Zenaya menyibukkan diri seharian di rumah sakit dan belum beranjak dari kantor meski pekerjaannya telah usai sejak tadi sore. Mengetahui keadaan sang adik, Adryan memutuskan untuk mendatangi guna menegurnya. Amanda memang sudah memberitahukan konflik Zenaya dan Reagen.
"Mau sampai kapan kamu mengurung diri di ruangan kumuh ini?" sindir Adryan. Netranya menatap sekeliling meja kerja dan meja tamu Zenaya yang ditumpuki banyak sekali berkas.
"Aku tidak berniat pulang ke rumah," jawab gadis itu kalem. Tangannya mengambil tumpukan berkas lain yang belum tersentuh.
'Konsep pengembangan fasilitas Winston Care Hospital"
Zenaya membuka salah satu berkas berisi pengembangan fasilitas salah satu rumah sakit kecil yang didirikan Liam tiga tahun lalu. Lokasi rumah sakit tersebut berada persis di sebuah kota terpencil dan memang khusus diperuntukkan untuk kalangan tidak mampu.
Melihat sikap adiknya, Adryan segera menghampiri meja gadis itu. "Pulanglah, mama pasti sudah menunggu," titah pria itu seraya mengambil berkas dari tangan Zenaya lalu meletakkannya di ujung meja.
"Kak!" tegur Zenaya. "Mama sedang di rumah Uncle Fred dan menginap di sana. Tadi Mama sudah mengabariku. Beliau juga pasti memberimu kabar." Sambungnya.
Adryan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pria itu lantas mengambil ponselnya dari dalam saku jas, dan benar saja apa kata Zenaya, sudah ada lima panggilan tak terjawab dari nomor Amanda.
Adryan menghela napas. Dia memang baru keluar dari ruang operasi dan belum sempat mengecek ponselnya.
"Kamu harus tetap pulang dan beristirahat." Adryan bertolak pinggang.
Zenaya menatap sang kakak dengan wajah memelas. "Bagaimana kalau aku menunggu Kakak di ruangan saja?" pintanya memohon.
Adryan menggeleng tegas. "Kakak masih ada operasi jam setengah satu nanti. Jika berjalan lancar mungkin Kakak baru akan pulang saat fajar."
Zenaya menatap jam dinding yang berada di belakang tubuh Adryan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Baiklah, aku akan pulang." Zenaya terlihat sedikit merajuk. Dia lalu merapikan tasnya dan bersiap pulang. Adryan tersenyum senang, tak peduli pada wajah adiknya yang mendadak suram.
"Mau aku antar sampai ke lobby?" tawar pria itu.
"Tidak perlu, Kakak kembali saja bekerja." Tolak Zenaya.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan." Adryan memeluk dan mencium kening Zenaya. Meski telah sama-sama dewasa, Zenaya masih senang bermanja dengan kakak satu-satunya itu. Keduanya memang sangat dekat, dan saking dekatnya hubungan mereka, Zenaya bahkan bisa menangis keras bila Adryan terluka sedikit saja.
Begitu pun sebaliknya, Adryan yang lembut akan berubah menyeramkan, jika ada yang berani mengganggu adik kesayangannya itu. Beruntung, sewaktu Zenaya mengalami pembullyan di sekolah dulu, Adryan tidak tinggal di rumah.
Mereka keluar dari ruangan Zenaya bersama. Adryan langsung masuk ke dalam lift menuju ruangannya di lantai empat, sementara gadis itu malah berbelok ke menuju koridor lain guna mengunjungi ruangan Grace yang akan lembur malam ini.
Begitu tiba di sana, Zenaya mendapati uangan tersebut kosong. Wanita itu pasti sedang berkeliaran ke kamar-kamar pasien atau nongkrong di nurse station.
Zenaya memutuskan untuk menunggu sahabatnya di sana sembari beristirahat.
...***...
"Biar kuantar pulang saja!" Bryan lagi-lagi dengan tegas menawarkan diri untuk mengantar Reagen yang sedang mabuk berat itu pulang. Reagen sebenarnya cukup toleran dengan minuman beralkohol. Namun, hari ini tidak demikian. Baru habis dua botol saja Reagen sudah terlihat kepayahan. Belum lagi pria itu terus saja meracaukan nama Zenaya serta mengumpatinya.
"Aku akan pulang sendiri!" Reagen menatap Bryan tajam. Dia pun mendorong pelan tubuh Bryan dan masuk ke dalam mobilnya.
Bryan mendecih kesal.
Tanpa memerdulikan kekesalan sang sahabat, Reagen segera melajukan mobil mewahnya menuju jalan raya yang sudah mulai sepi.
...***...
Grace terperanjat begitu masuk ke dalam ruangannya dan mendapati seseorang sedang tertidur di atas sofa, setelah menangani pasien darurat di lantai empat.
"Zen," panggil Grace seraya menepuk-nepuk halus kaki Zenaya.
Tak butuh waktu lama Zenaya terbangun dari tidurnya. Gadis itu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat tidur meringkuk di sofa.
"Aku pikir, kamu sudah pulang, tadi aku berpapasan dengan Kak Adryan."
"Aku terlalu malas pulang. Tidak ada orang di rumah," kilah Zenaya.
"Rumahmu ramai, Zen!" tukas Grace merujuk pada belasan asisten rumah tangganya.
"Kamu tahu bukan itu maksudku!" seru Zenaya ketus.
Grace tertawa kecil.
"Kamu lembur sampai pagi, kan?" tanya Zenaya kemudian.
"Tidak jadi, operasinya diundur. Salah satu pasienku tadi mengalami cardiac arrest." Grace memberi penjelasan. Wanita itu melepas jas putihnya dan mengambil tas.
"Sudah jam berapa sekarang?" Zenaya menguap lebar. Gadis itu masih merasa mengantuk.
"Jam satu pagi."
Zenaya terkejut. Terlalu lelah membuat gadis itu tertidur sangat nyenyak.
"Vian sudah di lobby. Kamu tidak bawa mobil 'kan? Biar kami antar saja." Grace menawarkan Zenaya untuk pulang bersama.
"Tidak perlu. Aku bisa memanggil taksi online."
Keduanya pun berjalan keluar bersama. Sesampainya di lobby, sudah ada Vian yang menunggu di sana.
Mereka bertiga mengobrol sejenak, sebelum kemudian Vian juga turut menawarkan diri untuk mengantar Zenaya pulang. Namun, Zenaya menolak halus. Rumah mereka tidak searah, dan Vian juga baru kembali dari luar kota, jadi Zenaya tidak mungkin mau merepotkan suami sahabatnya tersebut.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Zen," pesan Vian dan Grace.
"Kalian juga!" Zenaya melambaikan tangannya saat Vian dan Grace keluar. Sekitar sepuluh menit kemudian taksi online yang sebelumnya sudah dipesan pun tiba.
...***...
Zenaya memicingkan mata saat mendapati sebuah mobil hitam terparkir di depan gerbang rumahnya, dan seorang pria bertubuh tinggi menjulang tengah diseret paksa keluar dari rumah.
"Rey!" batin Zenaya. Pria itu sedang meracau tak jelas sembari meronta-ronta agar terlepas dari kepungan kedua penjaga rumahnya.
"Nona Zenaya," sapa salah seorang penjaga saat melihat kedatangan majikannya tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Zenaya heran.
"Tuan ini berteriak-teriak memanggil nama Nona. Beliau bahkan sempat ingin menabrakkan mobilnya ke gerbang!" jawab salah seorang dari mereka.
Reagen menoleh ke arah Zenaya. "Zenaya?"
"Lepaskan dia," pinta Zenaya. Kedua orang penjaga itu pun melepaskan Reagen.
Tanpa diduga Reagen langsung berjalan dan menubruk tubuh gadis itu.
Mendapat perlakuan mendadak tersebut, Zenaya berusaha menahan pijakan kakinya agar tidak terjatuh ke aspal. Bau alkohol yang sangat pekat sontak tercium olehnya.
"Kamu mabuk!" seru Zenaya.
"Zenaya!" gumam Reagan seraya mengeratkan pelukannya pada Zenaya. "aku minta maaf," racaunya dengan mata terpejam.
Zenaya terdiam tidak tahu harus bereaksi apa. Gadis itu kemudian memberi isyarat pada kedua penjaganya untuk meninggalkan mereka.
Kedua penjaga tersebut pun mengangguk dan langsung pergi meninggalkan sang nona rumah.
Reagen mencoba berdiri dan menatap Zenaya dalam-dalam. "Kau!" Kedua tangannya tiba-tiba mencengkeram erat bahu Zenaya, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kenapa?" tanya Reagen seraya mendekatkan wajahnya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, sialan!" teriak Reagen. "Bukan hanya kamu yang tersiksa selama sepuluh tahun ini, aku pun juga demikian!" sambungnya.
"Kamu mabuk, sebaiknya kamu segera pergi dari sini!" Zenaya melepaskan diri. Matanya lagi-lagi menatap Reagen dingin.
Reagen tertawa sinis. "Sorot mata itu yang selalu kamu tunjukan padaku!"
"Kamu pantas menerimanya, dan cepat pergi dari sini!" ujar Zenaya dingin sembari mengusir kasar Reagen.
Segores luka terselip di hati Reagen begitu mendengar perkataan Zenaya. Amarahnya meluap seketika, dan tanpa meminta persetujuan Zenaya, dia segera menarik paksa tangan gadis itu dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Mau apa kamu?" pekik Zenaya sembari meronta sekuat tenaga. Dia berusaha membuka pintu mobil, tetapi Reagen sudah terlanjur menguncinya. Pria itu dengan sigap membawa mobil tersebut untuk menjauh dari kediaman keluarga Winston.
.
.
.
.
.
.
Note:
Cardiac arrest : Henti Jantung. Hilangnya fungsi jantung, napas, dan kesadaran secara tiba-tiba dan tak terduga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
HIATUS
nah kan nah kan.... Uda dah cemburunya over dosis
2022-05-03
1
meli meilia
hmm..
2022-04-26
0
Rehan Alfarizi
hadeh deg degan aku kak mau kemana itu zenaya.terima kasih kak sdh dikasih note dibawah jadi sedikit paham istilah kedokteran.semangat ditunggu up nya selalu
2022-04-23
2