Anexta kemudian mengangguk, lalu membalas, "Jika memang begitu, aku akan meminta Jenderal Senior Xyon untuk melakukan pengamatan di luar Galaksi Metal. Kembalilah berpatroli, Jenderal Weim. Terima kasih sudah melaporkan hal ini kepadaku."
Weim langsung mengangguk setelah mendengar perintah dari sang ratu barusan. Namun, Ryena tiba-tiba meraih lengan Anexta dan menatap kakaknya itu dengan wajah yang sedikit kesal.
"Bukankah sudah biasa bagi para petinggi untuk pergi ke segala planet yang mereka tuju? Mengapa sepertinya hal ini harus dilaporkan juga kepadamu, kakak?" tanya Ryena dengan nada kesal.
"Kau tidak mengerti, adikku," balas Anexta pelan.
Ia lalu hendak memerintahkan seorang pelayannya untuk memanggil Xyon, namun, tiba-tiba saja, mereka mendengar langkah kaki yang sangat berat dan cepat. Suara langkah kaki itu perlahan semakin terdengar keras, seolah ada seseorang yang sedang mendekati mereka.
Weim, Anexta, dan Ryena, langsung menoleh dan memutar badannya ke belakang, sejurus kemudian, mereka melihat Xyon yang baru saja hendak dipanggil, sedang berlari dengan terengah-engah mendekati mereka bertiga.
Nafas sang jenderal senior terdengar berat, sepertinya ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada laporan dari Weim sebelumnya.
"Ah, kebetulan!" ujar Anexta dengan senyum di wajahnya, namun, justru raut wajah Xyon yang tidak mengenakkan.
"Yang Mulia Ratu! Yang Mulia!" seru Xyon sambil berlari nafas yang masih berat.
Ia lalu berhenti tepat di depan ratunya, dan begitu ia hendak membungkukkan badannya, Anexta langsung menyela, "Langsung saja katakan apa yang sedang terjadi, mengapa kau berlari dengan terburu-buru seperti itu?!"
"Yang Mulia," ucap Xyon sambil masih terengah-engah.
"Jenderal Senior Xyon! Tenangkan dulu dirimu! Aku baru saja ingin memanggilmu, karena Jenderal Weim melihat ada pergerakan dari dalam Planet Silverian … namun, sebaiknya atur dulu nafasmu!" seru Anexta.
Xyon berusaha untuk mengatur kembali nafasnya, lalu setelah ia merasa sedikit membaik, ia lalu menatap sang ratu dan Weim, dengan wajah yang serius.
"Yang Mulia! Itu yang ingin kulaporkan sekarang juga! Maafkan diriku yang tiba-tiba datang dengan terburu-buru kepada anda, tapi aku melihat pesawat luar angkasa mereka sudah masuk ke dalam lubang cacing itu!" seru Xyon setelah mengatur kembali nafasnya.
Dengan wajah yang terkejut, Anexta lalu terdiam sebentar. Kedua matanya melotot lebar, sambil ia mengernyitkan dahinya. Wajahnya mulai berubah menjadi serius, namun sepertinya banyak keraguan di dalam pikirannya.
Kemudian, Weim memecah kesunyian di antara mereka.
Ia menatap Xyon dengan wajah yang serius sambil berkata, "Bumi? Apakah mereka sedang mengincar Planet Bumi? Tidak mungkin ada alasan yang lain selain mereka ingin menuju ke Planet Bumi, karena lubang cacing itu hanya digunakan untuk pergi atau kembali, dari dan ke planet biru itu!"
Anexta langsung tersadar, bahwa satu-satunya planet yang dihuni oleh makhluk hidup di dalam Galaksi Bima Sakti, adalah Planet Bumi.
"Tidak bisa. Mereka tidak bisa melakukan hal itu kepada Planet Bumi. Bukan hanya manusia yang akan mengetahui keberadaan kita semua, makhluk hidup di dalam Galaksi Metal, namun juga, para Silverian itu bisa saja mengacaukan seluruh isi planet biru itu!" seru Anexta dengan mata yang melotot.
Mendadak, ia berlari keluar dari istananya, dengan sangat cepat. Weim, Xyon, dan Ryena langsung terkejut dengan sikap dari Anexta itu.
"Yang Mulia!" seru Weim dan Xyon bersamaan, sambil mulai mengejar Anexta yang sudah terlebih dahulu berlari keluar dari ruang utama itu.
"Kakak!" seru Ryena sambil juga berusaha mengejar kakaknya.
Begitu mereka tiba di halaman depan istana, Anexta tampak mengernyitkan dahinya. Sambil berlari, Anexta berseru dan menunjuk-nunjuk ke arah para prajurit yang sedang berbaris di samping ruang utama itu, ataupun para pelayan yang sedang berjalan melewati mereka.
