Tiga jam berlalu,
Benedict kembali terperanjat saat ia menyadari adanya pergerakan tubuh dari saudara perempuannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Apa maksudmu Ben? aku tidak mengerti." Bellona memalingkan wajah, gadis itu sengaja menghindari tatapan intimidasi dari Benedict.
"Apa maksud-ku? kau ini ..., kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga mu bersama Logan? apa kau gila? haaaaaaghh? semua media pasti akan segera mencium hal ini! dan kau tahu konsekuensinya apa? keluarga kita akan menjadi bahan perbincangan khalayak umum Bellona!"
"Hentikan ceramah mu itu Ben! aku sedang mencoba untuk mengumpulkan tenaga demi menghadapi daddy!" Lona berucap remeh, jemarinya kini justru meraih santai buah apel yang tersaji pada meja di samping ranjang.
"Katakan! apa yang terjadi?"
"Kau tak perlu tahu! aku memiliki alasan kuat kenapa diriku nekad mengakhiri ini semua."
"Apa alasan mu Bellona?" pria itu kembali menghadang langkah kaki sang kakak.
"Kau benar-benar ingin tahu? haaaaaaghh ..., saudara kesayangan mu, dia adalah ratu yang sebenarnya di hati Logan! mantan suamiku."
"A-apa? apa maksudmu ..., Bella-"
Bellona mengangguk tanpa ragu, gadis itu kembali menggigit besar buah apel sebelum akhirnya melangkah menuju koper di pojok ruangan.
"Tak perlu pusing memikirkan apapun! aku sudah siap menghadapi semuanya! kau bisa membawa ku pulang sekarang Ben!" rahang Bellona nampak mengunyah santai buah apel di dalam mulut mungilnya, sebelum akhirnya memutar tubuh dan kembali mendekati Benedict yang terdiam duduk di sofa.
Apa? apa itu benar-benar terjadi? Bella? apa dia setega itu?
Benedict tercengang, pria muda itu tampak membeku dengan segala pemikiran nya.
"Heiii! apa kau percaya dengan ucapan ku? aku hanya membual Benedict! Bella sangat menyayangi ku! mana mungkin dia tega melakukan hal itu? kakak perempuan pertama mu itu, dia seorang malaikat cantik! tak mungkin dia berubah menjadi villain bukan?" Lona terkekeh, jemarinya melempar kasar apel sisa ke sembarang arah, sebelum akhirnya menyentil dahi Benedict yang masih nampak kebingungan.
"Lalu apa sebenarnya alasan mu sialan?" Benedict kembali menampilkan amarah karena rasa kesalnya pada sang kakak.
"Aku telah bosan dengan Mister Logan! apalagi? dia terlalu sempurna! pria dingin itu ..., aku membenci nya sekarang!"
"Jadi kau benar-benar bermain dengan pria lain Bellona? dasar jalang murahan! bisa-bisanya kau mempermalukan mom and dad seperti ini!" teriakan Benedict begitu menggema, memenuhi ruangan serta relung hati Bellona.
Lihatlah! dia bahkan bisa berkata seperti ini padaku dengan sangat mudah, apa kau benar-benar tak bisa mendengar isi hatiku Benedict?
Aku juga saudara mu! tapi kenapa hanya Bella yang selalu nampak baik di matamu?
Bellona tertunduk,
Ia mencoba untuk tetap tersenyum tenang dan membiarkan semua perkataan kasar sang adik melewati paras manisnya, meskipun sebenarnya rasa hati Bellona begitu tercabik-cabik.
Apa? kenapa dia diam saja seperti ini? biasanya Lona akan sangat bawel dan tak ingin kalah dalam mendebat ku? kenapa rasanya dia sangat berbeda kali ini?
Bellona yang lagi-lagi tak memberikan respon apapun membuat Benedict kembali merasakan kejanggalan,
Pria itu kembali terduduk di sofa sembari melihat pergerakan hening dari saudara perempuannya dalam mengemas pakaian.
Dering gawai Benedict nampak membuyarkan keheningan,
"Mom? i-iya, aku telah bersama Lona! dia bersamaku sekarang, mom tak perlu mengkhawatirkan apapun! kami akan segera tiba kembali ke rumah malam ini!" suara Benedict terdengar begitu lembut hingga akhirnya sambungan terputus.
Bellona yang mendengar hal itu seketika menarik nafas dalam,
Ku harap semua baik-baik saja! tapi jika memang keadaan yang kuhadapi harus memburuk pada akhirnya ..., aku yakin diriku pasti bisa melaluinya! aku telah berhasil melewati hari-hari kelam sebelum ini bukan?
It's Okay Lona! berjuanglah!
