Tak berselang lama Hanum nampak telah kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan berisi minuman dan makanan ringan. Divan pun turut nampak telah kembali sambil membawa toples bulat di tangannya.
"Ini, Nenek." Ucap Divan sambil menyerahkan toples pada Bu Shanty.
"Apa ini, Divan?" Bu Shaty berpura-pura tidak tahu padahal ia sudah dapat melihat dengan jelas isi toples karena toples tersebut bewarna bening.
"Itu adalah kripik pisang, Nenek. Mamah buat itu." Jawabnya dengan wajah polosnya.
Bu Shanty tersenyum mendengarnya. Ia pun meminta Divan untuk duduk di sofa kosong yang berada di sebelahnya. Divan si anak penurut pun dengan sigap naik ke atas sofa dan duduk di sana.
"Hanum, maaf kalau ibu sudah mengganggu waktu libur kamu bersama Divan." Ucap Bu Shanty merasa sungkan.
"Tidak masalah, Bu. Ibu sama sekali tidak mengganggu." Jawab Hanum tersenyum.
Bu Shanty pun ikut tersenyum mendengarnya. "Oh ya, Hanum. Ibu datang ke sini karena ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan kepadamu." Ucap Bu Shanty.
"Apa itu, Bu?" Tanya Hanum.
Bu Shanty hanya tersenyum sambil menatap pada Divan. Mengerti maksud Bu Shanty yang tidak bisa berbicara karena ada Divan membuat Hanum mengalihkan pembicaraan mereka ke arah lain lebih dulu.
"Hanum, karena saat ini umur Divan sudah memasuki lima tahun bagaimana kalau kau memasukkan Divan untuk bersekolah." Ucap Bu Shanty setelah Hanum mengatakan berapa umur Divan saat ini.
"Hanum memang sudah berniat untuk menyekolahkannya, Bu. Rencana satu minggu lagi Hanum akan mendaftarkan Divan bersekolah di TK yang berada tidak jauh dari apartemen ini." Jawab Hanum.
"Baguslah kalau begitu, Hanum. Sebenarnya Ibu ingin menawarkanmu agar memasukkan Divan bersekolah di salah satu yayasan milik keluarga Ibu. Tapi sayang jaraknya cukup jauh dari apartemen ini." Ucap Bu Shanty.
Hanum tersenyum mendengarnya. "Terima kasih atas tawarannya, Bu. Tapi untuk saat ini Divan bersekolah di dekat sini saja agar pengasuhnya tidak terlalu jauh menjemputnya." Jawab Hanum lembut.
Bu Shanty mengangguk mengiyakannya. Setelah cukup banyak berbicara pada Hanum dan sesekali berbicara pada Divan, Bu Shanty pun memberi kode pada Hanum jika ia ingin membicarakan hal yang penting pada Hanum.
"Divan, masuk ke dalam kamar dulu, ya." Ucap Hanum lembut pada putranya.
Divan mengangguk mengiyakannya lalu berlari ke arah kamarnya berada.
"Hal apa yang ingin Ibu bicarakan pada Hanum?" Tanya Hanum setelah pintu kamar Divan tertutup.
"Sebelum Ibu mengatakan hal apa yang ingin Ibu bicarakan, Ibu ingin bertanya lebih dulu apakah sampai saat ini kau masih menyembunyikan status aslimu pada Divan?" Tanya Bu Shanty.
Hanum mengangguk mengiyakannya. "Hanum sudah berjanji pada diri Hanum sendiri untuk tidak memberitahukan hal itu pada Divan, Bu. Hanum sudah menganggap Divan seperti anak Hanum sendiri dan Hanum ingin Divan tahu jika Hanum adalah ibu kandungnya. Ibu, Hanum minta agar Ibu tidak pernah menceritakan pada siapa pun siapa jati diri Divan sebenarnya." Pinta Hanum. Terlihat raut takut di wajah Hanum saat mengatakannya.
"Ibu berjanji untuk itu, Hanum. Sekarang Ibu ingin mengatakan hal penting yang ingin Ibu bicarakan padamu.
"Terima kasih, Bu. Oh ya, hal penting apa itu, Bu?" Tanya Hanum.
"Hanum, Ibu ingin meminta satu permintaan padamu dan Ibu harap kau dapat mengabulkannya." Ucap Bu Shanty dengan wajah serius.
***
Maaf ya covernya berubah dari sistemnya dan belum bisa diubah🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 350 Episodes
Comments
Nuryati Yati
jd menantu ibu Hanum 🤭
2023-05-09
1
Alea
wah ni Shanti mau lamar Hanum nih kayaknya
2023-04-28
1
Kamiem sag
Waduh... sepertinya sulit bustmu menolak permintaan org yg sdh cukup membantumu Num
2023-04-16
1