Selamat! Membaca 🤗
"Apa kalian semua bosan hidup!"
Suara Brian sudah seperti petir yang menggelegar di sore hari.
"APA KALIAN TULI! CEPAT JAWAB PERTANYAAN SAYA!"sentak Brian, yang semakin muka karena semua pelayan yang hanya diam menunduk.
Saat ini Brian tengah mengadili para pelayan dan penjaga, perkara Belle terluka, ia langsung pulang setelah melihat rekaman CCTV yang terkoneksi dengan ponselnya.
"Maafkan kami Tuan, maafkan atas kecerobohan kami!"Luri menjatuhkan diri di lantai, bersimpuh memohon maaf pada Brian, dan di ikuti dengan pelayan yang lainya.
"Maaf! Saya tidak membutuhkan kata maaf dari kalian,"sahut Brian yang semakin membuat Para pelayanan ketakutan.
Mereka semua menunduk sambil meremas jari kuat-kuat. Pasrah! Hanya itulah yang saat ini bisa mereka lakukan, terserah Brian mau melakukan apapun karena mereka sudah tidak bisa melakukan apapun.
"Rayan!"panggil Brian, pada seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Iya Tuan."
"Beri mereka hukum yang setimpal."
"Baik tuan!"
Entah hukuman apa yang akan Rayan berikan, karena Brian tidak menyebutkan secara jelas tapi lelaki itu sepertinya tau apa yang harus ia lakukan.
Brian meninggalkan Rayan dengan para pelayan dan penjaga yang akan menerima hukuman, sementara dirinya pergi menuju kamar Mikha.
Ini kali kedua lelaki itu mengijakan kakinya di dapur.
Seperti biasa, Brian menggedor pintu kamar Mikha.
Kerena kali ini Mikha dalam posisi On, ia segera membuka pintu.
Mikha melihat Brian yang tengah berdiri menjulang di depan pintu kamarnya, ia sudah tau tujuan lelaki itu datang.
Tatapan Brian sudah seperti seekor serigala melihat mangsa yang di idam-idamkan.
BRAK!
Dengan kuat Brian menggebrak pintu, seketika membuat Engsel pintu itu lepas.
"Astaga!"
Mikha hanya mengusap dada, karena terkejut! "Untung saja hanya Engsel pintu yang copot bagaimana jika jantung ku," gumam Mikha dalam hatinya.
"Kau, sudah berapa kali saya ingatkan untuk tidak menyentuh putri saya dengan tangan kotormu itu!"kata Brian seraya menunjuk wajah Mikha.
Mikha yang sudah menduga jika Brian pasti marah, sudah menyiapkan hati dan mental untuk menghadapi kebuasan lelaki itu.
"lalu apa hukuman untuk saya?"tanya Mikha dengan menantang, ia sama sekali tidak berniat untuk memberikan penjelasan pada Brian karena ia pikir itu semua percuma, lelaki itu tidak akan pernah mendengarkan penjelasannya.
Brian mengukir senyum miring di kedua sudut bibirnya.
"Sepertinya kali ini kau menyadari kesalahanmu. Bagus! jadi saya tidak perlu repot-repot untuk memperjelasnya."
"Cepat katakan apa hukumnya? apa kau akan memperpanjang hukuman kurungan saya di sini selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun?"
"Tentu saja Tidak!"sahut Brian dengan tatapan dan senyuman yang penuh maksud,"sepertinya hukuman seperti itu sama sekali tidak membuatmu jera, nyatanya, sudah dua kali kau melanggarnya. Jadi hukuman kali ini lebih spesial,"sambungnya.
Mikha menangkap aura lain dari Brian, sepertinya lelaki itu akan kembali berulah lebih gila lagi.
Setelah mengatakan itu, Brian berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun lagi, bahkan ia belum mengatakan kepada Mikha hukuman apa yang akan Gadis itu jalannya.
"Dia repot-repot datang ke sini hanya untuk mengatakan itu! Dasar, gila!"umpat Mikha, namun tidak dipungkiri, di dalam hatinya diliputi rasa kekhawatiran atas ucapan Brian tadi.
✨✨✨✨
"Aku tidak apa-apa Pah, Tante Mikha sudah mengobatiku. Lihat ini! tanganku sudah tidak merasakan sakit lagi, kata Om Dokter Rion, luka ini tidak serius besok pasti akan sembuh,"ujar Belle, memberi penjelasan kepada ayahnya yang terlihat sedih sambil menunjukkan telunjuknya yang diperban.
