisi kiri ranjang kamar hotel sang kakak.
Tak berselang lama akhirnya petugas kesehatan menghampiri Benedict di ruangan hotel dan memeriksa kondisi tubuh Bellona.
Atensi Benedict teralihkan saat gawai dalam sakunya kembali bergetar.
"Bella? "
Haruskah aku menjawab panggilannya? apa mom bersama nya saat ini?
Pria bertubuh tinggi serta hidung yang cukup mancung itu hanya memandangi layar ponsel tanpa memiliki niat untuk menjawab panggilan dari saudara tertua nya, Benedict justru kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana meskipun panggilan dari Bella belum juga terhenti.
"Bagaimana keadaannya dokter? apa saudara saya baik-baik saja? apa ada yang serius dengan kondisi kesehatan nya?"
"Nona hanya kelelahan, stress, ditambah asupan makanan yang sangat minim di dalam tubuhnya, kadar gula dalam darahnya juga sangat rendah. Itulah yang menyebabkan saudari Anda berada di situasi seperti ini Tuan!"
"Terima kasih atas informasinya dok! saya akan mencoba untuk menjaganya dengan baik kali ini!"
Benedict berucap santun, pria itu juga nampak melangkah mengiringi kepergian sang tenaga medis hingga di luar pintu kamar sebelum akhirnya kembali dan memandangi Lona yang masih setia memejamkan mata.
Apa diriku sudah sangat keterlaluan padanya? diriku sungguh menyesal karena sering bertindak sesuka hati padamu Lona.
*****
"Akhirnya kau sadar juga dude! ponsel mu terus saja berdering! lekas bersihkan dirimu! dan pulang lah!" Maxim seketika angkat bicara saat ia melihat Logan telah duduk di sofa dengan wajah kusutnya.
"Apa kau turut disini semalaman?"
"Tentu saja! aku tak ingin jika sampai kau menghancurkan mini bar's milik ku ini! aku tidak mungkin setolol itu Mister Logan!"
"Aaaaaghhh! kau memang sahabat terbaikku Max! terima kasih!" Logan berucap sembari memukul perlahan area kepalanya.
"Perbaiki lah dirimu! kau membuatku takut! sungguh! kupikir kau akan mati karena lambung mu terbakar oleh whiskey!"
"Apa kau berharap seperti itu?"
"Mungkin! sepertinya akan jauh lebih baik! jadi aku tak perlu pusing menghadapi semua tindakan konyol mu itu!"
"Ayolah Max!"
"Bella menghubungi mu semalam! dan aku terpaksa menjawabnya!"
Logan terdiam sesaat,
"Apa yang dia katakan?"
"Dia sangat mencemaskan mu! apalagi? apa kau yakin akan kembali merajut percintaan mu dengan nya?"
"Max ...,"
"Sepertinya diriku memiliki kesempatan untuk meraih hati Bellona! kau akan merestui ku, bukan?" Maxim pun terkekeh di akhir kalimat.
"Apa kau masih menyimpan perasaan mu itu padanya? aku akan menghajar mu Max!" Logan seketika menampilkan sorot mata tajam ke arah sahabat nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-05-25
1
Uthie
Patut di gituin si Logan 😤👍
2024-05-23
0
☠ȋ⏤͟͟͞Rἅyαyu𒈒⃟ʟʙᴄ🍂
tuh kan, Logan dengan segala keegoisannya, Lona dideketin Maxim aja ga boleh 🤣
2024-05-15
0