Bab 18 : Luka Terdalam.

Hari sudah mulai gelap, tetapi Zenaya masih setia mengurung dirinya di kamar. Dengan tangan gemetaran dan wajah pucat pasi Zenaya sesekali menghapus kasar bibirnya sambil berharap jejak-jejak yang ditinggalkan Reagen di sana dapat terhapus.

"Zen." Lagi-lagi suara panggilan sang ibu terdengar. Sejak tiba di rumah wanita itu memang menyadari tingkah aneh Zenaya dan kini sedang berusaha mencari tahu.

Zenaya lantas menggigit bibirnya agar suara usak tangis yang keluar mampu teredam.

"Aku ingin sendiri, Ma!" teriak gadis itu setelahnya dengan suara parau.

Mendnegar teriakan sang putri, Amanda justru semakin khawatir akan apa yang telah terjadi padanya. Mungkinkah gadis itu berpapasan dan bertengkar dengan Reagan? Karena kebetulan waktu antara kepergian Reagen dari rumah dan kepulangan Zenaya tidaklah jauh.

Amanda terdiam. Zenaya dan Reagen telah sama-sama dewasa, dan sebagai orang tua, dia harus mulai membatasi diri untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka.

"Katakan jika kamu butuh sesuatu, Sayang, Mama akan selalu ada untukmu," lirih Amanda yang terpaksa pergi meninggalkan kamar Zenaya guna membiarkan sang anak menenangkan diri.

Zenaya kembali menangis. Dia ingin sekali menceritakan semuanya pada sang ibu. Namun, hatinya menolak keras untuk melakukan itu.

Zenaya tidak mau membuat orang tuanya khawatir dengan mengatakan, bahwa dia baru saja dilecehkan oleh seorang pria. Apa lagi pria tersebut merupakan orang yang mereka kenal baik.

Gadis itu hanya bisa memanggil-manggil sang ibu sembari mencengkeram kuat dadanya yang terasa sakit.

...***...

Reagen baru saja keluar dari dalam mobil dan naik langsung ke unit apartemennya menggunakan lift khusus. Lift tersebut merupakan akses khusus yang dibuat langsung menuju unitnya. Setelah pulih total dia memang memutuskan untuk tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah. Letaknya berada di tengah-tengah antara kantor dan rumah sakit keluarga Zenaya.

Pria itu membuka jas kerjanya dan melempar jas tersebut ke atas sofa kecil, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Dia berdiri di depan wastafel, memandang tajam dirinya sendiri melalui pantulan cermin yang ada di sana. Bayang-bayang kejadian tadi tentu masih terekam jelas diingatan Reagen.

Reagen tidak memungkiri penyesalan yang hadir dalam benaknya, tetapi kala mengingat sorot mata yang ditunjukkan gadis itu pada David, membuat kemarahannya sontak menguar kembali.

Hatinya mendadak pilu. Zenaya tidak pernah sekalipun menatapnya selembut itu. Kebencian selalu dapat terlihat jelas dalam manik indah gadis itu ketika berhadapan dengan dirinya.

"Sial! Sial! Sial!" Demi melampiaskan emosinya, Reagen dengan spontan meninju cermin hingga terluka. Pria itu sama sekali tidak memerdulikan darah yang mulai mengucur dari tangannya.

...***...

Grace terkesiap ketika mendapati bibir Zenaya terluka dan sedikit membengkak. Wanita itu semula ingin merayakan kepulangan sang sahabat bersama David yang kini telah menjadi berita di rumah sakit mereka. Namun, ketika mendapati keondisi Zenaya, Grace sontak melupakan hal tersebut. Dengan sedikit pemaksaan dia pun mendesak Zenaya untuk menceritakan apa yang terjadi padanya.

"Apa yang terjadi Zen? Apa David melukaimu?" tanya Grace dengan nada tak sabaran.

Zenaya menggeleng pelan. Tanpa perlu didesak dua kali, dia pun menceritakan hal yang sebenarnya pada Grace.

Mendengar penjelasan Zenaya, Grace tentu saja berang. Kilat kemarahan terpancar jelas di matanya.

"Brengsek!" umpat wanita itu. "Kamu tahu, suamiku baru saja menandatangani kerjasama dengan Walker Group? Sekarang juga aku akan memintanya untuk membatalkan kerjasama itu!"

"Tidak perlu sampai begitu, Grace. Jangan sangkut pautkan pekerjaan mereka dengan hal kecil ini." Sergah Zenaya tak enak hati. Vian, suami Grace, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini.

Grace memandang Zenaya tajam. "Hal kecil kamu bilang? Dia sudah melecehkanmu, Zen! Pria itu harus diberi pelajaran. Masih banyak perusahaan yang mau menggunakan hotel suamiku, kamu tidak perlu khawatir."

Zenaya memijat pelipisnya. "Grace, please ...," ucap gadis itu lirih.

Grace sontak menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya perihatin. Begitu banyak beban tak kasat mata yang kini dipikul Zenaya semenjak kehadiran Reagen.

...***...

Hari ini suasana ruang meeting terasa sangat panas dan mencekam. Ada saja kesalahan-kesalahan kecil di mata Reagen pada presentasi karyawannya. Semua anggota rapat pun tak luput dari kemarahan pria itu. Bahkan, seorang office boy yang hanya mengantarkan minuman saja sampai terkena bentakannya hanya karena tidak meletakkan cangkir kopi dengan benar.

Dalam waktu setengah jam rapat sudah dibubarkan tanpa hasil. Sean sendiri tidak berani mengatakan apa-apa, saat Reagen memintanya untuk membatalkan seluruh jadwal hari ini.

Suasana hatinya sangat buruk. Noah yang merupakan COO Walker Group, langsung menyuruh sang adik itu untuk pulang demi menenangkan diri, setelah mendengar kekacauan rapat tersebut.

Jabatan sang adik memang lebih tinggi darinya. Noah sebenarnya malah tak ingin bekerja di sana karena sudah memiliki perusahaan kecil sendiri yang dibangun bersama sang istri dengan susah payah. Namun, bujukan sang ayah membuat pria itu luluh juga. Kini perusahaan kecilnya dikelola penuh oleh Krystal.

"Pulanglah. Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini, tapi lebih baik kamu tenangkan diri dulu." Noah dengan lembut memberi saran sembari menepuk punggung adiknya.

"Maafkan aku." Reagen memijat pelipisnya yang kini mulai terasa sakit. Dia pun menuruti saran Noah untuk pulang ke apartemennya.

...***...

"Sidang ditunda satu minggu lagi!" Ketukan palu hakim menggema memenuhi ruang sidang.

Bryan dan kliennya berdiri dari kursi pesakitan. "Minggu depan adalah sidang terakhir, mudah-mudahan hasilnya tak jauh berbeda dengan apa yang kita harapkan," ujar sang klien pada Bryan seraya menepuk pundaknya.

Bryan mengangguk hormat. Dia pun mempersilakan klien pentingnya itu untuk pergi duluan, begitu pula dengan anggota tim pengacara lain.

Kasus yang dia tangani sekarang sebenarnya cukup rumit. Kliennya merupakan seorang mantan anggota dewan yang terlibat korupsi pada proyek besar pemerintahan. Bryan yang bernaung di bawah firma hukum terkenal diminta untuk menangani kasus tersebut. Semula dia menolak keras, tetapi atasannya terus memaksa. Alhasil, bersama ketiga belas pengacara lain dari berbagai firma hukum, Bryan berusaha membuat sang mantan anggota dewan mendapatkan hukuman seringan mungkin.

Bryan keluar dari ruang sidang dengan wajah kusut. Raut kelelahan terpancar dari wajah tampannya. Maklum saja, sudah satu minggu dia kurang tidur hanya demi menyelesaikan kasus ini.

Saat tiba di tempat parkir, pria itu terkejut mendapati Reagen sudah bersandar di body mobilnya. Reagen memang sempat menanyakan di mana posisinya melalui pesan singkat.

"Ada apa, Rey? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bryan begitu melihat wajah sahabatnya sedikit murung.

"Kamu sendiri? Kantong matamu terlihat sangat menakutkan." Reagen melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum sinis.

Bryan mengangkat bahunya sambil menghela napasnya. Jika sudah begini bisa dipastikan mereka akan menghabiskan waktu sepanjang malam di klub.

Meski mereka sering berkunjung ke klub malam, Reagen dan Bryan tidak pernah tertarik sedikit pun untuk bermain wanita. Dulu Bryan memang pernah melakukannya sesekali, tetapi Reagen tidak demikian. Pria itu menjunjung tinggi kesucian dalam sebuah pernikahan, dan dia tidak ingin sang istri kelak menerima tubuhnya yang sudah ternoda.

"Ini masih sore, bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya Bryan yang duduk di kursi kemudi. Mereka pergi menggunakan mobil pria itu, sedangkan mobil Reagen tetap terparkir di sana. Dia sudah menyuruh Sean untuk mengambil mobilnya dan membawa pulang ke apartemen.

"Ok." Jawab Reagen singkat. Mereka pun pergi dari sana menuju restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari gedung pengadilan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Note:

COO adalah singkatan dari Chief Operating Officer. Adalah bagian dari pimpinan yang memiliki tugas membuat kebijakan perusahaan pada bagian operasional, Chief Operating Officer (COO) sering juga disebut tangan kedua dari CEO.

Terpopuler

Comments

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

temennya seneng zezen dpt luka di bibir😁 pasti lagi traveling ya pikirannya

2022-07-18

1

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

cemburunya ngeselin, bikin zezen marah

2022-07-18

0

Sophia Verheyden✨

Sophia Verheyden✨

gak enak bgt kalo nangis ditahan😔

2022-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2 Bab 2 : Rencana Konyol.
3 Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4 Bab 4 : Ciuman Pertama.
5 Bab 5 : Perubahan Sikap.
6 Bab 6 : Kenyataan.
7 Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8 Bab 8 : Kebencian.
9 Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10 Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11 Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12 Bab 12 : Salju Pertama.
13 Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14 Bab 14 : Tunangan?
15 Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16 Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17 Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18 Bab 18 : Luka Terdalam.
19 Bab 19 : Malapetaka (1)
20 Bab 20 : Malapetaka (2)
21 Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22 Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23 Bab 23 : Pemulihan.
24 Bab 24 : Kerinduan.
25 Bab 25 : Hamil?
26 Bab 26 : Takdir Hidup.
27 Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28 Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29 Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30 Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31 Bab 31 : Mengidam.
32 Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33 Bab 33 : Perasaan David.
34 Bab 34 : Alex Simon Cole.
35 Bab 35 : Posesif.
36 Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37 Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38 Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39 Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40 Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41 Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42 Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43 Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44 Bab 44: Harapan.
45 bab 45: Mimpi.
46 Bab 46: Pertemuan kedua.
47 Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48 Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49 Bab 49: Sikap Alex.
50 Bab 50: Obsesi.
51 Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52 Bab 52: "Tua bersamamu."
53 Bab 53: Pertengkaran.
54 Bab 54: Air mata Zenaya.
55 Bab 55: Kekhawatiran.
56 Bab 56: Fakta.
57 Bab 57: Fransisco Arthur William.
58 Bab 58: Frans Menghilang.
59 Bab 59: Kembali ke Rumah.
60 Bab 60: Rumor Frans.
61 Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62 Bab 62: Pesta Perpisahan.
63 Bab 63: Ulah Lea.
64 Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65 Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66 Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67 Bab 67: Keluarga Walker.
68 Bab 68: Ingatan Reagen.
69 Bab 69: Pertengkaran.
70 Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71 Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72 Bab 72 : Titik Terang.
73 Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74 Bab 74 : Frans Kembali.
75 Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76 Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77 Bab 77 : Segenggam Fakta.
78 Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79 Bab 79 : Kencan Manis.
80 Bab 80 : Persahabatan.
81 Bab 81 : Ikatan Batin.
82 Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83 Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84 Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 : Zenaya Auristella Winston.
2
Bab 2 : Rencana Konyol.
3
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.
4
Bab 4 : Ciuman Pertama.
5
Bab 5 : Perubahan Sikap.
6
Bab 6 : Kenyataan.
7
Bab 7 : Air mata di Sekolah.
8
Bab 8 : Kebencian.
9
Bab 9 : Ingatan Menyakitkan.
10
Bab 10 : Pertemuan Kembali.
11
Bab 11 : Penyesalan Reagen.
12
Bab 12 : Salju Pertama.
13
Bab 13 : Interaksi Pertama Mereka.
14
Bab 14 : Tunangan?
15
Bab 15 : "Aku mencintaimu, Zenaya!"
16
Bab 16 : Usaha Keras Reagen.
17
Bab 17 : Kecemburuan Reagen.
18
Bab 18 : Luka Terdalam.
19
Bab 19 : Malapetaka (1)
20
Bab 20 : Malapetaka (2)
21
Bab 21 : Sebuah Pengakuan.
22
Bab 22 : Air mata seorang kakak.
23
Bab 23 : Pemulihan.
24
Bab 24 : Kerinduan.
25
Bab 25 : Hamil?
26
Bab 26 : Takdir Hidup.
27
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.
28
Bab 28 : Upacara Pernikahan.
29
Bab 29 : Kebimbangan Hati.
30
Bab 30 : Memulai Kehidupan Baru.
31
Bab 31 : Mengidam.
32
Bab 32 : Hari Pertama Bekerja.
33
Bab 33 : Perasaan David.
34
Bab 34 : Alex Simon Cole.
35
Bab 35 : Posesif.
36
Bab 36 : Perasaan Zenaya.
37
Bab 37 : Masih Memiliki Perasaan Itu.
38
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.
39
Bab 39 : Pertemuan Natalie dan Zenaya.
40
Bab 40 : Teka-teki Masa Lalu.
41
Bab 41: Teh Manis Untuk Momen Termanis.
42
Bab 42: Masa Lalu Zenaya.
43
Bab 43: Pertemuan Reagen dan Alex.
44
Bab 44: Harapan.
45
bab 45: Mimpi.
46
Bab 46: Pertemuan kedua.
47
Bab 47: Kedekatan Natalie dan Adryan.
48
Bab 48: Masa Lalu Reagen dan Zenaya.
49
Bab 49: Sikap Alex.
50
Bab 50: Obsesi.
51
Bab 51: "Aku merindukanmu,"
52
Bab 52: "Tua bersamamu."
53
Bab 53: Pertengkaran.
54
Bab 54: Air mata Zenaya.
55
Bab 55: Kekhawatiran.
56
Bab 56: Fakta.
57
Bab 57: Fransisco Arthur William.
58
Bab 58: Frans Menghilang.
59
Bab 59: Kembali ke Rumah.
60
Bab 60: Rumor Frans.
61
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.
62
Bab 62: Pesta Perpisahan.
63
Bab 63: Ulah Lea.
64
Bab 64: Identitas Frans Sebenarnya.
65
Bab 65: Frans Melarikan Diri.
66
Bab 66: Timbul Masalah Lain.
67
Bab 67: Keluarga Walker.
68
Bab 68: Ingatan Reagen.
69
Bab 69: Pertengkaran.
70
Bab 70: Kesalahan Yang Terkuak.
71
Bab 71 : Seutas Tali Kasih.
72
Bab 72 : Titik Terang.
73
Bab 73 : Satu Persatu Mulai Terkuak.
74
Bab 74 : Frans Kembali.
75
Bab 75 : Kebahagiaan Zenaya.
76
Bab 76 : Foto Masa Kecil.
77
Bab 77 : Segenggam Fakta.
78
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.
79
Bab 79 : Kencan Manis.
80
Bab 80 : Persahabatan.
81
Bab 81 : Ikatan Batin.
82
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.
83
Bab 83 : Zenaya Mengetahui Segalanya (1)
84
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)
85
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!