"Kenapa Papah sedih! Aku tidak apa-apa, Maafkan aku yang tidak hati-hati, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi agar tidak terluka seperti ini."
"Tidak sayang! kau sama sekali tidak bersalah, merekalah yang bersalah karena tidak becus menjagamu. Dan maafkan Papa karena Papa tidak ada saat kau terluka."
Belle memeluk Brian, gadis kecil itu sangat menyayangi papanya, begitupun juga dengan Brian yang sangat menyayangi Belle, lelaki itu rela melakukan apapun untuk kebahagiaan Putri semata wayang dan berjanji akan terus melindungi dan memastikan keselamatan Belle.
"Apa kau sudah makan?"tanya Brian, setelah Belle menguraikan pelukannya.
"Sudah Pah!"
"Kalau begitu beristirahatlah, agar lukanya cepat sembuh."
"Baik pah."
Brian memutuskan untuk tetap tinggal di kamar Belle menemani anak itu sampai benar-benar tertidur.
✨✨
Sementara di tempat lain, tepatnya di halaman belakang rumah Brian.
Rayan tengah melakukan tugas yang tuannya berikan, menghukum para pelayan dan penjaga yang ia anggap tidak becus dalam menjaga dan mengawasi Belle.
"Sakiit!"pekik pelayan wanita, yang jari-jarinya di gores secara paksa menggunakan pecahan kaca.
Sementara yang lain masih menutup Mata Sambil menunggu giliran.
Inilah metode hukuman yang Rayan berikan, melukai jari-jari para pelayan dan pengawal di rumah itu, moto Rayan! mereka harus merasakan apa yang Belle rasakan, karena dengan seperti ini tuannya Brian pasti akan puas.
Satu persatu mendapat giliran, dan yang lebih gilanya lagi, Rayan meminta para pelayan itu yang saling melukai suatu sama lain secara bergantian.
Mikha yang masih berada di dalam kamar mendengar sedikit kegaduhan, karena posis jendela kamarnya menghadap ke arah taman belakang.
Sayup-sayup ia mendengar ringgisan dan pekikan dari jendela, dan tanpa membuang-buang waktu Mikha pun melihat apa yang terjadi di sana.
Mata Mikha membulat sempurna ketika ia melihat secara langsung apa yang tengah Rayan lakukan pada para pelayan di halaman belakang.
"Apa dia sudah gila!"
Dengan cepat Mikha beranjak dan membuka pintu, pikirnya! ia harus menghentikan kegilaan yang dilakukan Rayan.
Sementara Rayan, tengah fokus dengan satu pelayan wanita yaitu Luri, menurut informasi yang ia dapat, Luri yang mengambil kotak obat atas perintah Mikha.
"Karena kau melakukan kesalahan ganda, hukumanmu bukan hanya ini tapi ada hukuman tambahan lain!"kata Rayan yang semakin membuat Luri bergetar, padahal Susi yang ditugaskan untuk melukai tangan Luri belum melakukan apapun. Tapi Gadis itu sudah semakin ketakutan karena perkataan dari Rayan, tapi ia tidak bisa berbuat apapun selain pasrah.
"Cepat kau lakukan tugasmu! Kenapa lama sekali!"sentak Rayan kepada Susi, yang ragu-ragu untuk melukai jari tangan Luri, tentu saja mana ada orang yang bersedia dan rela melukai tangan rekan kerjanya sendiri.
"Ba... Baik tuan!"
Tangan Susi bergetar, dan ia mulai mengarahkan pecahan kaca di telunjuk tangan Luri.
"Cepat!"bentak Rayan yang sudah tidak sabar.
Sepertinya lelaki ini jauh lebih kejam daripada Brian, terbukti dengan caranya menghukum para pelayan dengan tidak pandang bulu mau itu wanita atau pria.
"Tunggu!"
Teriak, Mikha yang sontak menghentikan pergerakan Susi yang sudah mulai mengiris telunjuk Luri.
Bersambung...
✨✨✨✨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🤗
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 245 Episodes
Comments
Siti Zaleha
cerita mcm org x siuman ja x best langsung
2023-09-22
0