Tadinya dua makhluk itu tak ingin bicara padanya, tapi setelah diberi makanan, mereka memberitahunya sebuah informasi.
Lin Feili mengerutkan kening, "Tidak sederhana bagaimana?"
Si hitam menjawab, "Kultivasinya sangat kuat bahkan di umur segitu. Jika dibandingkan dengan Nona, perbedaannya sangat jauh."
"Namun, ia sengaja menekan auranya sehingga tak ada yang menyadari seberapa tinggi tingkat kultivasinya," lanjut si emas menggigit roti terakhirnya.
Lin Feili tak lagi mengerutkan kening. Jika memang Wu Yanshi sekuat itu, tentu saja dia akan baik-baik saja setelah jatuh dari lantai dua dengan keadaan lumpuh.
"Mengapa dia menekan kultivasinya?" pikir Lin Feili.
"Dalam novel, aku tak pernah mengetahui ia orang yang sangat kuat, walau saat itu kami sudah menikah. Sepertinya Wu Yanshi punya banyak rahasia. Ia tak selemah itu. Lalu, seberapa kuat dia sebenarnya?" ucap Lin Feili.
"Sangat kuat!" si emas dan si hitam menjawab dengan serentak.
Memang di umur Wu Yanshi yang sudah mencapai kultivasi tinggi, ia bisa dibilang jenius.
Lin Feili mengangguk, kemudian mengangkat bahu, "Sudahlah. Tidak peduli dia kuat atau tidak."
Ia kembali berjalan menyusuri pasar. Ia mengingat dari novel, ada kebun obat tak jauh dari sini. Kebun obat itu sangat luas dan menjadi penyumbang utama bahan obat untuk rakyat di kekaisaran.
Selain perkebunan, pemiliknya juga membuka toko obat dan ramuan. Di kekaisaran, mereka lah yang nomor satu dalam hal herbal.
*
Lin Feili menatap hamparan kebun yang dipenuhi bahan obat yang sudah sangat dia kenali. Semerbak aroma herbal menguak di hidungnya. Hal-hal ini menenangkan pikirannya.
Selama di kehidupan nyata, ia sudah tinggal di ruangan obat selama bertahun-tahun. Bisa berada di tempat seperti ini adalah hal yang paling membahagiakannya.
"Sepertinya akan menjadi pesta herbal!" ucap Lin Feili girang.
"Nona, Anda tidak punya uang," ucap si emas mengingatkan, tapi dengan nada mengejek.
"Benar, Nona," ucap si hitam dengan nada lesu.
Lin Feili menepuk keningnya. Tadi ia gagal mendapat 100 koin emas dari Wu Yanshi. Ia juga tak punya uang karena ayahnya tak pernah memberinya uang.
Namun, ia memutuskan untuk tetap melihat-lihat. Ia sudah sangat rindu dengan suasana seperti ini.
"Wah, daun penyulihan, akar pionir, buah takdir ...," Lin Feili menggumamkan semua nama tumbuhan yang ia tahu sambil tangannya menyusuri tumbuhan-tumbuhan itu.
"Di sini sangat banyak ginseng. Wah, benar-benar layak menjadi penyumbang utama sebuah kekaisaran," ucap Lin Feili. Matanya berbinar gembira.
Pemilik kebun yang sedang berada di sana memperhatikan Lin Feili yang sangat bersemangat. Ia tersenyum kagum karena Lin Feili bisa menyebutkan nama-nama tumbuhan itu.
"Hai, gadis muda di sana!" teriak pemilik kebun bernama Li Yu.
Lin Feili segera menghampiri pria itu. Ia berwajah bulat dengan rambut dibelah dua. Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di novel, ia mengenali itu adalah pemilik kebun.
"Ya, Tuan pemilik kebun," jawab Lin Feili sopan.
"Jangan panggil aku begitu. Panggil saja aku Paman Yu," ucap Li Yu tertawa ramah.
"Baik, Paman Yu," ucap Lin Feili patuh mengubah panggilannya.
"Kau masih sangat muda. Namun, bakatmu dalam hal obat-obatan begitu mengesankan. Kau mampu menyebutkan semua nama tanaman-tanaman obat itu dengan benar," puji Li Yu.
Ia telah belajar herbal bertahun-tahun. Saat ia seumuran seperti Lin Feili, ia juga anak yang berbakat. Ketika ia menemukan Lin Feili dengan bakat langka seperti ini, tentu saja ia akan sangat terkejut.
"Paman Yu terlalu memujiku," jawab Lin Feili rendah hati.
"Darimana kau belajar herbal ini?" tanya Li Yu yang penasaran.
"Aku belajar herbal sejak kecil. Jadi, aku bisa mengenali tumbuhan-tumbuhan itu dengan baik," jawab Lin Feili.
Di kehidupan nyatanya, ia mempelajari obat dengan para ahli. Ia tinggal di sebuah akademi dan berhasil mendapat gelar 'Dokter Agung' karena kecerdasannya dalam pengobatan.
"Wah, kau sangat hebat. Apa yang kau cari di sini? Apa kau ingin melihat-lihat ramuan dan pil juga?" tanya Li Yu. Ia begitu ramah dengan Lin Feili karena ia merasa bertemu teman lama. Baru kali ini seseorang dalam hal herbal bisa membuatnya terkesan.
"Tentu saja, Paman," jawab Lin Feili tersenyum. Ini adalah kesempatan bagus. Apalagi pemiliknya kelihatan menyukainya. Mungkin saja ia bisa mendapat potongan harga.
*
Jarak perkebunan ke toko tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan, Li Yu begitu bersemangat bercerita tentang herbal dan pengobatan. Ia menjadi semakin kagum setelah mengetahui lebih banyak dari Lin Feili.
Akhirnya mereka tiba di sebuah toko tingkat 3. Toko ini benar-benar besar dan menakjubkan. Dari luar saja sudah terasa bau ramuan yang pekat.
Lin Feili sangat berbinar. Bahkan dua makhluk di kepalanya sudah berisik.
"Ayo, masuk," ucap Li Yu.
Lin Feili mengikutinya dari belakang. Li Yu menunjukkan kartunya pada resepsionis. Ia juga menyuruh resepsionis menyiapkan kartu untuk Lin Feili.
Kali ini keberuntungan berpihak pada Lin Feili. Ia mendapat kartu gratis! Padahal, di novel diceritakan jika membuat kartu sangat mahal.
Namun, ketika melihat harga bahan herbal di sana, mata Lin Feili melotot. Harga-harga ini sangat mahal dibandingkan di Dinasti ke-10! Padahal, berdasarkan cerita Li Yu, ia menyimpulkan jika pengobatan di sini belum semaju Dinasti ke-10. Namun, ia tak menyangka harganya jauh lebih tinggi.
"Gadis muda, apa yang kau cari?" tanya Li Yu.
Mata Lin Feili menyusuri seluruh bahan obat di lantai satu. Ia baru bisa memasuki lantai dua dan tiga jika sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan, yaitu telah berbelanja dengan lebih dari 1.000-2.000 koin emas.
Jadi, Lin Feili hanya bisa melihat bahan obat biasa di sini.
Tak sengaja, mata Lin Feili menatap cahaya kuning keemasan di sudut. Ia mendekat dan melihat itu adalah buah roh. Bahkan harganya hanya 1 perunggu/buah.
"Paman, apa benar harga buah roh ini hanya 1 perunggu?" tanya Lin Feili heran.
"Benar. Buah roh itu tidak ada manfaatnya. Aku mengumpulkannya karena masih ada yang mencarinya. Jika kau ingin, aku bisa memberikannya gratis untukmu," jawab Li Yu.
"Tidak, Paman. Aku akan membelinya. Selain itu, aku juga ingin daun kesejukan, akar 100 tahun, ...," Lin Feili menyebutkan bahan-bahan yang ia lihat murah.
"Baik, aku akan membawakannya untukmu," Li Yu tersenyum.
Lin Feili tak menyangka ternyata belum ada yang menemukan manfaat buah roh. Padahal, di dunia nyata itu sangat mahal dan langka. Walau Lin Feili tidak tahu novel ini berdasarkan kehidupan dinasti pertama yang asli atau hanya karangan.
Keberuntungan lagi-lagi berada di pihak Lin Feili. Ia bisa membuat ramuan tingkat tinggi dengan bahan-bahan yang sangat murah. Orang-orang mungkin tidak tahu manfaat bahan-bahan ini. Tapi ia tahu dengan sangat baik. Dengan begini, ia tidak akan kekurangan uang lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 314 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-08-10
1
Mbah Wiro
lanjuuuuut👍👍
2022-08-22
1
Thr!b!
Up up up Thor
2022-08-14
1