Berada di toko kue tempatnya bekerja, Velvet hanya bisa termenung. Ia seakan mengingat kembali bagaimana perjalanan kisah cintanya dengan Allan. Ada sebersit penyesalan mengapa ia dulu begitu cepat jatuh cinta dan menerima Allan. Mengapa ia tak belajar dari pernikahan kedua orang tuanya.
Ya, seharusnya ia menghindar dari semua yang berhubungan dengan yang namanya cinta dan pria. Ia yakin pasti akan lebih tenang tanpa sosok yang disebut dengan pria.
“Vel …”
“Aku tidak apa-apa,” kata Velvet. Ia tahu Leslie pasti kuatir padanya.
Velvet telah menceritakan semua yang ia lalui tadi pada Leslie. Sahabatnya itu langsung memeluknya erat dan mengusap punggungnya.
“Kalau begitu tersenyumlah. Jangan biarkan mereka berbahagia, sementara kamu bersedih,” ujar Leslie.
“Hmm …. Terima kasih, Les.”
Triningg tringg …
Pintu kaca toko kue kembali terbuka.
“Selamat datang!” teriak Leslie dan Velvet bersamaan, meskipun mereka tak melihat siapa pengunjung yang datang.
“Arghhhh!!!” teriak Velvet ketika tangannya secara tiba-tiba ditarik dan tubuhnya dihempaskan begitu saja ke atas lantai.
“Hei apa yang kamu lakukan?!” terial Leslie yang melihat kejadian itu.
Mata semua pengunjung toko kue kini mengarah pada Velvet dan Cord. Velvet bingung dengan apa yang Cord lakukan padanya, sementara Cord menatap Velvet dengan wajah yang penuh amarah.
“Kamu membuatku kehilangan Lyora!” ungkap Cord.
“Apa hubungannya denganku?” tanya Velvet. Seharusnya Cord tak menyalahkannya. Bukankah di sini justru dia adalah korban. Dia yang diselingkuhi, mengapa dia yang terkena amarah?
“Kamu itu sebagai kekasih Allan seharusnya bisa menjaga pria-mu itu dengan baik. Jangan sampai ia melirik wanita lain. Berikan apa yang seharusnya bisa kamu berikan!”
“Bukankah itu berarti kamu juga tidak bisa menjaga kekasihmu sendiri?” tanya Velvet balik. Ia tak ingin diam saja ketika Cord seakan memojokkannya.
“Aku selalu melimpahi Lyora dengan cinta dan kasih sayang. Bahkan perhatian yang tak akan bisa Allan berikan padamu. Lyora juga adalah wanita yang penuh cinta dan perhatian, sementara kamu ….”
“Jangan menyalahkanku!” kata Velvet.
Cord menatap sinis dan mencebik kesal, “Memang kamu seharusnya disalahkan! Jaga baik-baik pria-mu, kalau perlu, berikan tubuhmu itu!”
Deghhh
Seharusnya kamu menjaga suamimu itu baik-baik! Jangan sampai wanita lain mengambilnya. Kalau sudah seperti sekarang, kamu hanya bisa menyalahkanku. Berikan tubuhmu serta kepuasan padanya, meskipun kamu sakit atau pun terhina. - Velvet teringat bagaimana selingkuhan Dad Vermont datang ke rumah mereka dan membuka semua kebenaran.
Velvet mengepalkan tangannya. Jujur ia merasa sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Cord. Nafas Velvet sedikit memburu dan ia langsung bangkit dan dengan keras memukul wajah Cord dengan tinjunya.
Sakit? Ya, jujur tangan Velvet terasa sakit. Tapi setidaknya ia bisa memukul mulut pria itu yang berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu itu.
“Kalau kamu berani berkata seperti itu, puaskan saja sendiri wanita-mu! Jangan sampai pria lain yang memuaskannya!” teriak Velvet sambil kemudian berlalu meninggalkan ruangan utama toko kue tersebut dan masuk ke dalam ruang pegawai.
Leslie ingin mengejar Velvet, tapi itu tak mungkin ia lakukan. Masih banyak pengunjung yang perlu ia layani. Ia mencoba menahan diri dan untuk sementara membiarkan Velvet menenangkan dirinya sendiri terlebih dulu.
**
“Vel …,” Leslie duduk di sebelah Velvet di dalam ruang pegawai. Setelah pengunjung tak lagi banyak, ia meminta seorang pelayan menjaga etalase kue, sementara ia akan melihat keadaan Velvet.
Velvet menatap ke sembarang arah dan ia termenung. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan ileh Cord tadi, tentang dirinya, Allan, dan juga Lyora.
Sahabat? Apa arti sahabat baginya? Kekasih? Ia tersenyum kecil dan kembali menertawakan dirinya sendiri.
“Vel …,” sekali lagi Leslie memanggil Velvet dengan pelan dan memegang bahu sahabat sekaligus rekan sekerjanya itu.
Velvet menoleh ke arah Leslie, kemudian tersenyum, “aku tidak apa-apa.”
“Hari ini pulanglah bersamaku. Aku tak akan membiarkanmu pulang seorang diri,” kata Leslie.
“Terima kasih, Les. Maaf kalau merepotkanmu.”
“Aku menyayangimu, Vel,” Leslie memeluk Velvet dan ia bisa merasakan tubuh Velvet sedikit bergetar. Ia yakin saat ini Velvet sedang menahan diri untuk tidak menangis.
**
Setelah menenangkan diri semalaman, pagi ini Velvet kembali ke universitas untuk menyelesaikan rencana kuliahnya semester depan, sekaligus melihat hasil ujian akhir semesternya.
Namun, ada yang sedikit berbeda hari ini, tepatnya pagi ini. Saat ia melangkah memasuki gerbang universitas, semua mata seakan langsung tertuju kepadanya.
Velvet hanya menautkan kedua alisnya, tapi kakinya terap melangkah masuk ke dalam gedung. Ia melihat para mahasiswa dan mahasiswi yang ia lewati seakan tengah berbisik-bisik membicarakan dirinya.
Tak ingin menanggapi apapun, Velvet langsung menuju ke bagian administrasi untuk meminta hasil ujian semester-nya, serta mengatur jadwal perkuliahan semester depan.
“Terima kasih,” kata Velvet saat salah seorang staf administrasi memberikan kertas print hasil ujian dan juga sebuah formulir pengisian jadwal semester depan.
Ia berjalan menjauh dan untuk kesekian kalinya ia kembali mendengar kasak-kusuk dari para mahasiswa dan mahasiswi di sekitarnya.
Ada apa sebenarnya dengan mereka? - batin Velvet.
“Vel!” dari kejauhan, Velvet bisa melihat Leslie yang tengah berlari menghampirinya. Wajah sahabatnya itu terlihat gelisah dan tidak baik-baik saja.
“Ada apa?” tanya Velvet saat Leslie berada di dekatnya dan menetralkan nafasnya yang sedikit terengah-engah.
“Ikutlah denganku!” ajak Leslie sambil memegang tangan Velvet.
Velvet pun ikut dengan Leslie. Leslie sedikit berjalan cepat hingga ia sedikit kesulitan mengikuti langkah Leslie.
“Ada apa sebenarnya, Les? Mengapa kamu berlari?” Velvet menyadari pandangan orang-orang di sekeliling terus melihat ke arah mereka.
“Les! Berhentilah dulu,” pinta Velvet. Ia ingin bertanya dulu pada Leslie apa yang sebenarnya terjadi. Namun tiba-tiba saja, seorang wanita datang menghampiri Velvet dan Leslie.
“Ou … ou … ini-kah wanita yang akhirnya dicampakkan oleh Allan?” tanya Gabriella, atau sering disapa dengan Gabby.
Velvet menatap Gabby dengan tajam, “apa maksudmu?”
Velvet berusaha mengendalikan dirinya. Ia tak akan membuka permasalahan apa yang terjadi antara dirinya dengan Allan, jadi ia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Gabby.
“Jangan berpura-pura lugu … atau jangan-jangan kamu itu bodoh?!” kata Gabby sambil tertawa, diikuti oleh beberapa orang wanita yang selalu berada di sekitar Gabby.
Velvet diam, ia tak ingin memulai keributan. Biarkan saja jika Gabby ingin mengatakan dirinya bodoh. Ia tak ingin membuat kekacauan yang tentu akan berimbas pada kuliahnya. Ia tak ingin satu tahun terakhirnya nanti harus tertunda karena keributan yang ia buat.
“Aku kasihan padamu yang dicampakkan oleh Allan. Tidak apa-apa sih, setidaknya Allan memilih wanita yang jauh dari dirimu. Kalau Allan bersama dengan Lyora, setidaknya aku tahu kalau Allan memilih wanita yang tak jauh berbeda cantik dan seksinya dariku. Tapi kalau Allan bersamamu, Cihhh!!! Kamu itu hanya anak wanita murrahan! Tak pantas berada di sini!”
Arggghhhh!!!
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Sintia Dewi
waduhh kok jg berbalik mojokin velvet sihh..manusia2 gila.udh mulai drama rupanya
2024-10-12
0
Edah J
nyesek bangettt😢😢
2024-10-03
0
R yuyun Saribanon
makin seru
2024-02-13
5