Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"

"Jangan mengada-ada, Nat, orang lain bisa salah paham dengan perkataanmu barusan. Terlebih jika sampai terdengar oleh telinga para wartawan." Sambil bersedekap Bryan memberi Natalie peringatan.

"Tidak masalah kalau mereka mau menggosipkan kami berdua." Natalie mengangkat kedua bahunya cuek.

"Itu bagimu tapi tidak bagi Reagen!" kata Bryan tanpa memperdulikan perasaan Natalie.

Natalie merasa sakit hati. Dia menoleh pada Reagen seolah meminta pembelaan.

Reagen tersenyum simpul. "Aku akan menjelaskan pada Grace nanti."

Bukan pembelaan yang terdengar, Reagen justru enggan membiarkan gosip itu tersebar. Natalie sontak menatap bengis Bryan dan bergegas pergi dari sana. "Aku akan kembali jika sahabatmu itu tidak ada di sini!" ketusnya sembari berlalu.

Bryan menggelengkan-gelengkan kepala akan sikap kekanakan Natalie.

"Jangan terlalu keras padanya, Bro." Reagen menatap sang sahabat.

"Kamu yang terlalu lembek. Jangan hanya lisanmu yang menolak, tapi sikapmu juga harus demikian. Aku yakin Grace pasti akan langsung memberitahu Zenaya soal ini," kata Bryan.

Reagen terdiam. Dia memang menyadari sikapnya pada Natalie yang mungkin banyak membuat orang salah paham. Namun, biar bagaimanapun Reagen tidak bisa terang-terangan menjauhi wanita itu, sebab hanya mereka berdualah yang selalu ada pada masa-masa tersulit Reagen ketika berada di New York. Mereka memang sempat kuliah bersama di sana.

Meski Reagen dan Bryan tengah disibukkan dengan kegiatan masing-masing hingga jarang bertemu, tetapi mereka akan selalu menyempatkan diri berkomunikasi. Maka dari itu, Bryan mengetahui perihal pertemuan Reagen dan Zenaya di rumah sakit tersebut.

...***...

"Ternyata kamu di sini, Zen, tadi aku sempat mencarimu di ruangan dan kantin rumah sakit." Grace duduk di hadapan Zenaya yang tampak fokus menyantap makanannya.

Melihat raut wajah sahabatnya yang sedang kusut, Grace tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?"

Zenaya menghentikan suapannya lalu menatap Grace datar. "Tadinya aku berniat menghampirimu duluan, tapi ternyata kamu sedang mengunjungi pasien." Katanya mengawali pembicaraan.

"Lalu?" Entah mengapa Grace merasa gelisah sendiri menunggu perkataan Zenaya selanjutnya.

"Kamar VVIP 503. Aku mendengar semua percakapan kalian termasuk apa yang dikatakan Natalie." Zenaya tersenyum simpul. Meski wajahnya tidak menunjukkan raut apapun, tetapi Grace yakin hatinya tengah terluka.

Grace memandang Zenaya khawatir. "Maafkan aku yang sempat ingin mendamaikan kalian berdua. Aku berjanji tidak akan membiarkan pria itu mendekatimu lagi."

Zenaya menganggukkan kepalanya. " Tapi Grace ...," sorot mata gadis itu berubah sendu. Suaranya pun terdengar bergetar. "mengapa rasanya begitu sakit, padahal aku sangat membencinya?"

Grace dengan sigap berpindah tempat dengan duduk di sebelah Zenaya dan memeluknya erat.

Dia sangat mengerti perasaan Zenaya. Bagaimanapun juga, tidak mudah melupakan cinta pertama yang sudah lama terpendam hanya dengan satu kesalahan saja. Jauh di dalam lubuk hati sahabatnya, Grace sangat yakin kalau Zenaya masih memiliki rasa itu.

"Jangan menangis lagi."

...***...

Pagi ini adalah jadwal kepulangan Reagen. Jennia yang dari semalam menemani di rumah sakit, kini sedang sibuk merapikan semua barang-barang putra bungsunya itu. Dia sama sekali enggan menerima bantuan salah satu maid-nya yang ikut datang menjemput. Sejak Noah dan Reagen bayi, Jennia memang tidak pernah membiarkan kedua anaknya diasuh oleh orang lain. Sesibuk apapun dia akan selalu berusaha mengurus keluarganya sendiri.

"Maaf merepotkan, Ma," ucap Reagen ketika melihat sang ibu begitu apik menata semua barang-barang pribadinya ke dalam koper.

"Tak ada yang direpotkan, Sayang." Jennia tersenyum. Wajahnya menatap puas kedua koper Reagen yang sudah rapi.

Dibantu Frans, supir pribadi keluarga mereka, Reagen duduk di kursi roda. Mereka pun segera pergi meninggalkan ruangan.

"Ayahmu bilang akan pulang cepat. Kakakmu juga akan berkunjung ke rumah bersama Krystal dan Bella. Kamu harus melihat bagaimana cantiknya Bella sekarang," kata sang ibu sambil mendorong kursi roda Reagen.

"Aku tak sabar melihatnya." Reagen tersenyum lembut saat membayangkan pertemuannya dengan sang keponakan. Maklum saja, sejak Bella lahir empat tahun lalu Reagen sama sekali belum pernah menemuinya secara langsung. Mereka hanya berkomunikasi lewat video call saja.

Jennia dan Reagen kini sedang menunggu di depan lift. Ketika pintu lift lainnya terbuka Reagen mendapati Zenaya yang tengah sibuk memainkan ponselnya.

Reagen tidak ingin kehilangan kesempatan.

"Ma, ada seseorang yang harus kutemui. Mama tunggu di bawah saja, nanti aku akan menyusul." Reagen membuka suaranya.

"Siapa, Sayang? Mama temani saja ya?" Jennia menatap cemas sang putra.

Reagen menggeleng. "Hanya sebentar, Ma."

Melihat raut wajah Reagen yang tak bisa dibantah, Jennia akhirnya mengalah. Wanita itu pun masuk ke dalam lift meninggalkan sang putra yang langsung menggerakkan kursi rodanya untuk menyusul Zenaya yang kini sudah keluar dari lift dan berjalan menjauh.

"Zenaya!"

Suara yang sangat familiar membuat Zenaya berhenti tepat ketika hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.

Zenaya memasang wajah dingin seketika. Gadis itu bersiap meninggalkan Reagen di sana tanpa menoleh sedikitpun.

"Please, jangan menghindarikun!" pinta Reagen sembari mempercepat kursi rodanya.

Tangan kiri Zenaya berhenti pada kenop pintu. Dia terdiam, seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Reagen.

Begitu berhasil sampai di sebelah Zenaya, Reagen memaksakan diri berdiri dengan berpegangan pada dinding.

Reagan juga berhasil meraih tangan Zenaya dan menggenggam lembut telapak tangan wanita itu.

Dada Zenaya sontak bergemuruh, bersamaan dengan rasa panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak bereaksi.

"Aku–"

"Pergi dari hadapanku," ucap Zenaya lirih.

"Zen, beri aku kesempatan untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi beberapa tahun silam," ungkap pria itu sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Zenaya.

"Selama sepuluh tahun ini aku selalu dihantui rasa bersalah. Namun, rasa takut akan penolakan maaf darimu jauh lebih besar. Oleh sebab itu, aku tidak pernah berusaha untuk datang menemuimu dan malah memilih melarikan diri dari sini." Entah mau didengar atau tidak, yang jelas Reagen harus mengatakan semua ini.

Reagen bisa merasakan sedikit getaran pada tangan Zenaya.

"Meminta maaf tidak akan mampu menutup lukaku yang sudah tersemat lama." Gadis itu akhirnya bersuara. Nadanya terdengar sangat dingin, tapi berbanding terbalik dengan sorot matanya yang mulai meredup.

"Aku tahu, maka dari itu ijinkan aku untuk memulai segalanya dari awal lagi."

Zenaya mengerutkan keningnya dan menatap Reagen penuh tanya. Dia sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan pria itu.

"Aku mencintaimu, Zenaya!" ungkap Reagen tiba-tiba. Kata-katanya penuh dengan penegasan.

Zenaya tersentak hebat. Dia bahkan refleks melepaskan diri dari Reagen hingga membuat pijakan pria itu sedikit goyah.

Perut Zenaya mendadak terasa mual. Ingatan akan perkataan Natalie kemarin langsung terngiang di kepala gadis itu.

Zenaya tertawa bengis. "Selain meminta maaf, kamu rupanya masih juga berusaha mempermainkanku dengan kata-kata menjijikan itu. Benar-benar pria brengsek yang bahkan tidak menghargai ikatan suci pertunangan!" tuturnya sinis.

Reagen terkejut. Dia pikir Grace telah mengatakan segalanya pada Zenaya, padahal kenyataannya Zenaya sendirilah yang mendengar Natalie berkata demikian.

"Kamu salah paham. Aku tidak pernah–"

"Berhenti! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" hardik Zenaya. Dia bergegas masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu.

Air mata keluar dari pelupuk gadis itu begitu pintu tertutup.

"Aku mencintaimu, Zenaya!"

Pernyataan Reagen barusan benar-benar memporak-porandakan hati Zenaya. Sembari terisak-isak tanpa suara, gadis itu memukul-mukul dadanya sendiri.

Terpopuler

Comments

Acin minduk

Acin minduk

dasar regan

2024-11-08

0

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

mantap ibu👍🏻

2022-06-07

1

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

setuju bgt, Bryan omongan mu 👍🏻👍🏻👍🏻

2022-06-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!