"Sialan!!! Ke mana pria itu?!!" teriak Xyon sambil mulai memperhatikan sekelilingnya.
Seluruh prajurit, pelayan, bahkan Nordian, Weim, Sey, dan Arex juga turut mencari keberadaan Flerix beserta Silvir, namun mereka sama sekali tidak melihat apapun.
"Kekuatan apakah yang ia miliki? Bukankah Planet Silverian sudah tidak memiliki energi apapun lagi sejak kejadian pada waktu itu?" gumam Weim dengan wajah gusar.
Xyon langsung murka begitu melihat lawannya menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya, kemudian ia berseru, “Kita akan kembali menuju ke istana Planet Palladina, terlebih dahulu! Aku akan berurusan dengan mereka nanti! Sialan!”
Sementara itu, di dalam Silvir yang kini sudah melesat jauh dari Planet Osmia, Flerix kini bisa bernafas lega karena berhasil melarikan diri dari hadapan Xyon, karena Televortare yang barusan ia lakukan.
“Kita harus kembali terlebih dahulu menuju ke Planet Silverian. Aku akan memikirkan langkah selanjutnya, karena kali ini, aku tidak bisa lagi melarikan diri, setelah berhasil membunuh raja dan permaisuri dari planet itu! Jenderal Senior sialan!” serunya dengan wajah yang tampak kesal sambil berdiri di tengah-tengah ruang kemudi.
Ia kemudian menggelengkan kepalanya sekali.
"Xyon pasti akan mengincar diriku sampai mati. Sekarang, tinggal menunggu saja apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Karena mereka, aku harus kembali menelan pil-pil hitam itu untuk mengisi ulang energi gelapku! Keterlaluan!" gumam Flerix dengan sedikit amarah di wajahnya.
Di dalam Planet Palladina, seluruh kini sedang dalam masa berkabung selama empat puluh hari. Banyak ucapan duka cita dari para pemimpin, pejabat, bangsawan, ataupun penduduk dari planet lainnya, yang dikirim ke istana. Xyon terlihat sedang berlutut sendirian di depan singgasana milik raja dan permaisuri sebelumnya, di dalam ruang utama, dengan wajah yang sendu.
"Ini semua karena ketidakmampuanku," ucapnya berkali-kali.
Tiba-tiba, seorang perempuan, yang kedua bola matanya berwarna biru muda dengan rambut panjangnya yang berwarna biru tua dan baju lengan pendek putih serta celana biru tua, terlihat masuk ke dalam ruang utama istana itu.
Ia sebenarnya melihat Xyon yang sudah lama berlutut, dari depan pintu masuk, namun kali ini, ia memberanikan diri untuk berjalan mendekati sang Jenderal Senior, lalu berhenti melangkah dan berdiri di belakangnya.
"Ah, kau sudah mendapatkan Healing Renovatio, bukan? Nah, semua ini bukan kesalahanmu, Jenderal Senior Xyon. Aku rasa … ayah dan ibu juga tidak akan menyalahkan dirimu. Keluargamu sudah melindungi para pemimpin planet ini sejak lama. Sayangnya, kita belum banyak informasi mengenai Raja Flerix ataupun para Silverian itu, sehingga semua tentang mereka adalah baru. Yang kita ketahui hanyalah tidak pernah ada pergerakan di sana sejak lama. Jadi, kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri," ucap perempuan itu pelan.
Xyon langsung menoleh ke belakang, melihat siapa yang berbicara kepadanya barusan. Masih dengan posisi berlutut, ia lalu memutar badan ke belakang, dan menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada perempuan itu.
"Yang Mulia Putri Mahkota. Maafkan aku, yang tidak mampu melindungi mendiang Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri dalam pertempuran kemarin. Aku akan mengundurkan diri dari jabatanku setelah ini," balas Xyon sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Ya, namun, Jenderal Senior Xyon, ini semua bukanlah murni kesalahanmu. Putri Ryena tidak pandai bertarung, sementara aku sedang berada di dalam Light Chamber ketika dirimu, ayah, dan ibu sedang bertarung melawan mereka. Sebaiknya kau urungkan niatmu untuk mengundurkan diri, hingga surat wasiat itu dibacakan di depan publik," ujar perempuan itu lagi dengan wajah sendu.
Perempuan tersebut adalah anak pertama dari mendiang Yang Mulia Raja Arnea dan mendiang Yang Mulia Permaisuri Klara, dan sudah berusia enam puluh tahun. Ia memiliki gelar dan nama, Yang Mulia Putri Mahkota Anexta.
“Aku pernah mendengar dari orang-orang di sini, bahwa ayah dan ibu tidak pernah memiliki waktu untuk memiliki anak dengan Wormbye, karena beban tugas-tugas mereka sebagai pemimpin dari planet penjaga galaksi. Atas usulan darimu, akhirnya mereka meminta bantuan dari seorang dokter istana. Jika bukan karena dirimu, aku tidak akan berada di sini, Jenderal Senior Xyon,” ucap Anexta dengan senyum kecil di wajahnya.
Xyon terdiam sebentar, lalu ia menoleh ke arah Anexta dan berkata, “Delapan tahun setelah kelahiranmu, mendiang Yang Mulia Permaisuri lantas memutuskan untuk mengangkat seorang putri bangsawan yang kedua orang tuanya meninggal karena perang antar planet, dan memberikannya gelar Yang Mulia Putri Ryena.”
“Ya, Ryena memiliki rambut putih dengan kedua bola mata yang berwarna emas, ia lebih cantik daripada diriku, Ketika ia memakai gaun sederhana berwarna putih. Aku sudah berkali-kali dijodohkan oleh Ayah dan Ibu, namun, aku lebih memilih untuk fokus pada tugas-tugas kerajaan dan sebagai penjaga galaksi,” balas Anexta dengan wajah yang sendu kali ini.
“Anda lebih senang berpatroli bersama dengan Weim, Sey, Arex, dan Nordian, daripada harus menikah dan memiliki seorang suami dan anak. Ini semua karena ajaran yang keras dari mendiang Yang Mulia Raja. Ia juga terlalu sibuk mengurus tugas kerajaan sehingga Anda tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu,” ucap Xyon sambil tersenyum kecil.
Wajah Anexta kini tampak senang begitu ia melihat Xyon yang sudah kembali tersenyum.
“Untung saja tidak ada pejabat ataupun bangsawan yang berani menentang keputusanku untuk tidak menikah. Apakah karena sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, sehingga mereka semua tidak ada yang berani protes tentang keputusanku? Ah, aku yakin kedua orang tuaku sudah membicarakan tentang surat wasiat kepadamu, Jenderal Senior Xyon," balasnya dengan nada pelan.
"Benar, Yang Mulia," jawab Xyon tanpa menjawab pertanyaan tentang masa lalu tadi.
"Jika begitu, setelah selesai empat puluh hari masa berkabung semesta, kau sendiri yang harus menunjukkan surat wasiat itu di hadapan semua orang. Untuk saat ini, biarkan saja kedua kursi singgasana itu kosong. Jangan meminta untuk mundur dari jabatanmu terlebih dahulu," ucap Anexta dengan wajah yang serius.
Ia lalu memutar badannya dan berjalan keluar dari ruang utama itu, meninggalkan Xyon yang masih berlutut, sendirian. Sebenarnya, kabar duka itu juga diikuti oleh ketakutan dari para pejabat tinggi sampai rakyat biasa.
Di dalam istana Palladina itu sendiri, bahkan banyak pejabat rendah hingga tinggi serta bangsawan, sampai kepada pelayan terendah sekalipun, mulai membuat rumor tentang Xyon.
“Jenderal Senior Xyon tidak mampu melindungi kedua pemimpin planet ini! Lihatlah, bahkan Raja dan Permaisuri tewas dalam waktu yang bersamaan!” seru salah seorang pria pejabat tinggi yang memakai kemeja coklat dan celana panjang hitam, sambil berjalan di sebuah lorong bersama dengan temannya.
“Jenderal Senior Xyon kemungkinan sudah tidak mampu lagi bertarung karena usianya yang sudah tua, walaupun fisiknya masih terlihat sangat muda, bukankah begitu maksudmu?” tanya pria bangsawan yang memakai jas formal berwarna putih dan celana panjang coklat, di sampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments