"Baik, Yang Mulia!" seru semua orang yang ada di sana, kecuali Ryena.
Setelah mendengar perintah tersebut, seluruh jenderal, prajurit, dan pelayan yang ikut dengannya, langsung mendirikan perkemahan di tengah hutan itu.
Tenda-tenda peristirahatan dan beberapa kebutuhan pribadi juga terlihat sedang disiapkan. Para pelayan dan beberapa prajurit menjadi sangat sibuk. Mereka saling membantu satu sama lain.
Ketika perkemahan sudah siap, Anexta lalu masuk ke dalam sebuah tenda, dan terlihat langsung berdiskusi dengan Xyon, Weim, Nordian, di dalamnya. Ryena sendiri menempati tenda yang berbeda dengan mereka. Suasana tampaknya sangat tegang di antara sang ratu dan jenderal-jenderalnya.
Sesekali, Ryena terlihat keluar dari tendanya dan berjalan sedikit, kemudian berhenti tidak jauh dari tenda milik sang kakak, sambil terus memperhatikan Anexta yang masih berdiskusi panjang dengan para jenderal tersebut.
Namun, Ryena merasa kakaknya kali ini terlalu serius dengan para Silverian itu, sehingga ia mulai merasa sangat bosan dan menyesal sudah ikut dalam perhentian kali ini.
"Seharusnya aku tidak ikut, huh! Membosankan! Kakak selalu saja sibuk dengan urusan seperti ini, padahal ia bisa menyerahkan semua itu sendiri kepada kelima jenderalnya, lalu mengapa ia harus repot sekali! Sama saja seperti mendiang ayah! Mereka berdua, menyebalkan!" gumam Ryena dengan nada yang kesal.
Ia lalu berjalan agak jauh dari tendanya, dan memutuskan untuk berkeliling di sekitar perkemahan tersebut, karena kebosanan yang melanda dirinya.
Ia lantas memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan yang ada di dalam hutan ini, tentu, secara diam-diam, karena membawa pelayan akan merepotkan… Dan tentu saja, membosankan, karena para pelayan itu hanya bisa menundukkan kepala-kepala mereka dan tidak bisa diajak bercanda.
Ia memperhatikan betul-betul kapan saja para pengawal akan bergantian untuk berjaga di depan tendanya, lalu, ketika para pengawal itu pergi, ia langsung menyelinap keluar dari bagian belakang tenda miliknya.
Ryena lalu mengendap-endap dan akhirnya berhasil keluar, dan berjalan dengan cepat menuju hutan yang gelap karena hari mulai malam. Namun, setelah melangkah untuk beberapa saat, ia mulai merasa pusing.
Ia lantas menghentikan langkahnya pada suatu titik di dalam hutan itu, kemudian melihat sekelilingnya dengan wajah yang gusar dan bergumam, "Astaga, semua ini membuatku pusing. Di mana arah jalan kembali menuju ke perkemahan tadi?! Aduh!"
Ryena mulai ketakutan, dan kebingungan akan arah jalan kembali menuju ke tendanya. Ia lalu terdiam, sambil mulai mengira-ngira jalan yang mana yang tadi ia ambil untuk sampai pada tempatnya berdiri sekarang.
Tiba-tiba, seorang pria berjalan mendekatinya, lalu menepuk bahunya dengan tepukan pelan.
"Siapa itu!?" teriaknya, karena terkejut dengan tepukan itu, lalu ia menoleh ke belakang, dan melihat seorang pria yang tidak ia kenal, sambil melotot tajam.
Pria tersebut lalu menatapnya dan tersenyum kepadanya. Ryena mulai benar-benar merasa ketakutan dan panik, namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya, karena ia merasa, ia adalah seorang putri.
Pria itu mulai tertawa kecil melihat Ryena yang sedikit membuang wajahnya.
"Nona, apa yang sedang anda lakukan sendirian di tengah hutan yang gelap seperti ini? Apakah anda tersesat?" tanya pria tersebut.
Ryena sambil berusaha untuk menutupi rasa paniknya, berdehem sedikit, lalu menjawab, "Aku … ah, aku tersesat sepertinya, ya, aku lupa dari arah mana tadi aku datang. Aku awalnya hanya ingin mencari sungai di sekitar sini, untuk mengambil air dan membawanya kembali ke perkemahan kami."
Pria itu tersenyum lagi lalu berkata, "Aku akan mengantarkanmu, Nona, namun bisakah anda memberitahukan kepadaku kira-kira di mana perkemahan milik kelompok anda itu berada, jika anda bisa, mengingat sedikit saja jalan yang mungkin barusan anda lewati tadi?"
Ryena langsung merasa sangat lega mendengar tawaran itu. Ia langsung menatap pria itu setelah menghela nafas pendek, dan dengan senang hati serta wajah yang polos, ia menjawab, "Baiklah!"
Pria itu lalu berjalan terlebih dahulu, dan Ryena perlahan-lahan mengingat-ingat kembali jalan yang mungkin saja ia lewati tadi.
"Mungkin tadi aku lewat sini … ah, kami membangun perkemahan di sekitar sini, dan tenda milikku berwarna putih …," bisik Ryena pelan.
Pria tersebut berusaha mengantar Ryena kembali menuju ke tenda miliknya, walaupun memang sempat berjalan berputar-putar di dalam hutan itu, namun, berkat bantuan pria itu, Ryena tiba-tiba mengingat kembali jalan menuju ke tendanya sendiri.
Ia lalu melihat dari kejauhan, beberapa tenda yang berdiri dengan api unggun yang menyala-nyala, lalu berseru sambil menunjuk-nunjuk perkemahan tersebut dengan jari telunjuk kanannya, "Ah, itu, itu dia! Itu perkemahan yang didirikan oleh pelayan-pelayanku! Ah, itu adalah tenda pribadiku!"
"Ah, kalau begitu aku akan meninggalkanmu disini, Nona," ucap pria itu sambil tersenyum.
Mereka berdua kemudian berhenti melangkah.
Ryena lalu menoleh ke arah pria tersebut, menatapnya sebentar, dan berkata, "Terima kasih telah menunjukkan padaku jalan kembali ke sini, aku pasti akan membalasmu, karena aku adalah seorang putri, namun sebelum itu, siapa namamu, tuan?"
Pria itu tersenyum, dan menjawab, "Flerix. Namaku adalah Flerix, Nona. Kebetulan aku juga sedang mencari sungai untuk mendapatkan air. Maafkan aku atas ketidak-sopananku ini, Nona. Aku akan kembali sekarang juga, karena anda sudah kembali kepada kelompok anda."
Ryena lalu tersenyum, "Baiklah. Flerix. Aku adalah seorang putri dari planet yang sangat jauh, jadi kau tenang saja, aku pasti akan mengingatmu dan membalas kebaikanmu ini. Pegang kata-kataku, Tuan Flerix!"
Mereka berdua kemudian saling bertatapan satu sama lain.
Tampaknya sang putri mulai mengagumi fisik dari Flerix. Ia bahkan memperhatikan pria itu dari atas rambut hingga ke bawah kakinya. Flerix memang sangat tampan, walaupun pakaian yang ia gunakan sedikit kotor.
"Baiklah, jika kita bertemu lagi, aku akan membalas kebaikanmu! Aku sangat berhutang budi kepadamu! Jika kita bertemu lagi, aku akan memberikanmu sesuatu! Sampai jumpa lagi!" sahut Ryena, lalu ia langsung berlari menuju ke perkemahannya, dan langsung masuk ke dalam tendanya, dengan wajah yang memerah sambil menahan rasa malunya.
Setelah memastikan bahwa Ryena sudah masuk ke dalam tendanya, Flerix lalu tersenyum licik, sambil bergumam, "Wanita cantik yang bodoh. Namun, boleh juga. Jika aku tidak bisa mendapatkan kakaknya, mengapa tidak adiknya saja?"
Keesokan paginya, Xyon masih terlihat sedang berbicara dengan Anexta di dalam sebuah tenda yang memang khusus untuk mereka melakukan diskusi di sana. Tampaknya pembicaraan itu sangat alot, hingga mereka tidak tidur semalaman.
"Yang Mulia, sepertinya para Silverian itu ingin mengambil energi dari inti dalam Planet Bumi ini, seperti yang mereka lakukan kepada planet-planet kecil lainnya, namun ini hanya perkiraanku saja," ucap Xyon pelan.
Anexta sendiri wajahnya langsung terlihat sangat serius setelah mendengarkan ucapan dari Jenderal Senior-nya itu. Ia lalu berpikir sebentar sambil mengernyitkan dahinya.
"Tampaknya kita harus menyiapkan beberapa serangan halus agar mereka segera mundur. Manusia di sini terlalu lemah. Mereka bisa menjadi korban kapan saja. Kehidupan yang ada di sini dan bahkan planet ini sendiri sangat unik, dan aku tidak akan membiarkan para Silverian itu untuk mencuri energi dari planet manapun lagi, apalagi, hanya satu-satunya kehidupan yang ada di dalam Galaksi Bima Sakti, adalah di sini, di dalam Planet Bumi ini!" ujar Weim dengan nada yang sedikit tinggi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments