Penolakan Dara.

"Bu, kita tidak menerima tamu malam-malam. Apalagi ibu tahu status saya 'kan? lebih baik suruh pulang saja tamunya, jika memang penting, suruh kembali besok pagi," teriak Denisa dari dalam kamarnya, saat dia tahu yang datang Daniel.

"Denisa!" Daniel seolah tak terima dengan penolakan Denisa.

"Denisa benar nak Daniel. Maaf bukan saya ikut campur. Denisa sudah cerita permasalahan kalian, dan tujuan mu kesini untuk menemui Dara 'kan?. Dara sudah tidur dan ini bukan jam kunjung yang baik, nak Daniel datang besok pagi. Kasihan nanti Denisa menjadi gunjingan tetangga kalau menerima tamu malam hari."

Daniel menghela nafas berat tak bisa membantah juga, dia mengangguk dan pamit memilih kembali ke mobil.

"Lagian bertamu nggak kenal waktu, wajarlah Dan, lo diusir," Wahyu mentertawakan kemalangan Daniel, "kecuali Denisa tinggalnya diapartemen, lo mau tidur seminggu atau kumpul badak juga nggak ada yang grebek ato rese."

"B4cot ahh, namanya juga gue salah, harus minta maaf, gue juga lagi usaha dan nunjukin ke Denisa kalo gue nyesel, gue lupa beneran ada janji mau ketemu anak gue dan ngajaknya jalan-jalan."

Wahyu terkekeh "Ini sebenarnya ngebet mau ketemu emaknya apa anaknya sih?" lirik Wahyu menggoda Daniel yang duduk di kursi penumpang sebelahnya.

"Ya Dara-lah!"

"Dua puluh persen Dara, delapan puluh persen maminya." Wahyu tergelak meralat jawaban Daniel.

"Kita tunggu disini sampe pagi."

"Apa? Lo gila bin sedeng ya Dan? gue nggak mau."

"Yaudah pulang jalan kaki."

"Wah bener-bener nih duda karatan nggak tau terima kasih, udah gangguin orang lagi mimpi ba5ah juga."

Daniel meraup wajah oriental Wahyu "Dasar omes."

"Halah sok suci, normal kalli," Wahyu menurunkan joknya, mengacak rambutnya kesal "nasib jalan sama duda mengejar janda gini amat dah. Makanya Dan, kalo udah nikah jangan buru-buru ambil keputusan buat pisah. Akhirnya tersiksa sendiri, gue kasian Denisa yang udah nyaman sama hidupnya yang sekarang, tapi lo recokin lagi."

"Berisik lo. Lo nggak tahu permasalahan gue dulu, panjang ceritanya."

Iya, walau Wahyu teman dekatnya saat ini, namun cerita dia dan Denisa tak Daniel ceritakan pada siapapun, kecuali keluarga Denisa yang tahu.

Sedikit cerita awal pertemuan Daniel dan Wahyu adalah ketika mereka berada di tempat rehabilitasi. Wahyu sebenarnya bebas lebih dulu, karena kenakalanya hanya sebatas pergaulan, sedang Daniel memiliki kasus sendiri yang kalian tahu, kasusnya terhadap Delia.

"Terserah dah, eh BeTeWe lo kan udah tunangan sama Amanda, tapi gue ramal lo bakal balikan sama mantan bini. Lo kalo disuruh milih, milih janda apa gadis nih?"

"Janda lah, apa lagi ketahuan janda gue sendiri, gue yakin Denisa nggak pernah main sama laki lain. Lagian kalo balikan sama Denisa, udah ketahuan gue bakal cepet punya anak, kalo sama Amanda belum tentu cepet dapet anak. Belum terbukti dia bisa kasih gue anak apa enggak."

"Anj1rr jawabnya, realistis dan diplomatis. Tapi kalo yang denger cewek, abis lo Dan dijadiin badak geprek." Wahyu menggeleng atas jawaban Daniel.

Ditemani Wahyu, Daniel sedikit terhibur dan tak bosan, bisa membunuh waktu yang terasa panjang.

Daniel melihat kamar yang dia perkirakan milik Denisa, terlihat gorden yang tersingkap, Daniel tersenyum melihat sosok cantik itu disana. Hatinya berdenyut mungkin saja Denisa seharian kemarin menunggu kabar darinya.

Namun tak lama, hordeng itu tertutup kembali.

Daniel mengambil hape memilih menghubungi Denisa, namun beberapa kali dia menghubungi nomor itu, Denisa tak juga mengangkatnya.

Daniel kemudian mengirim pesan saja.

"Papi kemarin benar-benar lupa, Mi. Nanti Papi jelaskan," diakhiri emoji sedih dan tangan memohon. Send to Mami love.

Tak ada kata-kata maaf, masih sulit walau hanya lewat pesan.

Pesan terkirim dan centang dua, namun masih abu-abu, Daniel melihat kamar Denisa, berharap jandanya langsung membaca pesananya.

Kamar Denisa gelap, tak ada cahaya ponsel atau semacamnya.

"Huh," Daniel mendesah, melipat tangan dibelakang kepala, menyender di headboard kursi.

Daniel melirik Wahyu disebelahnya, nampaknya dia sudah jalan-jalan kealam mimpi. Dia sendiri tak bisa terpejam, kembali melihat pesannya yang masih centang abu-abu, Denisa tak membuka pesananya.

Daniel mengusap wajah, benar-benar merasa bersalah pada Denisa, lupa mengabari jika dia tak jadi menemui Dara, dan malah mengantar Amanda ke Singapur, rasa kemanusiaan membuatnya khawatir dan perhatian pada Amanda, bukan karena Amanda tunangannya.

Matanya terus menyorot kearah kamar itu, setiap menit dia melihat jam, jarum berputar begitu lambat mengalahkan jalanya siput, Daniel berteriak frustasi.

"Mobilnya belum pergi, Nis." Nani mengintip dari jendela ruang tamu, kemudian melirik Denisa yang duduk di sofa sambil membaca buku kedokteran untuk menambah ilmunya.

"Biarkan saja Bu. Ibu istirahat aja, nanti Bu Nani ngantuk."

"Apa Ibu buatin kopi saja? Ibu kasihan."

"Nggak usah Bu, biar dia tahu gimana rasanya menunggu."

Nani tak lagi menjawab, dia memilih masuk ke kamarnya, kamar milik Dara sebenarnya, tapi kini dijadikan kamar Nani, karena Dara masih tidur bersama Denisa. Walau Denisa telah menganggapnya sebagai ibu sendiri, tapi dia tahu diri untuk tidak ikut campur terlalu jauh.

Denisa kembali melihat dari celah hordengnya, mobil Daniel yang masih terparkir didepan rumahnya. Denisa yang memang seharian ini cukup lelah, memilih masuk kamar, memilih istirahat saja agar tenaganya full untuk hari esok.

Tiga jam berlalu, jam enam pagi lewat, waktu yang singkat sebenarnya, tapi terasa lama bagi Daniel yang tak sabar ingin bertemu ... Dara, eh bukan Denisa, Dara mungkinlah, tapi dari lubuk hati terdalamnya lebih besar ingin bertemu Denisa sih.

Menurut Daniel ini sudah jam yang diperbolehkan untuk bertamu. Dia membiarkan Wahyu tidur di mobil, sedang dia memilih ke rumah Denisa.

Belum juga mengetuk pintu, Denisa lebih dulu membuka pintu dengan wajah segarnya, sepertinya Denisa habis mandi, terlihat rambutnya masih setengah basah dengan handuk ditanganya, pandangan mereka bertemu, keduanya saling terdiam untuk sesaat.

Denisa berdehem membuyarkan Daniel yang sedang mengagumi kecantikan alami Denisa, tahukan apa yang ada diotak Daniel melihat mantan istrinya segar seperti ini, maunya dibawa kemana? dan diapain? Nggak perlu dijelasin, kalian tahu pasti.

Denisa tentu tak nyaman dengan itu, dia punya pengalaman dikatain, sudah pasti itu melekat, dia belum pakai make-up, tentu tak pede, tapi untung dia memakai pakaian yang tertutup, dia lupa jika ada Daniel yang menunggunya sejak semalam.

"Pagi Mami." sapanya tersenyum tak tahu malu.

Denisa memalingkan wajah "Dara belum bangun, tunggu sampai dia bangun, tunggu saja diluar. Aku sudah jelaskan kalau kamu ingin mengajaknya jalan-jalan, tapi jangan bilang dulu kalau kamu ayahnya. Biar aku jelaskan sendiri."

"Papi Denisa, bukan ayah. Samain sama panggilan kamu," nawar seperti belanja.

Denisa tak menaggapi, dia yang tadinya ingin menjemur handuk sampai lupa dan kembali ingin masuk, namun tangannya dicekal mantan suami.

"Aku laper Denisa. Dari pemakaman kemarin belum dikasih makan." Kembali meminta tak tahu malu.

"Nanti bu Nani yang bawain," ujar Denisa dingin, masih kecewa sih sebenarnya.

"Kamu yang bawa boleh? Kangen sama kopi buatan kamu."

"Pesan diwarung kopi, maaf disini nggak ada yang ngopi, jadi nggak sedia stok."

Bahu Daniel melemah, "aku minta maaf Denisa," ucapnya pada akhirnya, "kamu pasti ngerasa aku tidak memprioritaskan Dara 'kan? Kemarin itu dadakan, waktu aku mau jelasin sama Amanda tentang kamu dan Dara, dia dapat kabar duka, dia panik dan minta tolong untuk penyeberangan secepatnya, ini murni karena rasa kemanusiaan, bukan karena dia tunangan aku atau sengaja ngelupain janji aku ke Dara."

Denisa sedikit luluh, tapi cuma sedikit.

"Jadi dokter Amanda belum tahu tentang Dara siapa?" Daniel menggeleng.

"Nggak bisa."

"Denisa, hanya bertemu sebentar, aku sudah kasih tahu kalau aku duda, tapi aku nggak bisa menunggu sampai Amanda pulang, dan tidak mungkin menjelaskan saat dia sedang berduka, apalagi papanya masih sakit."

"Silahkan kalau mau bertemu Dara, tapi jangan katakan apapun kalau kamu ayahnya." Ulang Denisa mengingatkan, dia melepaskan tangan Daniel dan berlalu masuk.

Terdengar suara Dara menangis, kesempatan untuk Daniel menerobos masuk tanpa permisi.

"Dara kenapa?" tanyanya panik diambang pintu kamar Denisa.

Denisa terperangah Daniel lancang masuk ke rumahnya, terutama kamarnya, dengan cepat Denisa menutup pintu.

Bugghhhh

Terdengar suara pintu dibanting, Daniel memejam merasa bersalah.

"Kenapa lancang masuk rumah orang tanpa permisi? Aku sudah bilang, tunggulah diluar, kenapa masuk?"

"Maaf Mi. Aku cuma khawatir, oke aku keluar."

Denisa melihat wajah Dara yang bingung, lalu menyender dibalik pintu.

"Mi om itu sudah datang?" Denisa menghampiri Dara. Ternyata Dara mengompol, dia menangis takut Denisa marah.

"Kita mandi ya. Dara nggak papa kalau mau main sama om baik. Mami tetap harus kerja. Dara juga nggak papa nggak masuk sekolah, udah nggak pusing kan?"

Dara menggeleng, tentu anak seusianya masih bingung dengan perubahan sikap maminya yang mengizinkanya jalan dengan orang asing, Denisa selama ini begitu protektif terhadap Dara, sampai mencari pengasuh untuk Dara saja baru kali ini dia percaya karena mama dari teman baiknya. Tapi untuk bertanya langsung, Dara tak bisa, dia hanya dituntut untuk patuh dan menurut.

Dua puluh menit berlalu, baik Denisa dan Dara sudah rapi. Denisa bersiap untuk ke rumah sakit, karena pagi ini dia dapat sift masuk, dan diklinik sift siang.

Dimeja sudah siap sarapan untuk dia dan Dara. Mereka sarapan bertiga bersama Nani.

"Dia sudah disediain makanan, Bu?" tanya Denisa sambil menyuapi Dara.

"Sudah Nis."

"Kemanapun dia bawa Dara, Ibu ikut ya?"

"Dara kan udah bilang Mi. Nggak mau keluar sama orang kalau nggak sama Mami."

"Untuk sama om baik itu nggak papa sayang, Mami izinin."

"Tapi Dara nggak mau?" Dara melipat tangan didada dengan wajah cemberut lucu.

Denisa mengehela nafas dan saling pandang dengan Nani. "Yasudah, kita lihat saja nanti ya sayang," usap Denisa rambut Dara.

Daniel tentu mendengar obrolan itu, mendengar penolakan Dara dia tak sedih, malah tersenyum senang dengan banyaknya ide briliant dan banyaknya rencana kedepannya.

NB : Mau tanya donk! Disini kali aja ada yang tinggal dibatam. Aku udah cari tau, katanya Batam-Singapura mau dibuatkan jembatan penghubung. Sebagian ada jawaban yang sudah dibangun, tapi sebagian lagi ada yang jawab nggak ada sama sekali.

Terpopuler

Comments

TongTji Tea

TongTji Tea

naaah kasih paham Tuh Duda ,Wahyu! emang badak ko sikuda ini ...hiih

2024-11-07

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

teussabar

2024-05-18

0

Winarsih

Winarsih

belum ada mb,,aku tinggal di Singapura sekarang 🤭

2024-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Halusinasi
2 Pertemuan Pertama
3 Hari Untuk Dara
4 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5 Sapaan Pertama
6 Penyesalan Daniel
7 Mantan (Menantang dan menarik)
8 Maaf
9 Make Her Jealous
10 Dara Sakit
11 My Lup handsome
12 Anak Kita
13 Seperti Senja
14 Mendatangi Rumahnya
15 Penolakan Dara.
16 Beri Aku Kesempatan
17 Membuang Rasa
18 Dua Tato
19 Senam Jantung
20 Status Yang Sesungguhnya
21 Luka Hati Amanda.
22 Wanita Yang Sama
23 Kesempatan Kedua
24 Belajar Dari Kesalahan
25 Rencana Amanda.
26 Mama Dina
27 Aku serius Mas!
28 Om Papi
29 Kedatangan Tamu
30 Hal Yang Ditakuti
31 Dara atau Amanda
32 Kekejaman Abian
33 Keputusan Denisa
34 Sikap Aneh Daniel
35 Doa Denisa
36 S4bu Raijua
37 Sorgum
38 Tak Mengenal
39 Badai Rumah Tangga
40 Selingkuh Itu Menantang
41 Menunggu
42 Kemurkaan Dina
43 Kerokan
44 Permusuhan Dua Keluarga
45 Pesan Ricko
46 Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47 Pulang
48 Menyembuhkan Amanda
49 Video Call
50 Tidak Ada Yang Sempurna
51 Lupa Mengabari
52 Masalah Gawat
53 Cinta Tak Ada Logika
54 Memberi Hukuman
55 Love is Blind
56 Berjuang Bersama
57 Usaha Daniel dan Ricko
58 Kenakalan Denisa
59 Resepsi
60 Maaf
61 Simulasi Keluarga Bahagia
62 Aa Abian
63 Puasa Dua Hari
64 Time with Sisters
65 Ijab Kabul
66 Akhirnya
67 Obat Sakit Kepala
68 Ada Setan
69 Bulan Madu
70 Hujan Kejutan
71 Permintaan Sisi
72 Dia Yang Sudah Bahagia
73 Gara-gara Buah Aneh
74 Eksekusi
75 Mual
76 Hamil?
77 Cinta Itu Universal
78 Akan Mencari Tahu
79 Mengakui
80 Buah Kesemek
81 Hari Pernikahan
82 Bencana Untuk Daniel
83 Say goodbye Amanda
84 Nikmat Kasih Sayang
85 Danish Reifansyah Danuarta
86 Extra Part
87 Extra Part ( End )
88 Sepasang Sayap Angkasa
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Halusinasi
2
Pertemuan Pertama
3
Hari Untuk Dara
4
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5
Sapaan Pertama
6
Penyesalan Daniel
7
Mantan (Menantang dan menarik)
8
Maaf
9
Make Her Jealous
10
Dara Sakit
11
My Lup handsome
12
Anak Kita
13
Seperti Senja
14
Mendatangi Rumahnya
15
Penolakan Dara.
16
Beri Aku Kesempatan
17
Membuang Rasa
18
Dua Tato
19
Senam Jantung
20
Status Yang Sesungguhnya
21
Luka Hati Amanda.
22
Wanita Yang Sama
23
Kesempatan Kedua
24
Belajar Dari Kesalahan
25
Rencana Amanda.
26
Mama Dina
27
Aku serius Mas!
28
Om Papi
29
Kedatangan Tamu
30
Hal Yang Ditakuti
31
Dara atau Amanda
32
Kekejaman Abian
33
Keputusan Denisa
34
Sikap Aneh Daniel
35
Doa Denisa
36
S4bu Raijua
37
Sorgum
38
Tak Mengenal
39
Badai Rumah Tangga
40
Selingkuh Itu Menantang
41
Menunggu
42
Kemurkaan Dina
43
Kerokan
44
Permusuhan Dua Keluarga
45
Pesan Ricko
46
Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47
Pulang
48
Menyembuhkan Amanda
49
Video Call
50
Tidak Ada Yang Sempurna
51
Lupa Mengabari
52
Masalah Gawat
53
Cinta Tak Ada Logika
54
Memberi Hukuman
55
Love is Blind
56
Berjuang Bersama
57
Usaha Daniel dan Ricko
58
Kenakalan Denisa
59
Resepsi
60
Maaf
61
Simulasi Keluarga Bahagia
62
Aa Abian
63
Puasa Dua Hari
64
Time with Sisters
65
Ijab Kabul
66
Akhirnya
67
Obat Sakit Kepala
68
Ada Setan
69
Bulan Madu
70
Hujan Kejutan
71
Permintaan Sisi
72
Dia Yang Sudah Bahagia
73
Gara-gara Buah Aneh
74
Eksekusi
75
Mual
76
Hamil?
77
Cinta Itu Universal
78
Akan Mencari Tahu
79
Mengakui
80
Buah Kesemek
81
Hari Pernikahan
82
Bencana Untuk Daniel
83
Say goodbye Amanda
84
Nikmat Kasih Sayang
85
Danish Reifansyah Danuarta
86
Extra Part
87
Extra Part ( End )
88
Sepasang Sayap Angkasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!