Flerix tersenyum kecil, kemudian ia berujar, "Dovrix … tidak perlu kita memanggil mereka dengan gelar resmi. Buang-buang tenaga saja. Begini saja, apakah kau memiliki ide bagaimana kita bisa membuat para Palladina itu agar cepat tunduk kepada kita?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Aku mendengar bahwa Ratu Anexta sering kali pergi keluar dari planetnya, untuk mengunjungi galaksi Bima Sakti, melewati lubang cacing yang biasanya selalu menjadi jembatan antara Galaksi Metal dan Galaksi Bima Sakti," ujar Dovrix pelan.
Flerix langsung menatap tajam Dovrix yang masih berlutut di hadapannya setelah mendengar hal itu, lalu ia bertanya lagi, "Apalagi selain itu, Dovrix?"
"Mata-mata yang sebelumnya aku tempatkan di dalam Planet Palladina mengatakan bahwa ia sering mengajak adiknya, Putri Ryena, untuk ikut bersama dengannya kemana pun sejak kepergian raja dan permaisuri sebelumnya, baik ketika ia sedang mengunjungi planet lain untuk acara formal tertentu, atau bahkan … mengunjungi Planet Bumi yang berada di dalam Galaksi Bima Sakti hanya untuk berjalan-jalan, Yang Mulia," jawab Dovrix.
Wajah Flerix langsung segar mendengar informasi tentang Anexta dan adiknya, Ryena, barusan, dari mulut Dovrix langsung.
Ia tiba-tiba berdiri dengan semangat, dan berseru, "Dovrix, bersabarlah sedikit. Kita akan mempersiapkan rencana yang matang untuk menjatuhkan para Palladina itu. Tunggu saja, aku yakin bisa menundukkan Jenderal Senior Xyon kali ini, dan seluruh isi Galaksi Metal akan langsung berlutut kepadaku! Hahaha! Dovrix, biarkan waktu berlalu terlebih dahulu, dan planet-planet itu akan melonggarkan pengawasan mereka. Hanya sampai energi yang sudah kita kumpulkan mulai tersisa sedikit, lalu kita akan beraksi!"
"Baiklah, Yang Mulia," balas Dovrix.
Hari demi hari berlalu lagi dengan tenang, bahkan banyak penduduk baik dari Planet Palladina itu sendiri ataupun planet lainnya, berpikir bahwa sejak kepemimpinan Anexta, para Silverian sama sekali tidak menyerang planet mana pun juga.
Mereka bahkan berpikir bahwa Flerix mungkin tidak berani menyerang lagi hanya karena Anexta dikenal lebih pandai bertarung dan pintar, apalagi dengan kehadiran Jenderal Senior Xyon yang kali ini selalu berada disampingnya untuk menjadi pelindungnya.
Sementara atas perintah Anexta juga, keempat jenderal lainnya, Arex, Sey, Weim dan Nordian, sekarang memiliki tugas baru, yakni berpatroli secara bergantian sampai ke ujung Galaksi Metal setiap hari, yang sebelumnya mereka lakukan seminggu sekali.
Tahun demi tahun mulai berlalu. Tidak terasa, sudah enam tahun sejak Anexta resmi menjadi ratu dari Planet Palladina dan Galaksi Metal sudah mulai terasa damai kembali.
Namun, sepertinya kedamaian itu tidak akan bertahan lama, tentu, karena Flerix akan kembali berulah.
Flerix yang sedang berada di dalam istananya, tiba-tiba memerintahkan Dovrix untuk mempersiapkan Silvir, pesawat luar angkasa miliknya, untuk segera berangkat bersama dengan pasukan-pasukan yang sudah dipilih sebelumnya.
Dovrix yang sudah berhari-hari lamanya mempersiapkan Silvir dan melatih pasukan-pasukan Silverian itu sendirian, akhirnya merasa bahwa semuanya sudah siap. Ia lalu menemui Flerix yang sedang duduk di atas singgasananya, yang berada di dalam ruang utama istana yang gelap dan minim cahaya tersebut.
Dovrix lalu berjalan mendekati singgasana, kemudian berlutut tepat di hadapan Flerix sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Yang Mulia, semua sudah siap, kami hanya tinggal menunggu perintah dari anda," ucap Dovrix.
Flerix langsung berdiri dari singgasananya, kemudian berjalan mendekati Dovrix, dan berdiri di depannya.
"Sekarang waktunya, Dovrix. Mari kita kacaukan Planet Palladina terlebih dahulu," bisik Flerix.
"Baiklah, Yang Mulia," balas Dovrix.
Memang tidak ada penobatan sama sekali, namun, Dovrix tetap memanggil Flerix dengan gelar 'Yang Mulia' hanya karena statusnya adalah seorang raja dari Planet Silverian.
Dengan sedikit terburu-buru, Flerix kemudian berjalan keluar dari ruang utama itu. Dovrix langsung berdiri, lalu berjalan mengikuti rajanya dari belakang.
Flerix langsung berjalan menuju ke tempat dimana Silvir sedang diparkir. Begitu ia tiba di depan pesawat luar angkasa tersebut, ia tersenyum lebar sambil memperhatikan sekelilingnya, pasukan-pasukan Silverian yang sudah siap untuk menjalankan perintahnya.
"Menuju Galaksi Bima Sakti, Planet Bumi! Mari kita ambil energi dari planet itu. Kudengar bahwa Planet Bumi sangat indah, dan makhluk hidup bernama manusia itu … sangat lemah, mudah dikalahkan, dan tidak butuh tenaga banyak untuk melawan mereka. Kita juga akan memancing para Palladina itu untuk keluar … dari sarangnya!" seru Flerix.
Dovrix langsung mengangguk, ia kemudian memerintahkan seluruh pasukannya untuk masuk ke dalam Silvir.
Setelah pasukan-pasukan Silverian itu sudah masuk terlebih dahulu, Flerix kemudian berjalan bersama dengan Dovrix di belakangnya, lalu masuk ke dalam pesawat luar angkasa tersebut.
Setelah semua sudah siap, para pilot yang mengontrol Silvir langsung menerbangkan pesawat luar angkasa itu, dan dengan cepat, Silvir melesat keluar dari Planet Silverian. Mereka langsung terbang menuju Galaksi tetangganya, yakni Galaksi Bima Sakti, tepatnya menuju ke Planet Bumi.
Tentu saja hal ini langsung terlihat oleh kedua mata milik Weim, yang sedang berpatroli tidak jauh dari Planet Silverian, tentu, atas perintah ratunya.
"Pesawat luar angkasa milik para Silverian itu!" serunya sambil melototkan kedua matanya, dengan wajah yang sedikit terkejut setelah menyadari sesuatu yang keluar dari dalam planet gelap itu adalah Silvir.
Setelah yakin bahwa ada pergerakan keluar dari dalam planet itu, ia lalu mengamati sebentar, sambil memicingkan kedua matanya, hanya untuk memastikan sekali lagi. Setelah ia rasa pengamatannya sudah cukup, ia langsung memutuskan untuk kembali menuju ke istana kerajaan Palladina untuk melaporkan hal itu kepada sang ratu.
Sementara itu, di dalam Planet Palladina, Anexta dan Ryena, terlihat baru saja kembali dari kunjungan formalnya untuk Planet Halida.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruang utama istana. Weim rupanya sudah berada terlebih dahulu di sana, dan begitu ia melihat sang ratu dan sang putri yang sedang berjalan masuk, ia langsung membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Anexta dan Ryena.
Mereka berdua menghentikan langkahnya setelah melihat Weim yang sedang membungkukkan badan di hadapan mereka.
"Jenderal Weim!" seru Anexta yang sedikit terkejut dengan kedatangan salah satu dari jenderalnya itu.
Ia lalu mendekati Weim dan memintanya untuk berdiri tegak terlebih dahulu. Weim langsung mengangguk, kemudian ia menegakkan kembali badannya dan menatap lurus sang ratu yang sedang berdiri di depannya.
Wajahnya amat serius, hingga Ryena berjalan sedikit menjauh dari kakaknya sambil menatap ke arah Weim yang sepertinya hendak melaporkan sesuatu.
"Jenderal Weim, bukankah hari ini adalah giliran dirimu dan Jenderal Arex untuk berpatroli? Mengapa kau malah justru berada di dalam sini? Katakan padaku, ada apa? Apakah ada sesuatu?" tanya Anexta pelan.
Weim kemudian melaporkan apa yang baru saja ia lihat ketika ia sedang berada di sekitar Planet Silverian tadi, "Yang Mulia Ratu, aku melihat sebuah titik hitam yang melesat keluar dari dalam Planet Silverian. Sepertinya itu adalah pesawat ruang angkasa milik mereka. Namun, aku tidak ingin berspekulasi, tapi pikiranku berkata bahwa mereka sepertinya mengarah keluar dari Galaksi Metal, menuju ke arah lubang cacing. Karena tidak ingin mengambil keputusan yang salah, aku berpikir lebih baik untuk melaporkan hal ini terlebih dahulu kepada anda."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments