Hari ini jadwal kepulangan Rangga. Alya sudah bersiap siap untuk menyambutnya. Ketika deruman mesin mobil terdengar dari luar, Alya segera berdiri berhadapan dengan pintu utama. Semua pengawal dan pelayan juga ikut menyambutnya. Mereka berbaris berhadapan
Pintu terbuka. Semua mengucapkan "Selamat datang, Tuan Muda." Sambil membungkukkan badan.
Alya datang kepadanya dan mencium punggung tangannya. "Selamat datang, Sayang." Alya sedikit geli saat bibirnya mengucap kata Sayang.
Tanpa disangka, Rangga merangkul bahu Alya. Jantung Alya berdebar kencang melihat perlakuan Rangga yang tiba tiba itu.
Apa dia sedang memegang pisau. Aku tau ini seperti di film film, sang suami akan memeluk istrinya lalu ketika istrinya lengah dia akan menusuk dengan pisau.
Alya berkeringat dingin. Wajahnya tegang, dia terus melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan apakah ada pisau atau tidak.
Rangga menuntun Alya ke ruang keluarga, lalu kemudian duduk sambil tersenyum kepada Alya.
Ya Allah dia kesurupan di mana?
"Sebentar, Sayang, aku akan membuatkan teh." Alya bergegas pergi dengan wajah yang tampak tegang.
Tak berselang lama, teh pun datang. "Terima kasih, Sayang." Rangga tersenyum.
Apa ini? Sayang katanya? Apakah kepalanya terbentur saat berada di luar negeri?
Alya memaksakan senyumannya.
"Alya." Kata yang keluar dari bibir Rangga membuat tubuh Alya kaku.
Benarkah barusan dia menyebut namaku?
"Iya, Sayang." Alya berusaha tersenyum.
"Maafkan aku, ya." Rangga menatap lekat wajah Alya yang terlihat masih tegang.
"Maaf?" Alya bertanya seakan tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
Telingaku masih befungsi, kan?
"Iya, aku minta maaf, beberapa hari ini aku terus memikirkanmu. Aku baru sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan padamu yang jelas-jelas tidak bersalah, di sini, kau hanya korban." Rangga membelai rambut panjang Alya.
Oh tidak, jantungku kenapa berdebar begini?
"Alya." Rangga menyadarkan lamunan Alya.
"I,,,,iya." Alya terkesiap
"Bagaimana? Apa kau mau memaafkan ku?" tanya Rangga sekali lagi.
Alya mengangguk. Membuat Rangga tersenyum lalu memeluk Alya.
Oh tidak kali ini jantungku benar benar akan copot
"Jam berapa sekarang? Apa sudah waktunya makan siang?"
"Sudah, Sayang, mari kita makan," ajak Alya dengan senyum yang mengambang di wajah bulatnya.
Rangga melihatnya tersenyum penuh arti.
Dasar gadis bodoh, mudah sekali membohongimu.
Mereka pun makan siang bersama.
"Kau mau makan apa?" tanya Rangga.
"Sayang, tidak perlu berlebihan, aku bisa mengambilnya sendiri." Alya menolak.
"Aku meminta maaf padamu bukan berarti kau harus menentangku, Sayang?" Rangga tersenyum, tapi senyuman itu terlihat seperti sebuah ancaman.
Aku lupa, dia adalah Rangga yang kata-katanya tidak boleh dibantah.
"Iya, Sayang, aku mau itu, itu dan ini." Alya menunjuk menu yang ingin dia makan.
Benar-benar rakus.
Rangga mengambilkannya, lalu mendekatkan kursinya ke kursi Alya hingga membuatnya merasa gugup.
Apa lagi ini?
"Buka mulutmu, aaaaaa." Rangga menyuapinya seperti sedang menyuapi anak kecil.
Alya hampir pingsan dibuatnya. Para pelayan dapur terkejut melihat sikap Rangga yang berbeda seratus delapan puluh derajat itu.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Rangga mengajaknya ke kamar.
Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan...
Alya menggeleng kepalanya, menepis pikiran liar yang ada di dalam kepalanya.
Pintu kamar tertutup, sedangkan Alya masih mematung.
"Kenapa di sana? Kemarilah."
Alya berjalan pelan menuju ke Rangga. Berdiri di depannya, dan memegang bahu Alya.
"Tutup matamu."
Alya menutup matanya.
Apa yang akan dia lakukan? Aku belum siap.
Rangga terlihat menyibakkan rambut Alya dan memasangkan sesuatu di lehernya.
Saat Alya membuka mata, Rangga pun membimbingnya untuk bercermin,
"Bagaimana? Bagus, bukan?
Alya menatap dirinya di cermin besar di dalam kamar itu. Sebuah kalung berlian teruntai indah dil ehernya. "Ini bagus sekali," decaknya kagum.
"Apapun yang dipakai istriku harus bagus." Rangga memeluk Alya dari belakang.
Jantung Alya semakin berdebar kencang. Apalagi saat Rangga membisikkan sesuatu padanya.
"Kau sangat cantik, aku akan menunggumu sampai kau siap," bisiknya lalu melepas pelukannya.
Dia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Sedangkan Alya masih duduk di sofa mencerna semua hal yang terjadi hari ini.
Ini bukan mimpi, kan?
Terlihat sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
syisya
senjata makan tuan, sok baik sok manis eeeeh bablas juga kau nanti akan bucin hehehe
2024-09-14
0
inayah machmud
nanti si Rangga yg kena sama jebakan nya sendiri. .. akhirnya senjata makan tuan. ..
2023-06-23
0
Ema niman Alfian
aliya km jngan mw di bdohi si rangga
2022-10-27
0