"Siapkan prajurit, beberapa pelayan, dan kereta antar planet sekarang juga! Jenderal Senior Xyon, kau sebaiknya terlebih dahulu melihat situasi di sekitar ataupun di dalam Planet Bumi, lalu laporkan apapun itu padaku secepatnya. Aku akan mengikutimu setelahnya, agar aku tidak gegabah mengambil keputusan. Sementara itu, Jenderal Weim, cepat panggil ketiga jenderal lainnya untuk ikut denganku. Manusia tidak boleh menjadi korban selanjutnya! Mereka sangat lemah, hampir tidak berdaya, bahkan tidak memiliki kekuatan kosmik apapun untuk melindungi diri sendiri! Cepat!" teriak Anexta dengan berapi-api.
"Baik, Yang Mulia!" seru Xyon dan Weim yang langsung menjalankan perintah tersebut.
Mereka hendak berjalan ke arah yang berlawanan.
Namun, Ryena tiba-tiba berteriak, "Tunggu, kakak, aku ingin ikut bersamamu!"
Teriakan itu membuat Anexta, Weim, dan Xyon menghentikan langkah mereka. Dengan wajah yang serius, Xyon dan Weim kemudian menoleh ke belakang dan menatap Ryena yang kini kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca.
Anexta juga menatap adiknya itu, lalu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Berbahaya, kau sebaiknya tinggal di sini saja. Kita sedang dalam misi perdamaian, dan aku takut jika para Silverian itu melawan, bisa saja akan terjadi perang di antara kita. Kau tidak pernah memegang senjata kosmik lagi sudah lama, jadi sebaiknya, kau menetap di sini saja."
Namun, Ryena terus memaksa. Ia bahkan menatap sambil memohon kepada Xyon agar kakaknya itu mengizinkannya untuk ikut, dengan alasan … bosan, dan tentu saja, penasaran akan masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Lagi pula, Ryena tidak pernah melihat Planet Silverian sebelumnya, ataupun ia tahu tentang planet gelap tersebut, dan tampaknya, tidak ada yang mencurigai sama sekali mengapa para Silverian itu justru pergi ke Planet Bumi.
"Jenderal Senior Xyon! Bukankah Yang Mulia Ratu seharusnya pergi bersama seorang yang bisa menjaganya dari dekat?" tanya Ryena sambil sedikit memohon kepada Xyon.
"Ah, itu, Tuan Putri … maaf, namun itu bukan kewenanganku," ucap Xyon dengan sedikit terbata-bata.
"Ayolah, ya?" bujuk Ryena lagi.
"Tuan Putri, itu … ah, itu…," balas Xyon, namun Ryena tampaknya masih bersikeras.
Karena melihat adiknya yang keras kepala terus menerus memohon kepada Xyon, akhirnya Anexta menyerah dan mengiyakan kemauan adik satu-satunya itu, "Ya, baiklah, baiklah. Kau akan ikut bersama denganku. Namun, kau akan tinggal di dalam tenda yang terpisah dengan kami, dan jangan melakukan apapun yang mungkin bisa membahayakan nyawamu sendiri."
Ryena langsung tersenyum lebar mendengar persetujuan dari kakaknya barusan.
"Terima kasih, kakak! Tentu saja, aku akan menjadi tuan putri yang baik dan penurut!" seru Ryena dengan senyum lebar di wajahnya.
Anexta kemudian menoleh ke samping, lalu berkata kepada seorang pelayannya yang sedang berdiri di samping pintu masuk istana, "Pelayan, karena Putri Ryena ingin bergabung, maka sebaiknya kita berjaga-jaga dengan menyiapkan beberapa tenda, perlengkapan, dan kebutuhan lainnya, untuk beberapa hari selama kita berada di dalam Planet Bumi."
"Baik, Yang Mulia!" seru pelayan itu kemudian ia menundukkan kepalanya sebentar dan menegakkannya kembali, lalu dengan cepat, ia berlari keluar dari ruang utama, untuk menjalankan perintah dari ratunya barusan.
"Kita sebisa mungkin tidak menggunakan senjata-senjata kosmik, agar manusia itu tidak mencurigai kita jika tidak dibutuhkan. Sebaiknya, kita harus bersikap seperti manusia. Bukan hal yang baik apabila manusia mengetahui ada kehidupan lain di luar planet biru itu. Mereka akan mencari tahu dengan sangat teliti, dan bisa saja menjadi ancaman untuk Galaksi Metal, berikutnya," ucap Anexta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Pengembara Virtual
mak tolong tempat tinggal ku mahu di seranngg
2023-03-20
1