Karena ketakutan, seluruh penduduk dari planet yang berada di dalam Galaksi Metal, mulai mengurangi aktivitas keluar masuk dari dan ke antar planet lainnya. Hanya para bangsawan, pejabat, dan pemimpin planet yang diperbolehkan, dengan penjagaan ketat.
Sementara itu di dalam kamar pribadinya, Anexta terlihat sedang duduk di atas ranjang dengan wajah sendu. Ryena, yang sudah menemaninya seharian, hanya bisa berbaring di samping Anexta dan mulai merasa bosan.
“Kau dan aku sangat berbeda, Kakak,” bisik Ryena dengan wajah datar, “Kau adalah putri mahkota sehingga kau selalu berusaha menjaga sikap, sementara aku adalah perempuan yang sangat ceria dan bebas.”
“Karena kau sejak kecil selalu sakit-sakitan, maka Ayah dan Ibu membebaskanmu, dan membiarmu untuk melakukan apapun yang kau mau, walaupun terkadang kau melanggar aturan istana. Kau bahkan tidak terlihat bersedih, Putri Ryena,” balas Anexta.
“Kakak, ini sudah siang dan seharusnya, aku bermain bersama dengan pelayan-pelayanku. Kau terkadang mengajakku keluar untuk berjalan-jalan atau menemanimu dalam kunjungan formal sebagai putri mahkota. Aku sangat bosan, Kak,” ujar Ryena dengan nada kesal.
“Kau harus bersabar terlebih dahulu, karena masa berkabung sudah ditetapkan, yakni empat puluh hari, Putri Ryena,” ucap Anexta lagi dengan wajah sendu.
Ryena hanya bisa menghela nafas panjang. Setelah melewati hari-hari yang sepi dan sunyi serta damai, masa berkabung semesta selama empat puluh hari akhirnya berakhir.
Pada suatu pagi, Anexta terlihat sedang berjalan bersama dengan beberapa pelayannya di salah satu lorong istana.
“Cepat minta Jenderal Senior Xyon untuk membuat surat kosmik. Aku akan mengundang para bangsawan, pejabat tinggi, dan seluruh pemimpin planet yang ada di dalam Galaksi Metal … kecuali Planet Silverian, untuk hadir dan menjadi saksi atas pembacaan surat wasiat yang ditulis oleh mendiang Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin ada perang berdarah lainnya pembunuh itu diundang,” ucapnya dengan nada tegas.
“Baik, Yang Mulia,” balas salah seorang pelayan yang langsung berjalan ke arah berbeda untuk menjalankan perintah tersebut.
Surat kosmik itu kemudian ditulis oleh Xyon dan disebar dengan cepat oleh para pelayan. Begitu harinya tiba, para pemimpin, pejabat, dan bangsawan yang sudah mendapatkan undangan tersebut, akhirnya tiba di halaman depan istana dan masuk ke dalam ruang utama.
Namun, sebagian pemimpin ada yang berhalangan hingga harus diwakilkan oleh pejabat-pejabat tinggi atas perintah atasannya.
Setelah beberapa saat, Xyon kemudian berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam ruang utama istana, sementara Anexta, Ryena, dan keempat bawahannya:
Weim, yang memiliki rambut berwarna biru terang dengan bola matanya yang berwarna putih serta mengenakan kemeja biru tua berkerah tinggi dan celana panjang yang berwarna sama, sementara Sey memiliki rambut berwarna coklat dengan bola mata yang juga berwarna coklat, memakai baju hitam berkerah tinggi keemasan dengan celana panjang hitam, lalu Nordian yang memiliki rambut berwarna emas dengan bola mata yang berwarna hijau, memakai baju emas dan celana panjang coklat, beserta dengan Arex, yang sudah terlebih dahulu berdiri di samping altar.
Xyon lalu berjalan dengan cepat menuju ke atas altar, yang di belakangnya terdapat dua buah singgasana. Ia kemudian naik dan berhenti di tengah-tengah altar tersebut sambil menatap ke depan. Semua orang kini terdiam dan mulai memperhatikan dirinya. Wajah-wajah mereka tampak sangat serius.
Xyon lantas mengambil sebuah kertas transparan yang tergulung dan diikat oleh sebuah pita, dari dalam saku bajunya, kemudian memperlihatkannya ke hadapan semua orang yang berada di dalam ruang utama itu. Ia membuka surat tersebut, lalu sedikit berdehem.
