Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.

Hari kelulusan.

Zenaya terpaku, tatkala matanya memandang sekeliling gedung serbaguna milik sekolah yang kini telah ramai oleh para siswa-siswi berpenampilan memukau.

Mereka tampak anggun dan berkelas dengan menggandeng pasangan masing-masing, sangat berbeda dengan Zenaya yang memilih datang ke pesta perpisahan ini seorang diri.

Zenaya memang tidak berniat mengajak siapapun, bahkan dia sempat enggan datang ke sana kalau saja ketiga sahabatnya tidak datang membujuk.

"Zen, ayo!"

Teriakan dari Alice yang kini tengah menggandeng kekasihnya sontak membuyarkan lamunan Zenaya. Gadis itu pun bergegas menyusul sang sahabat.

Tidak ada yang berbeda dari pesta perpisahan sekolah lainnya, hanya saja angkatan mereka mengadakan acara tersebut dengan sedikit lebih mewah.

"Kamu tidak mau ikut berdansa, Zen? Ini bukan dansa pasangan." Grace yang duduk di sebelah Zenaya bersuara.

Zenaya menggeleng pelan. "Aku cukup menikmati acara dari sini saja."

Mata Zenaya pun sibuk menjelajahi seisi gedung sebelum akhirnya terhenti terhenti pada sosok seorang lelaki yang berada tidak jauh dari mejanya.

Reagen terlihat sangat tampan dan berwibawa mengenakan tuxedo hitam. Dia tampak serasi bersanding dengan Natalie yang duduk di sebelahnya.

Zenaya tersenyum getir. Ingatan akan kebaikan Natalie saat berbicara dengannya benar-benar membuat gadis itu seperti orang bodoh.

Zenaya sadar tidak akan ada gadis yang dengan senang hati memberikan ucapan selamat, setelah pria pujaannya berpacaran dengan gadis lain.

Andai saja dia menyadari sejak awal, mungkin dia tidak akan terjebak terlalu jauh dalam permainan Reagen.

Tanpa sadar Zenaya menggenggam gelas miliknya lebih erat, ketika melihat Natalie dengan sangat anggun tertawa di sebelah Reagen dan berusaha melakukan kontak fisik.

Zenaya mendecih. Dia sadar kebenciannya pada Reagen semakin hari semakin tumbuh besar.

"Benar begitu, Rey?" tanya Natalie sembari berusaha menyentuh lembut tangan Reagen.

Entah apa yang sedang Natalie bicarakan bersama teman-temannya, Reagen sama sekali tidak menyimak. Lelaki itu hanya fokus menatap ke arah seorang gadis yang kini tengah menyorotinya dengan tatapan dingin.

Reagen bahkan secara spontan bangkit dari kursinya saat melihat Zenaya pergi. Lelaki itu sengaja mengikuti langkah Zenaya.

Zenaya mengembuskan napasnya lega saat mengetahui bahwa taman di belakang sekolah sangat sepi. Maklum saja yang dia butuhkan saat ini memang keheningan.

"Zenaya!"

Gadis itu ada sontak terbelalak saat mendapati Reagen tiba-tiba muncul di hadapannya.

Kemarahan kembali datang. Tidak ada lagi debaran jantung yang dulu pernah dia rasakan tiap kali bertemu dengan lelaki itu. Zenaya hanya menatapnya dengan penuh rasa kebencian.

"Zen, aku ...."

Belum sempat Reagen menyelesaikan perkataannya, Zenaya sudah melayangkan sebuah tamparan sekuat tenaga. Tamparan yang tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Reagen terhadapnya.

Pijakan kaki Reagen goyah sesaat karena tak siap menerima tamparan Zenaya. Kendati demikian, ekspresi wajah lelaki itu sama sekali tidak terkejut. Tampaknya dia sudah dapat menebak apa yang akan gadis itu lakukan jika mereka kembali bertemu.

Zenaya mendongakkan kepalanya zembari memasang raut wajah angkuh. Dengan sorot mata penuh kebencian dia membalas tatapan sendu Reagen.

"Hentikan tatapan palsumu itu!" ujar Zenaya dingin.

"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua." Reagen berusaha mendekati Zenaya kembali, tetapi gadis itu segera berteriak dan menyuruhnya untuk berhenti.

"Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi!" Setelah berkata demikian Zenaya pun pergi melangkah meninggalkan Reagen. Tujuannya saat ini adalah rumah, Zenaya sudah tidak berkeinginan ikut dalam pesta.

"Zen–"

"Berhenti menyebut namaku dengan mulut sampahmu itu!" Zenaya berbalik lalu menunjuk wajah Reagen. Dadanya tampak naik turun menahan emosi.

Zenaya bisa saja memukul Reagen kembali, tapi dia enggan melakukannya. Dia hanya berusaha menahan air mata yang entah kenapa ingin keluar.

"Jangan katakan apapun, biarkan kebencian ini melekat kuat dalam diriku. Jadi, tolong jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" Zenaya kembali melangkah setelah dengan berani mendorong bahu Reagen hingga nyaris terhuyung.

Reagen hanya bisa terdiam. Kakinya tak mampu melangkah mengejar gadis itu. Gadis yang entah mengapa membawa Reagen pada kegelisahan mendalam.

Sejak mengetahui perubahan sikap Zenaya, hidup Reagen tak lagi sama.

...**********...

10 tahun kemudian.

"Ini laporan yang diminta tadi pagi, Bu." Seorang wanita berusia tiga puluhan meletakkan setumpuk berkas di atas meja kerja atasannya.

"Terima kasih, Jill," ucap Zenaya tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop. Dia sibuk mengetik selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutup laptop tersebut.

Zenaya kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Dia berhasil menyelesaikan S1 Jurusan Manajemen Bisnis, dan S2 Jurusan Manajemen Keuangan.

Selepas menyelesaikan kuliah S1-nya, Zenaya langsung diminta bekerja oleh sang ayah di rumah sakit mereka, Winston General Hospital. Berkat kemampuannya yang mumpuni kini Zenaya diangkat menjadi manajer keuangan rumah sakit tersebut.

"Omong-omong sebentar lagi makan siang, Ibu mau saya pesankan makanan?" ucap wanita tadi.

Zenaya menggeleng. "Aku—"

"Makan, makan!" Suara seorang wanita lain tina-tiba terdengar bersamaan dengan pintu ruangannya yang terbuka.

Zenaya tersenyum. "Aku akan makan dengan Grace, kamu bisa kembali," ucapnya.

"Baik, kalau begitu saya permisi." Wanita tersebut undur diri. Tidak lupa dia juga menyapa Grace.

Grace yang dikenal memiliki kepribadian meledak-ledak kini menjelma menjadi seorang wanita anggun yang manis. Terlebih setelah menikah. Dia juga merupakan salah satu dokter di rumah sakit ini dan tengah mengambil program pendidikan dokter spesialis.

Jauh di belahan dunia lain, Emily kini sibuk membantu usaha restoran bintang lima milik suaminya, sementara Alice sedang sibuk berkeliling dunia dengan keluarga kecilnya dalam waktu yang tidak dapat ditentukan, dan di antara mereka berempat memang hanya Zenaya saja yang belum memiliki pasangan hidup.

Entah sebesar apa ketakutannya seorang pria, hati Zenaya sama sekali tidak pernah tergugah. Zenaya hanya ingin fokus menikmati kesendiriannya saat ini.

"Ayo!" Zenaya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Grace. Mereka pergi meninggalkan ruangan Zenaya bersama untuk makan siang.

"Kamu pasti lelah sekali," ujar Zenaya begitu mereka sampai di lobby rumah sakit. Keduanya memang lebih senang makan di luar dari pada di kantin rumah sakit.

"Biasa saja. Kamu tahu sendiri kalau staminaku bahkan melebihi seorang binaragawan!" Grace menanggapi kekhawatiran sahabatnya itu dengan lelucon garing.

Zenaya tertawa kecil, biar bagaimanapun ada beberapa hal yang tidak berubah dari sahabat baiknya itu.

"Permisi! Permisi!"

Langkah Zenaya dan Grace sontak terhenti saat sebuah mobil ambulance berhenti tepat di depan mereka.

Supir ambulance kemudian turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Brankar lalu diturunkan dan orang perawat dan dokter jaga bergegas keluar dari ruang UGD.

"Pasien mengalami benturan di kepalanya dan patah pada lengan kanannya. Tekanan darah pasien berada pada 80/60mmHg dan saturasi oksigennya di bawah 80, dok!" seru salah seorang petugas medis ambulance.

"Siapkan ventilator! Kita perlu CT scan juga!" pekik sang dokter jaga pada salah seorang perawat yang ikut bersamanya.

"Baik, dok!"

Zenaya terpaku begitu melihat keadaan pasien yang penuh dengan darah tersebut. Namun, bukan itu yang membuat tubuh Zenaya berubah kaku, melainkan pada siapa yang berada di atas brankar tersebut.

Sepuluh memang telah berlalu, tetapi bukan berarti Zenaya lupa akan sosok pria yang pernah menyakitinya dulu.

"Rey, ya Tuhan, Rey!"

Jantung Zenaya seketika berdebar keras saat seorang wanita dengan penuh air mata berteriak histeris sembari mengikuti brankar tersebut. Sementara dua orang pria lain tampak mengikuti wanita tersebut.

"Zen," panggil Grace hati-hati. Dia yang sama terkejutnya dengan Zenaya kini menyentuh lembut lengan sang sahabat.

Zenaya berpaling menatap Grace.

"Kamu melihatnya?" tanya Grace sembari menatap sendu Zenaya.

Zenaya sama sekali tidak menjawab.

Terpopuler

Comments

Senajudifa

Senajudifa

luka tapi tak berdarah ya....aku mampir

2022-05-30

0

@ᵃˢʳʏ ᵛᵃʳᴍᴇʟʟᴏᴡ🐬

@ᵃˢʳʏ ᵛᵃʳᴍᴇʟʟᴏᴡ🐬

whaat 10 Thun ajj😟

2022-05-28

1

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

kalo nyatanya udh jadi bahan gibah, dikatain perawan tua

2022-05-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!