Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.

Tubuh Zenaya seketika kaku saat Reagen berhasil membuka pintu seorang diri dengan susah payah. Kendati ingin sekali berlari tapi nyatanya kaki gadis itu tak kunjung bergerak meninggalkan tempat.

Reagen memandang Zenaya dengan tatapan penuh kerinduan. Tidak ada lagi sorot mata dingin yang dulu selalu ditunjukkan pria itu padanya. Raut wajahnya pun terasa sangat berbeda dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu.

Reagen memberanikan diri mendekati Zenaya. Namun, Zenaya berusaha mundur menjauhi Reagen. Meski perlahan gadis itu akhirnya dapat menggerakkan kakinya kembali.

"Stop!" batin Zenaya meraung. Ingin rasanya dia meneriaki Reagen secara langsung untuk berhenti mendekat, tapi suaranya tak kunjung keluar.

"Zenaya," panggil pria itu lirih. Suaranya yang dalam membuat hati Zenaya kontan berdesir. Rasa sakit yang sempat terpendam kini kembali hadir, bersamaan dengan sekelumit perasaan yang Zenaya sendiri tak tahu apa artinya.

Sebisa mungkin dia berusaha tetap terlihat tegar di hadapan pria itu, meski kini matanya telah basah. Dalam hati Zenaya sibuk mengumpat dan menghardik dirinya sendiri yang akhir-akhir ini selalu saja mudah menangis jika berhubungan dengan Reagen.

Kini jarak keduanya tak sampai dua meter. Pria yang sekarang harus duduk di kursi roda itu mendongakkan kepalanya guna melihat lebih jelas wajah cantik Zenaya.

Ditatap sedemikian rupa oleh Reagen tentu saja membuat Zenaya spontan menghindar. "Maaf, Anda salah orang!" ucap gadis itu sembari berlalu pergi. Dia tidak boleh terlalu lama berada di sana.

Setitik luka hadir memenuhi relung hati Reagen ketika mendapati perlakuan dari gadis itu. Namun, Reagen mengerti bahwa luka ini tidak pernah sebanding dengan apa yang sudah dia berikan pada Zenaya.

Secepat mungkin Zenaya berjalan melewati Reagen. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti ketika Reagen dengan nekat menangkap pergelangan tangan Zenaya.

"Tolong, jangan kurang ajar! Sudah kukatakan Anda salah orang!" Zenaya berusaha melepas genggaman tangan Reagen, tetapi pria itu malah mengeratkan cengkeramannya.

"Aku mengenalimu, Zen," ujar Reagen.

Zenaya menoleh ke arah Reagen dan menatapnya dingin. "Zenaya mana yang Anda kenal? Zenaya si gadis polos yang sudah Anda injak-injak? Sorry, itu jelas bukan aku!"

Sekuat tenaga Zenaya menghentakkan tangannya hingga berhasil terlepas dari cengkraman Reagen, dan tanpa berkata apa-apa lagi dia segera melangkahkan kakinya meninggalkan taman.

Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Zenaya, Reagen segera memutar kursi rodanya. "Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu!" teriak pria itu agar Zenaya dapat mendengarnya dengan jelas.

Tanpa menoleh ke belakang Zenaya tertawa sumbang. "Jangan bercanda! Sampai detik ini aku masih mengingat dengan jelas semua perkataanmu itu, seolah baru terjadi kemarin!" Setetes air mata tanpa sadar turun membasahi pipinya.

Reagen terdiam. "Maafkan aku," ucapnya dengan penuh penyesalan.

Suasana hening seketika.

"Dasar pria bajingan tidak tahu malu!" Tepat setelah Zenaya memakinya, dia pun kembali melangkah pergi. Namun, sedetik kemudian suara hantaman terdengar jelas di belakangnya.

Zenaya spontan berbalik. Wajahnya sontak diliputi kekhawatiran begitu melihat Reagen sedang berusaha melangkah tanpa alas kaki di tanah berumput itu, sementara kursi rodanya telah jatuh.

"Jangan bertingkah bodoh. Kondisimu tidak akan pernah membuatku iba!" seru Zenaya.

"Kamu selalu saja salah sangka padaku," ujar Reagen. Napasnya terlihat naik turun menahan sakit. Reagen hanya ingin mengajak Zenaya bicara dengan cara yang normal, bukan di atas kursi roda dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Zenaya pun tidak dapat menyembunyikan kepanikannya ketika Reagen mendadak terhuyung. Dia bisa saja terjerembab dengan keras, jika Zenaya tidak segera berlari menolong. Mereka pun jatuh terduduk bersama. Zenaya berusaha menopang bobot tubuh Reagen yang jauh lebih berat darinya.

Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri keduanya. Dua orang di antara mereka bahkan berinisiatif ke dalam gedung untuk memanggil tim medis.

Tidak butuh waktu lama, Grace bersama salah seorang perawat sampai di taman dengan membawa brankar. Wanita itu duduk bersimpuh di hadapan mereka untuk memeriksa keadaan Reagen tanpa memikirkan apa yang saat ini dilihatnya.

"Rey, kamu baik-baik saja?" tanya Grace. Dia meminta bantuan Zenaya untuk mendudukkan Reagen dengan benar di atas rumput guna memeriksa keadaannya.

Reagen mengangguk pelan.

"Bantu aku!" pinta Grace pada perawat yang ikut dengannya itu. Mereka pun segera membaringkan Reagen di atas brankar. Tanpa memedulikan status pria itu yang merupakan pasien penting rumah sakit ini, Grace tetap memarahinya karena telah bertindak ceroboh dengan pergi keluar ruangan tanpa izin. Bahkan, Reagen juga secara sembarangan melepas selang infus yang dia gunakan.

"Kamu sadar tidak melepas infus sembarangan itu berbahaya? Lihat tanganmu sekarang!" Grace memandang galak tangan kiri Reagen yang ternyata telah mengeluarkan banyak darah. Zenaya spontan menatap tangannya sendiri. Bercak darah juga ada padanya. Perasaan bersalah menghantui gadis itu, mengingat dia sempat menghentakkan tangan Reagen kasar.

"Lalu kamu! Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tetapi pasienku hampir celaka karena kamu, Zen. Jadi, tolong sekarang bantu Lisa untuk membawa pasienku ini ke kamarnya." Grace menunjuk wajah Zenaya dengan raut ketus.

Zenaya terbelalak. Dia hendak menolak perintah Grace, tetapi wanita itu sudah keburu bicara lagi, "aku harus turun ke lantai dua saat ini juga. Kamu mau para pasien menunggu terlalu lama?" ujar Grace galak.

Zenaya tidak dapat berkutik jika menyangkut soal pasien. Akhirnya dengan sangat terpaksa gadis itu ikut mengantar Reagen ke kamarnya bersama Lisa.

Sesampainya di ruang perawatan, Reagen segera berbaring di ranjang. Malam ini dia memang sendirian karena sang ibu harus pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti. Reagen juga meminta Jennia untuk beristirahat dan kembali esok hari.

Lisa kembali memasang infus pada lengan Reagen, sementara dirinya langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa memedulikan tatapan Reagen yang seolah masih ingin mengajaknya bicara.

Reagen pun hanya bisa mengantar kepergian Zenaya dengan wajah sendu.

Terpopuler

Comments

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

kok perasaan w masih ikut sebel ya kaya zenzen

2022-06-07

0

@ᵃˢʳʏ ᵛᵃʳᴍᴇʟʟᴏᴡ🐬

@ᵃˢʳʏ ᵛᵃʳᴍᴇʟʟᴏᴡ🐬

seperti.a cukup zenaya kau kasih peljran k.rey,,10thun loh,, rasa sakit yg d.buat oleh Rey akan dia obtin d.hati mu,, coba lah buka hati mu sdikit jngan kau siksa dirimu jga,,

2022-05-29

1

꧁🍒𝕬𝖓𝖓ꪗ_𝖉𝖏𝖚𝖒𝖆𝖉𝖎🍒꧂

꧁🍒𝕬𝖓𝖓ꪗ_𝖉𝖏𝖚𝖒𝖆𝖉𝖎🍒꧂

wajar lah masih sakit hati

2022-05-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!