Seminggu telah berlalu.Hubungan Rangga dan Alya semakin dekat. Setiap pagi Rangga akan mengecup keningnya, lalu pergi bekerja. Sepulang bekerja Rangga akan memeluk dirinya. Rutinitas ini menjadi sebuah kebiasaan bagi Alya.
Hari ini adalah hari minggu. Rangga yang libur memilih untuk di rumah saja. Alya terlihat sedang memasak untuk Rangga karena hari ini pria itu ingin makan masakannya. Alya sedang mengupas wortel dan Rangga berdiri di belakangnya,
"Sayang, kenapa di sini, aku jadi grogi," ucap Alya malu malu.
"Tidak apa-apa, aku cuma ingin lihat saja." Rangga masih berdiri sambil melipat tangannya di dada.
Alya semakin grogi dan pisau melukai jarinya. "Aduh." Dia memegangi ujung telunjuknya yang berdarah.
Rangga dengan sigap menghisap telunjuk Alya untuk menghentikan darahnya. Alya sampai kaget dengan apa yang dilakukan Rangga.
Apa yang dia lakukan? Bukannya dia sangat jijik dengan darahku, dan kenapa wajahnya semakin terlihat tampan. Kenapa aku jadi deg dega-an begini?
"Ayo biar aku obati, Lusi perintahkan koki untuk melanjutkan masakan Nona Muda dan bawakan kotak P3K."
"Baik, Tuan." Lusi segera memerintahkan seorang koki untuk melanjutkan masakan Alya dan mengambil kotak P3K.
Rangga pun membimbing Alya duduk di ruang keluarga. Dia membuka kotak P3K yang telah dibawa Lusi. Dengan cekatan, dia mulai mengobati luka di jari Alya. Lalu menempelkan sebuah plester ke jarinya. Setelah selesai, Rangga mengecup jari yang sudah diobati tadi hingga membuat Alya terpana melihatnya.
Oh tidak, kenapa matanya begitu indah, bibirnya begitu menggoda, dan sikapnya begitu manis? Semanis coklat.
"Kau baik baik saja, kan?" Rangga melihat Alya terdiam cukup lama.
"Eh,,, iya, Sayang aku baik baik saja."
"Kenapa kau terus memandangiku seperti itu?" Rangga menatap Alya dengan tatapan yang teduh.
"Tidak, Sayang." Alya menunduk karena malu.
"Hei kenapa menunduk?" Rangga mengangkat dagu Alya dengan tangannya hingga membuat jantung Alya semakin berdebar.
Aduh kenapa sedekat ini? Nafasku bau tidak, ya?
"Sayang, kau tidak apa-apa, kan?" tanya Rangga lagi.
"Tidak apa-apa, Sayang." Alya menyandarkan tubuhnya ke Sofa agar tidak terlalu dekat dengan Rangga.
"Alya apa aku boleh bicara sesuatu kepadamu?" Rangga menatap serius.
"Bicara apa?" Penasaran.
"Boleh kah aku,,,,," Rangga mendekatkan bibirnya ke bibir Alya.
Apa ini, dia akan menciumku? Semoga nafasku tidak bau.
Alya memicingkan mata, dan membuat Rangga menghentikan pergerakannya saat bibirnya sudah berada 1 centi dari bibir Alya.
Rangga menjauhkan wajahnya
"Kau masih belum siap?" Rangga menatap sambil tersenyum.
"A...aku belum pernah melakukannya." Alya kembali menunduik malu.
"Apa? Kau bercanda, kan?" Rangga tertawa kecil.
Namun Alya hanya diam saja dan menatap Rangga dengan serius.
"Kau tidak bercanda? Kau serius?"
Alya mengangguk.
"Bagaimana mungkin untuk berciuman saja kau tidak pernah melakukannya?" Rangga tertawa. Membuat seisi rumah itu spot jantung karena ini pertama kalinya Tuan mereka tertawa setelah kematian Adinda.
Alya menjadi malu. Dia menunduk dengan pipi semerah tomat.
"Ceritakan pengalaman cintamu, Nona Muda, aku akan mendengarkan."
"Tidak ada, aku tidak punya pengalaman Cinta." Alya menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Aku tidak pernah berpacaran atau berkencan karena kakakku menjagaku sangat ketat. Sejak kecil, aku selalu dijaga pengawal, makanya tidak ada yang pernah mendekatiku karena takut." Alya melihat ke arah Rangga yang terlihat heran dan seakan tidak percaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
syisya
uuuuh bawaannya mewek terus 😭😭😭 sangat menyentuh thooor
2024-09-14
0
Asih Ningsih
alya jgn sampai ke jebak kata2nya rangga.
2023-08-07
1
inayah machmud
mulut ku bau tidak ya...🤭🤣🤣🤣
2023-06-23
0