Rio yang sudah sampai di depan pintu apartemen Alin, berusaha mengetuk pintu dan memanggil manggil Alin. Tetapi tidak ada suara sahutan dari dalam, Rio mencoba menelepon Alin namun handphone nya tidak aktif. 'Sial kemana nih bocah?' gumam Rio dalam hati yang kesal dan kuatir.
"Lin, Alin buka pintunya! ini Mas kalo kamu ga buka Mas dobrak nih pintu!!!" Nada Rio sudah marah.
"Mas hitung sampe 3 kalo ga kamu buka beneran Mas dobrak nih pintu....1....2..." Sebelum selesai menghitung pintu sudah dibuka.
Rio dan Leo pun masuk ke dalam, di dalam begitu redup Alin tidak menyalakan lampu dan tirai pun ditutup sehingga tidak ada cahaya masuk. Rio pun menyalakan lampu, membuka tirai sehingga ada sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Leo duduk di sofa, hanya diam dan mengawasi seluruh ruangan, yang sepertinya sudah beberapa hari tidak dibersihkan.
"Ada apa Mas kesini? bukannya Mas sibuk nya?" Tanya Alin cuek dan duduk di sofa.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu kaya gini? kamu udah makan belum?" Tanya Rio seperti mengintrogasi.
"Ga usah peduli in aku Mas! aku manusia penuh dosa!!" Jawab Alin.
"Siapa yang bilang itu? biar mas yang hajar!!" Balas Rio yang sedikit kesal, dengan perkataan adiknya itu.
"Cukup Mas aku dah tau semuanya! aku udah inget semuanya! kenapa kalian bohong sama aku mas! kalo sebenernya Mba Nita sudah meninggal!! dan itu semua salah aku kan!! aku benci dengan diriku ini! seharusnya aku yang mati bukan Mba Nita!" Teriak Alin dan tangisan pun keluar.
"Kamu sudah ingat semuanya!" Tanya Rio dengan sedih
"Iya Mba, aku udah inget semuanya dan sampe Ayah pun membenciku kan! Ayah bilang aku adalah penyebab kematian Mba Nita! dan itu memang benar aku salah! aku pembunuh!! aku adalah pembunuh! pembunuh!" Alin berkata sambil menangis tersedu-sedu, karena tidak kuat mengingat perkataan Ayah yang memojokkannya.
"Hentikan itu Lin! kamu bukan pembunuh! semua itu hanya kecelakaan, dan itu sudah takdir dari Allah." jawab Rio guna menenangkan Alin.
"Kamu tau Mas beberapa hari ini aku tidak bisa tidur! karena aku selalu bermimpi kecelakaan itu! kemarahan Ayah yang menyebut ku pembunuh Mba Nita! aku seperti mau gila rasanya!!" tangisan Alin semakin tak terhenti.
"Lin istighfar! coba kamu istighfar, jangan lupa kamu masih ada Mas Bunda dan Ayah! kita sayang sama kamu!" Kata Rio
"Buat apa kalian baik padaku? padahal aku adalah pembunuh Mba Nita! seharusnya kalian biarkan aku mati saja!!" Teriak Alin sontak membuat Rio marah.
Plak......
Rio memberikan Tamparan keras, dilayangkan ke pipi Alin yang sedang histeris, "sudah gila kamu Lin? emang kamu bukan keluarga kami! sehingga kami harus membunuhmu?" Tiriak Rio karena kesalnya adiknya begitu bodoh nya.
"Tampar Mas! pukul aku Mas! kalo bisa sampai aku mati! aku dah ga kuat lagi Mas! setiap malam aku selalu ingat akan kecelakaan itu! cepat lakukan mas!!" Alin menjawab sambil menarik kerah baju Rio
Dan Rio pun langsung memeluk adiknya dengan erat, dan dia merasakan bahwa tubuh adik nya menjadi kurus. "Kamu jangan kaya gini Lin! Mas sayang kamu, Bunda sayang sama kamu juga! Ayah juga sayang sama kamu, cuma kamu ga bisa liat betapa mereka sangat sayang sama kamu."
Alin pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan kakanya dan membuatnya tertidur, karena lelah yang melanda Alin. Dan Rio pun menggendong tubuh Alin dan menidurkan nya di kamar. Dia memandangi wajah adik nya yang begitu menderita, dan tak terasa air mata Rio keluar dia menangisi adik nya itu. "Kamu harus kuat Lin! Mas yakin kamu bisa lalui semuanya!" Kata Rio dengan lembut, sambil menyelimuti Alin dan keluar dari kamar.
Rio duduk di sebelah Leo. "Sorry ya bro Lo liat kejadian ini." Gumam Rio pada Leo.
"Ga pa -pa bro santai aja, sorry nih bukan maksud gue ikut campur, sebenernya apa yang terjadi sehingga adik Lo se depresi itu?" Tanya Leo meski dia bisa menafsirkan sedikit yang terjadi.
Dan akhirnya Rio pun menceritakan semuanya, dari awal kecelakaan hingga akhirnya Alin melupakan kejadian itu.
"Separah itu kah perlakuan Ayahmu pada Alin? sehingga Alin begitu depresi nya, dan mengharuskan Alin melakukan tindakan untuk menghilangkan ingatan nya tentang kecelakaan itu?" Kata Leo yang sedikit tidak percaya.
Rio menghela nafas nya dan berkata "iya itulah yang terjadi."
Drrrttttt.....
drrrttttt......
Handphone Leo berbunyi, ternyata yang menelepon adalah Malik.
Angkat
"Hai bro Lo dimana? Gue di bandara nih?" Tanya Malik ke Leo.
