Sementara Flerix mulai berusaha untuk menghindar dari seluruh serangan tersebut, Arex justru terdiam sambil menoleh ke arah Xyon yang tampaknya melemah. Ia dengan cepat melesat ke arah Xyon dan berhenti di sampingnya, lalu merangkul Jenderal Senior itu dengan wajah yang tampak gusar.
"Hei, Xyon! Xyon! Bertahanlah!" seru Arex.
Ia lalu memeluk Xyon, dan melesat menuju ke kereta antar planet milik sang Permaisuri yang masih berada di tempat yang sama sejak tadi. Arex kemudian membaringkan Xyon di depan pintu masuk. Seorang pelayan perempuan tiba-tiba mendekati mereka dengan wajah yang gusar.
“Cepat berikan Healing Renovatio kepadanya!” seru Arex.
“Baik, Tuan,” balas pelayan perempuan tersebut, yang lalu mengangkat kedua tangannya di hadapan Xyon dan proses Healing Renovatio dimulai.
Arex kemudian menoleh ke arah sang Permaisuri yang masih berada di kejauhan, dan melihat Flerix yang sedang menyerang Klara, sambil dikelilingi dengan para prajurit Palladina serta pasukan-pasukan Silverian yang terluka di sekitar mereka.
Flerix tampak tersenyum licik setelah menoleh sebentar dan melihat Xyon yang tidak berdaya, lalu kembali menatap Klara. Ia tiba-tiba menjadi semakin brutal menyerang sang Permaisuri dari Palladina itu.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Raja Flerix, setelah kau membunuh suamiku dan melukai Jenderal Seniorku?" tanya Klara dengan tegas sambil berusaha menghindar dari serangan Flerix.
Flerix tertawa sebentar, lalu menjawab, "Aku hanya ingin … menjadi penguasa Galaksi Metal, menggantikan kekuasaan kalian, para Palladina!"
Klara dan Flerix kini saling bertatapan dengan sorot mata yang tajam namun belum saling menyerang satu sama lain.
"Permaisuri bodoh! Habislah kau!" seru Flerix.
Mendadak, ia melesat dengan sangat cepat menuju ke arah Klara sambil mengarahkan ujung pedang kosmiknya ke depan.
“Tidak!” seru Xyon yang melihat hal itu.
Ia tiba-tiba melesat ke arah Klara dengan sangat cepat hingga pelayan perempuan yang sedang memberikan Healing Renovatio kepadanya tadi, langsung terkejut dan menghentikan aksinya, begitu juga dengan Arex.
"Hei, Xyon!!! Tunggu!" teriaknya, namun Xyon sama sekali tidak mendengarkan, ia terus melesat ke arah sang Permaisuri.
Healing Renovatio yang belum selesai membuat darah masih sedikit mengalir dari dalam perut bagian kiri Jenderal Senior tersebut. Sementara itu, serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Flerix, kini membuat sang Permaisuri kewalahan, walaupun ia dibantu oleh prajurit dan pengawal pribadinya, namun Flerix tampak lebih cepat membalas serangan mereka.
“Hentikan, Raja Flerix!” teriak Xyon yang kini sudah berada di depan Klara, memasang badan untuk Permaisuri dari Palladina itu, bersama dengan keempat jenderal lain di sampingnya.
Flerix lantas menghentikan serangannya, dan mulai tertawa terbahak-bahak untuk beberapa saat, lalu ia menatap mereka dengan senyum sinis.
"Apakah kalian tidak tahu bahwa aku sudah semakin kuat bersama dengan Planet Silverian? Apakah kalian tahu bahwa aku mampu mengambil energi kosmik dan sumber daya dari planet lain dengan sebuah bola raksasa? Apakah kalian tidak takut akan energi gelap yang kumiliki sehingga kalian dengan berani menyerang diriku dan pasukan-pasukan Silverian?" tanya Flerix.
Namun, tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulut mereka.
"Baiklah, jika kematian adalah hal yang kalian inginkan!" seru Flerix dengan wajah yang tampak kesal.
Ia lalu mengangkat dan mengayunkan tangan kirinya ke depan dan tiba-tiba, angin yang begitu kencang entah dari mana asalnya, meniup empat orang jenderal yang berada di samping Xyon, hingga terlempar ke segala arah.
"Ahhhh!" teriak Weim, Nordian, Arex, dan Sey bersamaan.
"Arex, Sey!" seru Xyon dengan wajah yang gusar sambil melotot ke arah mereka.
Kali ini, Flerix hanya berhadapan dengan Xyon dan Klara yang masih berada di belakang Jenderal Senior itu. Sang Raja dari Silverian tersebut tersenyum sinis, lalu ia mulai bersiul.
Xyon dan Klara langsung fokus memperhatikan aksi Flerix.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Xyon dengan wajah yang gusar.
Mendadak dari belakang, sebuah anak panah melesat dengan cepat ke arah Klara, dan langsung menancap dengan tepat di punggung sang Permaisuri, menembus hingga jantungnya.
"Ahhh!!!" seru Klara sambil melotot tajam dan menahan rasa sakitnya, darah bahkan mulai mengalir dari dalam luka tusuknya itu.
Seluruh prajurit, pengawal, dan jenderal-jenderal dari Palladina serta Xyon, langsung melotot tajam ke arah Klara. Mereka bisa melihat dengan jelas sebuah anak panah yang berwarna hitam menancap di dada Permaisuri dari Palladina itu.
“Yang Mulia!!!" teriak Xyon dengan wajah yang panik, kemudian ia melesat ke arah Klara untuk menahan tubuh sang Permaisuri, agar tidak jatuh terlalu jauh di dalam ruang hampa udara.
Mereka kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang tampak gusar.
Klara kemudian berbisik pelan sambil berusaha menarik nafas terakhirnya, "Aku dan mendiang Raja sudah menulis sebuah surat wasiat. Kami meletakkannya di dalam laci kecil di sebelah meja kerja milikmu. Terima kasih atas semua pengorbanan yang kau dan keluargamu berikan kepada kami. Nasib Putri Mahkota dan galaksi ini sekarang ada di tanganmu."
"Yang Mulia!" seru Xyon dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
"Mungkin ini adalah karma akibat perlakuan kita kepada mereka, puluhan tahun lalu ...," bisik Klara lagi, lalu setelah itu, ia memejamkan kedua matanya.
Tubuh Klara kemudian berubah menjadi butiran debu halus yang lalu menghilang. Xyon langsung mengepalkan kedua tangan, sambil menahan amarah yang luar biasa di dalam hatinya.
Ia kemudian menoleh ke arah Flerix, lalu berteriak, "Akan kubunuh kau sekarang juga!"
“Oh!” gumam Flerix.
Ia lantas bersiul lagi, dan beberapa saat kemudian, Silvir melesat, dan berhenti di belakangnya. Dengan tergesa-gesa, Flerix lalu melayang menuju ke pintu masuk pesawat luar angkasanya itu, hanya agar ia bisa menjauh dari Jenderal Senior yang terlihat sangat marah kepadanya.
Xyon hendak melesat ke arah Flerix untuk menyerangnya, tiba-tiba mengurungkan niat, karena terkejut begitu ia melihat Silvir yang mendadak muncul di belakang Raja dari Silverian itu.
"Apa?!" gumam Xyon pelan.
Namun, ia masih menatap Flerix dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengan amarah.
"Aku rasa sampai di sini dulu pertemuan kita, Jenderal Senior Xyon. Aku rasa aku akan memberikanmu waktu yang panjang untuk berduka! Silakan nikmati kemenanganku ini, dengan pesta duka di dalam kerajaanmu, Jenderal bodoh! Hahaha!" seru Flerix.
Lalu tiba-tiba, kabut-kabut hitam menyelimuti tubuhnya dan Silvir, dan dalam waktu yang singkat, ia menghilang, berubah menjadi debu halus di dalam ruang hampa udara bersama dengan pesawat luar angkasa miliknya, tanpa jejak.
Xyon langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan lawannya itu, dengan wajah yang sangat gusar.
Tentu saja aksi menghilangkan diri sendiri atau teleportasi, adalah sebuah kemampuan kosmik yang disebut Televortare. Aksi ini membutuhkan energi yang lumayan besar, hingga Flerix jarang menggunakannya. Ia melakukannya barusan hanya karena terpaksa, agar Xyon tidak mengincar dan membunuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Pengembara Virtual
jadi keinget om om kumis kotak
2023-03-20
0
Suarby
saya malah ketawa melihat hal tragis ini💀
2023-01-27
0