Diego termangu mendapatkan penolakan dari kedua anaknya itu. Juliet yang mendengarnya pun merasa senang sekaligus iba. Senang karena anak-anaknya lebih memilih dirinya daripada Diego.
Iba karena melihat Diego yang terlihat terkejut sekaligus menyedihkan mendapatkan penolakan. Karena bagaimanapun, Diego adalah ayah dari kedua anak-anaknya.
"Apa kalian marah pada Daddy?" tanya Diego berjongkok di hadapan Adam dan Abraham.
"Pertanyaan bodoh apa itu? Tentu saja kami marah, di lihat dari penampilan Anda seperti orang yang berpunya membuat kami sakit hati! Mommy banting tulang untuk mencukupi kebutuhan kami, sedangkan Anda? Anda tidak berkontribusi dalam mengurus dan membesarkan kami selama ini! Jadi, jangan harap kami memanggil Anda dengan sebutan Daddy."
"Karena panggilan Daddy hanya pantas di sandang oleh pria dewasa yang bertanggung jawab atas kehidupan anak dan istrinya! Bukan pria dewasa yang seperti Anda. Tiba-tiba datang lalu memperkenalkan diri sebagai Daddy kami! Di mana Anda selama ini di saat mommy di hina di panggil wanita penggoda?"
"Di mana Anda saat kami di ejek dan di hina sebagai anak haram dan anak nakal?"
"Di mana Anda saat aku dan adikku sakit?"
"Di mana Anda saat mommy membutuhkan sosok suami yang melindungi dan membelanya saat ibu dari teman-teman sekolah ku menghinanya? Bahkan, teman-teman ku menyebut mommy wanita jahat yang menculik Daddy orang?"
Diego menelan ludahnya mendengar rentetan pertanyaan penuh emosi Abraham dan Adam yang selama ini di pendam.
Juliet menggigit bibir bawahnya mencoba menahan tangisnya. Sejenak dia hampir melupakan rasa sakitnya di saat Diego datang kepadanya.
Namun, berbagai pertanyaan Adam dan Abraham pada Diego membuat dirinya sadar kembali. Bahwa dirinya tak boleh mudah luluh dan lemah.
Juliet tak ingin di hina dengan panggilan wanita murahan oleh Diego lagi. Sudah cukup karena ulah Diego hidupnya menderita selama ini.
"Maaf."
Satu kata itu yang mampu Diego ucapkan membuat Adam dan Abraham mengepalkan tangan erat.
"Kalau kata maaf berlaku maka polisi akan menganggur karena tidak ada penjahat dalam penjara!" sentak Adam dengan suara imutnya.
Diego terbelalak mendengar kalimat savage Adam. Pria itu tak menyangka Adam memiliki stok kata-kata pedas yang mampu mengalahkan kepedasan bon cabe.
Dia benar-benar putraku batin Diego yakin.
Sedangkan Juliet, dia ingin tertawa rasanya karena merasa senang dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut Adam.
Bagaimana, Sir? Mulutnya sama pedas dengan Anda bukan? Anggap saja itu balasan untuk Anda yang dulunya sering menyakiti hati saya karena mulut pedas Anda batin Juliet puas.
"Kalian mau apa, hemm? Daddy akan mengabulkan permintaan kalian. Asalkan kalian mau memaafkan, Daddy? Kalian suka main game, 'kan? Daddy akan membelikan komputer game terbaru untuk kalian!" bujuk Diego berusaha mengambil hati kedua anaknya itu.
"Tidak usah, kami sudah punya yang sendiri! Pergi sana … kami tidak butuh sosok Daddy!" usir Abraham kesal lalu membawa Juliet masuk ke dalam rumah kecil mereka.
Diego tak ingin kehabisan akal. Pria tampan itu juga ingin masuk.
"Kalian tidak boleh seperti ini? Nanti Daddy kutuk kalian jadi kecebong karena sudah durhaka pada Daddy!" dengus Diego membuat Adam berdecak pinggang.
"Kalau Tuhan mengizinkan anak mengutuk orang tuanya. Maka Adam yang duluan mengutuk Anda menjadi batu!" teriak Adam marah.
"Hey … "
Brakk.
Bugh.
"Haduh." Diego meringis kesakitan saat hidung mancungnya terkena pintu akibat Adam yang membanting pintu saat Diego ingin masuk.
Cairan kental keluar dari hidung Diego membuat pria tampan itu terkejut, begitu juga dengan Arslan dan yang lainnya.
"Da-darah!" gumam Diego melihat tangannya yang berdarah setelah menyentuh hidung nya.
"Tuan!" pekik Arslan panik.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Arslan khawatir.
"Ars! Apa ada yang menjual stok kesabaran? Aku ingin memborong semuanya kalau ada! Sepertinya menghadapi dua bibit unggul itu, aku harus memiliki kesabaran yang unlimited! Lihatlah, bukan pelukan yang aku dapatkan melainkan hidung mancung ku yang hampir patah! Oh ya ampun … bagaimana bibit ku bisa barbar seperti itu?"
"Kau dengar tadi, Ars? Dia mau mengutuk ku jadi batu? Oh ya ampun … kalau sampai Max, Alex dan Damian bertemu dengan mereka. Sudah di pastikan ketiga pria sialan itu pasti akan menghasut kedua bibit unggul ku itu agar semakin durhaka padaku!"
"Ars, katakan padaku! Siapa yang durhaka sekarang? Aku atau dua bibit ku itu? Jawab yang jujur, Ars … aku tidak akan marah!" Diego tak berhenti menggerutu seperti wanita yang sedang PMS.
"Ars, jawab!" desak Diego.
"Anda yang lebih dulu durhaka, Tuan! Kedua anak Anda itu hanya meniru jejak apa yang Anda tinggalkan! Mereka tidak bersalah … karena Anda duluan yang bersalah tidak mau menganggap mereka sebagai anak-anak Anda. Jadi, jangan salahkan mereka kalau sekarang mereka tidak menganggap Anda sebagai Daddy mereka!" jawab Arslan jujur membuat Diego berdecak sebal.
"Gaji mu bulan ini di kurangi 50 persen, Ars!" balas Diego dingin membuat Arslan bingung sekaligus terkejut.
"Lah, kenapa dikurangi, Tuan?" tanya Arslan penasaran.
"Karena kau terlalu jujur! Sesekali kau harus berbohong agar membuat lawan bicara mu senang!" dengus Diego seraya mengelap darah yang mengalir di hidungnya.
"Jujur itu memang pahit, bahan, saking pahitnya gaji ku di potong 50 persen. Oh ya ampun … sepertinya aku juga harus membeli stok kesabaran untuk menghadapi Tuan Bastard seperti Mister Diego!" gumam Arslan kesal dalam hati.
*
*
*
Wkwkwkwk … enaknya Diego di apakan ya, Bun?? Ayo mana jawaban nya?? Isi di kolom komentar. Kalau ada yang bagus bakal author coba jadikan cerita 😂😂
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh
Mampir juga karya temen author yang gak kalah bagusnya. Di jamin bakal suka deh ... sambil nungguin up di sini, bisa mampir ke sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Misakira Cherry
gak bisa nahan ketawa baca cerita ini
2025-03-15
0
Dinda Adiana
sumpah sih perut gw rasanya sakit🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-03-02
0
Dinda Adiana
keren sih salut banget sama mereka
2025-03-02
0