Zhen Yuan keluar rumah tanpa membawa satupun pelayannya,
sebagai seorang dewa dikehidupan awalnya ia telah terbiasa untuk berjalan dan
berpetualang sendiri tanpa memerlukan pengawalan. Lagipula dengan statusnya
sebagai anak tunggal dari tetua terhormat desa membuat dirinya begitu tinggi
dibandingkan dengan rakyat biasa.
Zhen Yuan mengikuti petunjuk peta ditangannya, ia tertarik
untuk menuju sebuah pasar yang sering diadakan setiap harinya. “Mungkin disana saya dapat menemukan
beberapa petunjuk penting!”
Ia kemudian berbelok kekanan, memasuki sebuah gang sempit
yang menjadi jalan pintas paling cepat menuju pasar. Baru saja ia memasuki
gang, anak itu melihat beberapa bocah yang seusianya membentuk sebuah
lingkaran.
Sekitar enam anak berusia sama atau lebih tua setidaknya
satu atau dua tahun mengelilingi seorang anak yang bahkan terlihat berusia
lebih muda dari Zhen Yuan. Anak yang lebih muda terlihat babak belur dan
terisak- isak. Air matanya meleleh bercampur dengan darah di sudut bibir dan
hidungnya.
Zhen Yuan segera mengingat anak yang lebih muda itu. Anak
itu bernama Liu (tanpa marga sama seperti Yuan, ibu Zhen Yuan) satu- satunya
teman Zhen Yuan sejak kecil. Zhen Yuan mengingat Liu sebagai anak yang lincah
polos dan terbuka membuat Yuan merasa Liu cocok dianggap sebagai teman.
Liu terlihat sangat memperihatinkan membuat Zhen Yuan tidak
tega. Ia tidak dapat membiarkan sahabatnya sejak kecil diperlakukan seperti itu
apalagi dihadapannya.
“Kakak, kita apakan anak bodoh ini?” ucap salah seorang dari
anak yang mengepung Liu, ia memiliki perawakan yang besar dan kuat. Anak itu
bernama Yan Niau, salah satu dari tiga penerus terkuat keluarga Yan dan juga
salah satu dari tiga besar dari generasinya.
Ia berhasil memasuki ranah Qi sejati rendah pada umur 5
tahun yang mana menurut perhitungan normal dikalangan desa hanya sekitar 7
tahun lagi baginya untuk memasuki ranah Qi sejati tengah.
Lalu anak yang dipanggil kakak oleh Yan Niau adalah penerus
tertua keluarga Yan saat ini sekaligus terkuat kedua di generasinya saat ini. ia
tahun ini genap berusia dua belas tahun yang mana sekitar 4 tahun lagi
memungkinkannya untuk memasuki ranah Qi sejati tengah pada umur 16 sampai 17
tahun.
Ia bernama Yan Yocai, yang hanya kalah tipis dengan jenius
generasi saat ini bernama Cenglou Wu yang merupakan anak kandung dari sang
kepala desa. Yan Yocai berbeda penampilan dari adiknya, Yan Niau. Ia cenderung
terlihat lebih feminim dan memiliki wajah cantik dan kulit yang putih bersih
seperti anak perempuan.
“Habisi dia, bukan perkara besar bagi kita untuk membunuh
rakyat jelata terlebih ia juga merupakan teman dekat dari si udik Yuan itu.”
Yan Yocai menyeringai kejam membuat bocah Liu semakin ketakutan melihatnya.
“Dengan senang hati kakakku” Yan Niau segera memerintahkan
keempat anak buahnya untuk melaksanakan kemauan kakaknya. Empat orang cukup
untuk membunuh Liu.
Keempatnya melompat dari keempat arah angin mengepung Liu
agar tidak berusaha melarikan diri. Mereka bersiap untuk menyerang Liu dengan
bersamaan menggunakan teknik terkuat mereka, dengan begitu tuan Yan Niau akan
semakin mengandalkan dan menghargai mereka berempat.
Namun tepat ketika mereka ingin menyerang bocah Liu, empat
koin tembaga melesat dengan cepat kearah punggung mereka berempat. Bahkan Yan
Niau dan Yan Yocai tidak mampu sigap ketika menghadapi koin tembaga tersebut.
Pft!
Keempatnya seketika terjatuh, mereka berguling kesakitan
merasakan punggung mereka seakan terkena tembaga panas dengan kecepatan yang
sangat cepat.
“Aduh sakiit”
“Sialan, siapa yang menyerang itu?”
“Punggungku!”
“Aaah, panas! Pungguku terasa panas!”
