Hari Untuk Dara

Denisa tersenyum puas melihat jadwalnya yang sekarang sudah teratur, dia akan meluangkan waktu satu hari dalam seminggu untuk Dara. Jika biasanya setiap weekend dia ikut dalam organisasi yang dibuat dokter Ricko dan ayahnya, kini dia hanya bisa ikut pada hari sabtu.

Organisasi yang dibuat dokter Ricko ialah memberikan pengobatan gratis di sebuah desa yang ada di Batam. Jarak desa itu dari tempat tinggal Denisa sekitar dua jam.

Denisa pikir kapan lagi dia bisa membantu sesama jika bukan dari sekarang, memang salahnya telah memiliki anak di usia muda, jadi dia tidak seperti temannya yang lain, saat seusianya sudah banyak mengikuti kegiatan sosial, sedang dia harus membanting tulang demi memenuhi hidupnya dan Dara, nasib janda muda.

Tapi Denisa juga harus memikirkan kebahagiaan Dara, sehari dalam seminggu waktu yang dibutuhkan Dara darinya.

Denisa menoleh pada ranjang, Dara sudah terlelap dengan buku didadanya, Denisa mendorong kursi dan beranjak naik keatas ranjang, mengambil buku dan meletakkan di meja kerja yang berada dikamarnya, kemudian dia menatapi lamat-lamat wajah polos Dara yang tertidur pulas dengan sedikit dengkuran halus terdengar.

Denisa menitikkan air mata, begitu banyak dosa yang telah ia berikan pada Dara, sering memarahi, melarang ini itu dengan alasan demi kebaikan sang putri, ada rasa sesal saat ia melakukan itu, dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Denisa merapikan poni yang menutupi wajah Dara, ternyata sudah panjang, dia kurang memperhatikan anaknya sendiri, Denisa mengecup kening anaknya lama. Ia menghapus air matanya, lalu menutup tubuh Dara dengan selimut, kemudian dia beranjak kekamar mandi mensucikan diri sebelum ikut bergabung dengan anaknya.

Esok dia akan memberikan kejutan pada Dara.

Kini dia sendiri tak bisa terejam, dia yang akan memberikan kejutan, tapi rasa bahagia Dara sudah bisa ia bayangkan, anaknya itu pasti akan memujinya besok, dia dan Dara lebih sering bertengkar dari pada memuji satu sama lain.

Ahh, tak ada yang bisa di puji dari seorang ibu pengejar workholic sepertinya. Denisa tersenyum kecil menatapi langit kamarnya, dia rindu keluarganya, rindu cerewet mamanya, rindu bertengkar dengan Delia, dan rindu ceramah sih sok bijak Dania. Sudah berapa tahun mereka tidak bertemu, entah Dara mengingat wajah saudaranya atau tidak? Keinginannya yang ingin melupakan seseorang membuatnya harus menghilang, dan meminta untuk saudaranya untuk tidak sering menemuinya, sesulit itu ia menghapus jejak orang yang tak menginginkan kehadirannya.

Kesuraman dulu telah berlalu, kini saatnya dia menyambut masa depan yang lebih baik bersama Dara Danuarta, walau Denisa membenci laki-laki itu, tapi tak ada alasan untuknya untuk tidak menyematkan nama ayah biologis dibelakang nama Dara.

Benci saat tahu Daniel pernah akan melecehkan kakaknya karena kesalahannya, Denisa yang waktu itu tak sengaja mencuri dengar obrolan Abian saat menelepon seseorang ketika Delia dan Abian mengunjunginya di ulang tahun Dara yang genap berusia dua tahun.

Lelah memikirkan jalan hidupnya yang cukup sulit, tanpa sadar terpejam kini dia terpejam dengan sendirinya.

Pukul enam pagi, Denisa membangunkan Dara.

"Sayang, Daraaa ayo bangun Mami sudah kesiangan, kamu Mami titipkan lagi dipenitipan."

Bocah cantik warisan ayah dan ibunya itu mengerjapkan mata, matanya menyipit saat terang cahaya lampu menyoroti bola mata coklatnya.

"Mi, memang kemana Bu Nani, kok Dara dipenitipan lagi?" tanyanya dengan suara serak khas anak kecil bangun tidur, dia langsung menegakkan tubuhnya saat menyadari kesalahannya "Mami pecat Bi Nani?" tuduhnya langsung takut-takut jika maminya tahu dia pernah minta es krim pada orang asing.

"Tadaaa," Denisa merentangkan tangan menunjukkan sebuah sepeda berwarna biru gambar kartun kesayangan Dara, "mulai sekarang Mami ambil libur di hari minggu, nggak ada lagi kegiatan sosial, Mami mau menghabiskan waktu bersama princess Mami yang paling cantik sedunia."

Mata yang sepenuhnya terbuka itu kini melebar "Mami ini beneran?"

"Iya donk sayang," Denisa mengulurkan tangan untuk Dara memeluknya. Dan bocah kecil itu lompat dari tempat tidur, langsung masuk kedalam pelukan sang mami.

"Dara happy?" Dara mengangguk, "Mami tunggu kamu mandi dan pakai baju olahraga yang sudah Mami siapkan."

"Thank you Mami, i love you," ciumnya seluruh wajah Denisa, mata Denisa dibuat berkaca-kaca atas tingkah anaknya, memang jarang sekali dia membawa Dara hanya sekedar bersepeda bersama.

* * *

Sudah satu jam mereka berkeliling sebuah taman didekat komplek perumahan mereka, Denisa sendiri sudah sangat merasakan pegal di betisnya tapi tidak dengan Dara, dia masih begitu bersemangat, dia bak sebuah ponsel yang baru diisi daya.

Walau sudah merasa sangat lelah, Denisa masih sabar menemani anaknya itu, dia sadar, selain tidak memiliki waktu yang banyak bersama Dara, Denisa juga menyadari jika dia kurang berolahraga.

Matahari semakin naik, mereka pun makan siang bersama disebuah warung makan pindang yang cukup terkenal, keduanya menyantap makanan seraya berbagi cerita, bercanda dan melakukan banyak hal seperti layaknya teman, mulai hari ini, Denisa berjanji akan selalu membuat putrinya itu tertawa. Kemudian dia melakukan panggilan video pada nenek Awan, memberitahu jika mereka sangat bahagia.

Sehabis dari makan siang mereka kini mereka menuju pelabuhan yang menghubungkan ke suatu negara tetangga.

Sengaja Denisa tidak membawa kendaraan sendiri, dia ingin menikmati waktu bersamanya dengan Dara, saat berada didalam taksi, gadis kecil itu terlelap dipangkuanya sebab kelelahan.

Hingga ponsel Denisa berdering, panggilan dari dokter Ricko.

"Halo Dok," jawab Denisa panggilan itu.

"Hai Nisa, kalian sedang dimana?"

"Kami lagi dijalan menuju Harbour Bay Dok, apa ada sesuatu yang penting Dok?"

"Oh tidak Nisa, tidak ada apa-apa, maaf mengganggu waktu liburan kalian, selamat bersenang-senang ya, salam untuk si cantik Dara." Dokter Ricko itu mematikan panggilannya seketika, Denisa mengendikkan bahu, mungkin dokter Ricko hanya menyapa, tidak ada sesuatu yang begitu penting atau mendesak, jika tidak dia pasti sudah memintanya datang seperti sebelum-sebelumnya

Hingga tibalah mereka pada sebuah pelabuhan yang sangat bersih dan indah, gedung-gedung tinggi menyambut kedatangan mereka.

Denisa menggendong Dara yang masih terpejam, namun tak lama ia mengerjap membuka matanya.

"Mi, kita sudah sampai?"

"Yes, kita akan melihat kapal besar."

"Aku mau turun," dia langsung meloncat dan berlari kegirangan.

"Jangan lari-lari, Dara."

"Iya Mi," sahutnya masih berlari membuat Denisa ikut berlari mengejar langkah kecil Dara.

Gadis itu benar-benar bak burung keluar dari sangkarnya, lima tahun diusianya baru kali ini dia bisa melihat pelabuhan yang suka diceritakan temannya.

"Yeayyy, Mi foto aku. Nanti Dara akan tunjuk teman Dara kalau Dara sudah liat kapal besar macam mereka."

Denisa mengulas senyum, ia tak tahu seperti apa Dara disekolahnya, sampai sangat sering Dara menceritakan perihal temannya, Denisa juga tak tahu apakah Dara mengalami pembulyan atau semacamnya? Tapi Denisa selalu mengajarkan, jika ada yang berani menyentuhnya maka Dara tak boleh menangis, dia harus membalasnya, ya memang ajaran kurang baik, tapi itu pilih terbaik.

Setelah puas berkeliling pelabuhan, kini mereka duduk disebuah Cafe yang menyajikan pemandangan Marina Bay Sand yang sangat indah sambil memakan es kirim.

"Mi, boleh Dara kesana?"

"Boleh, kita akan kesana berdua."

"Bertiga sama papi seperti teman-teman Dara yang lain."

Denisa tak lagi menanggapi perkataan Dara. Dia menatap jauh didepanya, sambil menyendok es krim miliknya.

"Lupakan Mi jika Mami tidak suka bicara Dara." Denisa menoleh pada anaknya, belum sempat Denisa membuka mulutnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang ikut duduk bersama mereka.

"Dokter Ricko?" terkejut karena dikiranya dokter Ricko masih praktek.

"Boleh saya ikut bergabung?" Izinnya dan Denisa mengangguk.

"Dokter kok bisa ada disisi?"

"Tadi kebetulan lewat, jadi aku mampir ingat jika kamu dan Dara sedang disini?" Bohongnya, padahal dia tak bisa konsentrasi bekerja sebab wajah cantik yang biasa ia lihat tidak ada. "Hai cantik, kamu semakin besar saja, lama Om tidak ketemu kamu." menjawel pipi putih kemerahan Dara sebab sinar matahari.

"Aku bikin kangen ya Om?" ceplos bocah itu polos.

Denisa dan Ricko tertawa, kedatangan dokter Ricko membuat Denisa sedikit tidak merasa kesepian.

"Dok, saya titip Dara sebentar, saya mau ketoilet," Denisa beralih menatap Dara "Mami ke toilet sebentar ya sayang, kamu sama dokter Ricko, jangan kemana-mana, oke," usak Denisa rambut anaknya, dan Dara mengangguk.

Tak lama Denisa kembali, kini yang bersama anaknya bukanlah hanya dokter Ricko melainkan ada Amanda dan seorang laki-laki yang dari gestur tubuhnya seperti ia kenali.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

wah wah bertemu masa lalu

2025-03-12

0

Ica Warnita

Ica Warnita

apakah aku bertetangga dngn danisa.

