Hanum terlihat termenung di dalam kamarnya memikirkan permintaan Bu Shanty padanya beberapa jam yang lalu. Suara hujan yang turun semakin deras dari luar jendela apartemennya tak membuat lamunan Hanum terhenti dan beranjak dari depan jendela kamarnya.
"Mamah, napa situ?" Suara Divan memanggil namanya pun tak membuat Hanum terdadar dari lamunannya.
Divan memilih turun dari atas ranjang dan menghampiri Hanum yang terlihat sedang melamun. "Mamah..." Divan menarik ujung baju Hanum agar Hanum tersadar dari lamunanannya.
"Divan." Hanum dibuat sedikit terkejut saat melihat Divan sudah berada di belakang tubuhnya.
"Mamah napa sini? Hujan tuh di luar. Petir juga." Omel Divan.
Hamum kembali menatap ke depan. Dan benar saja saat ini hujan terlihat turun semakin deras diikuti kilatan petir.
"Ayo sana, Mah." Divan kembali menarik ujung baju Hanum. Terlihat jelas di wajah anak itu kekhawatiran melihat ibunya di berdiri di depan jendela.
"Eh, iya." Hanum pun mengikuti langkah Divan menuju ranjang.
"Mamah napa tu? Kenapa melamun?" Tanya Divan setelah Hanum membantunya duduk di atas ranjang.
"Emh, Mamah tidak melamun." Bohong Hanum.
"Boong ja tuh Mamah. Melamun tadi itu." Jawab Divan tak percaya.
Hanum tertawa kecil mendengar perkataan putranya. "Mama melamunkan Divan yang sebentar lagi akan sekolah. Pasti Mama sangat senang melihat putra kecil Mama ini bersekolah." Ucap Hanum berbohong.
Divan memperhatikan wajah Hanum dengan intens. Entah mengapa putra kecil Hanum itu seperti tidak mempercayai perkataan ibunya baru saja.
"Sudahlah, jangan berpikiran yang macam-macam. Lebih baik Divan kembali tidur saja karena cuaca seperti saat ini sangat enak dibawa tidur." Ucap Hanum.
Divan tak langsung mengiyakannya. Ia memilih meminta bermain di luar kamar saja karena matanya sudah tidak mengantuk dan tidak ingin tidur kembali.
Hanum pun menuruti permintaan putra kecilnya. Sambil menemani Divan bermain mobil-mobilannya di luar kamar, Hanum kembali memikirkan permintaan Bu Shanty padanya.
Hanum, maukah kau menikah dengan putra ibu?" Permintaan itu kembali terngiang di telinga Hanum.
"Kenapa Bu Shanty memintaku untuk menjadi menantunya? Apa Bu Shanty tidak akan malu nantinya jika banyak orang yang membicarakannya karena telah memilih aku yang berstatus single parent menjadi menantunya?" Gumam Hanum.
Ingin sekali tadi Hanum langsung menolak permintaan Bu Shanty, namun mengingat perkataan Bu Shanty yang hanya menginginkan satu permintaan pada Hanum membuat Hanum tak kuasa untuk menolaknya. Terlebih selama ini sudah begitu banyak kebaikan Bu Shanty padanya yang tak dapat Hanum hitung dengan jari.
"Apa ini adalah salah satu cara untuk aku membalas budi pada Bu Shanty? Tapi kenapa ini caranya? Kenapa Bu Shanty tidak memintaku untuk hal yang lain saja? Menikah bukanlah hal sakral dan bukan main-main." Hanum dibuat gundah gulana.
Hanum pun mulai memikirkan apakah calon suaminya nanti mau menerima dirinya dan statusnya saat ini. Jika perkataan Bu Shanty memintanya untuk menikah dengan anak pertamanya, berarti dapat Hanum simpulkan jika pria yang ingin dinikahkan padanya adalah Dio—pria yang saat itu dibawa Bu Shanty ke perusahaan Mahesa tempatnya bekerja.
"Tuhan... bagaimana ini, apa aku harus menerima permintaan Bu Shanty? Dia sudah terlalu baik padaku. Jika aku menolaknya rasanya aku sangat merasa berdosa padanya." Lirih Hanum dengan kepala tertunduk. Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 350 Episodes
Comments
@Heni khan 😚❤️🇵🇸
menikah adalah hal yg sakral bukan Hal main" begitu Kan Thor 😂 maaf Aku koreksi dikit
2023-05-19
5
Nuryati Yati
jadi dilema bwt Hanum
2023-05-09
1
Henny Nurhayati
ya begitu lah kalau kita punya hutang budi yg tdk bisa di bayar dgn apapun ...
lebih baik hutang uang setelah di bayar lunas setelah itu selesai ....😔😔😔😔😙
2023-04-25
5