Bab 12 : Salju Pertama.

Satu minggu kemudian.

Zenaya baru saja sampai di rumah sakit pada siang hari, karena harus menemani ayahnya seminar terlebih dahulu di salah satu kampus. Hubungannya dengan Grace pun sudah kembali baik-baik saja pasca dua hari gadis itu mendiamkan sahabatnya tersebut. Dia berbesar hati menelepon dan meminta maaf pada Grace serta mencoba mengerti niat baik sang sahabat.

"Siang, Ibu," sapa para staf rumah sakit dan beberapa perawat yang berpapasan dengannl Zenaya. Mereka membungkuk hormat meski berkali-kali Zenaya melarangnya untuk melakukan hal itu.

"Siang juga." Jawab Zenaya ramah. Dia pun sempat diajak berbincang dengan dua perawat muda yang tengah asyik bergosip di depan lift.

"Ganteng orangnya, loh, Bu, tapi sayang Beliau harus mengalami kecelakaan tepat saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Padahal itu kepulangan pertamanya setelah sepuluh tahun merantau di negeri orang. Untung saja keadaannya sudah semakin membaik, dan sekarang lagi terapi fisik dengan Mr. David di lantai lima." Jane, salah satu perawat muda dengan lantang mengajak Zenaya bergosip soal pasien tampan yang hadir di rumah sakit mereka.

Zenaya tentu tahu betul siapa yang dimaksud oleh Jane.

"Kalian ini, dilarang menggosip, apa lagi menggosip tentang pasien." Dengan tegas tapi penuh kelembutan gadis itu mencoba memberi peringatan.

Kedua perawat tersebut pun terkikik malu. "He ... he ... he ... maaf ya, Bu." Jane menyenggol Celeste.

Celeste yang lebih senior dari pada Jane pun turut buka suara. "Maklum saja Bu, Jane tidak pernah lihat pria tampan, dan aku setuju kalau pria itu memang tampan."

Zenaya menggelengkan kepalanya. "Dasar kalian ini! Ingat untuk tetap profesional dalam bekerja ya?"

Jane dan Celeste sontak dengan sigap bersikap hormat. "Siap, Ms. Winston!" Bersamaan dengan itu pintu lift pun terbuka. Zenaya masuk seorang diri karena dia akan naik ke lantai lima, sementara Jane dan Celeste turun ke basement untuk membantu meninjau obat-obatan yang baru saja datang.

"Dah, Ibu!" Jane dan Celeste melambaikan tangannya pada gadis itu. Zenaya membalas lambaian tangan mereka sembari memberi peringatan untuk tidak lagi bergosip saat tengah bekerja. Beberapa perawat muda memang terlihat tidak canggung dekat dengannya. Maklum saja, selain sikap Zenaya yang sangat ramah, dia juga merupakan salah satu dari lima orang petinggi rumah sakit berusia muda.

Selepas pintu lift tertutup, wajah Zenaya berubah datar. Beberapa saat kemudian lift berhenti di lantai lima.

Zenaya mengembuskan napasnya sejenak. Dia mengingat perkataan Jane kalau pria itu tengah melakukan fisioterapi di lantai lima. Itu artinya, dia harus melewati tempat tersebut untuk sampai ke ruang kerjanya. Ruang fisioterapi khusus pasien VVIP memang berada di lantai tersebut.

"Good! Lakukan sekali lagi lalu setelah itu kita selesai," ucap Mr. David pada Reagen yang kini sedang berjalan dengan bertumpu pada paralel bar.

Reagen menyanggupi perintah David. Tubuh bagian kirinya yang berfungsi normal sedikit memudahkan pria itu untuk membantu menopang tubuh bagian kirinya agar tidak terjatuh.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, jangan bebankan tubuh bagian kirimu. Perlahan-lahan saja." David mengingatkan Reagen.

Reagen mengangguk paham. Dia pun mulai fokus melangkah mengikuti arahan David. Pria itu sama sekali tidak menyadari jika Zenaya sedang berdiri di luar pintu, menatapnya dari balik kaca.

Gadis itu memperhatikan Reagen dengan tatapan datar. Tidak ada yang berubah dari wajah Reagen. Dia masih terlihat sama seperti yang ada dalam ingatannya sepuluh tahun lalu. Hanya garis wajah Reagen saja yang terlihat lebih dewasa dan tegas, serta tinggi tubuhnya yang menjulang.

Untuk ukuran tinggi tubuhnya, Reagen bahkan terlihat sedikit kerepotan menggunakan paralel bar berukuran standar.

David yang sedang mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan tiba-tiba melihat Zenaya yang sedang berdiri di luar. Pria itu pun meninggalkan Reagen sebentar dan menghampiri Zenaya.

"Zen, seminarnya sudah selesai?" tanya David ketika dia membuka pintu ruangan.

Zenaya sempat terkejut. Rupanya dia sedang melamun sampai tidak menyadari kehadiran David.

"Belum, tapi aku memutuskan untuk kemari duluan." Jawab Zenaya tersenyum ramah.

David mengangguk paham.

"Sepertinya kamu sedang sibuk, sebaiknya aku tidak menganggu," ujar Zenaya sambil bersiap untuk pergi dari sana, sebelum Reagen melihat ke arah mereka.

"Tidak juga. Hari ini hanya ada satu pasien saja yang aku tangani. Sebenarnya sekarang merupakan jatah liburku, tetapi ayahmu memintaku untuk menangani pasien yang satu ini. Maklum, dia adalah anak bungsu dari pemilik Walker Group." David memasang wajah pasrah kemudian tertawa kecil.

David memang salah satu terapis muda terbaik yang dimiliki Winston General Hospital. Banyak dari kalangan orang penting dan terkenal yang memintanya untuk menangani terapi mereka, baik secara umum di rumah sakit maupun secara pribadi seperti kunjungan di rumah pasien.

"Begitu rupanya." Zenaya mengangguk kecil. Pantas saja David harus mengorbankan hari liburnya. Keluarga Reagen mungkin secara khusus meminta sang ayah, agar anak mereka diprioritaskan.

"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya? Lain kali kita makan siang bersama. Kamu terlalu terpaku dengan Grace sampai menolak ajakan makan siangku terus." David menepuk pundak Zenaya.

Zenaya meringis. "Ok." Dia pun pergi meninggalkan ruangan fisioterapi tanpa menoleh lagi ke dalamnya.

Gadis itu sama sekali tidak tahu, bahwa sedari tadi Reagen sedang menatapnya dari sana. Pria itu terlihat menggenggam erat paralel bar yang dia gunakan.

...***...

Beberapa staf dan petugas medis bersuka cita saat melihat salju pertama turun dari balik jendela rumah sakit.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Zenaya. Terlebih dia memang sangat menyukai salju dan selalu menantikan momen pertama kali salju turun.

Demi menikmati momen tersebut Zenaya memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya menuju taman buatan yang ada di lantai lima rumah sakit. Setiap lantai di rumah sakit tersebut memang memiliki taman buatan sendiri, agar pasien bisa tetap berjalan-jalan sembari menghirup udara segar tanpa harus turun ke lantai bawah.

Zenaya bisa melihat beberapa pasien dan juga staf rumah sakit di sana. Mereka pun tidak lupa menyapa atasannya tersebut.

"Indah ya, Bu," ujar Jane yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

Zenaya berjengit kaget. "Loh, kamu ngapain di sini?" tanyanya, sebab setahu Zenaya, Jane bertugas di bagian cuci darah yang berada di lantai tiga.

"Di sini 'kan lantainya paling tinggi, Bu, jadi lebih terasa suka citanya kalau melihat salju dari sini," jawab Jane seraya memamerkan gigi-gigi putihnya.

"Kalau mau lebih terasa lagi, coba naik ke rooftop, Jane."

"Please, Bu!" Jane pura-pura merengut lalu tertawa. Zenaya pun ikut tertawa. Namun, tidak ingin mengganggu ketenangan Zenaya, perawat ramah itu pun pamit pergi.

Kini taman sudah mulai sepi, mereka sudah mulai kembali ke ruangannya dan hanya menyisakan tiga orang pasien saja bersama salah seorang sanak keluarga yang menemani.

Setelah beberapa saat berlalu gadis itu pun berniat pergi, sebab jam pulang kerjanya memang sudah lewat sejak tadi.

Zenaya pun melangkah pergi menuju satu-satunya pintu transparan yang ada di sana. Namun, saat jaraknya sudah semakin dekat tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya.

Jantung Zenaya berdegup kencang, sebab dari balik pintu kaca dia bisa melihat dengan sangat jelas sosok seorang pria yang duduk di atas kursi roda.

Pria itu rupanya juga sedang menatap dirinya.

Zenaya mundur selangkah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Note: Paralel Bar.

Terpopuler

Comments

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

jadi idola nih sang dokter david

2022-06-07

0

Senajudifa

Senajudifa

aku bacanya nyicil y

2022-06-03

0

Untaian Fiksi(Hiatus)

Untaian Fiksi(Hiatus)

ketemu lagi 😊

2022-04-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!