2024-06-23

1

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussehat

2024-05-18

0

lihat semua
Episodes
1 Halusinasi
2 Pertemuan Pertama
3 Hari Untuk Dara
4 Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5 Sapaan Pertama
6 Penyesalan Daniel
7 Mantan (Menantang dan menarik)
8 Maaf
9 Make Her Jealous
10 Dara Sakit
11 My Lup handsome
12 Anak Kita
13 Seperti Senja
14 Mendatangi Rumahnya
15 Penolakan Dara.
16 Beri Aku Kesempatan
17 Membuang Rasa
18 Dua Tato
19 Senam Jantung
20 Status Yang Sesungguhnya
21 Luka Hati Amanda.
22 Wanita Yang Sama
23 Kesempatan Kedua
24 Belajar Dari Kesalahan
25 Rencana Amanda.
26 Mama Dina
27 Aku serius Mas!
28 Om Papi
29 Kedatangan Tamu
30 Hal Yang Ditakuti
31 Dara atau Amanda
32 Kekejaman Abian
33 Keputusan Denisa
34 Sikap Aneh Daniel
35 Doa Denisa
36 S4bu Raijua
37 Sorgum
38 Tak Mengenal
39 Badai Rumah Tangga
40 Selingkuh Itu Menantang
41 Menunggu
42 Kemurkaan Dina
43 Kerokan
44 Permusuhan Dua Keluarga
45 Pesan Ricko
46 Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47 Pulang
48 Menyembuhkan Amanda
49 Video Call
50 Tidak Ada Yang Sempurna
51 Lupa Mengabari
52 Masalah Gawat
53 Cinta Tak Ada Logika
54 Memberi Hukuman
55 Love is Blind
56 Berjuang Bersama
57 Usaha Daniel dan Ricko
58 Kenakalan Denisa
59 Resepsi
60 Maaf
61 Simulasi Keluarga Bahagia
62 Aa Abian
63 Puasa Dua Hari
64 Time with Sisters
65 Ijab Kabul
66 Akhirnya
67 Obat Sakit Kepala
68 Ada Setan
69 Bulan Madu
70 Hujan Kejutan
71 Permintaan Sisi
72 Dia Yang Sudah Bahagia
73 Gara-gara Buah Aneh
74 Eksekusi
75 Mual
76 Hamil?
77 Cinta Itu Universal
78 Akan Mencari Tahu
79 Mengakui
80 Buah Kesemek
81 Hari Pernikahan
82 Bencana Untuk Daniel
83 Say goodbye Amanda
84 Nikmat Kasih Sayang
85 Danish Reifansyah Danuarta
86 Extra Part
87 Extra Part ( End )
88 Sepasang Sayap Angkasa
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Halusinasi
2
Pertemuan Pertama
3
Hari Untuk Dara
4
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
5
Sapaan Pertama
6
Penyesalan Daniel
7
Mantan (Menantang dan menarik)
8
Maaf
9
Make Her Jealous
10
Dara Sakit
11
My Lup handsome
12
Anak Kita
13
Seperti Senja
14
Mendatangi Rumahnya
15
Penolakan Dara.
16
Beri Aku Kesempatan
17
Membuang Rasa
18
Dua Tato
19
Senam Jantung
20
Status Yang Sesungguhnya
21
Luka Hati Amanda.
22
Wanita Yang Sama
23
Kesempatan Kedua
24
Belajar Dari Kesalahan
25
Rencana Amanda.
26
Mama Dina
27
Aku serius Mas!
28
Om Papi
29
Kedatangan Tamu
30
Hal Yang Ditakuti
31
Dara atau Amanda
32
Kekejaman Abian
33
Keputusan Denisa
34
Sikap Aneh Daniel
35
Doa Denisa
36
S4bu Raijua
37
Sorgum
38
Tak Mengenal
39
Badai Rumah Tangga
40
Selingkuh Itu Menantang
41
Menunggu
42
Kemurkaan Dina
43
Kerokan
44
Permusuhan Dua Keluarga
45
Pesan Ricko
46
Wanita Berhati Malaikat, Menjadi Wanita Menakutkan
47
Pulang
48
Menyembuhkan Amanda
49
Video Call
50
Tidak Ada Yang Sempurna
51
Lupa Mengabari
52
Masalah Gawat
53
Cinta Tak Ada Logika
54
Memberi Hukuman
55
Love is Blind
56
Berjuang Bersama
57
Usaha Daniel dan Ricko
58
Kenakalan Denisa
59
Resepsi
60
Maaf
61
Simulasi Keluarga Bahagia
62
Aa Abian
63
Puasa Dua Hari
64
Time with Sisters
65
Ijab Kabul
66
Akhirnya
67
Obat Sakit Kepala
68
Ada Setan
69
Bulan Madu
70
Hujan Kejutan
71
Permintaan Sisi
72
Dia Yang Sudah Bahagia
73
Gara-gara Buah Aneh
74
Eksekusi
75
Mual
76
Hamil?
77
Cinta Itu Universal
78
Akan Mencari Tahu
79
Mengakui
80
Buah Kesemek
81
Hari Pernikahan
82
Bencana Untuk Daniel
83
Say goodbye Amanda
84
Nikmat Kasih Sayang
85
Danish Reifansyah Danuarta
86
Extra Part
87
Extra Part ( End )
88
Sepasang Sayap Angkasa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!