“Ada apa, Flerix?” tanya Ryena sambil menoleh ke arah pria itu dan menatapnya dengan wajah yang mulai memerah.
Flerix lalu menjawab, "Maafkan aku, Nona, tapi, aku baru sekali bertemu denganmu dan ini yang kedua kalinya, jadi aku tidak bisa menilaimu lebih. Namun, bagiku, walaupun ini adalah pertemuan kita yang kedua, aku bisa merasakan bahwa kau adalah putri yang polos, ceria, dan … sangat kuat.”
Wajah Ryena langsung berubah menjadi merah padam. Ia tersipu malu mendengar pujian itu, namun, beberapa saat kemudian, wajahnya kembali terlihat sendu.
“Aku bahkan tidak bisa menikah, padahal sudah banyak pria yang sudah melamarku karena kecantikanku, hanya karena ayah tidak mengizinkan aku untuk menikah, jika kakak tidak menikah terlebih dahulu,” gumam Ryena pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Nona, hentikanlah tangismu. Bagaimana jika kau menceritakan kepadaku tentang dirimu saja? Aku merasa bahwa kau adalah seorang gadis yang menarik. Apa kau tidak takut, berjalan sendirian di dalam hutan ini?” tanya Flerix, hanya untuk berbasa basi.
“Aku sudah merasa takut kemarin, namun kau ada di sini bersama denganku. Apa yang harus kutakutkan, Tuan?” tanya Ryena sambil menggoda Flerix.
Mereka lalu tertawa kecil setelah itu. Setelah berapa lama, mereka justru semakin banyak berbicara, sambil juga tertawa bersama. Tampaknya banyak hal yang mulai diketahui oleh Flerix, dari mulut Ryena sendiri.
Dan sepertinya hati sang putri justru terbawa oleh basa basi yang dikeluarkan dari mulut pria itu, padahal Flerix mendekatinya karena memiliki tujuan lain.
Merasa sudah menarik perhatian Ryena, Flerix lalu mencoba untuk bertanya, “Ah, Nona, sebenarnya kau di hutan ini sedang berbuat apa? Aku melihat tenda-tenda dari kelompokmu tanpa sengaja, kemarin. Aku juga melihat beberapa orang yang membawa senjata, seperti ingin berperang saja.”
Ryena tiba-tiba menunjukan wajah serius kepada Flerix. Ia lalu mendekatkan dirinya kepada pria itu sambil melihat ke kanan dan ke kiri, lalu kembali menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
“Begini, Flerix. Jangan katakan hal ini kepada siapa pun. Kakakku akan menyerang sebuah kelompok yang juga mendirikan perkemahan di dalam hutan ini, yang mereka sebut sebagai pasukan Silverian, dan mungkin, kakakku akan menyerang mereka malam ini, karena para pasukan itu, menurut kakakku, bukan, menurut mereka, akan mengambil energi dan sumber daya yang ada di dalam planet ini,” jawab Ryena dengan nada pelan.
Namun, Flerix justru terlihat mendadak terkejut setelah mendengarkan ucapan itu, dan hal ini membuat wajah Ryena menjadi gusar.
“Apakah kau mengerti dengan apa yang baru saja aku ucapkan?” tanya Ryena.
Flerix langsung terkejut mendengar jawaban itu. Air mukanya langsung berubah menjadi serius. Ia hanya menatap Ryena dengan wajah yang benar-benar terlihat tegang.
Ryena lalu menegakkan tubuhnya kembali, kemudian berkata, “Namun, aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, kakak juga tidak pernah mengajakku berdiskusi tentang hal ini! Menyebalkan sekali! Sejak ia menjadi seorang ratu, ia tidak lagi mengajakku berdiskusi! Aku kesal sekali dengannya! Ia hanya berbicara dengan para jenderal tua itu!”
“Menyerang? Silverian?” tanya Flerix dengan wajah gusar.
Padahal ia sedang berpura-pura terkejut di hadapan Ryena.
Ryena langsung kebingungan melihat wajah Flerix, lalu bertanya, "Ya, Silverian. Mereka akan menyerang para Silverian itu. Flerix, ada apa? Apa aku sudah salah berbicara?"
Flerix kemudian menatap Ryena, menggelengkan kepalanya, dan membalas, "Aku tidak bisa bersamamu, kalau begitu. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Kita adalah musuh, jika benar kakakmu hendak menyerang para pasukan dari planet Silverian, maafkan aku, sebaiknya kita tidak terlalu dekat, karena aku adalah raja dari Silverian. Jika benar kakakmu adalah seorang ratu dari sebuah planet dan ingin menyerang kami, dengan terpaksa, nona, aku harus pergi dari sini untuk berlindung."
Flerix lalu berdiri dan memutar badannya, hendak berjalan kembali menuju ke tempat di mana pesawat luar angkasanya, Silvir, sedang diparkir. Namun, Ryena langsung meraih lengannya.
Tentu saja Flerix langsung tersenyum licik setelah ia merasakan genggaman erat yang mencengkram lengannya, dan berpikir bahwa Ryena yang polos ini ternyata benar-benar bisa dijadikan umpan walaupun baru beberapa kali bertemu.
Setelah tersenyum licik, Flerix kemudian kembali memutar badannya ke belakang, dan menatap Ryena dengan raut wajah yang pura-pura bersedih, dengan sengaja.
"Apa ada lagi yang bisa kubantu, Nona? Ah, Sebentar. Dari mana kau berasal, Nona? Apakah kau adalah seorang Palladina, atau Halida?" tanya Flerix, dengan berpura-pura tidak tahu.
"Aku … adalah seorang Palladina. Sebentar, Flerix, aku tidak melihat bahwa kau adalah orang yang jahat, lalu mengapa kakakku ingin menyerangmu?" tanya Ryena dengan wajah yang serius, namun juga penasaran.
Flerix lalu menatap Ryena dengan kedua mata yang berkaca-kaca, lalu menjawab, "Planet Silverian, sejak dari awal, tidak seperti planet kalian yang menerima cahaya dari bintang induk Goldinian. Kami adalah planet terisolir yang gelap, bahkan planet kami sudah berhenti berotasi sejak apa yang dilakukan oleh Jenderal Senior-mu itu, serta harus hidup dengan cahaya dari bintang induk Goldinian yang minim sekali.”
Ia menghela nafas panjang, lalu melanjutkan, “Planet kami hanya berisi energi gelap, dan, demi bertahan hidup, kami secara diam-diam harus mencari energi serta sumber daya dari planet lain, agar planet kami tetap hidup dan kami bisa tetap tinggal di dalamnya. Tidak ada satu planet pun yang ada di dalam Galaksi Metal, mau menerima kehadiran kami. Mereka semua merundung kami, dan pada akhirnya, kami hanya sendirian, Nona. Namun, sepertinya seluruh planet, termasuk sang penjaga galaksi, Planet Palladina, menganggap kami adalah penjahat. Padahal kami hanya ingin bertahan hidup saja…."
Setelah mendengar jawaban palsu dari Flerix barusan, Ryena langsung menatap pria itu dengan raut wajah yang sedih, dan berkata, "Kakakku … adalah Yang Mulia Ratu Anexta dari Palladina….”
“Yang Mulia Ratu Anexta dari Palladina? Berarti kau adalah adiknya, Yang Mulia Putri Ryena dari Palladina. Maka dengan demikian, kita harus berpisah di sini, Nona,” balas Flerix.
Ia hendak melangkah pergi, namun, Ryena justru menarik lengannya dengan cepat, membuatnya urung melangkah.
“Tunggu, Flerix, mungkin kakak sudah salah berpikir tentang kalian, dan dengan apa yang kalian lakukan. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kakak agar ia tidak menyerang dirimu! Sungguh tidak bijaksana sekali menyerang suatu planet yang bahkan tidak bisa bertahan hidup dengan mengandalkan planetnya sendiri!” seru Ryena dengan wajah yang kesal.
Namun, Flerix menggelengkan kepalanya sambil menatap Ryena dengan wajah sendu, dan membalas, "Nona, sekali lagi, aku tidak bisa bersama denganmu. Sepertinya kita hanya akan bertemu sampai sini saja, atau nanti kakakmu akan membunuhku jika ia tahu aku sedang bersama dengan adiknya. Selamat tinggal, Yang Mulia Putri."
Ryena tiba-tiba menggenggam lengan Flerix dengan semakin erat, dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata lagi, "Aku akan berusaha melindungimu. Aku juga akan berbicara pada kakakku, mungkin ia hanya salah paham kepadamu dan planetmu. Tidak mungkin kakak tidak mau mendengarkanku terlebih dahulu. Hal ini sungguh tidak bijak, Flerix!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments