Maaf

Denisa berdiri didepan kamar nomor 031 dilantai dua, sambil menenteng tas yang berisi peralatan dokternya. Dia sudah menekan bel tiga kali, tapi belum di buka oleh sang empunya.

Ceklek, akhirnya.

Pintu terbuka, muncul laki-laki berwajah oriental dengan kaca mata bening membingkai wajahnya yang putih mulus, terlihat sangat cocok dengannya, terlihat seperti opa-opa korea.

Laki-laki itu tersenyum, sangat manis, dia memperhatikan penampilan Denisa dari atas sampai bawah.

"Cantik," itu yang pertama terucap dari hatinya.

Diamatinya penampilan Denisa mengenakan rok span sebetis berwarna navy, dengan kemeja berwarna senada yang dibungkus jas putih khas dokter. Rambutnya yang panjang diikat tinggi hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus, tidak akan ada yang percaya kalau dia janda anak satu, kelihatan seperti baru lulus kuliah, tapi emang belum lama lulusan?

"An*ay, sempurna, wangi," pujinya dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar Denisa.

"Hah!" terkejut Denisa karena ucapan laki-laki itu memang tidak terlalu jelas, "apa Pak?"

"Ahh tidak-tidak," Wahyu mengibaskan tangannya didepan wajah.

"Ini Dengan Pak Wahyu kan?" Denisa memastikan.

"Ehem benar. Dokter Denisa Puspitasari?"

Denisa tersenyum, lalu mengangguk "Iya, bapak yang menghubungi klinik Harapan Pelita?"

Wahyu pun mengangguk cepat. "I-iya, silahkan masuk," Wahyu memundur langkahnya memberi akses untuk Denisa masuk, "silahkan Dok, yang sakit sebenarnya, teman saya. Dia panas tinggi sejak semalam sampai mengigau. Mari saya antar ke kamarnya."

Denisa mengikuti langkah Wahyu memasuki kamar dengan pintu berwarna coklat yang masih tertutup rapat itu.

Saat pintu terbuka, Denisa terpatri di tempatnya karena melihat wajah laki-laki yang sangat ia kenal, bagaimana tidak ia kenal? Dia tumbuh subur selama beberapa tahun belakangan, tapi kini tak ia beri pupuk lagi, jadi sudah mati, tak akan tumbuh lagi, mungkin.

Mata laki-laki itu terpejam dengan wajah yang ... tak terlihat sakit sedikitpun.

"Silahkan diperiksa Bu, teman saya, dia sering begini jika habis bermimpi ada anak kecil yang memanggilnya 'papi'. Kasihan sekali teman saya ini, sudah hampir lima tahun bermimpi seperti itu." Jelas Wahyu yang dirasakan Daniel, dia memasang wajah sedih yang sangat didramatisir.

Denisa mendengus, apakah Daniel benar-benar sakit? Mimpi itu, mana ada mimpi yang seperti itu.

Denisa masih berdiri diambang pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah, seperti ada yang menggendoli.

"Saya tinggal ambil air minum dulu ya Bu Dokter, eh mau kopi, atau susu? Atau-"

"Air putih aja," sela Denisa cepat.

"Tenang Dok, nggak akan saya kasih apa-apa minumannya, mana berani saya, apalagi Dokter udah pasti tahu kalau di minumannya ada yang mencurigakan, iya kan?"

Denisa hanya menaggapi dengan senyuman tipis.

Uhuk... uhuk... uhuk...

Daniel batuk yang dibuat-buat, karena kesal pada Wahyu yang banyak berbasa-basi pada Denisa. Kemudian dia membuka matanya, dan langsung menatap Denisa, wajahnya di buat seterkejut mungkin.

"Loh Denisa, kok kamu disini?" tanyanya dengan suara yang terdengar serak, gara-gara batuk yang dipaksakan.

Walau ragu, akhirnya Denisa mendekat dan duduk dilantai bawah tempat tidur Daniel, meletakkan tas peralatannya, mengambil alat pengukur suhu. Kemudian dia berdiri.

"Teman anda menelepon klinik tempat saya bekerja," Denisa berbicara formal, "maaf," ujarnya meletakkan alat itu didepan kening Daniel, Denisa sedikit menundukkan badannya tanpa duduk disisi ranjang, sebisa mungkin Denisa tak menatap mata laki-laki tampan itu.

Sementara Daniel terus menikmati wajah cantik didepanya dalam diam. Denisa sangat cuek dan dingin padanya, jadi membuatnya gemas.

Daniel merasakan ada getar aneh yang mengusik hatinya saat wajah cantik itu didekatnya, bahkan parfum Denisa sangat sopan masuk kehidungnya.

Seketika alis Denisa bertaut sàat hasil pemeriksaannya tak sama dengan penjelasan teman Daniel, harusnya kalau sampai mengigau tubuhnya masih panas, tapi ini sangat normal.

"Katanya bapak semalam panas sampai mengigau, tapi sekarang sudah normal lagi," Denisa melirik Daniel sekilas, namun Daniel membuang muka,

"Selama lima tahun aku terus bermimpi suara anak kecil memanggil ku papi," ucap Daniel kemudian.

Tangan Denisa yang sedang mengambil obat sontak berhenti mendengar pengakuan mantan suaminya, namun dia tak perdulikan itu.

"kalau begitu saya kasih vitamin aja, dan obat penurun panasnya diminum saat anda merasakan panas lagi saja." lanjutnya pura-pura tak mendengar.

Denisa kemudian menulis resep, karena sejak awal sudah diberi tahu gejalanya, jadi Denisa sudah membawa obat yang dibutuhkan tanpa harus menebus ke apotik.

Daniel terus memperhatikan apa yang dilakukan Denisa, Denisa yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Denisa yang dulu, dulu Denisa begitu perhatian padanya, namun sekarang wanita yang pernah menjadi istrinya itu nampak asing padanya.

"Vitaminnya jangan lupa diminum ya Pak, jangan lupa minum air putih yang banyak, dan istirahat yang cukup."

Denisa mulai merapikan peralatannya, dia benar-benar tak perduli jika laki-laki yang pura-pura sakit itu terus memperhatikannya, dia harus cepat pergi dari sini.

"Semoga anda lekas sembuh Pak." Denisa berpamitan.

Namun saat akan beranjak dan bersiap keluar pergelangan tangannya dicekal oleh Daniel.

"Kapan kamu akan mempertemukan aku dengan anakku, Denisa?" matanya menatap tajam Denisa.

Denisa melihat tangannya yang dipegang Daniel, kemudian menatap Daniel.

Denisa menyentak nafas kasar "Aku bilang aku butuh waktu." Denisa hendak melepaskan tangannya dari Daniel, tapi Daniel semakin mengeratkan pegangannya, Denisa memelototkan matanya.

"Apa benar kamu bilang sama Dara kalau aku sudah mati, Denisa?"

"Dan apa aku harus ulang jika itu jawaban terbaik untuk kami saat ini."

"Kamu memang wanita paling kejam, Denisa. Kamu datang padaku, menjebakku dengan cara licik mu sampai aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Dan kamu bilang padanya bahwa aku sudah MATI?"

"LANTAS AKU HARUS BILANG APA? Harus aku katakan padanya bahwa ayahnya tak mengharapkan kehadirannya? Aku tahu aku salah, tapi aku mengatakan itu karena aku tidak mau mengharapkan apa-apa. Ini salah ku, dan aku tidak ingin mengganggu hidup anda lagi. Biarkan kami hidup tenang, kami tidak akan mengharapkan apa-apa."

Daniel bangun dari tidurnya, menatap nyalang wanita yang berani berteriak padanya.

"Mudah kamu mengatakan itu, Denisa. Kamu bilang aku tidak mengharapkan kehadirannya? Kamu egois Denisa, kamu WANITA EGOIS!"

Daniel berteriak didepan wajah Denisa, membuat Denisa memejamkan matanya kuat karena takut. Dada Daniel sampai naik turun karena emosi.

Tanpa terasa bulir kristal Denisa mengalir tanpa permisi, dan Daniel tidak perduli itu.

"Kamu tahu aku tersiksa selama ini, Denisa. Aku aku tidak pernah tidur nyenyak karena suara itu terus memanggil ku 'PAPI'. Kamu tidak merasakan itu Denisa. AKU TERSIKSA." Daniel memukul dadanya, "kamu hanya tahu luka mu, tanpa perduli luka orang lain." Daniel

"Terus aku harus apa? Aku sudah pergi menjauh agar tidak mengganggu mu. Aku sadar diri karena kehadiran ku tidak diharapkan. Aku mencoba menebus semua kesalahan ku dengan menjauh, apa aku salah lagi? Andai waktu bisa di putar, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Aku tahu aku bodoh, merugikan banyak orang termasuk anda. Aku tahu aku salah maka dari itu anggap kita tidak saling mengenal. Anggap kami tidak pernah ada."

Denisa menunduk, dia terisak, "Aku salah Kak, aku minta maaf." Lirihnya dengan tubuh bergetar.

Daniel menelan ludah, dia tak tahu harus apa melihat Denisa menangis seperti ini. Tapi sudut hatinya ingin dia membawa Denisa kedalam pelukanya.

Tiba-tiba terdengar suara Amanda memanggilnya.

"Mas, mas Daniel. Kamu dimana Mas?"

Tok tok tok.

"Kamu didalam Mas? Aku masuk ya?"

Terpopuler

Comments

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussehst

2024-05-18

0

my name

my name

mampus ada amanda 🤦‍♀️ apa jadinya sekarang

2024-04-23

0

£rvina

£rvina

aku deg2an....

2024-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Halusinasi
2 Pertemuan Pertama
3 Hari Untuk Dara
4 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5 Sapaan Pertama
6 Penyesalan Daniel
7 Mantan (Menantang dan menarik)
8 Maaf
9 Make Her Jealous
10 Dara Sakit
11 My Lup handsome
12 Anak Kita
13 Seperti Senja
14 Mendatangi Rumahnya
15 Penolakan Dara.
16 Beri Aku Kesempatan
17 Membuang Rasa
18 Dua Tato
19 Senam Jantung
20 Status Yang Sesungguhnya
21 Luka Hati Amanda.
22 Wanita Yang Sama
23 Kesempatan Kedua
24 Belajar Dari Kesalahan
25 Rencana Amanda.
26 Mama Dina
27 Aku serius Mas!
28 Om Papi
29 Kedatangan Tamu
30 Hal Yang Ditakuti
31 Dara atau Amanda
32 Kekejaman Abian
33 Keputusan Denisa
34 Sikap Aneh Daniel
35 Doa Denisa
36 S4bu Raijua
37 Sorgum
38 Tak Mengenal
39 Badai Rumah Tangga
40 Selingkuh Itu Menantang
41 Menunggu
42 Kemurkaan Dina
43 Kerokan
44 Permusuhan Dua Keluarga
45 Pesan Ricko
46 Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47 Pulang
48 Menyembuhkan Amanda
49 Video Call
50 Tidak Ada Yang Sempurna
51 Lupa Mengabari
52 Masalah Gawat
53 Cinta Tak Ada Logika
54 Memberi Hukuman
55 Love is Blind
56 Berjuang Bersama
57 Usaha Daniel dan Ricko
58 Kenakalan Denisa
59 Resepsi
60 Maaf
61 Simulasi Keluarga Bahagia
62 Aa Abian
63 Puasa Dua Hari
64 Time with Sisters
65 Ijab Kabul
66 Akhirnya
67 Obat Sakit Kepala
68 Ada Setan
69 Bulan Madu
70 Hujan Kejutan
71 Permintaan Sisi
72 Dia Yang Sudah Bahagia
73 Gara-gara Buah Aneh
74 Eksekusi
75 Mual
76 Hamil?
77 Cinta Itu Universal
78 Akan Mencari Tahu
79 Mengakui
80 Buah Kesemek
81 Hari Pernikahan
82 Bencana Untuk Daniel
83 Say goodbye Amanda
84 Nikmat Kasih Sayang
85 Danish Reifansyah Danuarta
86 Extra Part
87 Extra Part ( End )
88 Sepasang Sayap Angkasa
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Halusinasi
2
Pertemuan Pertama
3
Hari Untuk Dara
4
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5
Sapaan Pertama
6
Penyesalan Daniel
7
Mantan (Menantang dan menarik)
8
Maaf
9
Make Her Jealous
10
Dara Sakit
11
My Lup handsome
12
Anak Kita
13
Seperti Senja
14
Mendatangi Rumahnya
15
Penolakan Dara.
16
Beri Aku Kesempatan
17
Membuang Rasa
18
Dua Tato
19
Senam Jantung
20
Status Yang Sesungguhnya
21
Luka Hati Amanda.
22
Wanita Yang Sama
23
Kesempatan Kedua
24
Belajar Dari Kesalahan
25
Rencana Amanda.
26
Mama Dina
27
Aku serius Mas!
28
Om Papi
29
Kedatangan Tamu
30
Hal Yang Ditakuti
31
Dara atau Amanda
32
Kekejaman Abian
33
Keputusan Denisa
34
Sikap Aneh Daniel
35
Doa Denisa
36
S4bu Raijua
37
Sorgum
38
Tak Mengenal
39
Badai Rumah Tangga
40
Selingkuh Itu Menantang
41
Menunggu
42
Kemurkaan Dina
43
Kerokan
44
Permusuhan Dua Keluarga
45
Pesan Ricko
46
Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47
Pulang
48
Menyembuhkan Amanda
49
Video Call
50
Tidak Ada Yang Sempurna
51
Lupa Mengabari
52
Masalah Gawat
53
Cinta Tak Ada Logika
54
Memberi Hukuman
55
Love is Blind
56
Berjuang Bersama
57
Usaha Daniel dan Ricko
58
Kenakalan Denisa
59
Resepsi
60
Maaf
61
Simulasi Keluarga Bahagia
62
Aa Abian
63
Puasa Dua Hari
64
Time with Sisters
65
Ijab Kabul
66
Akhirnya
67
Obat Sakit Kepala
68
Ada Setan
69
Bulan Madu
70
Hujan Kejutan
71
Permintaan Sisi
72
Dia Yang Sudah Bahagia
73
Gara-gara Buah Aneh
74
Eksekusi
75
Mual
76
Hamil?
77
Cinta Itu Universal
78
Akan Mencari Tahu
79
Mengakui
80
Buah Kesemek
81
Hari Pernikahan
82
Bencana Untuk Daniel
83
Say goodbye Amanda
84
Nikmat Kasih Sayang
85
Danish Reifansyah Danuarta
86
Extra Part
87
Extra Part ( End )
88
Sepasang Sayap Angkasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!