Xyon langsung mengangguk setelah mendengar pernyataan itu, "Mereka tidak akan mendengarkan negosiasi," ucapnya.
"Aku sudah memerintahkan Jenderal Arex dan Jenderal Sey untuk mencari tahu tentang mereka, jadi sebaiknya kita menunggu," balas Anexta.
Xyon langsung menghela nafas panjang, seolah tidak setuju dengan ucapan dari sang ratu barusan.
"Yang Mulia, kita bisa menunggu, namun tidak untuk para manusia mortal yang hidup di sini. Mereka mengandalkan energi dan sumber daya yang ada di dalam planet ini untuk keberlangsungan hidup mereka, dan sekali lagi, mereka adalah makhluk mortal, Yang Mulia," ucap Weim lagi.
Anexta mulai terlihat kembali berpikir keras. Setelah itu, ia berdiri, dan berjalan keluar dari tenda, bersama dengan Xyon dan Weim.
“Baiklah, serangan halus, baiklah,” ucap Anexta.
Sementara itu di dalam ruang hampa udara, tampak Arex dan Sey sedang melayang-layang di salah satu sisi depan Planet Silverian. Wajah mereka berdua tampak lelah dan terlihat sedikit kebingungan.
“Ini sudah untuk berapa kali kita berusaha untuk menembus atmosfernya, Sey?” tanya Arex pelan.
“Entahlah, Arex. Namun, kita sudah mencoba berkali-kali untuk masuk ke dalam planet hitam menyebalkan ini, dan hanya angin ****** beliung keras yang menyambut kita! Kita bahkan tidak bisa masuk ke dalam atmosfernya sama sekali!” seru Sey dengan wajah yang kesal.
“Ini sudah keterlaluan. Aku tidak menyangka bahwa planet ini sudah berubah banyak sejak kejadian pada waktu itu,” ucap Arex lagi.
“Arex, sebaiknya kita laporkan hal ini kepada Yang Mulia Ratu,” balas Sey.
“Sebaiknya begitu, lagi pula, kita sudah mencoba untuk masuk berkali-kali, Sey. Hanya atmosfernya saja, dan kita sudah kewalahan seperti ini!” seru Arex dengan nada tinggi.
“Xyon akan sangat terkejut dengan hal ini, mari kita kembali, Arex,” balas Sey lagi.
Mereka berdua kemudian kembali mengubah fisik mereka menjadi dua buah bintang kecil, lalu melesat dengan kecepatan yang luar biasa, menuju ke arah lubang cacing yang akan membawa mereka masuk ke dalam Galaksi Bima Sakti.
Di dalam Planet Bumi, tampak Anexta, Xyon, dan Weim masih berada di dalam tenda yang sama. Wajah mereka sepertinya sangat serius memikirkan masalah ini.
“Aku akan segera mempersiapkan strategi penyerangan kepada mereka, Yang Mulia,” ucap Xyon yang memecah keheningan di antara mereka bertiga.
“Baiklah kalau begitu, namun, Jenderal Senior Xyon, ada baiknya aku membuat negosiasi terlebih dahulu dengan Raja Flerix itu,” balas Anexta.
Tiba-tiba, dari atas langit, terlihat dua titik bintang kecil sedang melesat ke bawah, sepertinya sedang mengarah ke tenda di mana Anexta, Xyon, dan Weim sedang berada di dalamnya.
Kedua titik bintang itu tiba-tiba mendarat dengan agak keras tepat di depan tenda sang ratu. Tentu saja, hal itu membuat Anexta, Xyon, dan Weim, juga beberapa pelayan dan pengawal serta prajurit yang sedang berada di sekitar sana, mendadak terkejut.
Kedua bintang kecil itu kemudian berubah menjadi Arex dan Sey. Mereka berdua kemudian dengan tergesa-gesa, berjalan masuk ke dalam tenda di mana Anexta sedang berada di dalamnya.
“Yang Mulia Ratu!” seru Arex dan Sey bersamaan, begitu mereka sudah masuk ke dalam tenda tersebut.
Anexta langsung berdiri dari tempat duduknya begitu ia melihat kedua jenderal tersebut sudah kembali, bahkan Xyon dan Weim menatap mereka berdua dengan mata yang melotot tajam.
“Ada apa?! Mengapa kalian terlihat sangat kelelahan?!” tanya Anexta dengan nada yang sedikit panik.
“Yang Mulia, kami sudah berusaha berkali-kali, hanya untuk masuk ke dalam atmosfernya saja,” ucap Sey sambil berusaha mengambil nafasnya.
“Namun, Planet Silverian yang sekarang bukanlah planet yang sama seperti dahulu kala, Yang Mulia. Planet itu kini dipenuhi oleh angin ****** beliung yang sangat kencang dan keras di atas atmosfernya, sehingga setiap kali kami hendak masuk menembusnya, kami akan segera terpental kembali, ke luar angkasa, Yang Mulia!” seru Arex.
Anexta langsung melotot ke arah Xyon, dan bertanya, “Jenderal Senior Xyon! Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada planet itu sebelumnya? Kau pasti tahu segalanya!”
Xyon kemudian menatap Anexta dengan wajah yang serius dan menjawab, “Yang Mulia, namun, pada saat itu, anda masih sangat kecil, dan mendiang Yang Mulia Raja tidak ingin membebani anda dengan hal itu.”
“Aku adalah Yang Mulia Ratu sekarang, Jenderal Senior Xyon!” seru Anexta dengan nada tinggi.
Xyon menghela nafas panjang. Sepertinya ia sendiri masih belum bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan Planet Silverian pada waktu itu, kepada sang ratu.
“Jenderal Senior Xyon!” seru Anexta lagi.
“Yang Mulia,” ucap Xyon pelan, “cerita yang sangat panjang, namun, mendiang Yang Mulia Raja dan mendiang Yang Mulia Permaisuri sebelumnya, serta seluruh orang yang ada di sana pada waktu itu, menyetujui bahwa bulan-bulan milik Planet Silverian sudah mencuri energi cahaya yang seharusnya hanya diperuntukkan untuk Planet Palladina. Kelima pemimpin planet sudah memutuskan bahwa bulan-bulan milik mereka harus dihancurkan, maka dari itu, kami melakukannya.”
Xyon kemudian menghela nafas pendek lagi, dan melanjutkan, “Termasuk, karena pemberontakan yang dilakukan oleh para Silverian itu kepada mendiang Yang Mulia Raja, kelima pemimpin planet akhirnya juga menyetujui hukuman untuk memindahkan posisi Planet Silverian ke urutan paling belakang dari tata surya Goldinian. Aku tidak bisa menjelaskan hal ini terlalu panjang, karena anda masih sangat kecil pada waktu itu, namun, setelah kejadian itu, aku tidak lagi mengetahui apapun tentang planet tersebut, Yang Mulia.”
Anexta langsung menggelengkan kepalanya, “Aku tidak menyangka bahwa kau baru mengatakan kepadaku tentang hal ini sekarang. Pantas saja mereka sekarang melawan. Baiklah, aku akan berusaha untuk menjelaskan hal ini kepada mereka, semoga saja ada jalan keluar yang baik bagi planet mereka dan planet kita, agar Galaksi Metal tidak gaduh. Ayah pasti memiliki alasan mengapa ia melakukan hal itu, dan mengapa ia sama sekali tidak memberitahukan kepadaku tentang hal ini,” ucapnya.
“Karena mendiang Yang Mulia Raja tidak ingin membebani anda dengan hal itu,” balas Xyon.
Anexta hanya mengangguk. Ia kemudian berjalan, hendak pergi menuju ke tenda lainnya untuk mempersiapkan strategi penyerangan. Kelima jenderal tersebut langsung mengikutinya dan berjalan di belakangnya.
Mereka lalu keluar dari tenda itu, namun, tiba-tiba, Ryena menghampiri mereka dan berdiri di depan kakaknya, lalu langsung memeluk lengan Anexta dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Sontak saja aksi Ryena itu membuat ketiganya berhenti melangkah. Mereka langsung menatap sang putri dengan wajah yang terlihat sedikit terkejut.
"Kakak! Aku ikut, ya? Aku sangat bosan berada di dalam tenda seharian … boleh, ya?" tanya Ryena sambil sedikit memohon.
Anexta dengan perlahan, menyingkirkan pelukan Ryena dari lengannya secara lembut, kemudian tersenyum sambil menatap adiknya itu.
"Jangan. Aku takut kau akan terluka, kau tidak pernah ikut dalam sebuah pertarungan, adikku. Aku tidak ingin kau terluka, jadi kau harus tetap di sini, bersama dengan para pelayan dan pasukan yang akan menjagamu,” ucapnya.
Mendengar hal itu, Ryena langsung terlihat kesal. Wajahnya langsung menunjukkan kekecewaan kepada kakaknya. Ia mendadak melangkah mundur sedikit, dan memberikan jarak antara dirinya dan Anexta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments