Namun, Flerix langsung melepaskan genggaman tangan Ryena dari lengannya dengan halus, dan berkata, "Tidak, jangan, kau … kau tidak bisa melakukan hal itu. Jangan memaksa kakakmu demi hal yang pasti, tidak akan disukainya. Ia pasti sangat sibuk karena status kalian sebagai satu-satunya penjaga untuk Galaksi Metal. Ia hanya menjalankan tugasnya, dan kau pasti tahu ia melakukan semua ini, juga pasti mempunyai alasannya sendiri. Namun, Yang Mulia, ini semua adalah ulah dari Jenderal Senior-mu, Xyon, dan sama sekali bukan kesalahanmu ataupun kakakmu.”
Ryena hanya terdiam karena kebingungan dengan ucapan itu, padahal semua itu hanyalah ucapan palsu yang keluar dari bibir pria Silverian tersebut.
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang, Yang Mulia," ucap Flerix lagi.
Tiba-tiba, wajah Ryena langsung berubah menjadi kesal mendengar ocehan Flerix yang sejak tadi berkata bahwa ia ingin pergi, dan hal itu membuat telinga Ryena menjadi semakin panas. Ia bahkan langsung menatap Flerix dengan wajah yang serius dan sorot mata yang tajam, sambil mengernyitkan dahinya.
Flerix hanya bisa terkejut melihat sikap Ryena barusan, sambil mengedipkan kedua matanya sebanyak dua kali.
"Oh, jadi, menurutmu juga, aku ini adalah putri yang lemah, dan tidak tahu mana keputusan yang tidak bijaksana, atau makhluk mana yang seharusnya kami lindungi? Baiklah, lihat saja, aku akan berusaha melindungimu dan planetmu! Aku akan menemui kakak setelah ini, dan menjelaskan kepadanya tentang seluruh kesalahpahaman ini! Kau, tetaplah tinggal di sini. Aku akan segera mengabarkan hasilnya kepadamu. Tunggu aku!" seru Ryena.
Setelah itu, ia langsung berlari menuju ke perkemahannya, sendirian, meninggalkan Flerix yang masih berdiri di sana. Kali ini, Ryena tidak lagi tersesat karena hari yang cerah dan sinar matahari yang memantul di setiap pepohonan, membantunya menemukan arah.
Flerix yang melihat Ryena dengan semangat langsung berlari kembali menuju ke perkemahan para Palladina, demi membela dirinya tanpa tahu bahwa ini semua memang adalah rencana busuknya, hanya bisa tersenyum licik, dan bergumam, "Tuan putri yang polos … atau memang kau sebenarnya bodoh?"
Ia lalu kembali berjalan, meninggalkan pinggir sungai yang cantik itu, untuk kembali menuju di mana pesawat luar angkasanya, Silvir, sedang diparkir.
Sementara itu, Ryena masih terus berlari menyusuri hutan, hingga ia tiba di perkemahan milik kelompoknya. Ia lalu berjalan dengan cepat menuju ke tenda milik kakaknya, namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan tenda itu.
“Ada apa ini?” gumamnya sambil memperhatikan sekelilingnya.
Sepertinya ada yang aneh, karena ia hanya menemukan beberapa pelayan yang berjaga di sekitarnya. Ia juga melihat beberapa pasukan yang sepertinya sudah menghilang entah ke mana, karena hanya tinggal beberapa pasukan saja yang terlihat di sekitar perkemahan itu.
"Astaga, apakah kakak sudah mulai melakukan penyerangan! Oh, tidak, Flerix dalam bahaya!" serunya dalam hati, dengan wajah yang terlihat panik.
Ryena lalu menghentikan langkah dari salah satu pelayan perempuan yang sedang berjalan di depan dirinya, dan mencengkram erat lengan pelayan perempuan tersebut.
“Ke mana kakakku dan beberapa pasukan yang tadinya berjaga-jaga di sini? Ke mana mereka pergi? Apakah para jenderal itu juga ikut bersama dengan mereka?” tanya Ryena dengan nada rendah namun, sorot matanya terlihat sangat tajam.
Pelayan perempuan itu langsung merasa ketakutan, dan sambil menundukkan kepalanya, ia menjawab, “Yang Mulia Ratu dan tuan-tuan jenderal, beserta beberapa pasukan sudah pergi dari sini, Yang Mulia Putri. Namun, aku tidak tahu ke mana tujuan mereka, maafkan aku, Yang Mulia.”
Wajah Ryena langsung terlihat menjadi sangat kesal.
Ia kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari bahu pelayan perempuan tersebut, sambil bergumam pelan, “Astaga!”
Ryena kemudian mengambil langkah seribu dengan cepat, menuju ke tempat di mana kakaknya dan para jenderal itu mungkin berada saat ini.
“Yang Mulia Putri! Yang Mulia!!” teriak pelayan perempuan itu, namun, Ryena tidak mengacuhkannya.
Ia terus berlari hingga jauh, bahkan sampai masuk sangat dalam dari hutan itu. Setelah berlari dengan cepat untuk beberapa saat, ia tiba-tiba saja berhenti di suatu titik, tanpa sadar bahwa ia sudah berlari sangat jauh dari perkemahannya. Kedua matanya memperhatikan baik-baik seluruh kejadian di sekelilingnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu.
Lalu, dari kejauhan, dari balik pohon-pohon besar, ia melihat sesuatu sedang terjadi di sana. Kedua matanya langsung melotot dan wajahnya menjadi sangat panik.
“Kakak!! Oh, Tidak!” serunya.
Ternyata, pasukan-pasukan Palladina terlihat sedang menyerang beberapa orang, yang ia pikir itu pasti adalah para prajurit dari planet Silverian. Ia bahkan melihat Flerix, yang sedang bertarung melawan kakaknya, termasuk kelima jenderal yang sangat ia kenal baik, juga sedang berusaha untuk memukul mundur prajurit-prajurit dari Silverian itu, di sana.
Perang sedang terjadi di dalam hutan itu, dan para prajurit dari planet Silverian secara perlahan berhasil dipukul mundur hingga mereka semua berlarian ke segala arah.
Setelah beberapa serangan, Anexta akhirnya berhasil mengambil kesempatan saat Flerix lengah, dan membuat raja dari Silverian itu tersungkur di atas tanah. Ia langsung mengarahkan ujung pedang kosmiknya tepat di depan wajah Flerix, setelah pria itu terpojok.
Melihat sang raja dari Silverian yang sudah tersungkur di atas tanah dan sang ratu dari Palladina yang sedang mengancamnya dengan pedang kosmik miliknya, seluruh pasukan Palladina ataupun prajurit-prajurit Silverian, seketika berhenti untuk saling bertarung satu sama lain, dan menoleh ke arah pemimpin mereka masing-masing yang kini saling bertatapan dengan sorot mata yang tajam.
"Kau sebaiknya mundur, energi dan sumber daya milik planet Bumi ini bukan untukmu!" seru Anexta dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Hei, kami hanya mencari cara untuk bertahan hidup bagi planet kami, apa yang salah dengan hal itu?" tanya Flerix sambil mengernyitkan dahinya, dengan pedang panjang berwarna biru muda milik Anexta sedang berada tepat di depan wajahnya.
"Kau, mengambil energi dan sumber daya dari sebuah planet dengan cara membunuh seluruh penduduknya, tentu saja salah! Cara-cara kotor seperti itu, tidak terlihat seperti kau ingin bertahan hidup, Raja Flerix. Yang kau inginkan bukanlah itu! Jika memang kau ingin bertahan hidup, bukankah seharusnya kau melakukan permohonan kepada pemimpin planet lainnya dengan cara yang baik?!" seru Anexta.
Flerix tertawa kecil untuk beberapa saat, lalu berteriak dengan wajah yang dipenuhi amarah, “Hei! Siapa yang akan mau menolong kami, jika aku melakukan permohonan secara baik-baik kepada kalian? Lihatlah, kalian saja menganggap kami sebagai pencuri. Kalian juga yang sudah merundung kami, bahkan mencemooh kami dan merendahkan Planet Silverian, padahal kami hanya ingin bertahan hidup! Lihat saja, bahkan kami terpaksa mencari cara untuk menggunakan energi gelap yang ada di dalam planet kami, hanya untuk bertahan hidup!”
Anexta langsung mengedipkan matanya sebanyak dua kali, lalu bertanya kepada Flerix dengan nada yang sedikit tinggi, “Apa? Kau pikir aku akan percaya dengan kalimatmu barusan? Apa maksudmu dengan energi gelap?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments