Alya masih memejamkan mata. Rangga bangkit dari posisinya. "Bangun lah, aku tidak sudih menyentuh wanita sepertimu. Kau bukan seleraku!"
Rangga mengenakan bajunya kembali.
"Besok kita akan pergi ke rumahku. Ingat, jangan pernah sekalipun kau bermimpi untuk keluar dari rumah itu!" Rangga menatap Alya yang tak bergeming lalu pergi meninggalkannya.
*****
Keesokan harinya, mereka sudah berangkat ke rumah Rangga. Setelah sampai, Rangga menyuruh pembantunya mengantar Alya ke kamar.
Para pengawal yang bertugas menjaga rumahnya berbaris di depan Rangga seperti anak sekolah yang sedang mendengarkan pidato pada saat upacara bendera.
"Ingat ini baik baik, jangan pernah biarkan wanita itu keluar dari rumah ini selangkah pun. Jika dia berani keluar, kalian boleh membawanya kembali secara paksa meskipun itu menyakiti dirinya. Jangan biarkan Arya datang kesini atau bertemu dengannya. Dan jangan pernah mengasihaninya atau kalian tau apa akibatnya!" Rangga mengakhiri kalimat perintah sekaligus ancamannya.
Semua pengawalnya menatap Rangga dan dengan serempak mereka berkata
"Baik, Tuan Muda!"
Rangga membubarkan mereka dengan menjentikkan jarinya. Semua bubar dan kembali ke posisi masing masing. Ada yang berjaga didepan, samping, belakang dan juga di dalam.
Rangga menaiki tangga menuju kamarnya.
Dia memasuki kamarnya yang sangat luas itu. Terdapat banyak barang mewah di dalamnya. Beberapa ruang terpisah seperti ruang ganti, bioskop mini, ruang kerja dan taman kecil yang berada tepat dibalkon kamarnya.
Rangga melihat Alya duduk disudut ranjang dengan tatapan sedih. Rangga menarik tangan Alya dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai.
"Aku tidak pernah bilang kau harus seranjang denganku. Tidurlah di lantai dengan alas karpet!" titah Rangga dengan tatapan menusuknya.
"I,,iya, Tuan." Alya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh karena Rangga benci itu.
Rangga merebahkan tubuhnya ke sofa lalu menutup wajahnya dengan pergelangan tangannya.
"Tugasmu adalah bangunkan aku jam 6 setiap hari, siapkan pakaianku, layani saat aku makan, dan sesuaikan apa yang kau lihat tidak sesuai pada umumnya." Rangga menggoyang-goyangkan kakinya yang masih dibalut sepatu.
Alya segera melepas sepatunya dan meletakkannya ke dalam rak sepatu.
"Kakiku pegal," ucap Rangga yang masih menutup wajahnya.
Alya mendekat ke kaki Rangga dan mulai memijatnya perlahan.
"Terlalu pelan," ucap Rangga.
Alya mulai menakan sedikit.
"Masih pelan."
Alya menambah tekanannya namun tiba-tiba Rangga bangkit lalu mendorong tubuh Alya dengan kakinya. "Dasar bodoh, apa kau tidak tahu kalau itu menyakitkan? Apa kau ingin membunuhku?" Rangga melototi Alya yang tertunduk menangis.
"Hentikan tangisanmu!!!!" Bentakan Rangga membuat Alya semakin terisak karena kini dia sangat ketakutan.
Rangga menariknya secara paksa ke kamar mandi dan mendorongnya hingga jatuh ke dalam bathup. Rangga menyalakan shower lalu mengguyur Alya dengan shower yang telah iya setel dengan mode panas.
"Aaa sakiiiiit!!" Alya berteriak ketika merasakan panas di sekujur tubuhnya karena guyuran shower itu.
"Rasakan ini bodoh! Ini belum seberapa dibanding penderitaan adikku!" Rangga terus menyiramnya tanpa ampun. Kulit Alya tampak memerah. Dia berusaha menutupi wajahnya agar tidak terkena guyuran air panas itu.
Rangga mematikan shower itu dan memegang dagu Alya. "Ini belum seberapa. Jika kau lakukan kesalahan sekecil apapun, aku akan lakukan hal yang lebih menyiksa!"
Rangga pergi keluar dari kamar mandi tersebut.
Alya merasakan perih di tangan dan lehernya karena guyuran air panas itu mengenai langsung. Segera dia bangkit dan mengganti bajunya yang sebelumnya sudah disiapkan untuknya di sebuah lemari besar di dalam ruang ganti.
Dia berkaca melihat bagian tubuhnya yang memerah. Segera dia mengecek kotak obat namun dia mengurungkan niatnya karena takut Rangga akan marah.
Dia memilih membaringkan tubuhnya ke lantai yang beralaskan Karpet. Karena sangking lelahnya dia pun tertidur lelap dalam hitungan menit. Bersama air mata yang perlahan mengering di pipinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Juan Sastra
bukan sakit tapi panas..dulu aku baca perasaan biasa aja, tapi ini setelah ngulang baca kok ada kata seperti bukan pada tmpnya 😊🙏🙏🙏
2024-12-25
2
syisya
kalau dulu kayaknya disiram air panas trs digosok pake sikat deh sampe berdarah gitu sekarang direfisi lagi jadi gak ada gosok"nya cuma disiram air panas saja(tapi yang audio masih ada sih yg digosok pake sikat dengan kuat sampe berdarah), walau dulu pernah baca & sekarang baca lagi masih tetep nyesek thor, karya"mu emang the best😍🥰👍🏻👍🏻
2024-09-13
1
MandaNya Boy Arbeto❤️
ya ampun iblis banget si rangga ini
🤣🤣
2023-09-19
1