"Lo di Kairo Lik?" tanya Leo sedikit kaget.
"Ya iyalah masa gue di bandara Halim! kan gue tlp Lo bearti gue di Kairo! Lo bisa jemput gue ga ato gue samperin Lo?" Balas Malik dengan sedikit cengengesan nya.
"Ya dah Lo kesini aja deh Lik tar gue kirim alamatnya ya!" Jawab Leo dan memutuskan sambungan teleponnya.
'Buset dah ni anak! gue belum bilang iya udah main tutup aja nih telephonnya!' Gumam Malik di dalam hati nya sambil mencari taxi
"Malik bakalan kesini ga pa pa kan Rio?" Tanya Leo.
"Ga pa-pa, biar makin rame lagian dah lama kan kita ga kumpul!" Jawab Rio
"Gue belanja dulu deh, buat makan malam nanti, kayanya ga mungkin kita bawa Alin makan di luar, gue titip Alin bentar ya!" Kata Rio sambil pergi.
****
Beberapa jam kemudian Rio pulang dan di temani Malik. Ternyata mereka bertemu di luar apartemen. Dan akhirnya mereka masuk sama sama.
"Haii bro pa kabar?" Malik menyapa Leo yang sedang duduk dan memainkan handphone nya.
"Alhamdulillah gue baik, lah nape Lo bisa bareng Rio?" Tanya Leo
"Ohh tadi gue ketemu dia di luar, jadi gue ajak aja sekalian." jawab Rio. "Oia gimana adek gue! bangun ga tadi ?".
"Engga dia belum keluar dari kamar nya tuh, semenjak Lo pergi." Jawab Leo.
"Lik bantu gue masak makan malam yu! sebelum si Alin bangun!" Rio meminta bantuan Malik.
"Lah Lo kenapa sih Rio, gue kan baru nyampe kesini udah disuruh masak! kan gue pingin lenyeh-lenyeh bentaran." Celetuk Malik bikin Leo senyum.
"Udah-udah kita masak bertiga, buat bocah Lampir hahahha" kata Leo demi mencarikan suasana.
Makan malam
Rio membangunkan Alin tuk makan malam " Lin bangun! makan dulu yu, Mas dah masak tuh buat kamu."
Alin pun terbangun, baru kali ini dia tidur dan tidak terbangun karena mimpi dari kejadian. "Mmmmm makasih ya Mas!" Jawab Alin lemas.
"Iya sama-sama sayang, gih ke air dulu sebelum keluar, di luar ada temen Mas sekalian makan malam disini!" Leo berkata sambil keluar kamar.
Beberapa saat kemudian Alin keluar dari kamar dan dia melihat ada kedua sahabat Mas Rio. 'Hmmm kenapa coba ada mereka? ahh sudahlah aku sudah lelah.' Gumam alin dalam hati.
"Sini Lin duduk!" Rio memanggil alin dan menepuk kursi di sebelahnya.
Alin pun duduk dan melihat di meja banyak sekali makan. "Ga salah nih mas makanan banyak banget?"
"Iya tadi Mas masak banyak tuh ada dua curut datang kesini numpang makan doang!!" Rio berkata sambil senyum sinis.
"Buset dah Lo bilang apa?Kita ga numpang makan dengan gratis juga kan! tadi kita bantu Lo masak juga! gila Lo ah panggil gue curut juga!!" sela Malik.
"Hmm udah-udah kita makan jangan banyak banyol Lo Lik." Timpal Leo yang sedari tadi sudah lapar .
Alin sudah selesai makan, dan berniat ke dapur tuk mencuci piring kotor tetapi dilarang Rio "sudah Lin biar besok di beresinnya, kamu istirahat aja gih!"
"Mmm ya dah kalo gitu, Alin masuk dulu ya Mas," Alin pun berjalan menuju kamarnya.
"Leo, ko gue ngerasa ada yang beda ya sama tu bocah?" Tanya Malik ke Leo.
"Nanti gue cerita di kamar gue, yu balik biar Rio juga sitirahat." jawab Leo.
"Bro gue balik apartemen gue dulu ya, si Malik biar tidur sama gue." Kata Leo kepada Rio sambil pamit pulang.
****
Tok...tok...tok...
"Lin kamu dah tidur?" Tanya Rio
"Belum Mas, masuk aja pintu nya ga di kunci ko!" sahut alin.
Rio pun masuk ke kamar Alin. "Lin gimana kamu dah tenangan kan?"
"Udah Mas, maaf in aku ya Mas yang udah bikin mas kuatir!"
"Iya ga pa-pa, Mas nyakin kamu pasti bisa menghadapi semua ini, karena Mas percaya sama kamu Lin!" Rio berkata dengan lembut nya dan betapa dia takut kehilangan lagi.
"Iya Mas, aku harus bisa kuat untuk menjalani hidup ini demi Mba Nita, Bunda mas dan juga Ayah, yang mungkin Ayah tidak akan pernah bisa memaafkan aku!" Alin sedih setiap teringat tentang Ayahnya.
"Sudah jangan dipikirkan dulu, lebih baik sekarang kamu istirahat, kalo perlu apa-apa mas ada di ruang tv ya!"
"Oke Mas, Mas Alin sayang banget sama kamu Mas!" Alin sambil memeluk kakanya yang selalu melindunginya.
terimakasih sudah membaca novelku
jangan lupa like dan komen nya ya 😉😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Ratna Gunawan
sedih Thor😭😭😭
2022-04-11
0
Elvi Laily Nur Cholidah
baper nibbh
2021-12-21
0
valenza zaneta meka
baca nya sambil nangis....
2021-06-23
1