Keempatnya meraung dan berguling tidak jelas sambil terus
merintih kesakitan. Yan Niau dan Yan Yocai terkejut melihat perubahan
pemandangan dihadapan mereka berdua. Mereka tidak pernah melihat satupun
serangan yang mengarah dan juga tidak merasakannya. Hanya beberapa hembusan
angin panas yang mereka rasakan sepersekian detik sebelum keempatnya merintih
dan berguling.
Disisi lain sang korban, bocah Liu juga ikut terkejut. Ia telah
menutup matanya dan bersiap untuk berteriak keras ketika para ******** itu
memukulinya. Namun beberapa saat tidak terjadi apapun dan bahkan ia menengar
rintihan dan keluhan mereka selanjutnya.
“Kakak ada apa ini?” tanya Yan Niau. Namun Yan Yocai hanya
menggeleng pelan, ia juga tidak mengetahui hal itu dengan pasti tapi satu yang
ia yakini keempat serangan tersebut sangat cepat dan kuat. Ia bahkan tidak
berani bertarung tidak terluka jika menjadi salah satu dari mereka.
Yan Yocai percaya bahwa yang menyerang bukanlah sembarangan
orang, ia yakin musuhnya saat ini bersembunyi dibalik bayang- bayang dan siap
untuk membunuhnya kapan saja.
“Ayo kita pergi dari sini, orang yang menyerang itu lebih
kuat dari kita berdua!” ucap Yan Yocai. Ia menatap tajam bocah Liu sekali lagi
sambil menyerukan kalimat ‘kau bisa bebas kali ini tapi tidak untuk kedua
kalinya’ setelah itu ia menarik Yan Niau keluar dari sana meninggalkan keempat
bawahannya yang masih berteriak kesakitan.
“Apa kalian bisa pergi begitu mudah setelah semua yang telah
kau lakukan pada bocah Liu?” suara itu merupakan suara dari Zhen Yuan. Ia tidak
mencoba untuk mengubah suaranya membuat kedua bersaudara itu segera menyadari
pemilik suara.
Mereka sangat mengenal sang pemilik suara bahkan Yan Yocai
merupakan anak yang mendorong Zhen Yuan agar jatuh kedalam jurang. Keduanya
tentu telah mendengar cerita kembalinya Zhen Yuan dari kedua tetua Yan.
Namun yang membuat Yan Yocai mengerutkan keningnya adalah ia
merasakan Zhen Yuan memiliki aura dan kekuatan yang lebih besar darinya. Jelas
sebelum itu yang terakhir hanya berada pada sepuluh besar terkuat bahkan bukan
5 besar terkuat diantara generasi muda.
Sangat mustahil bagi Zhen Yuan untuk meningkatkan
kekuatannya sebanyak ini hanya dalam waktu 3 tahun sebab itu ia masih kurang
percaya jika suara itu adalah benar- benar milik Zhen Yuan. Tetapi Yan Niau
seperti berkata lain, ia kini merasakan aura dingin menjalar dibelakang
punggungnya.
Walaupun ia termasuk 3 besar dari generasi muda saat ini
namun ia cenderung lebih penakut, badannya saja yang besar namun nyalinya
kecil. Satu- satunya faktor yang membuatnya sampai pada posisi ini adalah
kakaknya sendiri.
“Zhen... Zhen Yuan? Apa kau Zhen Yuan?” Yan Niau bergetar
ketakutan.
Zhen Yuan tertawa dibalik kegelapan melihat sikap dari Yan
Niau. Ia sebelumnya sangat sombong dan selalu menindas orang yang lemah. Kini
ia menghadapi karmanya sendiri.
“Bukan, dia bukan Zhen Yuan. Anak itu bahkan belum menyamai
kekuatanmu tiga tahun yang lalu namun sekarang mustahil baginya untuk
berkembang sejauh ini. saya yakin dia hanyalah menyamar menjadi anak itu.”
tentang Yan Yocai.
“Menyamar? Apa kau punya pendapat yang lain Yocai? Atau apa
kau sekarang iri dan cemburu dengan kekuatanku?” kekeh Zhen Yuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 473 Episodes
Comments
Jhonny Afrizon
coba aja biarin mereka pergi dulu,kalo bisa jgn buat masalah dulu,sebelum sang ayah meningkatkan kultivasinya,nanti malah jadi runyam,hah
2024-12-04
0
musafir
penulis memang otak anjing, masah mantan dewa otaknya masih sja tolol sma dngan penulis anjingnya
2024-12-30
0
Entis Sutisna
Mantaaaap...kasih dia pelajaran Yuan..biar tahu dia...lanjuuut...💪💪😜😜
2024-05-15
0