Saat tengah mengunjungi berbagai devisi yang ada di cabang perusahaan milik Papanya, Dio dibuat bingung melihat sikap para karyawan yang terlihat acuh atas keberadaan Hanum dan hanya fokus kepada dirinya sendiri. Sesekali Dio menatap wajah Hanum yang terlihat tetap tersenyum walau kaku.
Entah mengapa Dio merasa ada yang tidak beres pada Hanum dan para karyawan papannya itu. Sepertinya wanita ini memiliki banyak musuh di perusahaan ini. Ucap Dio dalam hati sambil menatap wajah Hanum.
Hanum yang tidak sadar ditatap oleh Dio pun terus menunduk menatap layar ponselnya untuk melihat pesan yang dikirimkan pengasuh Divan kepadanya.
"Anak Mamah sudah sangat pintar." Gumam Hanum pelan saat memutar video Divan yang sedang membaca buku bersama pengasuhnya.
Anak? Dio membelalakkan kedua bola matanya. Ia terus melangkah menuju lift sambil berpura-pura fokus memainkan ponselnya padahal sebaliknya.
"Kau bisa kembali ke dalam ruangan kerjamu karena aku tidak ingin pergi kemana-mana lagi." Ucap Dio pada Hanum saat mereka sudah berada di dalam lift.
Hanum menoleh pada Dio. "Baik, Tuan." Jawabnya patuh walau sebenarnya Hanum ingin mempertanyakan kemana setelah ini Dio akan pergi.
Setelah berpisah di lantai tiga yang menjadi tempat kerja Hanum, Dio pun langsung menuju ke lantai lima dimana ruangan papanya berada.
Ceklek
Bu Shanty dan Tuan Mahesa seketika menghentikan pembicaraan mereka saat mendengar pintu ruangan terbuka dari luar.
"Dio, kau sudah kembali, Nak?" Tanya Bu Shanty pada putranya.
Dio menganggukkan kepalanya sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Loh, dimana Hanum? Kenapa dia tidak ada?" Tanya Bu Shanty.
"Dia sudah kembali ke ruangannya." Jawab Dio seadanya.
Bu Shanty membelalakkan kedua bola matanya. "Kau yang memintanya?" Tebak Bu Shanty dan diangguki Dio sebagai jawaban. "Dio... kenapa kau memintanya kembali ke ruangan kerjanya?" Tanya Bu Shanty kesal.
"Memangnya untuk apa dia untuk ikut bersamaku lagi, Ma? Kami sudah selesai berkeliling dan tidak ada lagi fungsinya berada di sampingku." Ketus Dio.
Bu Shanty menghela nafasnya. Mau tidak mau ia mengangguk saja mengiyakan perkataan putra sulungnya itu.
"Duduklah." Titah Tuan Mahesa.
Dio menurutinya walau malas. "Aku tidak memiliki banyak waktu di kota ini. Aku harus segera kembali." Ucap Dio.
"Kenapa buru-buru sekali? Apa kau begitu senang berjauhan dari kedua orang tuamu?" Tanya Bu Shanty.
Dio berdecak dalam hati. "Bukan begitu. Tapi Mama tahu kan jika ada usaha yang tidak bisa lama aku tinggalkan." Jawab Dio.
"Di sini juga usahamu Dio. Perusahaan Papa ini juga membutuhkan dirimu." Tekan Bu Shanty.
"Jangan membahas hal yang sudah jelas jawabannya, Ma." Tekan Dio. Entah sudah beratus kali Mamanya itu memintanya untuk bekerja di perusahaan Mahesa tapi ia selalu menolaknya.
"Jika kau tidak ingin jadi kapan kau akan menikah?" Tanya Bu Shanty.
"Aku akan menikah setelah Calista menyelesaikan studynya." Ucap Dio.
"Berapa tahun lagi? Satu tahun? Dua tahun? Atau tiga tahun?" Ketus Bu Shanty.
"Mah..." Dio merasa semakin malas dan kesal.
"Apa kau tidak sadar jika ketiga temanmu sudah menikah bahkan sudah memiliki anak. Sedangkan kau? Kau hanya sibuk menanti cintamu yang tidak pasti itu." Ucap Bu Shanty.
Dio pun sontak bangkit dari duduknya. "Jika Mama meminta Dio untuk datang ke sini hanya untuk membahas itu lebih baik Dio pergi."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 350 Episodes
Comments
Lilisdayanti
dasar batu,,kepala Batu,, otak udang,makanya jalan nya mundur,,kapan nyampenya 🤭
2023-11-24
1
Susillah
pacar mu punya pacar lg x Dio...
2023-05-20
1
Nuryati Yati
yg pasti2 aja Dio pilihan ortumu udh psti yg terbaik
2023-05-09
1