" nona sebaiknya kita tidak perlu ke rumah sakit, kita pulang saja ke hotel, maafkan saya membuat anda memunggu lama " ucap lexi
" tidak kau harus ke rumah sakit " ucap rena
Mereka sudah ada di dalam mobil taxi, dan sampai ke rumah sakit
lexi sedang dalam penanganan, rena merasa tenggorokannya kering
" lexi aku akan keluar sebentar, dan cepat akan kembali" ucap rena, lexi mengangguk mengerti
Dughh
" aarhhh maaf maaf " ucap rena menjatuhkan 2 botol minuman, yg baru saja ia beli.
Keadaan di luar hujan sampai ia menunduk tak melihat ke arah depan, dan hanya berjalan menatap jalan
" tidak apa apa nona " senyum pria itu
rena pun mengangguk dan berjalan melewati pria itu, namun tangannya di tahan oleh sang pria
" maaf nona apa kau tidak mengenaliku?" tanya si pria
Rena mengerutkan keningnya seperti berpikir, rena menggelengkan kepalanya, dan melirik k arah tangan nya yg masih d pegang oleh sang pria.
" aku robby apa kau lupa?" tanya pria itu yg ternyata robby, rena mebelalakan matanya kaget
" wah dia ko jadi seperti ini, terlihat lugu hahah " batin rena
" apa kau sudah mengingatku?" tanya robby kembali, yg melihat rena diam saja menatap nya
" ah iyah pak robby saya ingat, tapi saya buru buru maafkan saya pak " ucap rena yg melepas kasar genggaman robby
" rena jangan pernah lagi kau kabur dari ku jangan harap, aku tak akan membiarkanmu" batin robby mentap punggung rena yg berlalu pergi
" gila gila gila rena pak robby beda banget, makin ganteng ajh, ah tidak tidak raina kau harus ingat, dia pernah meminum asi milik rena, haiss aku membuat tubuhku meremang memikir kannya " gumam rena berjalan cepat ke ruangan lexi
" hah lexi kau sudah di obati? Apa harus di rawat di sini?" tanya rena kembali bersikap dingin
" tidak nona luka ini bisa sembuh dengan seiring waktu, lebih baik kita kembali ke hotel " ucap lexi terbangun
rena melihat ke arah dokter, dokter hanya mengangguk, bahwa benar lexi boleh langsung pulang.
Di kantor robby mencari ken, namun ken tidak ada di ruangan. Di telepon pun ken tidak mengangkat telepon robby
" dasar ken kemana dia pergi " kesal robby
" almond almond aku tidak ingin dia pergi" gumam robby
Malam pun tiba, rena sedang memikirkan rencana, bagaimana caranya mengetahui kematian rena, pasalnya ia terbangun di kamar rena, rena asli hanya memberi tahu tolong balaskan dendam nya.
" hah rena aku rasa kau sedang memberi ujian esai, yg mana aku juga tidak mengerti langkah mana yg harus aku hadapi lebih dulu " ucap reina
" sebaiknya aku tidur, besok aku akan datang, pada ayah dira " gumam reina yg berjalan menuju tempat tidurnya
pria itu mengelus rambut reina, ia menatap wajah yg terpantul oleh sinar bulan
" kau sangat indah, kenapa kau pergi.. Apa kau malu karena masalah waktu itu " gumam pria yg sedang di samping reina
Melihat reina yg bergerak pria itu menjauh dan bersembunyi di dalam gelap
" arrghh sakit lagi lagi dada ku membengkak, tadi siang aku tidak sempat memompa nya " gumam reina terbangun dari tidur nya.
Ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yg sedang memperhatikannya,
Reina membuka baju tidurnya hanya menggunakan bra sport, pria itu melihat dengan menelan saliva nya saat rena akan mulai membuka..
" siapa disana ?" tanya reina yg merasa ada yg memperhatikannya
" hah aku kan sendirian di sini, mana mungkin ada yg masuk, kartu kuncinya saja ada di dalam " gumam rena menangkis segala pikirannya
Praaakkkk
" aaaaaa kenapa kenapa harus pecah sekarang huuu sialan, rena bagaimana ini " ucap reina kesal memanggil nama rena
Terlihat dada nya semakin bengkak, reina benar benar kesakitan rasanya ngilu, dia hampir saja menangis saat tak sengaja ia melihat bayangan.
" keluar kau " ucap reina dengan memegang dadanya yg sakit
Pria itu pun keluar dengan santai, dan terlihat wajahnya yg dingin, menggunakan kameja hitam, dengan kancing yg terbuka, terlihat dada bidang milik pria tersebut
Rena melotot dan berlari cepat mengambil selimut " kau ? Kenapa kau di kamar ku hah? " triak reina
pria itu mendekat ke arah reina, reina berjalan mundur karena pria itu terus mendekat ke arahnya.
Grephh
Reina tersentak, saat tangan pria itu menarik salah satu tangan yg menutupi dadanya,
Reina melawan pria itu dengan satu tangannya lagi, membuat selimut yg menutup dada nya menyusut ke bawah.
Pria itu buru buru mengunci tangan reina dan mendorongnya ke dinding
terlihat reina meringis, namun bukan karena sakitnya di dorong ke dinding taman.
dadanya semakin bengkak.
Pria itu tanpa ijin langsung memegang dan memutar seperti yg rena dulu lakukan, reina terkesiap dan memberontak, sementara tangannya masih terkunci, pria itu menggunakan tangan kiri untuk mengunci tangan reina, dan tangan kanan yg memulai aksi nya
reina tak bisa berbuat apapun tak terasa air matanya mengalir " lepaskan aku brengsek dasar kau pria cabul " triak reina yg kesal
Pria itu melihat ke arah reina, mata mereka saling menatap, pria itu mendekatkan wajahnya ke pipi rena, pipi mereka beradu, rena menutup matanya seketika.
" apa yg kau pikirkan " tanya pria itu melihat reina yg menutup matanya
Reina melotot, menatap pria tersebut terlihat pipi pria itu basah, ternyata pria itu hanya menghentikan air mata reina yg terjatuh di pipinya.
Pria itu terus memijat dada reina, tidak ada nafsu yg di lihat reina di wajah pria itu.
ia merasa sedikit tenang, dada yg tadinya meregang seperti beku, sudah mulai mengeluarkan asi, meskipun hanya setetes setetes, reina masih meringis ngilu.
Pria itu melihat ke arah reina, kasihan lalu ia berbisik " ijinkan aku membantu mu" bisik pria itu membuat reina meremang, bulu kuduk nya seketika merinding mengingat buku diary rena yg saat itu ia baca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments