"Kakak! Aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, atau tuan putri yang hanya bisa bermain dengan para pelayan! Kalian mengapa selalu menganggapku tidak mampu? Apakah ayah dan ibu percaya bahwa aku memang tidak kuat, dan tidak bisa berperang, juga tidak pandai sepertimu, dan lantas mereka tidak pernah ingin menjadikanku sebagai putri mahkota setelah dirimu menjadi ratu?” tanya Ryena dengan nada tinggi, hingga beberapa pengawal dan pelayan yang ada di sekitarnya langsung menoleh ke arahnya.
“Putri Ryena, hentikan,” ucap Anexta pelan.
“Bahkan tidak ada seorang pun yang berani menentang keputusanmu untuk tidak menikah! Kau bayangkan, aku bahkan tidak bisa menikah karena aku harus tunduk pada aturan yang dibuat oleh ayah! Seharusnya aku memiliki gelar Yang Mulia Putri Mahkota, setelah kau naik tahta! Sungguh tidak adil!" teriak Ryena lagi.
Anexta menghela nafas pendek, kemudian melotot kepada adiknya itu sambil berkata dengan nada yang sedikit agak tinggi, “Kau harus ingat asal usulmu sendiri, Yang Mulia Putri Ryena!”
Mereka langsung terdiam. Ryena sendiri rupanya menjadi sangat terkejut setelah mendengarkan perkataan yang baru saja keluar dari mulut kakaknya itu. Kedua bola matanya berkaca-kaca, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Asal usul-ku? Bahwa aku hanyalah anak angkat?” tanya Ryena dengan nada suara yang sangat kecil.
“Astaga, Ryena, maafkan aku,” balas Anexta pelan, setelah ia menyadari bahwa perkataannya yang sudah membuat hati sang adik terluka.
Ia hendak meraih lengan adiknya, namun, Ryena langsung berlari dari hadapannya tanpa membalas ataupun berkata-kata.
"Ryena, tidak seperti itu, Ryena!! Tunggu!" seru Anexta dengan wajah yang sedikit terlihat khawatir.
Namun, Ryena tidak berhenti berlari. Ia lalu dengan cepat, masuk ke dalam tenda miliknya sendiri, dan duduk di atas ranjang sambil menangis pelan.
Karena hal itu, Xyon kemudian menatap Anexta yang wajahnya terlihat mulai gusar, dan bertanya, "Apa sebaiknya kita mengajak Yang Mulia Putri untuk ikut bersama kita, Yang Mulia?"
Anexta sebenarnya ingin mengejar adiknya itu, namun, setelah berpikir sebentar, ia langsung menggelengkan kepalanya, dan mengurungkan niatnya. Sepertinya ada sesuatu yang lebih besar yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
"Tidak, jangan. Ayah menitipkannya padaku, ia selalu saja sakit-sakitan bahkan sejak kecil. Aku takut akan kondisinya setelah ayah dan ibu tiada. Sebaiknya kita pergi sekarang. Aku akan berbicara dengan Putri Ryena setelah perasaannya membaik. Biarkanlah Putri Ryena seperti itu untuk sementara,” jawabnya pelan.
Anexta kemudian menoleh ke arah beberapa pelayan dan pengawal yang sedang berjalan di hadapannya, lalu berseru, “Kalian, hibur dan tenangkanlah Yang Mulia Putri terlebih dahulu di dalam tendanya. Awasi dirinya sebaik mungkin, selama aku dan para jenderal nantinya tidak berada di sini!”
Para pelayan dan pengawal itu langsung menundukkan kepalanya dan berseru, “Baik, Yang Mulia!”
Mereka langsung berjalan menuju ke tenda pribadi milik Ryena, dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa.
Anexta, Xyon, dan Weim kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah tenda lainnya, untuk merencanakan serangan yang akan ditujukan kepada para Silverian itu. Rasa khawatir akan sikap dari adiknya tadi, tampaknya sudah menghilang dengan cepat dari wajah sang ratu.
Setelah beberapa lama di dalam tendanya sendiri, Ryena, sekali lagi, berusaha untuk menyelinap keluar dari tendanya tanpa diketahui oleh siapa pun.
“Baiklah, jika kakak tidak mengakui kemampuanku, aku akan mencoba untuk mencari tahu tentang para Silverian itu sendiri!” gumamnya dalam hati.
Ryena kemudian mengendap-endap melalui bagian belakang dari tenda miliknya. Ia berusaha untuk melangkah dengan perlahan agar tidak ada yang bisa mendengarnya.
Setelah berhasil keluar diam-diam melewati pintu bagian belakang tenda itu, ia lantas berlari hingga sedikit masuk agak dalam dari hutan tersebut.
Ia lalu menemukan sebuah sungai yang agak lebar di tengah hutan itu, lalu duduk di atas sebuah pohon yang melintang di atas tanah, dan entah mengapa, hatinya mulai merasa kesal atas perlakuan kakaknya kepada dirinya barusan.
Sepertinya, Ryena mengurungkan niatnya untuk mencari tahu tentang para Silverian yang berada di sisi lain dari hutan itu, dan memutuskan untuk meratapi dirinya sendiri di pinggir sungai yang airnya jernih tersebut.
"Ayah, apakah aku sangat lemah, sehingga menurutmu aku tidak pantas menjadi penerus kerajaanmu? Apakah hanya karena aku adalah anak angkat? Kakak juga bukan seseorang dengan kekuatan yang besar, namun, mengapa kalian memperlakukanku secara berbeda? Benarkah hanya karena aku bukan anak kandung kalian? Namun, kakak selalu bersama-sama dengan Jenderal Senior Xyon. Ia bahkan tidak pernah berperang! Kakak selalu meminta jenderal-jenderalnya untuk melakukan semua! Lalu, apa hebatnya ia?!" gumamnya sendiri dengan kesal.
Ryena mulai menitikkan air mata, namun, setelah menangis untuk beberapa saat, ia mendadak melihat seorang pria yang sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan, melalui pantulan sungai yang jernih di depannya.
"Oh, Flerix!!" teriaknya.
Ia langsung menghapus air matanya, lalu berdiri dengan cepat dan menoleh ke arah pria tersebut, sambil menatapnya dengan ekspresi wajah yang terkejut.
Pria itu rupanya adalah Flerix. Sepertinya ia datang kepada Ryena, lagi, dengan tujuan yang tidak baik.
Flerix lalu tersenyum dan bertanya, "Sepertinya kita bertemu lagi, Nona. Dan kali ini aku menemukanmu sedang menangis di pinggiran sungai ini. Ah, aku memang tidak berhak untuk bertanya, namun aku akan berusaha mendengarkan, jika kau mau bercerita, untuk melegakan hatimu. Karena sepertinya kau sedang melarikan diri dari kelompokmu di sana.”
Ryena lalu tersenyum mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut Flerix barusan. Pria itu bahkan menyeka air mata yang masih mengalir di wajahnya, dan tentu saja, Ryena langsung tersipu malu setelah itu.
“Aku akan duduk bersamamu,” bisik Flerix pelan.
“Oh, tentu,” balas Ryena, dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca.
Sepertinya ia menjadi sangat terbawa oleh perasaannya sendiri. Ryena langsung duduk kembali di atas pohon yang melintang tadi, dan kali ini, ia tidak sendirian. Flerix juga ikut duduk di sebelahnya, seolah memang benar-benar ingin mendengarkan isi hati dari sang putri.
"Kakakku adalah seorang ratu, apakah kau tahu? Dan menurutnya, aku tidak bisa dan tidak boleh berperang karena aku lemah. Ia bahkan memintaku untuk sadar akan asal-usulku. Katakan padaku, Flerix, apakah aku terlihat sangat lemah, atau apakah karena aku bukanlah anak kandung dari ibu, sehingga ayah tidak berani memberikan tugas kerajaan kepada diriku? Kakak menganggapku seperti orang luar saja! Padahal kami sudah bersama sejak kecil!" seru Ryena dengan nada kesal.
Flerix tersenyum, kemudian ia menatap Ryena sebentar, sambil tertawa kecil. Yang tidak disadari oleh Ryena adalah, Flerix sama sekali tidak terkejut ketika ia mengatakan bahwa ia adalah seorang putri, dan kakaknya adalah seorang ratu.
Pria itu bahkan tidak bertanya kepadanya, dari kerajaan mana mereka berasal, seolah Flerix memang sudah mengetahui bahwa Ryena adalah seorang putri … dari planet lain di luar Galaksi Bima Sakti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments