Selamat! Membaca 🤗
Semua menatap kehadiran Mikha.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?"tanya Mikha dengan berapi-api pada Rayan.
"Nona, kembalilah ke kamar Anda."Sahut Rayan dengan santai.
"Apa kau tidak punya hati dengan menghukum mereka seperti ini?"
"Nona, jika Anda tidak ingin membuat Tuan Brian marah dan menambah hukuman untuk mereka, lebih baik Anda segera kembali ke Kamar Anda."
"Jadi lelaki jahat itu yang menyuruh mu untuk menghukum mereka?"
Mikha yang tidak memperdulikan peringatan Rayan terus mencerca Rayan agar lelaki itu menghentikan kegilaan ini, namun tentu saja Rayan tidak perduli dengan ocehan Mikha karena ia lebih patuh pada Brian.
"Kenapa kau malah diam! Cepat lakukan!"sentak Rayan pada Susi.
Susi dan Luri yang sempat lega kembali gemetar karena Rayan tidak memperdulikan larangan Mikha.
"Rayan, hentikan!"Teriak Mikha.
"Tetep lakukan!"
Sahutan terdengar dari arah pintu dan itu adalah suara Brian. Ia berdiri di ambang pintu sudah seperti hantu yang menyeramkan di mata para pelayan dan pengawal.
Mikha yang sudah tidak tahan menghampiri Brian.
"Apa kau sudah gila dengan menyuruh Rayan menghukum mereka dengan cara seperti ini?"
"Saya tidak menyuruhnya, tapi ini inisiatif Rayan sendiri, dan saya sangat mengapresiasi ke inisiatif Rayan."
"Dasar gila!"umpat Mikha.
"Coba katakan sekali lagi!"kata Brian dengan menahan geram.
"DASAR GILA! KEJAM!"teriak Mikha, yang membuat kuping siapapun sakit mendengar teriakannya.
"Semakin hari kau semakin berani. Apa kau tidak sadar jika kau pun akan menjadi bagian dari mereka."
Mikha menatap Brian, ya, dia baru ingat beberapa menit lalu lelaki itu mengancam akan memberikan hukuman untuknya, dan Mikha pikir hukum itu sama seperti yang Rayan lakukan pada pelayan.
"Apa kau juga akan menyuruh Rayan untuk melukai saya! Silahkan, saya tidak takut."
"Dan aku akan melaporkannya pada polisi sebagai kekerasan dalam rumah tangga."
Brian tersenyum licik, dan berkata.
"Lebih dari itu."
✨✨✨
Keesokan harinya, Mikha yang tidak bisa menghentikan hukuman yang di lakukan Rayan pada Luri merasa sengat bersalah. Ia merasa bersalah karena Luri yang mengambilkan Kota obat membuat gadis itu mendapatkan hukuman berat dari yang lainnya. Saat ini Mikha tengah termenung di kamarnya, menantikan hukum yang akan ia terima.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara pintu kamar di ketuk, dan yang mengetuk pintu adalah Rayan, yang menyampaikan kabar jika Mikha sudah terbebas dari hukumannya di larangan keluar rumah.
"Apa kau tidak sedang bercanda?"tanya Mikha yang tidak percaya, karena hukuman yang harus ia jalani masih lama dan dengan semudah itu Brian membebaskannya. Sungguh mencurigakan.
"Benar Nona, Tuan Brian membebaskan Anda dari hukum itu, tapi, hukum untuk tidak berinteraksi dengan Nona Belle tetep berlaku."
"Aku tidak perduli dengan hukuman yang itu, yang terpenting sekarang, aku bisa keluar rumah dan mencari Raline. Aku harus segera menemukan kebenaran wanita yang sudah membuatku terjebak di sini."
Mikha sudah tidak memperdulikan ini Prank atau bukan, yang terpenting ia bisa keluar dari rumah yang sudah seperti neraka baginya.
✨✨✨
Di hari pertama kebebasannya, Mikha langsung menuju kediaman Handoko dan Marlina, ia ingin mengunjungi orang tuanya dan mengatakan apa yang terjadi dan ia alami di rumah Brian.
Tapi.
PLAK!
Baru satu langkah Mikha mengijakan kaki di Rumah, ia sudah mendapat tamparan kuat dari Marlina.
"Dasar anak tidak tau diri! Anak durhaka!"umpat Marlina, pada Mikha yang masih Shock dan memegangi pipinya yang memerah.
"Apa kau puas! Kau puas sekarang!"
Marlina kembali menggunakan kekerasan untuk menyambut kedatangan anak tirinya itu, dengan mendorong Mikha sampai membentur pintu, bahkan ia ingin kembali melayangkan tamparan di wajah Mikha.
"Cukup mah!"teriak Handoko, lelaki itu baru bersuara setelah Marlina dua kali menyakiti putrinya.
"Beri anakmu ini pengertian, pah!"sahut Marlina yang masih di kuasai emosi dan ingin menerkam Mikha.
Mikha yang masih tidak mengerti apa yang terjadi hanya diam karena Shock, sakit! Tentu saja ia merasakan sakit, tapi Mikha jauh merasakan sakit di hatinya kerena ia melihat Handoko hanya diam ketika Marlina menyakitinya, malah saat ini lelaki itu memakinya.
"Apa kau tidak mendengar apa yang Papa katakan sebelum kau pergi ke Rumah Brian! Papa minta untuk jangan membuat ulah di sana, tapi kenapa kau malah membuat Brian marah! Dan kau tau Mikha, atas kebodohanmu ini, Brian membatalkan pembelian Rumah yang seharusnya sudah Papa dan Mama tempati."
Mikha tersenyum getir, dalam hatinya menjerit menahan peri ketika mengetahui alasan orang tuanya melalukan tindakan seperti ini.
"Apa yang lelaki itu katakan pada Papa?"tanya Mikha dengan bergetar.
"Kau tidak perlu tau apa yang Brian katakan, yang jelas suamimu itu sangat marah sampai membatalkan pembelian Rumah, bukan hanya itu, Brian mengancam untuk tidak membantu usaha Papa jika kau tidak meminta maaf padanya."
"Jadi ini, hukuman yang di maksud lelaki gila itu."
Niat Mikha pulang ke Rumah orang tuanya untuk mengeluh dan meminta Handoko membebaskannya dari Brian, sisa. Ia justru mendapat fakta yang menyayat hati, jika orang tuanya sama sekali tidak memperdulikannya.
Ia salah datang ke Rumah itu.
"Sekarang! Cepat kau kembali ke Rumah suamimu dan meminta maaf padanya,"titah Handoko.
"Kenapa?"tanya Mikha yang menahan tangis.
"Kenapa apanya! kau sudah melakukan kesalahan yang membuat Brian marah jadi kau harus meminta maaf padanya."
"Anakmu ini benar-benar bebal dan kurang ajar Pa, dia sangat berbeda sekali dengan Raline."
Sahutan Marlina membuat Mikha geram karena lagi-lagi ia dibandingkan oleh Raline, tapi seperti biasa ia tidak bisa melawan dan berbuat apa-apa jika Handoko dan Marlina memarahi dirinya.
"Mikha! cepat pergi dan minta maaf pada Brian."Usir Handoko.
"Tunggu apa lagi! cepat pergi sana, dan meminta maaf pada suamimu, bila perlu Kau bersujud pada Brian agar Ia mau memaafkan kesalahanmu."
Kata Marlina yang sudah geram.
Melihat Mikha yang tak berkutik, membuat Marlina terpancing emosinya. Dengan paksa wanita itu mendorong Mikha sampai terhempas dari pintu.
"jangan pernah menginjakkan kaki di Rumah ini sebelum kau bisa mengembalikan keadaan seperti semula."
Setelah mengatakan itu, Marlina menutup pintu dengan cara membantingnya.
Mikha menghapus air mata yang dengan sendirinya meluncur.
"Jangan menangis bodoh!"umpat nya, membodohi diri sendiri.
Ia berjalan menjauhi Rumah Handoko, dengan patah hati.
"Drama Lelaki jahat itu benar-benar sangat sempurna, tapi sepertinya Papa jauh lebih kejam dari lelaki gila itu,"gumam Mikha, sambil terus berjalan menuju Halte Bus.
"Aku tidak akan meminta maaf pada lelaki itu! jangankan meminta maaf, untuk kembali ke Rumah itu saja tidak akan aku lakukan."
Yakin Mikha.
Bersambung..
✨✨✨✨✨✨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Rossida Sity
bgs Mikha, jgn mau ditindas, jgn lemah.
2024-01-28
3
lovely
good job mending pergi saja cari kebahagiaan dari suami gila ma orgtua gila 😠
2023-06-14
1