Alya sedang duduk di sofa ruang tamu menunggu Rangga pulang. Dia tidak mau kalau sampai Rangga marah karena dia terlambat.
Suara deruman mesin mobil membuatnya segera berdiri dan berjalan ke pintu. Dia berdiri, lalu pintu dibuka oleh dua pengawal yang ada di dalam rumah itu. Pintu terbuka dan terlihatlah Rangga yang berjalan masuk menuju ke arahnya. Wajah Rangga terlihat sangat letih namun tetap terlihat tampan.
"Selamat datang, Tuan." Alya mencium punggung tangan Rangga lalu membawakan jas dan tas kerja Rangga. Mereka berjalan menaiki tangga bersama menuju kamar.
"Silahkan duduk, Tuan, aku akan membuatkan teh." Alya tersenyum manis.
Rangga duduk disofa sambil menunggu kedatangan Alya. Alya menggunakan Lift agar cepat sampai ke bawah. Lift itu hanya digunakan pada saat sedang terburu-buru saja atau sedang sakit.
Tak berselang lama, Alya datang sambil membawa secangkir teh.
"Diminum dulu, Tuan, aku akan menyiapkan air mandi untuk Tuan." Alya pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk Rangga mandi.
Alya keluar dari kamar mandi, dan melihat Rangga sudah menghabiskan tehnya. "Sudah siap, Tuan."
Rangga berjalan menuju kamar mandi, membuka bajunya dan berendam sebentar. Alya menuju ke dapur dan menyiapkan makan malam. Dia terus memikirkan sikap Rangga yang aneh, karena biasanya dia mengeluarkan suara petirnya namun kali ini dia banyak diam.
Rangga masih berendam. Dia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Namun tiba-tiba, matanya terbelalak.
"Tunggu, kenapa aku seperti orang yang menuruti segala perintahnya? Kenapa aku diam saja dan menerima apa yang dia katakan?" Rangga berbicara sendiri. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan.
Setelah dia mandi dan memakai baju yang sudah disiapkan Alya, dia turun ke bawah menuju ruang makan.
Alya menyuguhi makanan dan mengambilkan apa yang Rangga mau. Setelah itu dia juga mengambil makanan untuknya. Rangga makan sambil terus menatap Alya dengan tatapan tajam.
Alya menyadari tatapan Rangga yang menusuk ke arahnya. Dia pura pura tidak tau dan melanjutkan makannya.
"Pindah ke sebelah ku!"
Alya segera beranjak dan pindah ke samping Rangga tanpa berani menatapnya.
Namun, kini Alya semakin gugup karena Rangga menatapnya tanpa henti. Tampak jelas bahwa Rangga kini sedang memperhatikannya.
Alya tetap makan sambil menundukkan wajahnya sehingga piring makanannya sangat dekat dengan wajahnya.
"Apa kau tidak butuh tanganmu lagi sehingga kau dekatkan wajahmu ke piring itu?" Rangga akhirnya membuka suara.
Alya mengangkat wajahnya kemudian menatap Rangga dengan takut.
'Ya Allah, apa maunya?' batin Alya
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Selain kata maaf?" tanya Rangga yang masih terus menatapnya dengan tatapan tajam.
"Makanan ini enak sekali, Tuan." Alya mencoba berbasa basi.
"Benarkah? Kalau begitu makanlah semuanya!"
"Tidak Tuan, aku tidak akan sanggup memakan semuanya." Alya tertunduk.
"Kenapa tidak? Kau kan sangat rakus." Rangga menatap sinis.
"Tidak, Tuan, kalau makan terlalu banyak tidak baik untuk tubuh." Masih menunduk.
"Jelaskan bagaimana itu bisa tidak baik."
"Itu seperti kita mengisi balon kecil dengan angin yang banyak. Hal itu bisa membuat balon pecah karena isinya lebih banyak daripada wadahnya, Tuan."
"Bagus ternyata kau tidak terlalu bodoh, hanya bodoh saja." Rangga melanjutkan makannya.
Alya mengepalkan tangannya yang tidak terlihat oleh Rangga. Dia menahan kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah makan malam selesai, Alya bergegas ke kamar dan melaksanakan sholat.
Sedangkan Rangga memilih menonton televisi yang menyiarkan saham dan bisnis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Fanisah Official
kocak
2024-07-16
0
Asih Ningsih
bodohnya sampai gak ketolongan.
2023-08-06
0
Borahe 🍉🧡
istri rasa pelayan. kasian
2022-12-05
0