Hari ini Rangga akan pergi ke Luar negeri. Alya membantunya mengepak baju bajunya kedalam koper. Setelah semua selesai,,,,
"Bawa koper ini!" perintah Rangga.
Apa? Tapi kan ini sangat besar dan berat? Bagaimana bisa dia menyuruhku membawa ini? Oke tidak apa apa, setelah dia pergi aku akan bebas walaupun hanya untuk 3 hari.
Alya terpaksa membawa koper besar itu, namun dia terlihat begitu kesulitan membawanya.
"Dasar bodoh, aktifkan rodanya!" titah Rangga yang risih melihat Alya menyeret kopernya.
Alya segera mengaktifkan roda koper itu dan kini dia bisa menyeretnya tanpa harus keberatan.
"Ayo gunakan Lift, aku tidak mau kau membuat koperku terguling."
Bukan kopermu saja yang akan terguling Tuan, aku juga akan ikut terguling bersama koper beratmu ini.
Setelah sampai di bawah, mereka pun dan sarapan bersama terlebih dahulu.
"Ingatlah ini, selama aku pergi jangan mencoba untuk keluar dari rumah ini. Aku sudah memberimu kebebasan untuk menonton Drama membosankan kesukaanmu itu. Jangan mencoba berharap lebih atau aku akan membuatmu menangisi kakimu yang patah setiap hari!" Rangga menatap tajam ke arah Alya. Memberinya ancaman sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Alya menunduk dan mengangguk.
Tunggu? Darimana dia tau kalau aku suka menonton Drama? Apa mungkin Lusi yang memberitahunya? Dan membosankan? Kenapa membosankan? Padahal kau tidak pernah menontonnya.
"Tunjukkan wajahmu dan katakan sesuatu!" Rangga masih menatap Alya
"Baik, Tuan."
"Kenapa kau memanggilku Tuan?"
Apa? Bukankah kau yang dulu menyuruhku memanggilmu Tuan.
"Aku harus memanggil apa Tuan?" tanya Alya ragu ragu.
"Kenapa bertanya? Pikirkan sendiri!"
"Bagaimana kalau Kak?" Alya mencoba memberanikan diri memberikan tawaran menggelikan itu.
"Aku bukan kakakmu," ucap Rangga tanpa menatap Alya
"Mas?"
"Tidak." Rangga menggeleng.
"Suamiku?" Alya pun teringat di ponselnya nama Rangga tertulis dengan nama Suami
"Cari yang lebih bagus."
Apa? kenapa hanya untuk panggilan saja, aku seperti sedang melaksanakan ujian?
"Maaf, Tuan, tapi aku tidak punya ide lagi." Alya menggeleng pasrah.
Rangga menatap tajam kepadanya. Alya pun langsung sadar jika dia baru saja bilang maaf. Dia langsung memegang tangan Rangga dengan lembut meski wajahnya masih terlihat tegang.
"Panggil aku sesuatu yang biasa kau dengar dari pasangan yang sudah menikah."
"Biasanya aku mendengar pangilan, ayah, abi, mas, dan,,,,,,," Alya tidak melanjutkan kata katanya
"Dan apa?" tanya Rangga penasaran karena ekspresi Alya yang bingung.
"Sayang," sambung Alya sambil menunduk menahan malu.
"Apa kau sudah gila ingin memanggilku sayang?" Rangga menatapnya dengan sorot mata yang lebih tajam.
Alya menunduk dengan raut wajah yang masih malu. Dia baru saja mempermalukan dirinya sendiri.
"Sebenarnya aku benci mendengar panggilan itu, tapi sudah lah, jika kau sudah memohon seperti ini, aku akan membiarkanmu memanggilku seperti itu. Dan aku juga harus berangkat sekarang, tidak ada waktu lagi membahas itu." Rangga beranjak dari kursinya sementara pengawal membawa koper ke dalam mobil.
Alya berjalan dibelakang Rangga sampai ke pintu. Dia mencium punggung tangan Rangga dan pria itu pun segera masuk ke mobil hingga perlahan mobil itu hilang dari pandangan.
Aku tidak tau kenapa aku berpikir seperti ini. Tapi sebenarnya aku tau bahwa kau orang yang punya hati. Kau hanya belum bisa memaafkan kesalahan kakakku. Apapun akan ku lakukan agar kau bisa memaafkan kakakku meski harus mengorbankan kebahagiannku. Karena setelah orang tua kami meninggal, hanya dia yang aku punya.
Alya menyeka air matanya dan dia pun kembali menuju kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
syisya
😭😭😭😭
2024-09-13
0
Diana diana
labil kak Rang mah .
2024-01-24
1
Asih Ningsih
dasar rangga bilng aja klu mau do panggil sayang.
2023-08-07
0