Sebuah restoran mewah yang menjadi tujuan makan malam Allan dan Velvet kini sudah ada di depan mata. Allan menghentikan mobilnya di lobby restoran dan langsung turun. Ia berjalan memutar kemudian membukakan pintu untuk Velvet.
Jika saja tadi Velvet tidak menemukan lipstik dan rambut berwarna merah di kursi mobil, mungkin ia akan merasa sangat bahagia sekali dengan perlakuan Allan. Velvet mencoba untuk tersenyum meski hatinya kini gundah bahkan hampir kacau.
Allan memberikan kunci mobilnya pada petugas valet, kemudian ia menuntun Velvet untuk masuk ke dalam restoran itu.
“Ayo kita duduk,” ajak Allan.
“Hmm,” Velvet mengangguk dan duduk di kursi yang ditarik oleh Allan.
Suasana restoran tersebut sangat mewah dan memiliki kesan romantis. Wajah Velvet menampakkan senyum, meski hatinya kini penuh curiga.
Sebelumnya, Allan telah memesan makanan, jadi saat mereka sampai, dengan cepat makanan tersebut tersaji di atas meja mereka.
“Bagaimana? Enak?” tanya Allan.
“Iya, ini enak. Terima kasih sudah mengajakku ke sini,” kata Velvet.
“Kita harus merayakan selesainya ujian akhir semester ini dan juga kelulusanku. Anggap saja ini perayaan awal,” kata Allan.
Sungguh, Allan benar-benar manis. Tak akan pernah ia menduga atau pun curiga kalau Allan ada kemungkinan bermain di belakangnya.
Mereka menikmati makan malam mereka sambil berbincang. Allan juga memberitahu pada Velvet bahwa ia akan langsung bekerja setelah lulus.
“Di mana?” tanya Velvet saat Allan membicarakan pekerjaan.
“Tentu saja di perusahaan tempat Dad bekerja. Pemiliknya adalah sahabat Dad, hingga akan dengan mudah aku masuk. Lagipula setahuku, putra pemiliknya akan melanjutkan pendidikan, jadi untuk sementara belum turun tangan mengelola perusahaan,” jawab Allan.
Kalau aku meminta Allan memasukkanku ke perusahaan itu sekarang ini, mungkin akan terkesan tidak enak. Apalagi Allan sendiri baru akan mulai bekerja di sana. Apa yang harus aku lakukan? - batin Velvet.
Setelah makan malam selesai, Allan kembali mengantarkan Velvet pulang.
“Apa besok kamu bisa menjemputku?” tanya Velvet.
“Tentu saja,” jawab Allan.
Velvet pun tersenyum. Ia mencoba membuang keraguan di dalam hatinya. Mungkin apa yang ia temukan di dalam mobil Allan, hanya tertinggal karena acara bertukar kekasih waktu itu.
**
“Cord!” panggil Lyora lagi.
Namun, Cord terus saja berjalan meninggalkan Lyora. Sejak tadi mereka makan malam bersama, Lyora terus saja hanya bermain ponsel dan membuka media sosialnya. Ia senyum-senyum sendiri melihat foto-foto yang ia posting di sana. Cord yang menemani merasa diacuhkan.
“Aku rasa kamu tidak menganggapku sebagai kekasihmu,” ungkap Cord.
“I’m sorry, Cord. Aku sedang sibuk memikirkan rencana magangku,” kata Lyora bohong, padahal Allan sudah menjanjikan posisi di perusahaan tempat daddynya bekerja.
“Tapi seharusnya kamu meluangkan waktu untukku, meski hanya sekedar makan bersama. Kamu malah asyik bermain ponsel saja.”
“Maaf, aku butuh hiburan. Sayangg ….,” Lyora melangkahkan kaki lebih lebar, kemudian mengalungkan tangannya di siku lengan Cord, kemudian langsung memeluk kekasihnya itu.
Lyora langsung berdiri di depan Cord, kemudian dengan berani mengecup bibir Cord, “I’m sorry okay.”
Saat ini Lyora tak ingin kehilangan Cord. Ia membutuhkan Cord untuk membuat Allan cemburu hingga semakin tak bisa lepas darinya. Ia harus mengalahkan Velvet, demikian yang dipikirkan oleh Lyora.
Cord menghela nafasnya pelan kemudian menatap mata Lyora, “baiklah. I’m sorry too.”
Keduanya kini berjalan menuju motor yang terparkir di area parkir cafe. Inilah salah satu lagi kekurangan Cord bagi Lyora. Cord hanya mengantar jemputnya dengan motor, membuat dirinya harus terkena angin dan debu. Sungguh berbanding terbalik dengan Allan yang memiliki mobil. Cord bahkan waktu itu mengantarnya ke bandara dengan mobil rental, sungguh ia ingin menertawakan.
“Ayo, kuantar pulang,” kata Cord.
Setelah sampai di depan apartemen yang ditempati oleh Lyora, Cord pun meninggalkan kekasihnya itu setelah mencium kening Lyora.
Lyora masuk ke dalam apartemennya setelah melihat Cord masuk ke dalam lift. Saat masuk, ia sudah tersenyum karena melihat keberadaan Allan di sofa ruang tamu-nya.
“Apa kamu menungguku lama?” tanya Lyora.
“Hmm … sangat. Bahkan sedari tadi aku merasa bahwa kamu tengah mengkhianatiku,” jawab Allan dengan nada manja.
Lyora langsung melangkah ke arah sofa kemudian duduk di sebelah Allan. Ia menghujani wajah Allan dengan ciuman, supaya pria itu tak ngambek lagi.
“Kalau begitu, aku akan membuatmu yakin kalau aku tak akan mengkhianatimu. Ayo!” Lyora menarik tangan Allan dan mengajaknya ke arah kamar tidur.
Allan langsung tersenyum karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, suatu kenikmatan yang tak akan ia tolak atau pun ia hindari.
**
Keesokan paginya,
Velvet yang telah siap, kini keluar dari kamar tidur dan beralih ke meja makan. Mom Faira telah menyiapkan sandwich untuk sarapan pagi.
“Thank you, Mom,” kata Velvet seperti biasanya.
“Ayo makan,” ajak Mom Faira.
Mereka duduk bersama dan sarapan. Waktu seperti ini mereka gunakan untuk saling berbincang karena biasa saat makan siang dan makan malam, Velvet tak akan melakukannya bersama Mom Faira.
“Kamu belum mendapatkan tempat magang juga?” tanya Mom Faira setelah mendengar cerita putrinya.
“Belum, Mom. Aku bingung,” jawab Velvet.
“Bersabar dan tenanglah, sayang. Mommy yakin kamu akan segera mendapatkan tempat magang yang memerlukan tenaga dan keahlianmu,” Mom Faira berusaha menguatkan.
“Thank you, Mom.”
“Allan akan menjemputmu?” tanya Mom Faira.
“Hmm … semalam aku sudah meminta padanya, Mom. Sebenarnya aku berencana meminta bantuannya untuk bisa bekerja di perusahaan tempat daddy Allan bekerja,” kata Velvet, “Tapi, aku berpikir ulang karena Allan juga baru akan mulai bekerja di sana setelah lulus. Apa mereka akan memandang rendah aku, Mom?”
Mom Faira tersenyum, “ikuti kata hatimu, sayang. Tapi Mommy sangat yakin kamu pasti bisa mendapatkan tempat magang tanpa bantuan dari siapa pun.”
“Terima kasih, Mom,” Velvet memeluk Mom Faira.
Hingga waktu sudah lewat dari jam biasa Allan menjemput, tak ada kabar sama sekali dari Allan. Velvet akhirnya berinisiatif pergi sendiri ke universitas. Namun, hatinya kuatir karena Allan tak memberikan kabar padanya.
Dengan kendaraan umum, Velvet menuju komplek perumahan di mana Allan tinggal. Setelah sampai di depan komplek, ia turun dari bus dan berjalan kaki masuk. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu 1 jam sebelum ia menemui dosen pembimbing untuk mata kuliah magang serta bagian administrasi untuk melihat jadwal perkuliahan semester depan.
Velvet sedikit mempercepat langkah kakinya dan kini ia telah sampai di depan pagar rumah Allan. Rumah yang ada di hadapannya terlihat sangat besar, tentu saja … bukankah Allan putra seorang direktur perusahaan besar.
Velvet berjalan menuju pos security yang ada di sebelah pagar.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Velvet.
“Selamat pagi, Nona,” petugas security menyapa Velvet balik.
Meskipun Velvet tak pernah diajak ke rumah Allan, tapi ia diberikan alamatnya oleh Allan.
“Apakah Allan ada di rumah?” tanya Velvet.
“Oo, Tuan Allan belum kembali sejak semalam, Nona.”
“Belum kembali? Apa Tuan tidak salah?”
“Saya berjaga semalaman, Nona. Tidak mungkin saya salah,” jawab petugas security.
Velvet pun tersenyum dan berterima kasih, kemudian ia berlalu dari sana. Kini pikirannya kembali penuh kecurigaan.
Kamu pergi ke mana, Al? Sampai-sampai tidak pulang. - batin Velvet.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Sintia Dewi
duh gk cepek gituan mulu ya, gw baca aja cpek tiap ketemu berkhir diranjang....dasar sama hiper
2024-10-12
2
Murniyati
sdh lah tendang jauhh cowo laknut
2024-09-24
0
Leeya❤️
kalo anak perusahaan itu cord, moga dia secepatnya mngetahui kebenaran & gk nerima lamaran alla sm lyora
2024-05-22
2