"Mama aku dan Kak Sean baik-baik saja dan kami bahagia tinggal bersama, mama tidak perlu memikirkan hal lain". Karina tersenyum tulus untuk meyakinkan wanita di samping nya
"Baiklah mama percaya pada kalian".
Sean mengelus dadanya dia sendiri sangat deg-degan jika aja mama nya tidak percaya nanti kepadanya
"Jadi kalian akan menginap di sini kan". Perkataan Hera lagi-lagi membuat Sean tercengang
"Umh sebenarnya aku ada pekerjaan ma?". Sean mencari alasan
"Pekerjaan? ini hari weekend, papa juga tidak pernah bekerja hari weekend".Rio menimpali, karena mereka akan menghabiskan waktu di weekend untuk bersantai karena itu adalah hal yang harus bagi Rio
"ah itu papa.. ". Aduh Sialan bagaimana aku harus menjelaskannya . Sean jadi bingung sendiri
"Tidak ada tapi-tapian mama sudah merindukan mu dan jarang waktu kita akan bersama karena mama dan papa akan berangkat ke Swiss besok". Hera melotot pada putranya, Jangan lawan kata mama, itu arti dari tatapan wanita itu
"Baik ma". Ah aku harus menyuruh Lucas untuk berjaga di sana dan juga beberapa orang. Sean bergumam kesal dalam hatinya tapi sang mama adalah peraturan hidup yang harus dia patuhi selama wanita itu hidup
Hera benar-benar menghabiskan waktu dengan menantu nya, dua perempuan itu berbagi cerita satu sama lain, tanpa menyadari dua pria yang sedang kesal pada pikiran mereka maing-maing
Sean sendiri menatap kosong kearah depan sambil memikirkan keadaan kekasihnya yang masih belum sadar sampai saat ini
Sedangkan Rio masih menatap tajam ke arah dua perempuan yang tertawa di tengah obrolan mereka yang terdengar menyenangkan
"Cih kenapa papa cemburuan sekali, sejak tadi papa tidak berhenti melihat mereka". Sean menatap papanya yang mulai tadi menatap ke arah mama dan istrinya
"Tentu saja, seharusnya aku dan mama mu akan menghabiskan waktu hanya berduaan dan sekarang istrimu malah mengambil istriku". Rio kesal
"Sudah tua tapi papa masih saja seperti itu, tidak bosan apa?".
"Tidak, karena aku sangat mencintai mama mu". Rio menatap putranya dengan tajam "Kau tidak cemburuan pada istrimu, kau tidak mencintai nya?"
Sean tergagap karena pertanyaan dan tatapan tajam Rio padanya. Ah sialan apa yang harus ku katakan kenapa papa menatap ku seperti itu "Aku Mencintainya, hanya saja aku menunjukan kecemburuanku di batas yang wajar saja"
"Benarkah?". Rio menatap tajam
"Ya!". Sean meninggikan suaranya mengatakan jika yang dia katakan benar adanya
"Baguslah kalau begitu". Rio mengedarkan pandangannya kearah lain, membuat Sean menarik nafas sebanyak-banyalnnya
Tatapan Rio tadi membuat jantung dan pikirannya berdetak tidak sinkron hingga pria itu merasa sesak
"Apa papa sangat mencintai mama hingga terobsesi seperti itu?". Sean heran dengan orang tuanya itu "Papa bahkan tidak Sudak jika mama berpisah sehari saja, bukankah itu terlalu posesif"
"Sangat dan papa sangat beruntung memiliki mama mu dalam hidup papa". Rio mengingat masa lalunya dengan istrinya itu "Mama mu dulu sangat mencintai mama sejak kami masih kecil dan mama terus menunjukan rasa sayang yang membuat papa risih dan kau tahu saat dia mulai lelah dengan hubungan dan pernikahan kami, saat itu papa merasa sangat beruntung memiliki mama mu"
"Mama mengejar papa sejak kecil". Sean tidak percaya "Mama itu cantik sekali tidak mungkin dia menghabiskan setengah dari hidup nya mengejar pria seperti papa"
Plak. satu buku pipih melayang tepat di kepala pria itu
"Papa itu sakit!". Sean mengelus kepalanya
"rasakan".
"Lalu?". Sean bertanya lagi
"Lalu apa?".
"Bagaimana papa dan mama bisa bersama lagi, kata papa mama lelah dengan hubungan kalian ?"
"Ya mamamu memberi papa kesempatan lagi, dan kami membuat hidup kami lebih baik lagi, tidak ada lagi ego yang menghalangi perasaan ku pada mama mu hingga sekarang"
Sean hanya terdiam melihat cara Rio bercerita mengenai perjalanan cinta kedua orang itu, entah mengapa membuat hati kecil nya berdesir
"Sean". Rio memanggil putranya, namun pandangan nya tetap mengarah ke depan
"Ya pa.."
"Aku dan Mama mu menikah tanpa kesengajaan, dan mama mu juga tidak berencana menikah dengan papa walau dia sangat mencintai ku dulu dan sat kami menikah dia mempertahankan pernikahan kami karena janji pernikahan itu sangat lah sakral"
"Jadi?". Sean heran hatinya terasa begitu sesak
"Papa harap kau tidak membuat kesalahan fatal yang papa buat dulu, kesempatan tidak akan datang sebaik kesehatan yang datang kepada papa Son".
"Papa, apa maksud mu?". Sena tercengang dia takut jika rahasianya ketahuan
"Kau banyak tanya sekali!". Rio berdiri "Aku akan mengajak mama mu, ini sudah hampir malam saatnya makan"
Rio menghampiri kedua perempuan yang menikmati waktu bersama itu "Sayang ayolah ini sudah malam, kau hampir tidak memperdulikan ku sama sekali hari ini". Rio menarik paksa tangan istrinya
"Sa..sayang tunggu dulu, bagaimana dengan Karina?".
"Nak, kau pergilah bersama suami mu kami akan mandi dulu sebelum makan malam"
"Rio!". Wajah Hera langsung memerah padam karena ucapan pria itu
"Sudahlah sayang kenapa kau selalu marah-marah ayo kita ke atas". Rio tidak menunggu jawaban sang istri melainkan hanya menarik perempuan itu ke kamar mereka
"kau mandilah dulu, nanti kita akan malam". Sean berbicara datar
"Tapi tuan aku mandi dimana, aku juga tidak bawa pakaian ganti". Karina dengan kaku menatap pria itu
"ck...benar juga". Sean baru menyadari hal itu, "Kau ikut aku".
Sean membawa gadis itu ke halaman belakang dekat dengan kamar para pembantu di sana
"Kalian berikan dia pakaian yang baru kami tidak sempat pulang". Sean memerintahkan pada beberapa pelayan wanita di sana
"Tuan ini adalah pakaian baru saya, semoga nona suka dan itu adalah yang terbaik yang saya punya".
"Hmm". Sena hanya melihat baju itu sekolah dan beberapa baju lainya hingga pandangannya tertuju pada pakaian yang menurutnya lumayan
"Aku ambil ini". Sean mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya sebelum menarik istrinya ke sebuah kamar tamu
Karina mengerti dan langsung mengganti baju setelah memberikan tubuhnya
"Sayang, kau sudah selesai?". Hera bertanya begitu melihat menantunya selesai bersih-bersih "Di mana Sean, kalian tidak mandi bersama?".
"Umh itu Sean". Aduh apa yang aku harus katakan "Sean tadi ada sedikit pekerjaan ma, jadi dia haru menghubungi Lucas". Karina memberikan jawaban yang menurutnya lumayan
"Oh begitu baiklah, mama dan papa akan menunggu di meja makan jangan lupa ajak Sean ke sana okey". Hera pergi dari hadapan Karina mengelus dadanya dia sangat gugup di setiap pertanyaan yang membuat dirinya tercengang "Aku bisa serangan jantung lama-lama di sini, mama Sena sangat banyak bicara ternyata"
"Kau mengatai mama ku". Sean tiba-tiba nongol di belakang gadis itu
"Ahk!". Karina terkejut dan berbalik menatap Sana yang berada di belakang nya pria itu juga baru selesai mandi
"pelankan suara mu, kau mau buat aku tuli?".
"Ma..maaf tuan". Karina menunduk
"Jangan panggil aku tuan di sini, bagaimana jika Mama dan papa ku tahu huh!"
"Se..Sean".
"Itu lebih baik". Sena tiba-tiba menarik tangan gadis itu "Bertingkah lah seperti orang romantis di depan orang tua ku jangan sampai mereka tidak percaya dengan hubungan ini kau mengerti!".
"Baik tuan". Karina terperanjat jantung ya berdetak ketika tangan kekar Sean menggenggam tangannya erat
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments