My Ghost Friends

My Ghost Friends

SEKAR

"Perkenalkan murid-murid, ini adalah teman baru kalian!" seru ibu guru.

"Nah, Nak. Ayo perkenalkan dirimu!" suruh Bu Guru dengan senyum.

"Ha ... lo ... Aku, Sekar ...."

Sing! Suasana mendadak dingin. Semua murid yang tadi saling berbisik jadi diam. Mereka semua melihat sosok yang berdiri di depan kelas.

"O—oke Sekar ... silahkan duduk di sana ya!" tunjuk Bu guru gugup.

Sekar memakai seragam baru, rambutnya digerai begitu saja, hingga kadang-kadang menutupi wajahnya.

"Maaf, Sekar. Bisa kau rapikan rambutmu," pinta Bu guru lagi.

Sekar memakai bandananya. Serabut wajah sedikit pucat, tampak jelas. Tak ada yang mau menoleh padanya.

"Ayo kita mulai belajarnya!" sahut Bu guru memecah kesunyian.

Semua memilih fokus pada guru yang menerangkan, Sekar menoleh pada murid di samping tempat duduknya. Seorang remaja laki-laki seusianya tampak tak peduli, ia menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya.

"Danar, jika tidur kau sebaiknya pulang Nak!" seru Bu guru.

Danar berdecak, remaja itu memaksa membuka mata lalu menoleh dan terkejut melihat ada orang lain duduk di sebelahnya.

"Bu Guru!" Danar hendak protes.

"Dia teman barumu Danar!" tukas Bu guru tegas.

Danar lagi-lagi berdecak. Akhirnya semua kembali fokus pada pelajaran yang diterangkan guru mereka.

Bel pulang berbunyi, semua menghela napas lega. Akhirnya empat jam berlalu dan mereka kini pulang. Semua bangkit dari kursi mereka setelah Bu guru sudah pergi meninggalkan kelas.

Semua murid SMPN-27 berhamburan keluar kelas. Sekar begitu lambat menunggu hingga semua benar-benar sepi. Gadis itu pun melangkah. Sesekali langkahnya berhenti.

"Tolong ... pergilah," pintanya berbisik entah pada siapa.

"Jangan menggangguku," lanjutnya lalu kembali melangkah.

Sekar baru saja pindah satu minggu lalu. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya yang bekerja di sebuah rumah sangat besar. Ayahnya bekerja sebagai tukan kebun dan ibunya adalah pembantu di dapur. Sekar tadinya sekolah di kampung, tetapi semenjak neneknya meninggalkan dunia, gadis itu diambil orang tuanya.

Sekar berperawakan tinggi dan kurus. Gadis itu berjalan laksana diterbangkan angin. Wajahnya datar dan pucat. Tak ada senyum atau sedih apa lagi marah.

"Hei ... kamu!"

Tiga gadis mendekati Sekar. Gadis itu menghela napas panjang. Ia yakin sebentar lagi tiga murid perempuan yang berpakaian ala Korea itu akan lari tunggang-langgang.

"Satu ...," Sekar menghitung. "Dua ...."

"Eh Lo bisu ya?" tanya salah satu dari mereka dengan memakai lipstik warna merah bata.

"Tiga ...."

Ketiganya tiba-tiba mematung. Sekar melirik di sebelah kirinya. Hari masih terlalu siang untuk penampakan. Gadis itu maju selangkah, ketiga gadis mundur dua langkah. Sekar maju selangkah lagi, ketiganya langsung mundur beberapa langkah hingga terjatuh.

"Kami pergi ... kami pergi!" teriak salah satu dari mereka.

"Enyah!" tekan Sekar dengan suara mendesis.

Ketiganya langsung merangkak dan berlari sekencang mungkin. Sekar terbatuk, sosok yang menempati raganya keluar.

"Kau puas?" tanya Sekar menoleh sisi kanannya.

Jika orang melihat, gadis itu dianggap orang gila karena bicara sendirian. Namun, di mata Sekar sosok wanita dengan rambut digelung tersenyum dengan kecantikan yang menakutkan. Seringainya terlalu lebar hingga membuat mulutnya terbelah jadi dua.

"Kau jelek!" hina Sekar lalu pergi dari tempat itu.

Sampai rumah, gadis itu masuk dan langsung berganti pakaian. Ibunya menyuruh gadis itu makan dulu baru membantunya bekerja.

"Tinah, kenapa kau meminta putrimu bekerja, suruh saja istirahat," titah sang nyonya rumah.

"Tidak masalah Nyonya. Saya tidak terbiasa tidur siang," sahut Sekar lalu tersenyum ramah.

"Ya sudah jika kau bersikeras. Tapi, jika benar-benar lelah, kau istirahat saja ya!" ujar wanita kaya itu.

"Baik Nyonya," sahut Sekar.

Malam tiba, Sekar telah menyusun semua bukunya. Ayahnya masuk dan lalu berbaring. Mereka tidur bertiga, sebenarnya sang majikan memberi kamar sendiri untuk Sekar. Tetapi sebuah kejadian membuat Tinah dan Noto memilih tidur bersama anak perempuan mereka.

"Bagaimana di sekolah barumu Nak? Apa kau betah?" tanya sang ayah.

Sekar mengangguk dengan senyum manis. Gadis itu hanya mengeluarkan ekspresi hanya pada kedua orang tuanya.

"Apa mereka menerimamu, kamu sekolah di tempat yang jauh lebih bagus dari sekolah di kampung," ujar sang ibu khawatir.

"Tidak ada yang terjadi Bu. Sekar baik-baik saja," sahut gadis itu menenangkan ibunya.

"Ayah harap, kau di sini tidak lagi bicara sendiri sayang. Bergaul lah, cari teman. Ikat rambutmu agar wajahmu tak terlalu menyeramkan!" perintah sang ayah.

Sekar lagi-lagi mengangguk. Bukan maksud hati ia menjauh dari teman-teman sebayanya. Tetapi, makhluk-makhluk yang kini menjadi temannya tak suka dengan keberadaan manusia biasa di dekat Sekar.

"Akan Sekar usahakan Yah," jawab gadis itu lirih.

"Nak, kau pandai mengaji, bahkan juga mungkin lebih baik dari kami. Usir mereka dengan doa-doa itu sayang," pinta sang ayah lagi.

"Yah," peringat sang ibu.

Sekar merasa tubuhnya sakit ketika mendengar permintaan ayahnya. Bukan ia tak mau, bahkan semua ayat dan rapalan doa ia hapal. Malah membuat semua tubuhnya sakit.

"Maaf sayang. Bukankah mereka ada yang Islam, ambil lah yang baik dan buang yang buruk,"

Brak! Sebuah sapu jatuh dari pakunya. Ketiganya terkejut bukan main. Noto memilih diam, ia sudah bingung jika begini.

"Mungkin ada pesan yang harus diambil oleh Sekar Yah, makanya mereka enggan pergi sebelum semua selesai," ujar Tinah.

Mereka memilih tidur dengan memasang lantunan ayat suci Al Qur'an. Walau dengan suara kecil tapi mampu menenangkan tidur mereka bertiga malam ini.

Pagi menjelang, Sekar diantar supir untuk pergi ke sekolah bersama salah satu anak majikannya. Gadis itu membungkuk hormat pada si empunya mobil yang enggan menatapnya.

Sekar masuk halaman sekolah seiring mobil yang berlalu. Beberapa murid mendatanginya karena gadis itu turun dari sebuah mobil mewah.

"Wah ... kamu anak orang kaya ya?" tanya salah satu dari mereka.

"Bukan. Saya menumpang mobil majikan saya," jawab gadis itu.

"Huuu ... anak babu toh!" ledek mereka.

Salah satu menoyor kepala Sekar. Anak itu tertawa meledeknya. Sekar hanya menatap, mulutnya terbuka.

"Hahahaha!" anak itu tak berhenti tertawa hingga mengeluarkan air matanya.

Semua temannya panik. Sekar tetap menatap anak laki-laki yang seusianya itu dengan tatapan datar. Remaja tanggung itu terus-menerus tertawa.

'Hentikan,' bisik Sekar pelan sekali.

"Uh!" Sekar tiba-tiba lemas, tapi kakinya masih mampu menopang tubuh kurusnya.

Murid laki-laki tadi digontong ke UKS karena pingsan habis tertawa. Sekar berjalan menuju kelasnya.

"Sekarang ujian ya!" seru pak guru masuk dalam kelas.

"Huuuu!" sorak semua murid kesal.

"Diam!" bentak guru hingga semua murid diam.

"Jika kalian menolak. Silahkan tinggalkan kelas ini!" lanjutnya lalu mengancam "dan jangan harap kalian bisa naik kelas!"

Semua murid diam dan mulai mengerjakan tugas ujian yang diberikan guru killer mereka. Sedang di sisi Sekar sosok perempuan mendekatinya dengan mulut robek.

"Sekar!"

bersambung.

Hai ... hai ... ini karya baru Othor. Mau coba genre horor ... moga suka, jangan lupa tap love, komen dan masukin daftar baca kamu ya.

Next?

Terpopuler

Comments

Park Kyung Na

Park Kyung Na

mampir

2023-04-29

2

IG: _anipri

IG: _anipri

kayak hanti

2023-01-01

1

🅰️đ₳ɽ₳

🅰️đ₳ɽ₳

masih nyimak thor,kyaknya seru nih kisah seorang sekar

2022-12-31

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!