Lona kembali menyeka kilat buliran air mata yang sempat jatuh di pipinya, gadis itu juga melangkah lebar meninggalkan Benedict saat ia telah selesai berkemas tanpa sepatah katapun.
******
"Ooowweekk!"
"E-eeeuuw! kau sungguh merepotkan Lo! fuck you!" Maxim tak dapat menahan dirinya karena cairan menjijikkan yang kembali tersembur dari mulut Logan.
"Astaga! apa dia mabuk lagi Nak?"
"Begitulah Bi! dia tak berhenti minum dari semalam, saya sudah mencoba memperingatkan nya! tapi-,"
"Tolong bawa dia ke kamarnya Maxim! " Tuan Louis muncul dan berucap ketus dengan wajah datar.
"Biar ku bantu Nak!"
"Tak apa bi! aku bisa mengatasi nya!"
Nyonya Helen akhirnya mengikuti perkataan Maxim dan turut melangkah menuju ruang kamar sang putra.
Kau ini sungguh payah dalam hal minuman beralkohol! tapi kenapa kau nekad kembali menenggak nya pecundang? apa kau benar-benar ingin segera pergi ke neraka?
Maxim kembali mengumpat dalam hati setelah membaringkan tubuh kekar Logan di atas ranjang.
"Saya permisi Bibi! saya juga harus segera membersihkan diri dan berangkat ke kantor."
"Terima kasih Nak! diriku sungguh berhutang budi padamu,"
"Bibi tak perlu sungkan!" Maxim tersenyum menunduk sebelum akhirnya berpamitan dan meninggalkan ruangan.
"Logan! kenapa kau jadi seperti ini sayang?"
"I-ibu? a-apa Lona sempat berkunjung kemari? aku ini benar-benar pria brengsek i-ibu ...," suara Logan melemah pria itu juga nampak memejamkan mata.
"Ayolah Logan! kita harus berkunjung ke kediaman Tuan Darent! ibu hanya ingin meluruskan ini semua! apa benar Lona memiliki hubungan spesial dengan pria lain selain dirimu? jika pun memang hubungan kalian harus berakhir setidaknya akhiri lah dengan cara yang baik. Jika kau benar-benar mencintai Lona, seharusnya kau mempertahankan nya Nak? kenapa kau justru menghabiskan waktu mu dengan minum-minuman seperti ini setiap hari?" tangis Nyonya Helen kembali pecah saat mendapati sang putra yang tak sadarkan diri.
"Biarkan saja Helen! kita yang akan pergi ke kediaman keluarga Darent malam ini! aku akan menuntut nya jika nama keluarga kita sampai muncul dan dipermalukan apalagi sebagai bahan konsumsi perbincangan umum! aku sungguh tak terima atas kelakuan putri kedua dari keluarga Darent!"
Amarah dalam diri Tuan Louis akhirnya tersulut saat melihat putra tunggal kesayangannya terus-menerus merusak diri dengan berteman dengan alkohol semenjak Ghelsi memutuskan untuk berpisah.
Sementara Nyonya Helen yang sedikit banyak mengetahui tentang kedekatan Logan dengan Bella, pikiran wanita itu justru tertuju pada Bellona karena rasa cemasnya.
Semoga saja apa yang kupikirkan ini salah, Tuhan!
****
"Seharusnya kau itu bersikap lebih dewasa Bellona! apa kau termakan kecemburuan yang tak berdasar pada Logan? dan memutuskan sepihak hubungan rumah tangga kalian?"
Benedict memecah keheningan di dalam mobil dengan perkataan lembut sembari melirik kakak perempuannya yang terus saja diam menatap ke arah luar kaca.
"Ada apa denganmu?"
"A-aku? apa maksudmu?"
"Nada bicara mu! kenapa tiba-tiba berubah lembut seperti itu?" Lona terkekeh dan menatap Benedict dengan menyunggingkan senyum.
"Apa itu salah? bukankah kau juga kakak ku? kau selalu ingin diriku menghormati mu bukan?"
"Aaa-ah! untuk hal itu ..., lupakan saja semua perkataan ku dimasa lalu! kau bisa bersikap semau mu sekarang! itu jauh lebih baik!"
"Apa maksudmu Lona?"
"Tetap lah fokus ke depan bro! apa kau ingin segera membawaku ke neraka seperti mereka?"
Benedict kembali bungkam saat mendengar perkataan Lona yang lagi-lagi berbicara aneh dengan semaunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Sri Astuti
semua orang ga mau memahami Lona..dan Logan sama Bella pengwcut
2024-07-03
1
Uthie
Nyonya Helen tau...
2024-05-23
0
☠ȋ⏤͟͟͞Rἅyαyu𒈒⃟ʟʙᴄ🍂
hah bener2 ikut ngerasain sakit saat baca ini😌
2024-05-15
0