Bab 19 : Malapetaka (1)

Zenaya menyibukkan diri seharian di rumah sakit dan belum beranjak dari kantor meski pekerjaannya telah usai sejak tadi sore. Mengetahui keadaan sang adik, Adryan memutuskan untuk mendatangi guna menegurnya. Amanda memang sudah memberitahukan konflik Zenaya dan Reagen.

"Mau sampai kapan kamu mengurung diri di ruangan kumuh ini?" sindir Adryan. Netranya menatap sekeliling meja kerja dan meja tamu Zenaya yang ditumpuki banyak sekali berkas.

"Aku tidak berniat pulang ke rumah," jawab gadis itu kalem. Tangannya mengambil tumpukan berkas lain yang belum tersentuh.

'Konsep pengembangan fasilitas Winston Care Hospital"

Zenaya membuka salah satu berkas berisi pengembangan fasilitas salah satu rumah sakit kecil yang didirikan Liam tiga tahun lalu. Lokasi rumah sakit tersebut berada persis di sebuah kota terpencil dan memang khusus diperuntukkan untuk kalangan tidak mampu.

Melihat sikap adiknya, Adryan segera menghampiri meja gadis itu. "Pulanglah, mama pasti sudah menunggu," titah pria itu seraya mengambil berkas dari tangan Zenaya lalu meletakkannya di ujung meja.

"Kak!" tegur Zenaya. "Mama sedang di rumah Uncle Fred dan menginap di sana. Tadi Mama sudah mengabariku. Beliau juga pasti memberimu kabar." Sambungnya.

Adryan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pria itu lantas mengambil ponselnya dari dalam saku jas, dan benar saja apa kata Zenaya, sudah ada lima panggilan tak terjawab dari nomor Amanda.

Adryan menghela napas. Dia memang baru keluar dari ruang operasi dan belum sempat mengecek ponselnya.

"Kamu harus tetap pulang dan beristirahat." Adryan bertolak pinggang.

Zenaya menatap sang kakak dengan wajah memelas. "Bagaimana kalau aku menunggu Kakak di ruangan saja?" pintanya memohon.

Adryan menggeleng tegas. "Kakak masih ada operasi jam setengah satu nanti. Jika berjalan lancar mungkin Kakak baru akan pulang saat fajar."

Zenaya menatap jam dinding yang berada di belakang tubuh Adryan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

"Baiklah, aku akan pulang." Zenaya terlihat sedikit merajuk. Dia lalu merapikan tasnya dan bersiap pulang. Adryan tersenyum senang, tak peduli pada wajah adiknya yang mendadak suram.

"Mau aku antar sampai ke lobby?" tawar pria itu.

"Tidak perlu, Kakak kembali saja bekerja." Tolak Zenaya.

"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan." Adryan memeluk dan mencium kening Zenaya. Meski telah sama-sama dewasa, Zenaya masih senang bermanja dengan kakak satu-satunya itu. Keduanya memang sangat dekat, dan saking dekatnya hubungan mereka, Zenaya bahkan bisa menangis keras bila Adryan terluka sedikit saja.

Begitu pun sebaliknya, Adryan yang lembut akan berubah menyeramkan, jika ada yang berani mengganggu adik kesayangannya itu. Beruntung, sewaktu Zenaya mengalami pembullyan di sekolah dulu, Adryan tidak tinggal di rumah.

Mereka keluar dari ruangan Zenaya bersama. Adryan langsung masuk ke dalam lift menuju ruangannya di lantai empat, sementara gadis itu malah berbelok ke menuju koridor lain guna mengunjungi ruangan Grace yang akan lembur malam ini.

Begitu tiba di sana, Zenaya mendapati uangan tersebut kosong. Wanita itu pasti sedang berkeliaran ke kamar-kamar pasien atau nongkrong di nurse station.

Zenaya memutuskan untuk menunggu sahabatnya di sana sembari beristirahat.

...***...

"Biar kuantar pulang saja!" Bryan lagi-lagi dengan tegas menawarkan diri untuk mengantar Reagen yang sedang mabuk berat itu pulang. Reagen sebenarnya cukup toleran dengan minuman beralkohol. Namun, hari ini tidak demikian. Baru habis dua botol saja Reagen sudah terlihat kepayahan. Belum lagi pria itu terus saja meracaukan nama Zenaya serta mengumpatinya.

"Aku akan pulang sendiri!" Reagen menatap Bryan tajam. Dia pun mendorong pelan tubuh Bryan dan masuk ke dalam mobilnya.

Bryan mendecih kesal.

Tanpa memerdulikan kekesalan sang sahabat, Reagen segera melajukan mobil mewahnya menuju jalan raya yang sudah mulai sepi.

...***...

Grace terperanjat begitu masuk ke dalam ruangannya dan mendapati seseorang sedang tertidur di atas sofa, setelah menangani pasien darurat di lantai empat.

"Zen," panggil Grace seraya menepuk-nepuk halus kaki Zenaya.

Tak butuh waktu lama Zenaya terbangun dari tidurnya. Gadis itu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat tidur meringkuk di sofa.

"Aku pikir, kamu sudah pulang, tadi aku berpapasan dengan Kak Adryan."

"Aku terlalu malas pulang. Tidak ada orang di rumah," kilah Zenaya.

"Rumahmu ramai, Zen!" tukas Grace merujuk pada belasan asisten rumah tangganya.

"Kamu tahu bukan itu maksudku!" seru Zenaya ketus.

Grace tertawa kecil.

"Kamu lembur sampai pagi, kan?" tanya Zenaya kemudian.

"Tidak jadi, operasinya diundur. Salah satu pasienku tadi mengalami cardiac arrest." Grace memberi penjelasan. Wanita itu melepas jas putihnya dan mengambil tas.

"Sudah jam berapa sekarang?" Zenaya menguap lebar. Gadis itu masih merasa mengantuk.

"Jam satu pagi."

Zenaya terkejut. Terlalu lelah membuat gadis itu tertidur sangat nyenyak.

"Vian sudah di lobby. Kamu tidak bawa mobil 'kan? Biar kami antar saja." Grace menawarkan Zenaya untuk pulang bersama.

"Tidak perlu. Aku bisa memanggil taksi online."

Keduanya pun berjalan keluar bersama. Sesampainya di lobby, sudah ada Vian yang menunggu di sana.

Mereka bertiga mengobrol sejenak, sebelum kemudian Vian juga turut menawarkan diri untuk mengantar Zenaya pulang. Namun, Zenaya menolak halus. Rumah mereka tidak searah, dan Vian juga baru kembali dari luar kota, jadi Zenaya tidak mungkin mau merepotkan suami sahabatnya tersebut.

"Baiklah. Hati-hati di jalan, Zen," pesan Vian dan Grace.

"Kalian juga!" Zenaya melambaikan tangannya saat Vian dan Grace keluar. Sekitar sepuluh menit kemudian taksi online yang sebelumnya sudah dipesan pun tiba.

...***...

Zenaya memicingkan mata saat mendapati sebuah mobil hitam terparkir di depan gerbang rumahnya, dan seorang pria bertubuh tinggi menjulang tengah diseret paksa keluar dari rumah.

"Rey!" batin Zenaya. Pria itu sedang meracau tak jelas sembari meronta-ronta agar terlepas dari kepungan kedua penjaga rumahnya.

"Nona Zenaya," sapa salah seorang penjaga saat melihat kedatangan majikannya tersebut.

"Ada apa ini?" tanya Zenaya heran.

"Tuan ini berteriak-teriak memanggil nama Nona. Beliau bahkan sempat ingin menabrakkan mobilnya ke gerbang!" jawab salah seorang dari mereka.

Reagen menoleh ke arah Zenaya. "Zenaya?"

"Lepaskan dia," pinta Zenaya. Kedua orang penjaga itu pun melepaskan Reagen.

Tanpa diduga Reagen langsung berjalan dan menubruk tubuh gadis itu.

Mendapat perlakuan mendadak tersebut, Zenaya berusaha menahan pijakan kakinya agar tidak terjatuh ke aspal. Bau alkohol yang sangat pekat sontak tercium olehnya.

"Kamu mabuk!" seru Zenaya.

"Zenaya!" gumam Reagan seraya mengeratkan pelukannya pada Zenaya. "aku minta maaf," racaunya dengan mata terpejam.

Zenaya terdiam tidak tahu harus bereaksi apa. Gadis itu kemudian memberi isyarat pada kedua penjaganya untuk meninggalkan mereka.

Kedua penjaga tersebut pun mengangguk dan langsung pergi meninggalkan sang nona rumah.

Reagen mencoba berdiri dan menatap Zenaya dalam-dalam. "Kau!" Kedua tangannya tiba-tiba mencengkeram erat bahu Zenaya, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Kenapa?" tanya Reagen seraya mendekatkan wajahnya.

"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, sialan!" teriak Reagen. "Bukan hanya kamu yang tersiksa selama sepuluh tahun ini, aku pun juga demikian!" sambungnya.

"Kamu mabuk, sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" Zenaya melepaskan diri. Matanya lagi-lagi menatap Reagen dingin.

Reagen tertawa sinis. "Sorot mata itu yang selalu kamu tunjukan padaku!"

"Kamu pantas menerimanya, dan cepat pergi dari sini!" ujar Zenaya dingin sembari mengusir kasar Reagen.

Segores luka terselip di hati Reagen begitu mendengar perkataan Zenaya. Amarahnya meluap seketika, dan tanpa meminta persetujuan Zenaya, dia segera menarik paksa tangan gadis itu dan memasukkannya ke dalam mobil.

"Mau apa kamu?" pekik Zenaya sembari meronta sekuat tenaga. Dia berusaha membuka pintu mobil, tetapi Reagen sudah terlanjur menguncinya. Pria itu dengan sigap membawa mobil tersebut untuk menjauh dari kediaman keluarga Winston.

.

.

.

.

.

.

Note:

Cardiac arrest : Henti Jantung. Hilangnya fungsi jantung, napas, dan kesadaran secara tiba-tiba dan tak terduga.

Terpopuler

Comments

HIATUS

HIATUS

nah kan nah kan.... Uda dah cemburunya over dosis

2022-05-03

1

meli meilia

meli meilia

hmm..

2022-04-26

0

Rehan Alfarizi

Rehan Alfarizi

hadeh deg degan aku kak mau kemana itu zenaya.terima kasih kak sdh dikasih note dibawah jadi sedikit paham istilah kedokteran.semangat ditunggu up nya selalu

2022-04-23

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!