Kertas transparan tersebut tiba-tiba melayang-layang di udara, dan mendadak, wajah Arnea muncul di atas kertas transparan itu, hingga semua orang yang hadir di sana langsung menoleh ke arahnya.
"Yang terhormat, seluruh raja, ratu, pejabat tinggi, dan bangsawan dari segala penjuru planet yang ada di dalam galaksi ini, terima kasih telah meluangkan waktu kalian yang berharga untuk menjadi saksi dari pembacaan surat wasiat yang ditinggalkan oleh mendiang Yang Mulia Raja Arnea dan mendiang Yang Mulia Ratu Klara sebelumnya," seru Xyon dengan wajah tegas.
"Aku, Jenderal Senior Xyon dari Palladina, yang akan memperlihatkan kepada kalian, surat wasiat yang ditulis langsung oleh mendiang pemimpin kami," lanjut Xyon sambil mulai berdehem lagi setelahnya, “Silakan perhatikan baik-baik, dan jadilah saksi kami pada hari ini.”
Setelah itu, wajah Arnea yang berada di atas kertas transparan tadi tiba-tiba berbicara dengan suara lantang:
"Hadirin sekalian, Anda semua bisa melihat dari balik surat wasiat ini, bahwa aku, Raja Arnea dari Palladina, bersama dengan istriku, Permaisuri Klara dari Palladina. Aku akan memerintahkan para pejabat tinggi dan seluruh rakyatku, untuk menjalankan wasiat ini dengan segera jika aku sudah tiada. Satu, aku akan menunjuk Yang Mulia Putri Mahkota Anexta, anak perempuan pertamaku, untuk menggantikanku sebagai pemimpin dari Planet Palladina. Ia akan menjadi ratu penguasa, dengan gelar Yang Mulia Ratu Anexta,” serunya.
Lalu, ia melanjutkan, "Kedua, aku menginginkan Jenderal Senior Xyon sebagai tangan kanan dari Yang Mulia Ratu Anexta, sebagai guru, pembimbing, dan penjaganya. Ia tidak diperbolehkan untuk mundur dari jabatannya, dengan alasan apapun, kecuali kematian. Jenderal Senior Xyon harus mengabdi seumur hidup, demi Planet Palladina dan Galaksi Metal."
"Ketiga, anak keduaku, Yang Mulia Putri Ryena, akan tetap menjadi seorang putri hingga akhir hayatnya, sementara istriku, Yang Mulia Permaisuri Klara, akan bergelar Ratu Agung Klara setelah kematianku. Demikian surat wasiat ini kubuat bersama istriku, Yang Mulia Ratu Klara. Aku harap isi dari surat wasiat ini segera dilaksanakan begitu aku sudah tiada.” ucap Arnea lagi dari balik kertas transparan tersebut.
Kemudian, wajah Arnea menghilang, dan stempel dengan segel kerajaan Palladina dengan tanda tangannya, lantas muncul setelah itu. Kertas transparan tersebut kemudian jatuh di atas telapak tangan Xyon dan dia dengan cepat menggulungnya dengan pita serta memasukkannya ke dalam saku.
Xyon kemudian menoleh ke arah Anexta dan berseru, "Karena mendiang Yang Mulia Raja Arnea menginginkan isi dari surat wasiat ini untuk segera dilaksanakan begitu ia sudah tiada, maka pada saat ini juga, Yang Mulia Putri Mahkota Anexta harus segera dinobatkan menjadi Ratu dari Palladina selanjutnya. Tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan lagi, maka, penobatan Yang Mulia Putri Mahkota Anexta sebagai ratu yang baru akan segera dimulai."
Setelah mendengar seruan itu, Anexta langsung mengangguk.
“Kekosongan kepemimpinan yang terlalu lama bisa mengakibatkan kekacauan, apalagi planet ini adalah planet satu-satunya penjaga Galaksi Metal. Baiklah, aku akan menerima wasiat tersebut,” ucap Anexta pelan, walaupun tubuhnya tampak gemetar.
Ia seolah masih tidak percaya bahwa pada akhirnya, hari itu akan tiba. Hari di mana ia akan dinobatkan sebagai ratu penguasa, dengan beban besar di kedua pundaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Pengembara Virtual
Aku tidak ingin ada perang berdarah lainnya pembunuh itu diundang.. 🤔
2023-03-20
0
Suarby
EKHEM🗿🗿🗿
2023-01-27
0