Bab 17 : Kecemburuan Reagen.

Musim salju berakhir, es-es sudah mulai mencair hingga membuat beberapa ruas jalan menjadi sedikit licin. Itulah sebabnya Zenaya sengaja tidak membawa mobil dan memilih berangkat serta pulang menggunakan bus umum selama beberapa hari terakhir ini.

"Cuacanya dingin ya, Bu," ujar Jane tiba-tiba. Perawat muda itu baru saja keluar melalui pintu UGD.

Zenaya berjengit kaget. "Kamu ini kebiasaan sekali muncul tiba-tiba!" ujarnya jengkel.

Jane tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Habis Ibu melamun terus setiap kali aku lihat," kilah gadis muda itu. "Ibu tidak pulang? Mobilnya ke mana?" tanya Jane saat melihat Zenaya hanya berdiri di depan lobby rumah sakit.

"Aku tidak bawa mobil." Jawab Zenaya singkat sambil meniup-niup tangannya yang mulai kedinginan. Gadis itu memang tidak terbiasa memakai sarung tangan meski di tengah musim dingin seperti sekarang ini.

"Kalau begitu rumah kita 'kan searah, kita pulang bersama saja ya, Bu? Pacarku sebentar lagi datang." Dengan ramah Jane menawarkan tumpangan gratis.

Zenaya menggeleng pelan. "Aku tidak mau jadi obat nyamuk, Jane."

"Tidaklah, Bu. Dari pada harus pulang naik bus."

"Terima kasih, Jane, tapi aku akan pulang sendiri saja." Tolak gadis itu halus.

Sebuah tangan kekar tiba-tiba merangkul bahu Zenaya. "Dia akan pulang bersamaku, Jane."

"David!" pekik Zenaya terkejut.

"Mr. David mengagetkan saja!" keluh Jane. Dia pun menghela napas pasrah. "Kalau Mr. David sudah turun tangan sih, aku menyerah saja." Tawa gadis itu terdengar kemudian.

David dan Zenaya pun pergi meninggalkan Jane yang masih menunggu kekasihnya datang. Pria itu memang sejak dulu ingin sekali bisa mengantar pulang Zenaya, tetapi dia tak pernah memiliki kesempatan karena jadwalnya sangat padat. Syukurlah ada pasien yang membatalkan janji hari ini, jadi dia bisa leluasa berduaan dengan gadis yang diam-diam disukainya itu.

"Aku ingin mengajakmu makan malam dulu. Bagaimana?" tanya David setelah selesai memakai seatbelt-nya.

"Hmm, kalau kamu mau mentraktirku boleh saja," jawab Zenaya jenaka. Gadis itu memang terlihat sedikit lebih nyaman berdekatan dengan David dibanding pria mana pun.

David tertawa. Mereka pun meninggalkan rumah sakit untuk makan malam di taman kota.

"Ini adalah tempatku mengasingkan diri dari lelahnya pekerjaan," ujar David begitu mereka sampai di taman kota. Mereka tengah duduk persis di hadapan danau yang tenang dengan dihiasi lampu warna-warni kota nan memanjakan mata.

Meski suara-suara dari para pengunjung terdengar riuh, tetapi hal tersebut sama sekali tidak mengganggu ketenangan Zenaya. Dia benar-benar menikmati suasana malam ini.

"Terima kasih sudah mengajakku ke sini, Dav. Walau lahir dan hidup di sini rasanya aku seperti orang asing karena tidak pernah bisa pergi ke mana pun." Zenaya menatap takjub sebuah kapal kecil yang bergerak di hadapan mereka. Itu adalah moda transportasi umum yang paling diminati para wisatawan.

"Sesekali luangkan waktu untuk dirimu sendiri, Zen. Itu akan sedikit membantu menghilangkan beban pikiran." David menghabiskan gigitan terakhir burger-nya dan membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tempat sampah yang tersedia.

"Lain kali kita keliling danau dengan kapal itu." David menunjuk kapal yang baru saja melewati mereka.

"Aku menunggu." Zenaya tersenyum.

Suasana mendadak hening karena Zenaya fokus memperhatikan sekumpulan angsa putih yang turun ke danau. Angsa-angsa tersebut mengepakkan sayap indahnya sembari menyusuri danau.

"Angsa yang sangat cantik," puji Zenaya tulus.

"Tapi tidak secantik dirimu."

Zenaya kontan menoleh. Dia bisa menatap sorot mata lain yang terpancar dari wajah David. Pria itu tak lagi menatapnya jenaka seperti biasa.

"Zen," panggil David.

Suaranya yang dalam membuat Zenaya sontak terdiam.

"Setiap mahluk membutuhkan pasangan untuk hidup, tak terkecuali dengan dirimu." David mulai tampak serius. "Jadi, bisakah kau mulai membuka hatimu dan melihatku bukan seperti teman kerja?" tanya pria itu tanpa basa-basi.

Zenaya terkesiap. Dia sama sekali tidak menyangka ajakan makan malam David yang pertama digunakan untuk menyatakan cinta padanya.

Ya, dari perkataan David, Zenaya tentu masih mengingat bahwa dia pernah mengatakan ketidaktertarikannya untuk membina rumah tangga karena trauma masa lalu.

"Aku ...," Zenaya tak mampu melanjutkan perkataannya. David merupakan pria yang sangat baik, dan jujur saja dia lah yang senantiasa membantu Zenaya juga Grace saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit.

David jugalah orang yang dengan sukarela mendonorkan darahnya saat Zenaya terlibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Meski mereka sempat menjauh karena kesibukan masing-masing, gadis itu tetap tak akan pernah melupakan kebaikan-kebaikan yang diberikan David.

Akan tetapi, untuk hal yang lebih dari itu dia tentu tak bisa melakukannya. Bagi Zenaya, David hanya pengganti Adryan, saat sang kakak sedang berada di belahan bumi lain. Walau terkesan jahat, tetapi memang itulah yang dirasakan Zenaya.

"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Kumohon, pikirkanlah terlebih dahulu, dan aku akan menunggu jawabannya." David menatap Zenaya dalam-dalam.

Zenaya mengangguk samar dan tersenyum simpul.

David membalas senyumnya. " Baiklah, malam sudah semakin dingin. Bagaimana kalau kita pulang saja?"

Zenaya kembali mengangguk. Saat berdiri David langsung membuka mantelnya dan memakaikan mantel tersebut pada Zenaya. Tak lupa dia juga melepaskan sarung tangannya untuk gadis itu.

"Tidak perlu, Dav, aku–"

"Jangan membantah, tanganmu sudah sangat pucat!" tegas David pura-pura marah.

Zenaya tak lagi berkata apa-apa. Dia membiarkan saja pria itu melakukannya sesuka hati.

Mereka pun kemudian pergi meninggalkan taman tersebut.

...***...

Donny, salah seorang penjaga rumah Zenaya, membungkukkan badannya dalam-dalam saat mobil Reagen bergerak keluar dari gerbang rumah gadis itu. Reagen lagi-lagi harus menelan kekecewaannya ketika mendapati gadis itu belum pulang ke rumah.

Saat mobil Reagen baru saja keluar dari gerbang, disaat itu pula sebuah sedan mewah datang dan berhenti tepat berhadapan dengannya.

Mata pria itu sontak memicing sinis, tatkala mendapati David keluar dari dalam mobil sedan tersebut bersama Zenaya.

"Siapa itu?" tanya David pada Zenaya begitu mendapati ada mobil lain berhenti tepat di hadapan mereka. Sorot lampu mobil yang menyilaukan mata membuat David tidak bisa melihat siapa pengemudinya.

"Entah." Jawab Zenaya kaku, padahal jelas-jelas dia tahu bahwa itu adalah mobil Reagen.

Reagen yang berada di dalam mobil tak ingin repot-repot mematikan lampu sorot. Dia bahkan enggan bergerak mengambil jalan lain dan memilih untuk diam di tempat.

David sendiri tidak memerdulikan mobil kurang sopan itu. Sebentar lagi dia juga akan langsung pergi, jadi biarkan saja orang itu menunggu sedikit lebih lama.

"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit David pada Zenaya.

"Mantel dan sarung tanganmu?" Zenaya hendak membuka sarung tangan David, tetapi pria itu langsung menahannya.

"Pakai saja dulu. Kamu bisa mengembalikannya nanti." David membetulkan posisi mantel Zenaya.

Reagen yang melihat adegan tersebut tanpa sadar mencengkeram erat setir mobilnya.

"Terima kasih, Dav, aku masuk dulu." Zenaya tersenyum tipis. Saat dia hendak berbalik pergi, David dengan penuh keberanian tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipi Zenaya.

Zenaya mematung dengan bola mata nyaris keluar, begitu pula Reagen yang melihatnya secara langsung. Dia hendak keluar dari mobil, tetapi sesuatu menahannya untuk tetap diam di dalam.

"Sampai jumpa besok." Seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal biasa, David pun pamit pergi.

Zenaya tetap terdiam. Entah mengapa perasaan tak nyaman langsung hadir di benak gadis itu. Namun, Zenaya mencoba mengenyahkannya. Setelah memastikan kepergian David, dia pun melangkah menuju gerbang rumahnya.

Reagen memandang geram sosok Zenaya yang melewati mobilnya tanpa menoleh. Dengan cepat dia pun turun dan langsung menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

"Lepaskan aku!" pekik Zenaya.

"Kamu selalu saja menolak genggaman tanganku, tetapi tidak saat David mencium pipimu!" seru Reagen dingin.

"Bukan urusanmu!" jawab Zenaya tak kalah dingin. Zenaya hendak pergi meninggalkan pria itu tapi tidak berhasil.

Tak ingin Zenaya pergi begitu saja, Reagen malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Hei, lepaskan aku!" teriak Zenaya. Dia meronta sekuat tenaga agar bisa melepaskan diri dari kungkungan tubuh Reagen yang jauh lebih tinggi darinya.

Kemarahan benar-benar menguasai diri Reagen. Gadis itu begitu kukuh ingin lepas dari pelukannya, tapi sama sekali tidak menolak ciuman David.

"Aku tidak sudi ada pria yang menyentuhmu, Zen!" Entah apa yang merasuki pikiran Reagen, tiba-tiba dengan kurang ajar dia mencium bibir tipis Zenaya dan memagutnya kasar.

Sementara tangan pria itu sibuk menghapus jejak David pada pipi Zenaya hingga memerah. Dia sama sekali tidak peduli jika ada orang yang memergoki mereka, sebab yang ada dipikiran Reagen saat ini adalah menghapus jejak pria brengsek itu dari wajah cantik wanitanya.

Zenaya tentu saja memberontak. Sekuat tenaga dia meronta-ronta sembari memukul-mukul dada Reagen agar bisa melepaskan diri. Namun, hal tersebut malah membuat Reagen semakin agresif. Lidah pria itu dengan intens membelit Zenaya demi memperdalam ciuman mereka.

Zenaya mendadak ketakutan. Air mata sudah mengalir membasahi pipi gadis itu. Ingatannya pun bergulir seketika.

Sepuluh tahun yang lalu Reagen mencuri ciuman pertamanya di tempat yang ini, dan Zenaya menjadi semakin marah ketika mengingatnya. Maka dengan sekuat tenaga Zenaya akhirnya menggigit kuat bibir Reagen, agar ciuman panas mereka terhenti.

Beruntung usaha Zenaya tidak sia-sia. Reagen spontan menjauhkan diri.

Mata pria itu terkesiap saat mendapati luka lecet yang ada pada bibir Zenaya akibat perlakuan kasarnya barusan.

Seolah tersadar dari kesalahannya, Reagen pun mencoba meminta maaf. "Zen–"

Belum sempat Reagen menyelesaikan perkataannya sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi pria itu.

Zenaya menangis terisak-isak dan pergi meninggalkan Reagen.

Reagen hanya bisa terdiam, tatkala melihat Zenaya berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu kemudian meninju kaca mobil sekuat tenaga hingga membuat tangannya memar.

"Maafkan aku."

Terpopuler

Comments

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

yg di gigit bibir zezen atau raegen?

2022-07-18

0

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

aduh pasti ninggalin jejak itu

2022-07-18

0

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

agresif sekali kamu, raegen

2022-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!